Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasus Berdarah
☘️ FLASHBACK
Lima tahun berlalu dengan cepat, mengubah banyak hal dalam hidup Zehar.
Sejak hari ia menerima pesan perpisahan yang terasa menusuk hati itu, ia benar‑benar mengubah seluruh arah hidupnya.
Ia membuang segala keraguan, menyalurkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk menapaki jenjang karier di kepolisian.
Dari seorang taruna yang penuh ambisi, ia tumbuh menjadi perwira muda yang tangguh, cerdas, dan dikenal berani menghadapi risiko apa pun demi kebenaran.
Kariernya melesat melebihi harapan banyak orang. Ia selalu menjadi yang terdepan dalam setiap tugas, teliti dalam mengumpulkan bukti, dan tidak pernah mundur meski dihadapkan pada situasi berbahaya.
Namun, titik balik yang mengangkat namanya dan membawa perubahan besar dalam jabatannya terjadi pada sebuah kasus besar yang ia tangani di daerah pedalaman Sumatera, tempat ia ditugaskan selama tiga tahun terakhir.
Selama berbulan‑bulan, desa‑desa di wilayah perbatasan itu diliputi ketakutan.
Beredar kabar tentang jaringan penyelundupan barang terlarang dan perdagangan manusia yang beroperasi secara rahasia, didukung oleh oknum‑oknum yang memiliki kekuasaan sehingga selama ini sulit dijangkau hukum.
Kasus‑kasus pencurian, penghilangan orang, hingga pembunuhan sering terjadi, namun selalu tidak ada bukti yang cukup untuk menindak pelakunya.
Masyarakat hanya bisa diam dan takut, seolah kejahatan itu berjalan bebas tanpa ada yang mampu menghentikannya.
Zehar yang saat itu menjabat sebagai perwira pertama di satuan reserse, tidak tinggal diam.
Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan di balik ketenangan semu itu.
Dengan izin atasannya, ia memimpin tim kecil untuk melakukan penyelidikan secara sembunyi‑sembunyi, menyamar sebagai pedagang keliling selama hampir dua bulan.
Ia melintasi jalur‑jalur setapak berbahaya, menyusuri hutan lebat dan sungai berarus deras, mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit dari penduduk yang berani bicara dengan syarat tidak menyebutkan nama mereka.
Semakin dalam ia menyelidiki, semakin jelas gambaran yang terlihat. Jaringan itu sangat terorganisir, memiliki pos pengawasan tersembunyi, dan bersenjata lengkap.
Mereka tidak segan melukai bahkan membunuh siapa pun yang menghalangi jalan mereka.
Zehar sadar bahwa menghadapi mereka bukanlah tugas ringan, ini adalah pertarungan nyawa melawan kelompok yang sudah terbiasa dengan kekerasan.
Pada suatu malam hujan lebat, setelah mendapatkan informasi pasti bahwa kelompok itu akan mengangkut barang terlarang dalam jumlah besar melewati jalur hutan yang jarang dilalui orang, Zehar memutuskan untuk melakukan penyergapan tepat pada saat mereka bergerak.
Ia membagi timnya menjadi tiga kelompok untuk mengurung jalur masuk dan keluar, agar tidak ada yang lolos.
Suasana malam itu sangat gelap, hanya sesekali diterangi kilatan petir yang membelah langit. Suara hujan dan gemuruh angin menutupi langkah kaki mereka yang bergerak perlahan mendekati titik yang ditentukan.
Detak jantung Zehar berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena menyadari risiko yang menanti.
Ia memberi isyarat dengan tangan agar semua anggota tetap tenang dan bersiap.
Kurang lebih setengah jam kemudian, terdengar suara langkah kaki berat dan gemeretak ranting yang terinjak.
Dari balik semak belukar, terlihat sekelompok orang berjumlah sekitar dua puluh orang berjalan beriringan, membawa karung‑karung besar dan beberapa kotak kayu.
Sebagian dari mereka memegang senapan laras panjang, tampak waspada ke segala arah.
Begitu mereka masuk ke area jebakan, Zehar meneriakkan perintah,
“HENTIKAN! Polisi! Jangan bergerak!”
Namun alih‑alih menyerah, pemimpin kelompok itu justru tertawa sinis sambil mengangkat senjatanya.
“Dasar anak baru yang kurang pengalaman! Kamu pikir bisa menghentikan kami hanya dengan sedikit orang?” teriaknya lantang, lalu langsung melepaskan tembakan ke arah tempat persembunyian Zehar.
Tembakan pertama meleset, menghantam pohon di sampingnya.
Dalam sekejap, suasana berubah menjadi kacau balau. Suara letusan senjata bergema memecah keheningan malam, bercampur dengan suara hujan yang semakin deras.
Peluru beterbangan ke segala arah, menembus dahan‑dahan pohon dan membuat dedaunan berjatuhan.
Pertempuran itu berlangsung sengit dan berdarah.
Kelompok penjahat itu bertarung mati‑matian karena tahu jika tertangkap berarti hukuman berat.
Mereka menggunakan medan hutan sebagai keuntungan, berpindah tempat dengan cepat dan menembak secara membabi buta.
Zehar memimpin timnya dengan tenang namun tegas, mengarahkan serangan agar tetap terkontrol tanpa melukai warga yang tidak bersalah.
