Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana di dalam jet pribadi Arsalan Group pagi itu terasa lebih dingin daripada suhu AC-nya sendiri. Alexa duduk di kursi penumpang paling pojok, mengenakan hoodie hitam besar dengan tudung yang menutupi kepalanya. Sepasang headphone terpasang di telinganya, memutar lagu rock dengan volume maksimal untuk menutup semua suara, termasuk suara Zyan.
Zyan sendiri duduk di seberang Alexa, tangannya sibuk dengan iPad dan tumpukan berkas yang baru saja dikirim sekretarisnya lewat email. Namun, matanya terus melirik ke arah istrinya. Ia tahu Alexa marah. Bukan marah yang meledak-ledak seperti biasanya, tapi marah yang diam—dan itu jauh lebih menakutkan bagi Zyan.
"Alexa, bisakah kamu lepas dulu headphone-nya? Saya mau bicara," ujar Zyan sambil mencoba meraih tangan Alexa.
Alexa menepis tangan Zyan tanpa melihat suaminya itu. Ia tetap fokus menatap keluar jendela pesawat, ke arah gumpalan awan yang seolah mengejek kegagalan liburan mereka.
"Saya benar-benar minta maaf. Masalah di kantor ini menyangkut ribuan karyawan. Proyek pembangunan rumah sakit di pinggiran Jakarta disabotase oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya tidak bisa membiarkannya," Zyan mencoba menjelaskan lagi untuk kesekian kalinya.
Alexa akhirnya melepas headphone-nya satu sisi. "Om, lo nggak perlu minta maaf terus. Gue udah bilang kan, gue ngerti. Kerja lo itu nomor satu. Gue ini cuma... apa ya? Cuma figuran di hidup lo yang kebetulan dapet peran jadi istri. Jadi santai aja."
"Jangan bicara seperti itu. Kamu bukan figuran."
"Terus apa? Buktinya tiap ada urusan kantor, lo langsung berubah jadi robot lagi. Udah ah, gue mau tidur. Bangunin kalau udah sampe Jakarta," Alexa memasang kembali headphone-nya dan memejamkan mata rapat-rapat.
Zyan menghela napas panjang. Ia merasa hatinya seperti diremas. Keberhasilan bisnis selama bertahun-tahun ternyata tidak memberinya bekal yang cukup untuk menghadapi satu gadis mahasiswi teknik yang sedang patah hati karena liburannya dipotong paksa.
Begitu mendarat di Jakarta, Zyan langsung dijemput oleh tim keamanannya dan mobil kantor.
"Kamu pulang ke rumah dengan supir lain, ya? Saya harus langsung ke lokasi proyek. Saya usahakan pulang cepat malam ini," ujar Zyan sambil merapikan jasnya yang sudah kembali klimis.
Alexa hanya mengangguk tanpa kata. Ia masuk ke mobil yang sudah disiapkan dan meluncur menuju rumah mereka yang sepi. Sepanjang jalan, Alexa merasa dadanya sesak. Ia merasa bodoh karena sempat berharap Zyan akan berubah menjadi pria romantis selamanya di Bali.
"Bego lo, Lex. Duda kaku kayak gitu mana mungkin bisa berubah cuma karena monyet Ubud," gumam Alexa pada dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah, Alexa tidak langsung masuk ke kamar. Ia menuju ke garasi, tempat motor ZX-25R kesayangannya terparkir. Ia mengambil kunci inggris dan mulai membongkar bagian samping motornya, padahal motor itu tidak rusak. Alexa hanya butuh melakukan sesuatu agar otaknya tidak terus memikirkan Zyan.
Dua jam, tiga jam, hingga lima jam berlalu. Hari sudah gelap. Alexa masih di garasi dengan tangan penuh oli dan wajah yang cemong.
Tiba-tiba, suara mobil Zyan terdengar memasuki halaman. Alexa pura-pura tidak dengar dan tetap sibuk dengan mesinnya. Zyan turun dari mobil, wajahnya tampak sangat lelah, tapi matanya berbinar saat melihat Alexa ada di garasi.
"Alexa, kenapa belum masuk? Ini sudah jam sembilan malam," tanya Zyan sambil mendekat.
"Lagi benerin motor. Jangan deket-deket, nanti jas lo kena oli," jawab Alexa ketus tanpa menoleh.
Zyan tidak menjauh, ia justru duduk di lantai garasi yang dingin, tepat di samping Alexa. Ia mengabaikan celana mahalnya yang kotor.
"Masalah di kantor sudah selesai. Sabotasenya berhasil ditangani dan pelakunya sudah saya serahkan ke pihak berwajib," cerita Zyan, mencoba memancing percakapan.
"Oh, bagus deh. Selamat ya, Pak Direktur."
Zyan meraih tangan Alexa yang sedang memegang kunci pas. "Alexa, tolong lihat saya."
Alexa akhirnya menoleh, menatap Zyan dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa lelah dan kecewa yang bertumpuk. "Mau apa lagi sih, Om? Lo udah menang kan? Urusan lo lancar, bisnis lo aman. Udah sana masuk, istirahat."
Zyan tersenyum tipis. "Saya punya sesuatu untukmu. Sebagai permintaan maaf karena sudah merusak momen kita di Bali."
