bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Azan subuh menyusup lewat celah genteng. "Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
Resty terbangun, matanya perih. tidur pakai sarung bolong ternyata hangat kalau hatinya tidak dingin. Dia meraba bawah bantal, Foto Aminah masih di situ, Sudutnya sudah lembab kena air mata semalam. Resty senyum dan diciumnya foto Aminah pelan.
"Pagi...Bu!. Resty nepatin janji."
Tikar tipis digulung. Sajadah lusuh digelar lagi. Kali ini tidak menunggu lampu, Subuh tidak butuh lampu tapi butuh niat. Resty pergi ke belakang mengambil wudhu dan setelah selesai dia niatkan sholat karena Allah ta'ala
"Allahu Akbar..." Resty mulai sholat. Suaranya tidak serak seperti malam tadi dan sudah agak jernih. Pas sujud, dia bisik lagi."Ya Allah...!makasih sudah jagain Bapak. Bapak pulang tidak mabuk. Itu rezeki paling mahal buat Resty."
Salam, ia duduk lama. Dengerin suara jangkrik yang mulai malu-malu pergi. Gantinya ayam tetangga."Kukuruyuk..." Dari dapur terdengar suara "klek". Awi udah bangun. Ini pertama kalinya bapaknya bangun subuh. Resty mengintip dari balik pintu. Awi lagi nyalain kompor minyak. Tangannya gemeteran, tapi matanya sadar. tidak merah seperti biasanya.
"Bapak...?" Resty manggil pelan.
Awi kaget. Ia melihat Resty pakai mukena tambalan, langsung nunduk."Eh...!kamu sudah bangun...Nak! Bapak mau nyeduh teh. Mau hangatin badan."
Itu pertama kalinya dalam 8 tahun Awi manggil dia "Nak". Bukan "anak sial", bukan "sana" atau beban. Resty jalan pelan, Duduk di dingklik bambu sebelah Awi. Bau teh dan minyak kayu putih menusuk pada indra penciuman Resty. Wangi yang dulu ada setiap Aminah masih ada.
"Bapak mimpi apa semalam?" tanya Resty hati-hati.
Awi mengaduk tehnya lama."Mimpi ibumu dan Dia marah. Katanya kalau Bapak mati siapa yang akan menjagamu, karena hanya bapak satu-satunya keluargamu."
Resty menahan napas. 8 tahun menunggu dipanggil "Nak". Sekarang dengar 2x dalam 5 menit. Rasanya seperti minum teh hangat 3 gelas sekaligus. bikin dia bisu lagi. Kasih dia suara. Kasih dia nama. Panggil dia Nak'."
"Tek". Setetes air mata Awi jatuh ke gelas tehnya. Bikin riak kecil.
"Bapak menyesal selama ini selalu mengabaikan kamu dan ibumu." isaknya." selama ini bapak hanya memikirkan diri bapak sendiri, bapak menyesal pernah memukul ibumu dan juga mengabaikan mu."
"Tek... tek... tek"
Tiga tetes lagi jatuh ke gelas. Riak kecilnya makin lebar seperti luka 8 tahun yang akhirnya terbuka. Awi menutup muka pakai dua tangan. Bahunya bergetar, Laki-laki setegar dia, yang biasa ngeluarin umpatan dan tinju, sekarang isaknya pecah di dapur reot jam 5 subuh."Bapak...! bapak pengecut Nak." Suaranya tertahan di tenggorokan. "Waktu ibumu batuk-batuk darah di pojok itu, Bapak pura-pura tidur. Waktu kamu menangis tengah malam kelaparan, Bapak pura-pura budeg. Bapak lari ke arak tampa peduli pada kalian."
Resty diam. gelas di tangannya gemetar. Uap teh panas sudah tidak kerasa. Yang kerasa cuma dada yang sesak.
"Bapak ingat....Nak?" Awi mengusap mukanya kasar. Garis air matanya kehapus, tapi jejaknya masih basah."Sekali aja Bapak memukul ibumu saat dia melarang Bapak mabuk. Tangan Bapak...? tangannya Bapak sendiri yang nonjok sampai ibumu pingsan."
"Bruk". Kepalanya ngebentur meja bambu. Kali ini lebih keras."Bapak binatang....Nak! Bapak menonjok ibumu sampai dia jatuh. Kepalanya kebentur dingklik ini."
Jarinya menunjuk dingklik bambu yang sekarang jadi tempat Resty duduk. Kayunya ada retak kecil di pojok. yang selama ini Resty kira karena usia. Resty langsung menengok ke retakan itu. malam itu Resty melihat kalau bapaknya marah-marah dan ibunya pingsan. selama 8 tahun dia duduk di situ setiap aminah nyuapin dia. ia tidak pernah tau kalau retaknya dari situ. Dadanya seperti ditusuk. Tapi dia tidak menangis atau teriak hanya diam sambil melihat retakan.