Di tengah kekacauan itu, sebuah peristiwa mencekam hampir merenggut nyawanya sendiri.
Saat ia sedang melindungi salah satu anggotanya yang terluka, seorang penjahat menyelinap dari samping dengan parang terangkat tinggi, siap memukulnya.
Refleksinya bekerja cepat, Zehar memutar badan dan menghindar, namun ujung parang itu masih sempat menggores lengan kanannya hingga robek, darah segar langsung membasahi seragamnya dan bercampur dengan air hujan.
Rasa perih yang tajam menyebar ke seluruh lengan, namun ia tidak sempat memikirkannya. Dengan satu gerakan cepat, ia menahan pergelangan tangan lawan, memutarnya hingga parang terlepas, dan menaklukkan orang itu dalam waktu singkat.
Pertarungan berlangsung hampir satu jam penuh.
Di tanah basah berlumpur itu, terlihat jejak darah mengalir di antara akar pohon dan bebatuan. Beberapa anggota tim Zehar mengalami luka tembak dan goresan parah, namun tetap bertahan.
Di pihak lawan, empat orang tewas terkena tembakan, enam orang terluka parah, dan sisanya berhasil diringkus dan diborgol.
Tidak ada satu pun yang dibiarkan lolos.
Setelah semuanya tenang, Zehar duduk bersandar pada batang pohon, napasnya terengah‑engah. Ia melihat luka di lengannya yang terus mengeluarkan darah, sementara tubuhnya terasa pegal dan lelah luar biasa.
Namun di matanya terlihat rasa lega yang membuncah katena mereka berhasil menghentikan operasi kejahatan itu, menyelamatkan banyak nyawa dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Selama pemeriksaan lanjutan, dari barang bukti dan pengakuan para tersangka, terungkap jaringan yang jauh lebih besar dan melibatkan orang‑orang penting.
Kasus ini menjadi sorotan besar di tingkat daerah hingga pusat.
Keberhasilan Zehar memimpin operasi yang penuh risiko itu dianggap sebagai prestasi luar biasa, mengingat selama bertahun‑tahun kasus itu dianggap sulit dipecahkan.
Bulan‑bulan kemudian, dalam upacara resmi, atas jasa dan keberaniannya yang hampir mengorbankan nyawa, Zehar secara resmi dinaikkan pangkat menjadi Ajun Komisaris Polisi (AKP).
Tidak hanya itu, sebagai bentuk apresiasi dan pengembangan karier, ia mendapatkan promosi khusus untuk dipindahkan dan bertugas kembali di kantor pusat kepolisian di ibu kota, tempat yang sudah lama menjadi tujuan dan harapannya.
Berita kepindahannya disambut rasa bahagia sekaligus sedih oleh rekan‑rekannya.
Selama bertahun‑tugas di daerah itu, ia telah membangun persahabatan yang erat dan saling percaya.
Sebelum hari keberangkatannya tiba, mereka mengadakan acara perpisahan sederhana di kedai makanan langganan mereka.
Suasana malam itu hangat dan akrab.
Meja‑meja dipenuhi makanan khas daerah dan minuman, lampu temaram menerangi ruangan yang penuh dengan tawa dan cerita.
Semua orang mengenang masa‑masa sulit yang mereka lalui bersama, termasuk momen‑momen berbahaya dalam operasi yang baru saja selesai itu.
“Kita akan sangat kehilangan kepemimpinan dan keberanianmu, Zehar,” ujar salah satu rekannya, Briptu Dika, sambil menepuk bahunya.
“Kamu selalu menjadi orang yang berjalan paling depan dan melindungi kami di belakang.”
Zehar tersenyum, matanya sedikit berkaca‑kaca.
“Ini bukan perpisahan selamanya, kawan. Masing‑masing kita punya jalan dan tanggung jawab sendiri. Kalau bukan karena dukungan dan keberanian kalian semua, aku tidak akan berhasil membawa kasus ini sampai selesai. Prestasi ini milik kita bersama.”
Malam itu mereka berbicara hingga larut, berbagi pesan semangat dan janji untuk tetap menjaga komunikasi.
Di dalam hati Zehar, selain rasa bangga dan gembira atas kemajuan kariernya, ada perasaan lain yang tumbuh, kesempatan baru yang membawanya kembali ke ibu kota, tempat di mana Alesha tinggal.
Selama lima tahun ini, informasi yang ia dapatkan dari teman‑temannya hanya sepintas garis besar.
Kini, dengan posisi dan kekuasaan yang lebih tinggi, ia memiliki kesempatan untuk mencari tahu kebenaran secara langsung tentang apa yang sebenarnya terjadi, mengapa hubungan mereka harus berakhir, dan apakah ada rahasia yang disembunyikan darinya selama ini.
Ia melirik lengan kanannya yang masih terlihat bekas luka panjang itu, sebagai pengingat bahwa perjuangannya belum selesai.
Ia telah membuktikan ketangguhannya dalam tugas, dan kini saatnya ia menghadapi bagian lain dari hidupnya dengan keberanian yang sama.
Ia akan berangkat menuju ibu kota, menuju awal babak baru, sekaligus menuju jawaban yang telah ia nantikan selama bertahun‑tahun.
🍀 FLASHBACK SELESAI.
BAB SELANJUTNYA, KEMBALI KE MASA KINI.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