Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
"Jangan ikut pelajaran olahraga, karena disitu puncaknya"
"Masih ada waktu, gue bisa kasih tau arah biar lo selamat"
Naysilla menatap fokus layar ponselnya yang menyala. Dua buah pesan misterius kembali ia terima. Sedikit keraguan serta kecemasan. Apalagi ketika diumumkan jika kali ini para murid berolahraga sendiri tanpa pendamping guru.
Ia menggeser duduknya, pada sudut tersembunyi. Matanya menatap teman sekelas yang tengah melakukan peregangan disamping kolam.
"Nggak apa-apa deh, gue disini ajah. Lagian gue juga ngga bawa baju renang" bisiknya lirih.
Keributan terdengar saat rombongan kelas X1 IPS 1 memasuki area kolam. Sorakan saling bersautan antar kedua kubu, disertai candaan.
Naysilla begitu malas untuk bergabung disana. Karena memang tak ada satupun yang ia kenal. Lengkaplah sudah penderitaan nya. Sendirian, dikucilkan, dan di bully oleh teman tanpa tau apa salahnya.
Ditengah situasi yang membosankan. Sosok pemuda berkacamata hadir di barisan paling belakang.
Langkahnya pelan tapi pasti. Dengan wajah dingin yang menunduk kebawah. Ketampanannya tersembunyi dibalik penampilan cupu, dan hanya Naysilla yang mampu melihatnya. Ia bagaikan pangeran yang wajahnya disoroti cahaya.
"Udah?" ucap Mohan, yang entah sejak kapan tengah berdiri persis di depannya.
"Hah, a-apanya yang udah" kata Naysilla terbata.
"Udah puas liatin cowok ganteng?" ucap Mohan percaya diri.
"Apaan sih, orang gue lagi liatin mereka" ucapnya salah tingkah. Jarinya menunjuk sebarang, yang sialnya tepat ke arah cowok berbadan gempal.
"Oh, jadi selera cowok ganteng menurut lo, cowok yang badannya gempal yah" kata Mohan dengan nada mengejek.
"Eh, ya ampun . Bukan iiiih..." bantah Naysilla, menyembunyikan antara panik dan salah tingkah.
"Lo ngapain kesini Momon? Ini kan jadwalnya kelas IPA 3" sambungnya, mengalihkan topik.
"Oh yah? Coba liat jadwal baik-baik "
"Ah males. Pake liat jadwal segala, jadwalnya ada di kelas"
"Tuh!" Tunjuk Mohan pada lembaran kertas yang menempel di dinding.
"Iiiiis nyebelin!" Naysilla bangkit dari kursi, namun seketika lengannya ditarik paksa ke bawah. Dadanya berdebar luar biasa, saat tubuhnya mendarat persis diatas pangkuan cowok itu. Ia membekap mulutnya dengan mata melotot sempurna.
Tubuhnya semakin menegang, tatkala cowok itu berbisik pelan. Suara lembutnya, hembusan nafas yang memburu tapi hangat. Serta dekapan tak sengaja yang membuatnya nyaman, begitu nyaman sampai ia malas beranjak dari sana. Naysilla menjerit dalam diam. Pesona si cupu benar-benar membuatnya gila.
"Udah Sanah!" ucap Mohan dingin, tapi sentuhannya lembut, mendorong pelan bahu gadis itu.
"Hah...!"
Naysilla duduk diam, dengan debaran yang belum redam. Rasanya seperti diterbangkan tinggi ke awan, lalu dihempaskan tanpa perasaan. Ia memandang Mohan dengan wajah cengonya.
"Kenapa?" tanya Mohan polos.
"Tadi itu?"
"Tadi ada ketua kelas liat ke arah sinih. Nanti ketauan, dicatet lagi" terangnya lirih. Mohan kira, mereka selamat. Tapi sayangnya seorang murid berbadan gempal berteriak lantang.
"Eh, itu ada yang bolos di pojokan. Mereka pacaran guys!" seru si gempal lantang.
"Sialan!" Bisik Mohan.
...****************...
Naysilla menatap ragu pantulan dirinya didepan cermin. Lekukan body jam pasir tercetak nyata, yang hanya dibalut baju renang tipis dengan panjang sebatas paha.
"Aduuuh... Kok gini amat yah" ucapnya lirih.
"Nggak apa-apa deh, yang lain juga pada pake kaya gini. Namanya juga baju renang, ya wajar" katanya membangun percaya diri. Ia melangkah keluar yang langsung disambut Mohan.
"Ayo cepat Na, keburu telat"
Mohan menggandeng Naysilla dari ruang ganti begitu saja, tanpa melihat penampilannya seperti apa.
Hingga tibalah mereka di area kolam. Beberapa murid terlihat sedang berenang secara bergantian. Ada pula yang melakukan peregangan, atau sekedar duduk santai dengan pakaian basah, tanda ia sudah mendapatkan gilirannya.
Walau tak didampingi guru, semua murid wajib mengikuti renang, dengan ketua kelas masing-masing yang menjadi komando agar semuanya berjalan lancar.
