NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28 Mila

BAB 28

Kuda-kuda itu berbalik. Membawa Kak Qatilah menjauh ke dalam kegelapan hutan.

Aku menjerit, meronta sekuat tenaga untuk mengejar mereka. Tapi pria kejam itu menarik tubuhku. Dia memutar pinggulnya, dan sebuah tendangan yang sangat keras melesat menghantam perutku.

DUAK!

Aku tersentak dan membuka mata lebar-lebar.

Mulutku terbuka, meraup udara dengan rakus. Rasa sakit yang mengerikan di perutku tidak hilang. Tulang rusukku berdenyut nyeri seolah baru saja dihantam batu giling. Namun, saat kesadaranku perlahan kembali, aku sadar aku tidak lagi berada di air es yang membekukan.

"Mimpi?" gumamku.

Hawa hangat dari perapian menyelimuti kulitku. Bau anyir darah telah digantikan oleh aroma kuat dari rebusan daun herbal. Aku berkedip menatap langit-langit kayu yang tak asing. Ini rumah Kakek Ezra.

Ingatanku langsung menghantam kepalaku layaknya palu baja. Kak Qatilah. Panah di perutnya. Darah. Tante Ruth yang diseret.

Aku memaksa tubuhku bergerak, berusaha duduk meski otot-ototku menjerit kesakitan.

Dari arah ruang tamu, sayup-sayup kudengar suara obrolan.

"Tunggu sebentar, Tuan Goran." Itu suara Kakek Ezra. Terdengar langkah kaki bergegas menuju ruangan tempat gulungan-gulungan aneh disimpan, lalu kembali lagi. "Bawalah ini. Ini adalah pedang simpanan Boaz yang saya simpan untuk berjaga-jaga. Di luar sana sangat berbahaya, Anda setidaknya harus membawa satu senjata besi yang sudah jadi."

"Baiklah. Aku akan memenggal mereka dan segera membawa Qatilah dan Ruth kembali," suara Ayah yang berat membalas. "Kau tunggu saja di sini."

Aku menggigit bibirku menahan erangan, menopang tubuhku ke dinding, dan memaksakan diri melangkah keluar kamar.

Di ruang tamu, Ayah baru saja mengikatkan tali perbekalan di dadanya. Pria itu sedang menggenggam pedang besi pemberian Kakek Ezra. Pedang panjang yang seharusnya mematikan di tangan manusia biasa itu, kini terlihat tak lebih besar dari sebuah pisau daging kecil di cengkeraman tangan Ayah.

Saat Ayah berbalik, matanya langsung bertubrukan denganku yang sudah berdiri gemetar di ambang lorong.

"Mila?" Mata Ayah sedikit melebar. Keterkejutan dan kelegaan melintas cepat di wajah garangnya. "Oh, sayangku, kau sudah bangun? Cepat berbaringlah lagi, kenapa kau berdiri? Tubuhmu masih penuh luka."

"Tidak," suaraku serak. Mataku menyapu ke sekeliling ruangan yang kosong. "Mana Kakak?"

Ayah terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Dia mencoba berbohong untuk melindungiku. "Tidurlah. Saat kau bangun nanti, Anak Bangsawan sudah ada di sampingmu."

Kakek Ezra ikut mendekat dengan wajah cemas. "Tidurlah, Nona Mila. Luka Anda masih belum..."

"Aku ikut!" teriakku, suaraku pecah.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menerjang maju. Tanganku menyusup cepat ke sabuk kulit Ayah dan menarik paksa sebuah belati kecil dari sana. Aku mencengkeram gagang belati itu erat-erat hingga buku-buku jariku memutih.

"Aku akan ikut!" geramku menatap mata Ayah, air mataku menggenang tapi aku menolak menangis. "Aku akan bunuh orang-orang itu!"

Ayah menatapku dalam diam. Dia melihat belati di tanganku, lalu melihat mataku yang menyala penuh kemarahan. Dia menghela napas panjang dan kasar.

"Haaah... kau benar-benar sama keras kepalanya denganku," gumam Ayah pasrah. Dia tahu, jika dia meninggalkanku, aku akan tetap nekat merangkak ke hutan menyusul mereka.

Ayah berjongkok, menyejajarkan wajahnya denganku. "Baiklah. Tapi kau harus diikat di punggung Ayah, mengerti? Ayah akan bergerak sangat cepat menyusul jejak mereka. Kau tak boleh rewel atau menangis jika guncangannya membuat tubuhmu sakit."

Aku mengangguk tegas.

Setelah Kakek Ezra membantu memakaikan mantel bulu serigala yang kering dan tebal ke tubuhku, pria tua itu mengambil seutas sabuk kulit yang panjang. Dengan cepat, Kakek Ezra mengikat tubuhku kuat-kuat ke punggung lebar Ayah, menyatukan kami agar aku tidak terlempar. Kami pun langsung berangkat.