Awi mengintip dari sela jari. Takut melihat muka Resty yang akan membencinya setelah tahu semua perbuatannya."Bapak...!bapak kira ibumu mati...Nak?. Malam itu karena di liputi rasa takut, akhirnya Bapak lari ke tempat teman bapak. Pas balik, ibumu sudah bangun. Dia tersenyum ke Bapak. Dia bilang 'Bapak jangan takut'. Padahal pelipisnya..! pelipisnya bengkak besar.....Nak."
Awi menunggu. menunggu Resty mengusir dia, menunggu Resty teriak."Bapak jahat!". menunggu piring melayang seperti 8 tahun lalu yang pernah dia lemparkan ke anaknya.
Tapi yang datang cuma hening. Resty masih memegang tangan awi. Jemarinya kecil dan Dingin. Tapi genggamannya tidak lepas. "Pak..." bisik Resty akhirnya. Suaranya tidak bergetar. Anehnya malah tenang."Jadi...!retak di dingklik itu dari kepala Ibu ya?"
Awi mengangguk pelan. Air matanya menetes lagi lewat sela jari."Iya...Nak!. Bapak...! bapak yang bikin. Bapak juga kabur pada malam itu."
"Shhh..."Jari telunjuknya ditempel ke bibir Bapak. Gerakan yang sama persis seperti Aminah setiap Awi mau ngomong kasar dulu. "Ibu sudah bilang 'Bapak jangan takut'. Berarti Ibu sudah maafin sebelum napas terakhirnya."Resty mengangkat tangan satunya dan mengusap pelipis awi pelan. Pelipis yang sekarang keriput dan ada bekas luka lama."Lihat...Pak!. Pelipis Bapak juga ada bekasnya. Bekas menahan malu. Bekas menahan rindu Ibu, Bekas menahan rasa bersalah 8 tahun. Kita sama-sama luka di pelipis ya?"
Awi tidak kuat mendengar ucapan anaknya dan Bahunya ambruk. Dia tersungkur ke pangkuan Resty. Laki-laki 40 tahunan menangis seperti anak kecil di pangkuan anaknya sendiri."Bapak tidak pantas....Nak! Bapak tisak pantas kamu panggil Bapak..." isaknya ke paha Resty yang kurus.
Resty tidak menolak. Dia malah mengusap rambut awi yang sudah banyak ubannya. Kasar dan Bau minyak tanah sama teh.
"Pantes, Pak." Resty mengusapnya pelan. "Pantes kok!. Karena Bapak bangun subuh hari ini. Pertama kalinya Bapak nyeduhin Resty teh. Karena Bapak berani cerita semua ini sambil menangis. Orang pengecut tidak bakal seberani itu....Pak."
Awi mengangkat muka dari pangkuan Resty. Matanya sembab."Tapi Bapak...? Bapak yang bikin Ibu sakit dan akhirnya meninggal."
Resty menggeleng. Dia mengambil ujung sarung bolongnya, ngelap air mata awi pelan-pelan. seperti dulu Aminah ngelap muka dia setiap dia jatuh."Ibu sakit karena capek...Pak!. Capek nyuci, capek menahan lapar, lelah jagain Bapak dan Resty sendirian. Pukulan itu cuma?. cuma puncaknya. Tapi cinta Ibu ke Bapak itu tidak pernah ada puncaknya. Dari dulu sampai akhir."
"Tek". Resty mencubit pipi awi pelan, Gemes. "Jadi sekarang kita sudah sama-sama mengaku salah ya. Bapak salah mukulin ibu. Resty salah karena 8 tahun diam aja, tidak pernah bilang ke Bapak kalau Resty kangen dipeluk."
Dia menarik Resty ke pelukannya. Kaku, Kasar, dan Bau badan. Tapi pelukan terasa hangat di tubuh Resty."Maaf...Nak...!" bisiknya di ubun-ubun Resty."Bapak telat 8 tahun jadi Bapak. Tapi Bapak janji...?mulai detik ini Bapak belajar lagi Dari nol lagi untuk selalu menyayangi kamu dan melindungimu."
Resty balas memeluk awi dan dia lega. Akhirnya bapaknya mau menyayanginya lagi.
"Iya...Pak! Kita belajar bareng. Resty juga baru belajar jadi anak yang berani ngomong. Ibu pasti ketawa dari atas liat kita canggung gini
Pelukan kaku, bau badan, telat 8 tahun. tapi hangatnya sampai ke tulang."Maaf... Nak" awi berbisik di ubun-ubun Resty dan pasti berat buat bapaknya. 8 tahun keburu jadi gunung, tapi malam ini dia mutusin buat runtuhin pelan-pelan. Mulai dari nol dan Belajar lagi.
Resty membalas pelukan bapaknya. pelukan yang selama ini dia rindukan yang tidak pernah dia dapatkan selama ini. Resty bersyukur bapaknya sudah mulai menyayanginya."Kita mulai dari awal....pak." itu kalimat paling dewasa yang pernah ada. Tidak ada dendam atau pun kebencian. Yang ada sekarang hanya saling menyayangi.