Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
POV: Nara
"Kenapa kamu ke studio tato?" tanyanya.
Seketika kepalaku terangkat menoleh padanya. Bagaimana dia tahu? Aku menatap matanya mencoba berpikir. Ah benar, ponselku—ia sudah menyadap ponselku dan tahu semua aktivitasku.
"Maaf, aku... tidak terus terang. Tapi aku tidak bermaksud bohong," kataku. Wajahku memelas, aku menatap matanya dengan sendu, berharap ia tidak marah.
"Apa namanya kalau bukan bohong, Nara?"
"Aku tidak berani berterus terang, kamu pasti tidak akan mengizinkan." Aku berusaha membela diri sendiri.
"Ada urusan apa di sana?"
"Keanu... aku bertemu Keanu," jawabku dengan cepat.
"Untuk apa?"
“Tadinya aku mau buat tato lagi.”
Aku bahkan tidak yakin kenapa mengatakan itu. Pertanyaan-pertanyaannya yang datang tanpa jeda membuatku semakin gugup.
Devandra tiba-tiba tertawa pelan. “Barusan bertemu Keanu, lalu tiba-tiba ingin buat tato?”
Ia menoleh menatapku, senyum tipis itu masih ada di wajahnya, tapi matanya sama sekali tidak ikut tersenyum.
“Sayangnya, aku tidak sebodoh itu, Nara.”
Aku kembali menunduk, menghela napas pelan dengan dada yang terasa semakin berat. Kali ini aku sudah pasrah. Jika setelah ini Devandra marah, mungkin memang itu konsekuensi yang harus kuterima.
“Dev...” Suaraku terdengar pelan sebelum akhirnya aku memberanikan diri menatapnya lagi. “Tolong berhenti membatasi gerakku.”
“Apa?”
Tanganku yang sejak tadi menggenggam jemarinya perlahan menegang saat ia mengangkat tangan itu ke leherku. Sentuhannya terasa hangat, tetapi justru membuat napasku tercekat. Dengan pelan, ia memaksaku mendongak menatap wajahnya.
“Aku seperti ini bukan tanpa alasan, Nara.”
Suaranya terlalu tenang hingga membuat dadaku semakin sesak.
“Aku tahu ada seseorang yang menyukaimu.”
Tatapannya tidak lepas sedikit pun dariku.
“Aku juga tahu kamu pernah mengkhianatiku diam-diam.”
Jemarinya mengusap pelan sisi leherku sebelum ia melanjutkan kalimatnya dengan nada rendah yang nyaris seperti bisikan.
“Aku tahu semuanya.”
Aku berusaha melepaskan cengkeramannya, namun wajah Devandra justru berubah semakin tegang.
“Aku minta maaf, Dev...” Suaraku terdengar serak. Napasku mulai terasa berat, sementara jemariku mencoba menarik tangannya dari leherku.
“Lepas... Dev...” Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh begitu saja.
Tatapan Devandra sedikit berubah saat menyadari aku mulai kesulitan bernapas. Beberapa detik kemudian, ia melepaskan tangannya perlahan. Aku langsung terbatuk refleks sambil memegangi leherku yang terasa panas dan nyeri. Napasku memburu tidak beraturan, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa kuhentikan.
“Kali ini aku akan memaafkanmu.” Devandra menatapku lekat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Mungkin karena suasana hatiku sedang baik. Bisnisku meningkat akhir-akhir ini.”
Ia menarik napas pelan. “Malam Sabtu nanti akan ada pertemuan dengan klien penting di restoran. Dan kamu harus mendampingiku.”
Aku hanya mampu mengangguk pelan. Tenagaku sudah habis bahkan hanya untuk sekadar berbicara. Devandra mengusap sisa air mata di pipiku dengan lembut, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Setelah itu, ia kembali mengucapkan maaf seperti biasanya. Seolah beberapa menit lalu tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku tersenyum tipis demi menenangkan dirinya, meski dadaku terasa sesak. Setelah semuanya selesai, aku segera masuk ke kamar. Dan di sanalah tangisku akhirnya pecah.Aku lelah, benar-benar lelah hidup seperti ini. Setiap hal yang kulakukan selalu terasa seperti kesalahan. Seolah aku adalah seseorang yang terus diawasi, lalu dihakimi begitu saja saat ketahuan melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Bahkan untuk bernapas dengan tenang pun rasanya aku harus meminta izin lebih dulu.
