Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Pak Rehan Yang Licik
Pak Rehan masih bersenang-senang atas tindakannya. Dia tidak menyadari bahwa upah pekerja tidak diberikan secara utuh. Saat ini, di luar sana banyak yang mengeluh karena uang mereka dapatkan tidak sesuai dengan janji.
"Apa-apaan ini? Kenapa upah yang kami dapatkan sangat kecil? Tidak sesuai perjanjian!" tegur salah satu tukang dengan wajah yang pucat dan mata membesar.
Mendengar itu, staf yang memberikan upah mereka menjadi sedikit kuwalahan. Dia memeriksa kembali buku catatan keuangan dan menghitung jumlah uang yang ada. Namun, tidak ada kelonggaran sama sekali. Uang yang ia miliki tinggal sedikit dan itu hanya cukup untuk beberapa tukang saja. Sementara itu, di belakang sana masih ada banyak orang berbaris menanti bayaran mereka.
"Apa pak kepala sekolah belum menyimpan sisa uang untuk upah mereka?" gumam staf itu. Dia menghela napas sambil melihat semua orang yang ada di depannya.
Wajah orang-orang itu mengerut, mata mereka memicing, keringat terus mengucur. Mereka terus menatap tajam antara ingin marah atau memastikan kepastian yang menggantung. Staf itu mengangkat tangan dengan rasa panik.
"Bapak-bapak, tolong tunggu sebentar ya. Saya akan menanyakan kepada kepala sekolah untuk memastikan upah kalian," tegas staf itu dengan suara hati-hati, cukup pelan.
Mereka hanya diam mendengarkan. Bahkan salah satu ada yang berteriak dengan wajah memerah. "Cepat! Jangan lama-lama. Kami kepanasan nih."
Staf itu mengangguk. Dia segera menemui Pak Rehan yang masih ada di ruangan. Di dalam sana, sang kepala sekolah masih duduk bersantai sambil memainkan sejumlah uang di tangan dan sesekali minum. Melihat itu, staf itu mengepalkan tangan. Tatapannya berubah tajam, alisnya bertaut. Dia berjalan cepat ke kursi itu.
"Pak, apa yang anda lakukan?" tegur staf itu membuat Pak Rehan menoleh padanya sekilas. Pria itu menaruh uang yang dia pegang di atas meja sambil menatap penasaran pada staf itu.
"Saya lagi bersantai dong, kenapa?" tanya Pak Rehan.
Staf itu tidak langsung menjawab. Matanya melirik uang yang ada di atas meja sambil memainkan pergelangan tangan. Dia menghela napas sebelum mengatakan sesuatu.
"Pak, saya ingin bertanya hal penting, anu—" ucap staf itu pelan.
Pak Rehan mengangguk sambil tersenyum. "Ckk, ngomong aja."
"Jadi begini, Pak Rehan. Dana untuk pembayaran para tukang itu kurang. Apa bapak sudah menghitung uangnya dengan benar?" tanya staf itu memastikan. Dia menatap Pak Rehan dengan sedikit rasa tidak percaya.
Mendengar pertanyaan yang berasa meremehkan dia, wajah Pak Rehan pun langsung memerah. Dia segera memukul meja kasar membuat staf itu tersentak kaget. Kedua matanya menatap tajam staf itu dengan hati yang masih berdebar karena marah.
"Kamu pikir saya bodoh, HAH?! Saya tidak pernah lalai dengan tugas saya. Semua sudah saya atur untuk pembangunan dan juga upah mereka," tegas kepala sekolah itu dengan suara lantang.
Staf itu menghela napas. "Tapi kenapa dana pembangunan dan upah pekerja bisa kurang?"
"Itu bukan urusan saya. Tanyakan saja pada admin, apa mereka salah menghitung atau memang pemerintah hanya memberikan segitu saja?" ketus sang kepala sekolah itu dengan suara dingin.
Pak Rehan mengangkat bahu tak acuh. Tatapannya berubah sinis sambil menyeringai kecil. Bahkan mengangkat kaki di atas meja, seolah sedang merendahkan staf yang ada di hadapan ini.
"Saya sudah menanyakan ke adminitrasi, katanya uang sudah pas," ujar staf itu. Dia kembali menatap uang yang ada di atas meja kepala sekolah itu. "Apa bapak diam-diam mengam—"
Belum sempat staf itu menyelesaikan kata-kata, Pak Rehan kembali memukul meja membuat dia tersentak.
"Heh! Sudah saya katakan, saya sudah memberikan uang itu pada kalian. Jadi, kurang atau lebih, bukan urusan saya," balas Pak Rehan. Suaranya lebih tegas daripada sebelumnya.