"Eh eh, liat tuh! Penampilannya semakin menjiwai"
"Bukan cuma menjiwai, tapi emang jiwanya"
"Hahahaha..."
"Tapi emang bener kan?"
"Iyah Iyah, bener. Dia emang jalang, pantes ajah pakainya kaya gitu"
"Liat tuh, jalang murahan kaya dia ngga bakal laku disini. Makanya dia pacarin si Cupu miskin"
"Hahahaha..."
Bisik-bisik terdengar samar ditengah kerumunan. Naysilla berjalan melewatinya begitu saja, tanpa ada rasa apapun. Tapi tidak dengan Mohan. Sekilas ia memandang tampilan gadis di sampingnya yang begitu mengejutkan. Sial, sudah sampai sini tapi ia baru sadar. Rasanya ingin menariknya kembali, tapi terlambat.
Seseorang memanggil nama Naysilla, lewat buku absennya. Ia berjalan penuh percaya diri, tanpa bisa dicegah lagi.
"Naysilla Violetta, ayo giliranmu!" ujar ketua kelas dengan wajah datar.
"Ini kedalamannya berapa? Gue ngga bisa renang soalnya" tanya Naysilla sedikit ragu.
"Ngga dalem, cuma seratus meter lebih dikit" jawabnya ketus.
"Eh, kamu ngga bisa berenang yah? Jangan masuk situ! Kolam yang di sebelahnya lebih dangkal" ucap siswi asing yang entah siapa.
Naysilla nurut tanpa menuntut. Langkahnya pelan, setiap gerakan jadi pusat perhatian. Sebagian orang terdiam, mengamati dengan pasti dan debaran tanpa henti.
"Apa nggak apa-apa yah? Nanti kalo kita ikutan kena masalah gimana?"
"Nggak bakalan, sejauh ini selalu aman. Kan ada queen"
Bisikan misterius terdengar samar. Mohan yang kepekaannya di atas rata-rata menangkap sinyal tanda bahaya. Ia meraba saku bajunya mencari keberadaan ponsel yang sialnya tak ada.
"Eh, jalang. Lo lama amat sih, cepetan dong....! Gantian nih sama yang lain" pekik Jessy lantang. Diam-diam ia menghitung waktu dengan kegelisahan.
Semakin di desak, keraguan semakin nyata di benaknya. langkahnya melambat, membuat penonton semakin berdebar hebat.
"Lama amat sih, tinggal masuk ajah juga" gerutu Lena, yang entah sejak kapan posisinya berada persis di samping Naysilla.
Mohan menarik paksa Naysilla untuk beranjak dari sana, tepat ketika Lena mengulurkan tangan hendak mendorongnya.
Byur...
Suara percikan air bagai mantra ajaib yang menghipnotis semua orang. Tak terkecuali Naysilla yang didera penasaran tingkat dewa, tapi sayangnya kakinya terus dipaksa melangkah oleh cowok di sampingnya.
"Momon"
"Ssttt... Nanti ajah!"
"Itu kayaknya ada yang tenggelam. Katanya kolamnya dangkal tapi kok dia diem ajah. iiisss, nggak ada yang nolongin lagi. Liat itu Momon!"
"Bawel!" Mohan membopong paksa gadis itu di pundaknya bagai karung besar.
Naysilla yang mendapatkan perlakuan seperti itu cukup kesal. Kakinya menendang-nendang asal. Ia ingin mengumpat tapi tak sempat.
Mulutnya terkunci rapat, terdiam dengan tubuh menegang, di pundak kokoh Mohan.
"Jangan dipikirin!" ucap Mohan santai. Ia menurunkan gadis itu di tempat aman, area taman.
"Kenapa pucet gitu? Dibilang Jangan dipikirin juga"
"Momon, tadi itu kayak ada yang nggak beres di kolam itu"
"Kenapa lo mikir gitu?"
"Soalnya tadi nggak ada yang mau nolongin, padahal yang jatuh temen mereka sendiri "
"Terus?"
"Tadi gue di desak buat cepet-cepet masuk kolam. Tapi yang jatuh malah dia sendiri. Keliatannya kolam itu emang dangkal sih, tapi kok dia kayak kesakitan, teriak-teriak gitu"
"Udah yah, nggak usah dipikirin" ucap Mohan lembut, lantas mengacak pelan rambut gadis itu.
"Gue tau lo ngerti dan bisa baca situasi, cuma agak lama dikit loading nya" sambungnya.
"Maksudnya gimana?"
"Nggak ada. Sana ganti baju! Nggak enak banget liat bentukan lo yang kaya gitu" ucap Mohan membuang muka.
"Lah, bentuk gue kenapa?"
Ninu... Ninu... Ninu...
Sirine mobil ambulans meraung nyaring. Beberapa petugas berseragam berlari terbirit-birit mendorong brankar.
Naysilla kembali terdiam dengan dada yang berdebar hebat. Ia memandang Mohan yang juga balik menatapnya.
cupu tuh apaan ?