...***...
Tok... tok.
Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamarku. Aku segera memperbaiki pakaianku karena baru selesai mandi.
Bik Sumi berdiri di depan sana dengan wajah penuh kecemasan. Perempuan paruh baya itu menatapku hati-hati, seolah takut melihat sesuatu yang buruk.
“Non nggak apa-apa?” tanyanya pelan.
Aku berusaha tersenyum meski terasa sulit. “Nggak apa-apa kok, Bik.”
Tatapan Bik Sumi tidak langsung percaya begitu saja. Ia sudah terlalu lama tinggal di rumah ini untuk tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bik Sumi adalah asisten rumah tangga lama di rumah Devandra. Sifatnya yang keibuan membuatku merasa nyaman setiap berada di dekatnya. Di rumah sebesar ini, mungkin hanya dia satu-satunya orang yang masih memberiku rasa hangat seperti keluarga.
Ia juga sangat peduli padaku. Setiap kali Devandra memperlakukanku dengan kasar, Bik Sumi selalu menjadi orang yang paling terlihat sedih dan cemas. Bahkan beberapa kali ia meminta maaf padaku hanya karena tidak mampu melakukan apa-apa selain diam menyaksikan semuanya terjadi. Dan justru itu yang membuat hatiku semakin sesak.
“Bibi mau pamit pulang. Makan malam juga sudah Bibi siapin, jadi Non Nara jangan lupa makan, ya.”
Bik Sumi mengusap pelan kepalaku sambil sedikit menjinjit agar lebih mudah menjangkaunya. Gerakan sederhana itu terasa begitu hangat sampai dadaku kembali terasa sesak. Jam kerjanya memang hanya sampai pukul enam sore. Setelah itu rumah ini akan kembali terasa sunyi seperti biasanya.
Aku mengangguk kecil. “Iya, nanti Nara makan.”
Setelah berpamitan dengan Bik Sumi, aku langsung keluar dari kamar. Rumah ini kembali sunyi, hanya menyisakan aku dan Devandra di dalamnya.
Mataku mencari sosok Devandra, tetapi sepertinya ia masih berada di kamarnya. Aku berniat mengajaknya makan malam. Dengan langkah cepat, aku menaiki anak tangga menuju lantai atas sebelum berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Tanganku terangkat pelan, mengetuk pintu itu beberapa kali.
Tidak lama kemudian pintunya terbuka. Devandra berdiri di sana dengan wajah datar khasnya. Rambutnya sedikit berantakan, sementara tatapan tajam itu langsung tertuju padaku
Ia memang memiliki pesona yang mampu membuat banyak wanita kehilangan akal hanya dengan sekali lihat. Untungnya, aku tidak termasuk salah satunya.
Atau mungkin... dulu pernah.
“Mau makan malam bersama?” tanyaku pelan.
Devandra tidak langsung menjawab. Tiba-tiba ia menarik lenganku masuk ke dalam kamar hingga pintu di belakangku tertutup begitu saja. Tubuhku refleks membentur dada bidangnya, sementara kedua lengannya langsung melingkar erat di tubuhku.
Aku sedikit terdiam saat merasakan wajahnya jatuh di pundakku. Hangat napasnya menyentuh kulit leherku pelan.
"Kamu baru bangun tidur?” tanyaku sambil menahan napas. Ia hanya berdehem pelan sebagai jawaban. Aku mengusap perlahan punggungnya, mencoba menenangkan suasana yang sejak tadi terasa canggung.
“Lebih baik kamu mandi dulu,” ucapku pelan.
“Aku tunggu di bawah.”
Namun pelukannya justru semakin erat, seolah ia belum ingin melepaskanku pergi.
“Aku sedang malas mandi, tapi...” Kalimatnya menggantung begitu saja.
Aku menatapnya bingung. “Tapi apa?” tanyaku penasaran.
Devandra mengangkat wajahnya perlahan, menatapku dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
“Buat aku jadi kotor,” ucapnya pelan. “Setelah itu baru aku mandi.”
Aku langsung melepaskan pelukannya sambil mengernyit heran. “Kamu mau aku lempar pakai kotoran?”