Pak Rehan pun mengusir staf itu keluar dari ruangan dengan kasar. Di luar, staf itu terpaksa memberikan upah para tukang dengan sisa gajinya sendiri. Awalnya dia senang, semua pekerja dapat bagian, tapi sampai ke dua orang terakhir, uangnya hanya sisa beberapa koin.
"Kalian main-main sama kami ya?" protes tukang itu.
Staf itu menghela napas. "Tapi dana kami tinggal segini, Pak. Maafkan kami!" ucapnya pelan.
Tukang itu menggelengkan kepala. Dia mengambil uang yang diberikan itu dengan paksa. "Lain kali kalau mau bangun sesuatu tuh hitung uangnya yang benar! Semoga kalian nanti digentayangin mbak Naja!"
“Nah betul itu, karma kalian, tunggu saja!” Pekerja proyek yang lain ikut menimpali.
“Kalian menganggap kami hanya kuli kecil yang tidak berdaya kan? Biarkan saja nanti mereka kena balasan oleh Naja!” Ujar tukang yang lain.
Keadaan membuat staf itu menjadi tertekan. Dia menjadi korban atas kerakusan kepala sekolah dan rasa lapar para tukang. Uang yang seharusnya untuk biaya kebutuhan sekolah malah habis lenyap begitu saja. Andai jika bukan untuk menutupi aib sekolah, staf itu mungkin tidak akan segan memberikan uang sebanyak itu demi mereka.
Dia mengusap keringat yang mengucur di dahinya sambil melirik ke arah gedung sekolah. Tepatnya ke jendela ruangan Pak Rehan. Tatapannya seperti tajam dan kosong.
"Benar kata para tukang tadi. Aku harap, pak Rehan segera mendapatkan karmanya jika dia berbohong," ucap staf itu dengan suara lirih tapi tegas.
Saat staf itu juga mengucapkan harapan yang sama dengan para tukang tadi, tiba tiba saja petir bergemuruh dan langit mulai gelap. Sejenak, ruangan Pak Rehan seperti berguncang terkena gempa. Pria itu sampai terlonjak hingga uang yang dia pegang berjatuhan ke lantai dengan berantakan.
Pak Rehan mengerutkan kening. Dia menatap sekeliling. Sejenak semua aman-aman saja. Namun, hujan turun dengan deras diiringi badai membuat hatinya gelisah entah kenapa.
"Aku tidak mengerti cuaca sekarang itu bagaimana deh. Kadang cerah kadang badai," gumam pak Rehan sambil membungkuk mengambil uang ratusan ribu yang berserakan di lantai.
"Iya, persis seperti kamu Pak gendut botak belakang. Kadang baik kadang kasar. Bahkan lebih parahnya, menyembunyikan uang di balik kotoran," celetuk seseorang yang tiba tiba saja ada di dalam ruangan tanpa permisi.
Pak Rehan yang sudah mengambil uang itu segera menoleh pada sosok yang ada di dekatnya. Namun, jantungnya berdesir saat melihat sosok Naja sudah ada di dalam.
Matanya melotot tidak percaya dan bulu kuduknya merinding karena sosok Naja hadir dalam wujud khasnya yang menyeramkan. Sosok itu berdiri tak menapak di lantai.
Pak Rehan memundurkan langkah, dia gelagapan melihat Naja yang menyeringai padanya. Pria itu ketakutan dengan bara api yang ada di sayap kiri Naja yang hitam. Sementara tatapan Naja tajam sedikit berbinar seperti ular yang menemukan mangsa.
"Kenapa? Kamu kok kaya ketakutan gitu? Biasa aja keleus\~" tanya Naja basa-basi sambil memiringkan kepala.
Naja terus berjalan maju di dengan mengambang di udara, mendekati Pak Rehan secepat cahaya tapi dia pelan kan langkahnya agar tidak membuat pria itu panik.
"Aku tidak tahu kenapa kamu datang kemari, aku tidak melakukan kesalahan," ucap kepala sekolah itu dengan suara gemetar dan terus melangkah mundur sampai mentok di dinding.
Naja tertawa kecil. "Tidak melakukan kesalahan?" tanyanya tidak percaya. "Kalau begitu kenapa kamu panik?"
Pak Rehan menelan ludah. Dia menggenggam erat uang yang ada di tangannya. "Aku hanya takut kamu salah paham."
"kalau kamu jujur, ngapain takut."
Pria itu terus berusaha untuk membela diri. Dia mengalihkan pandangannya ke jendela dan juga beberapa dokumen di meja.
"Aku sudah mengurus semua dengan baik, aku juga sudah mengatur keuangan agar semua tercukupi," tegas Pak Rehan.
Namun, di saat dia menjelaskan itu, tiba-tiba saja uang yang dia pegang berubah menjadi daun.
“U-UANGKU!”