Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Lembah Seribu Bunga (bagian ketiga)
"Iblis?!, Mau kau iblis ataupun Dewa, enyahlah dari lembah ini!" teriak Guan Xian.
Ia tidak lagi mencoba memahami apa yang di katakan keduanya. Ia memilih untuk percaya pada mata batinnya, insting seorang pendekar untuk melindungi mereka yang lemah. Baginya, menyelamatkan Su Ying adalah segalanya saat ini.
Guan Xian langsung menerjang ke arah Zhao Yun tanpa memedulikan apa pun akibatnya. Kecepatan gerakannya menciptakan tekanan udara yang dahsyat, dedaunan di sekitar areanya berhamburan menepi, seolah-olah alam pun memberi jalan bagi amarahnya yang murni.
-Pedang wanita cantik_
Itu adalah jurus pedang legendaris milik keluarga Guan. Sebuah tarian maut yang menggabungkan kelembutan sutra dengan ketajaman baja yang tak tertandingi.
Zhao Yun sedikit pun tidak menunjukkan rasa gentar melihat Guan Xian yang menyerangnya. Sebaliknya, ia hanya tersenyum tipis, menanti serangan Guan Xian yang hanya berjarak beberapa inci dari dadanya.
Dan... seketika itu juga.
Dunia di sekeliling Guan Xian berubah secara drastis. Lembah indah dengan semilir angin dan aroma bunga persik lenyap dalam sekejap mata. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi merah darah yang pekat. Tanah tempatnya berpijak bukan lagi rumput hijau, melainkan hamparan tulang belulang yang kering.
Sihir gelap Zhao Yun telah menyeret Guan Xian masuk ke dalam dimensi lain, sebuah dunia bayangan di mana logika manusia tidak lagi berlaku.
Guan Xian menghentikan serangannya, napasnya tertahan. Ia berdiri sendirian di tengah padang sunyi yang mengerikan itu. Su Ying telah menghilang. Lembah telah lenyap. Yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam.
Tiba-tiba, sebuah suara pelan memanggil namanya dari arah belakang. Nada suara itu tidak asing di telinga Guan Xian. Nada yang lembut, hangat dan penuh kasih sayang.
Dengan cepat, Guan Xian menoleh. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Ibu...ibu...?"
Di sana, di tengah kabut merah yang tipis, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana yang sangat di kenal Guan Xian. Wajahnya memancarkan kelembutan dan kehangatan yang dulu selalu menjadi pelindungnya dari kerasnya dunia luar.
"Guan Xian...anakku," wanita itu mengulurkan tangannya yang pucat. "Kenapa kau masih menggenggam pedang itu? tidakkah kau lelah bertarung? Kemarilah, nak. Pulanglah bersamaku"
Mata Guan Xian mulai berkaca-kaca. Pedang di tangannya perlahan melunglai. Logikanya berpikir ini adalah jebakan, namun hatinya yang haus akan kasih sayang ibu justru menarik kakinya untuk melangkah jauh.
"Ibu...apakah ini benar-benar kau? Tapi bukankah di malam itu..."
Belum habis perkataan Guan Xian, dunia sihir ciptaan Zhao Yun lenyap seketika, berganti kembali dengan pemandangan lembah bunga yang indah. Langit merah darah terhapus, menampakkan kembali sosok Zhao Yun yang berdiri tenang dan Su Ying yang tampak pucat ketakutan.
Guan Xian jatuh berlutut ke tanah. Tubuhnya gemetar hebat, dan pedangnya terlepas dari genggaman jatuh tak berdaya di atas rumput.
"A-apa yang terjadi? Ta-Tadi... ibu..." katanya lirih, suaranya pecah oleh sisa kerinduan yang belum tuntas. Matanya menatap kosong ke arah tempat di mana bayangan ibunya baru saja berdiri, namun kini yang ada hanyalah kelopak bunga yang tertiup angin.
Zhao Yun menutup kipasnya. Ia menatap ke arah Guan Xian dengan tatapan seolah-olah wanita itu hanyalah seekor serangga yang menarik untuk di permainkan.
"Ibumu?" Zhao Yun tertawa kecil, suara tawanya kering dan menusuk. "Dia sudah lama menjadi debu, Guan Xian. Yang kau lihat tadi hanyalah cerminan dari kelemahan hatimu sendiri. Iblis tidak menciptakan hantu, kami hanya meminjam ingatanmu untuk menghancurkanmu."
Su Ying berlari mendekat, ia langsung memeluk bahu Guan Xian yang masih menggigil. "Guan Xian, kau tidak apa-apa?"
Guan Xian tidak menjawab. Ia mencengkram tanah dengan jemarinya. Air mata jatuh membasahi bumi lembah. "Dia memanggilku, Su Ying...suaranya sangat nyata."
Zhao Yun melangkah maju. Bayangan dirinya yang panjang menutupi tubuh kedua wanita itu.
"Apakah sekarang kau percaya bahwa aku adalah iblis?" tanya Zhao Yun, suaranya tenang namun mengandung getaran yang mengintimidasi.
Zhao Yun mengangkat kipasnya, lalu berbalik membelakangi mereka dengan sikap angkuh. "kekuatan manusia...mana mungkin bisa melawan kekuatan iblis yang sejati...hahahaha..."
Suara tawa Zhao Yun menggema ke seluruh lembah, memantul di dinding-dinding tebing dan menenggelamkan suara gemericik air terjun. Tawa itu terdengar seperti seribu lonceng kematian yang berdentang bersamaan, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang.
...****************...