Ayah tidak berjalan. Dia melompat dan berlari membelah hutan malam bagaikan monster buas yang kelaparan. Setiap kali kaki raksasanya mendarat dan menghentak tanah bersalju, getarannya membuat tulang rusukku yang memar terasa seperti ditusuk.

Aku memeluk leher Ayah erat-erat, menyembunyikan wajahku di balik bahunya yang besar dari tamparan angin beku, menggigit bibirku sampai berdarah agar tidak ada satu pun suara rintihan yang keluar dari mulutku.

Kami melesat melewati sungai beku tempat kejadian tadi. Bercak darah Kak Qatilah masih menodai kerikil di sana juga mayat pria yang sebelumnya kupukul. Ayah berhenti sejenak, mengendus udara dan memeriksa jejak kuku kuda yang mengarah ke dalam hutan gelap, lalu kembali melompat mengejar.

"Ayah!" panggilku di tengah deru angin yang menampar wajah kami.

"Apa?!" sahut Ayah tanpa menghentikan larinya.

"Kenapa Ayah tidak langsung menyelamatkan Kak Qatilah dan Tante Ruth tadi?!"

Ayah melompati sebuah batang pohon tumbang yang besar. "Saat aku berhasil menarikmu dari dasar sungai yang deras, orang-orang itu sudah memacu kuda mereka dan menghilang ke dalam hutan! Aku memang melihat mereka dari kejauhan sebelum kau ditendang, tapi jika aku mengejar mereka membawa tubuhmu yang membeku dan pingsan, kau akan mati kedinginan di jalan!"

Napas Ayah berembus kasar membentuk kabut putih. "Jadi aku putuskan untuk membawamu ke rumah Pendeta Tua dulu agar kau hidup, baru mengejar mereka!"

Mendengar itu, dadaku sesak. Ayah memilihku. Tapi...

"Ayah, perut Kakak tertusuk panah!" Air mataku akhirnya tumpah, tak sanggup lagi kutahan. Isak tangisku pecah ditiup angin hutan. "Apakah Kakak akan mati, Yah?!"

"Anak Bangsawan itu licik dan cerdas!" balas Ayah tegas, suaranya menggema penuh keyakinan. "Dia pasti selamat!"

"Tapi Kakak tidak bangun! Matanya tertutup, badannya dingin!"

Ayah mendadak menghentikan larinya. Dia berdiri tegak di tengah hutan pinus, lalu menoleh sedikit untuk menatapku dari sudut matanya.

"Percayalah padanya, Mila. Dia yang menyelamatkanmu dulu, ingat?" ucap Ayah dengan nada pelan namun tajam. "Sekarang hapus air matamu. Berhentilah menangis, atau Dewi Lada akan mengira kau anak yang lemah dan meninggalkanmu!"

Mendengar nama Dewi Musim Semi dan Pelindung Keluarga itu disebut, aku langsung menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Aku mengusap air mataku dengan punggung tangan yang gemetar. Ayah benar. Menangis tidak akan membuat Kakak kembali. Aku memaksa diriku berhenti menangis.

Perjalanan tanpa henti itu berlangsung selama satu hari penuh.

Dan keajaiban darah keturunan ayah di tubuhku terjadi. Sama seperti luka-luka Ayah yang selalu menutup dengan tak masuk akal, rasa sakit di dada dan kepalaku memudar seiring matahari yang terbit dan tenggelam. Memarku menghilang.

Di hari berikutnya, aku sudah tidak lagi diikat di punggung Ayah.

Aku melompat turun dan berlari di sisinya. Kakiku menghentak tanah bersalju, melesat dan melompat menghindari akar-akar pohon dengan kelincahan yang menyamai kecepatan Ayah.

Hingga akhirnya, saat hari menjelang sore, hidung kami mencium bau asap kayu bakar. Di depan kami, sebuah gerbang kayu besar yang mengelilingi sebuah permukiman mulai terlihat. Ini pasti desa yang diceritakan Tante Ruth. Jejak kuda para penculik itu menghilang tepat di bukit di dekat desa ini.

Saat kami berjalan mendekati gerbang utama, dua penjaga yang memegang tombak langsung berjaga. Tentu saja, tubuh raksasa Ayah langsung memicu kepanikan mereka.

"Rado, lihat!" seru salah satu penjaga yang bertubuh kurus, menunjuk Ayah dengan tombaknya yang bergetar. "Itu Velikan!"

Penjaga di sebelahnya, yang bertubuh lebih gempal, memukul lengan temannya. "Ah, Velikan harusnya lebih tinggi dari dia, Dobro! Jangan bodoh!"