"Gue nggak butuh tas merk atau perhiasan, Om. Lo tahu itu."
"Saya tahu. Makanya saya tidak membelikan itu." Zyan berdiri dan menarik tangan Alexa keluar dari garasi rumah mereka menuju area halaman belakang yang selama ini tertutup oleh pagar tinggi.
Zyan membuka gembok pagar tersebut. Begitu pagar terbuka, Alexa terkesiap.
Di balik pagar itu, Zyan diam-diam telah membangun sebuah bangunan semi-permanen dengan desain industrial yang sangat keren. Bangunan itu berdinding kaca besar dan besi hitam. Di dalamnya terdapat lift motor, set lengkap perkakas bermerk terbaik dunia, kompresor udara, alat las, hingga rak-rak penuh dengan berbagai macam oli dan sparepart kelas wahid.
Di atas pintunya terdapat papan neon bertuliskan: ALEXA'S GARAGE & LAB.
"Ini... ini apa, Om?" tanya Alexa gagap.
"Ini bengkel pribadi kamu. Saya sengaja memesan tim konstruksi untuk mengerjakannya selama kita di Bali kemarin. Saya ingin kamu punya tempat sendiri untuk mengekspresikan hobi dan keahlian teknik kamu tanpa harus takut mengotori garasi utama," jelas Zyan.
Alexa berjalan masuk ke dalam laboratorium barunya dengan langkah gemetar. Ia menyentuh setiap alat yang ada. Ini adalah impian setiap anak teknik mesin memiliki bengkel pribadi yang lengkap dan modern.
"Lo... lo yang desain ini?"
"Saya yang memberi konsepnya, tapi saya konsultasi dengan beberapa ahli mesin agar isinya sesuai kebutuhanmu. Di pojok sana ada kulkas kecil berisi minuman kesukaanmu, dan ada sofa untuk kamu istirahat kalau kamu kelelahan membongkar mesin," Zyan berdiri di ambang pintu, memperhatikan reaksi Alexa.
Alexa berbalik, menatap Zyan yang berdiri di bawah lampu neon. Kekesalan yang tadi ia simpan rapat-rapat mendadak runtuh. Ia berlari dan langsung menabrakkan tubuhnya ke pelukan Zyan, memeluk pria itu sangat erat sampai-sampai oli di jaketnya berpindah ke kemeja putih Zyan.
"Lo bener-bener gila ya, Om! Ini mahal banget pasti!" seru Alexa sambil menyembunyikan wajahnya di dada Zyan.
Zyan membalas pelukan itu, mengelus rambut Alexa yang berantakan. "Bagi saya, senyum kamu jauh lebih mahal daripada bangunan ini, Alexa. Saya minta maaf karena pekerjaan saya sering kali menyita waktu kita. Tapi tolong ingat satu hal: di mana pun saya berada, pikiran saya selalu kembali kepadamu."
Alexa mendongak, matanya yang tadi berkaca-kaca kini memancarkan rasa bahagia. "Gombalan lo kali ini... gue terima deh."
Zyan mendekatkan wajahnya, menghapus noda oli di pipi Alexa dengan ibu jarinya. "Jadi, saya sudah dimaafkan?"
"Hm... dimaafkan lima puluh persen. Lima puluh persen sisanya tergantung lo mau nggak nemenin gue di sini semalaman buat nyobain alat-alat barunya."
"Menemani kamu di bengkel? Saya tidak tahu apa-apa soal mesin, Alexa."
"Makanya gue ajarin! Biar otak lo nggak cuma isinya grafik saham mulu!"
Malam itu, di tengah aroma pelumas motor dan cahaya lampu neon, hubungan mereka memasuki babak baru. Tidak ada lagi si Direktur dan si Mahasiswi yang saling benci. Yang ada hanyalah dua orang yang sedang mencoba saling memahami dunia masing-masing.
Zyan terpaksa memakai baju montir cadangan milik Alexa yang kekecilan di badannya yang atletis dan duduk di lantai memperhatikan Alexa menjelaskan fungsi setiap bagian mesin. Meski Zyan tidak paham sepenuhnya, tapi melihat semangat di mata Alexa membuat Zyan merasa ia telah melakukan hal yang benar.
"Om, lo liat ini? Ini namanya piston. Kalau ini nggak sinkron, mesin bakal hancur," ujar Alexa serius.
Zyan menatap Alexa lekat-lekat. "Sama seperti kita, ya? Kalau kita tidak sinkron, hubungan ini juga tidak akan jalan."
Alexa terdiam, lalu nyengir nakal. "Ciee, pinter juga lo bikin perumpamaan mesin. Kayaknya lo udah bakat jadi asisten montir gue nih."
"Asisten montir yang paling mahal di dunia," sahut Zyan sambil menarik Alexa ke dalam pelukannya lagi, mengabaikan fakta bahwa mereka berdua sekarang sudah penuh dengan bau oli.
Namun, di tengah kemesraan mereka di bengkel baru itu, Alexa tidak menyadari bahwa seseorang dari masa lalu Zyan, seorang wanita dari kalangan sosialita yang dulu hampir menjadi tunangan Zyan, telah kembali ke Jakarta dan berniat untuk mengambil kembali apa yang ia anggap miliknya.
Bersambung....