Penjaga bernama Rado itu lalu menelan ludah, memberanikan diri melangkah maju. "B-berhenti di sana! Siapa kalian?! Mau apa kalian ke desa ini?!"

Aku melangkah maju melewati kaki Ayah, menatap mereka tajam. "Aku sedang mencari Kakakku!"

"Kami sedang melacak beberapa orang yang menculik keluarga kami!" timpal Ayah dengan suaranya yang berat dan mengancam. "Jejak kuda mereka terputus di sekitar bukit di sana. Karena ada desa di sini, kami kemari untuk mencari mereka."

Dobro si penjaga kurus memiringkan kepalanya. "Tunggu... apa keluarga kalian yang diculik itu adalah bayi atau anak perempuan?"

Mata Ayah seketika menyipit. Aku ikut membeku. "Bayi?"

"Iya," geram Ayah. Tangan kanannya perlahan turun, mencengkeram gagang pedang Kakek Ezra di sabuknya. Hawa membunuh seketika menguar dari tubuh Ayah. "Bagaimana kalian bisa tahu?"

Melihat pria raksasa di depan mereka bersiap mencabut pedang, Rado buru-buru mengangkat kedua tangannya dengan panik.

"Hei, hei! Tahan senjatamu, Pria Besar! Bukan kami yang menculik keluargamu!" Rado menjelaskan dengan cepat. "Desa ini juga sedang dilanda musibah yang sama! Bayi, anak-anak perempuan, dan bahkan ibu-ibu hamil kami diculik!"

Ayah menghentikan gerakannya. Hawa membunuhnya sedikit mereda. "Diculik? Oleh siapa? Sebuah suku?"

"Ah, itu benar," tambah Dobro dengan wajah muram. "Awalnya kami kira yang menculik mereka adalah Mamuna, iblis hutan yang suka mencuri bayi. Tapi dari jejak yang tertinggal, ternyata mereka hanya sekelompok manusia. Pemimpin desa kami juga sudah mengirimkan beberapa kelompok pria untuk mencari mereka."

Rado menghela napas lelah dan menatap tanah. "Tapi sampai hari ini... belum ada satupun dari tim pencari kami yang kembali."

Rado kemudian menatap Ayah dan aku dengan pandangan yang lebih bersahabat. Ia membuka pintu gerbang kayu itu lebih lebar.

"Masuklah dulu," ajak Rado. "Pada dasarnya, kalian mengalami masalah yang sama persis dengan kami. Mungkin kita bisa saling bertukar informasi. Oh ya, namaku Rado, dan si penakut ini Dobro."

Ayah melepaskan tangannya dari gagang pedang. Ketegangan di antara kami mencair.

"Namaku Goran," ucap Ayah pelan. Ia lalu menaruh tangannya di atas kepalaku. "Dan ini anakku, Mila."

Kami berdua pun melangkah melewati gerbang, masuk ke dalam desa yang dipenuhi oleh wajah-wajah murung dan ketakutan itu.

1
Eka
agak bosen sih Thor 2 bab dialog semua, walaupun akhirnya banyak yg terungkap 👍
Maya: sabar ya 🤭
total 1 replies
ThuscarRabbit
nih thor bunga 🤭 /Plusone//Rose/
ThuscarRabbit
gw suka ilustrasinya
Maya: makacih 😄
total 1 replies
ThuscarRabbit
pasti gatel geli geli 🤣
ThuscarRabbit
Bagus sih, isekai tema timur tengah
ThuscarRabbit
berani ya authornya bikin isekai model begini but, semangat aja thor 💪, yg penting enggak melenceng dari sejarah asli 🤭
Maya: semoga ya 🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
loh kok? ohhhh maksud nya bab 1 nya di bawah ya? aduhaku bingung🤣
Maya: ooo iya itu 🤭, males ngarang judul 😄
total 3 replies
Eka
Keren Thor di tunggu updetnya
Eka
oh ini ganti POV ya?
Eka
judulnya apa Thor?
Maya: Thats the way it is 😄
total 1 replies
Eka
wajar sih
Eka
🤣🤣🤣🤣🤣
Eka
yg satu kepo GK prnah liat orang tua yg tua cerdik bet kek kancil 🤣
Eka
kasian 🤣
Eka
detail ya juga gambarinnya ya
Eka
buset beda jauh badannya ya😄 padahal di bab brapa gitu yg ada gambarnya juga masih sama kecilnya sama si mc
Eka
oh jadi emang anak kandung si raksasa ya
Eka
time skip lagi
Eka
sebarbar itu emang ya jaman itu
Eka
suka ni udah mulai ada ilustrasi gambarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!