NovelToon NovelToon
Janji Darah Sang Vampir

Janji Darah Sang Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.

Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.

Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SOSOK MISTERIUS

Setelah berjalan beberapa jam lagi melewati jalan setapak yang makin lebar dan terawat, akhirnya kelompok tujuh orang itu tiba di gerbang masuk Desa Cemara. Pemandangan di depan mata mereka berubah sepenuhnya dari rimbunan hutan lebat menjadi hamparan pemukiman yang asri, tenang, dan tertata sangat rapi. Rumah-rumah panggung berjejer berbaris teratur dengan jarak yang sama, dikelilingi pekarangan penuh tanaman bunga dan pohon buah yang rindang. Jalan utama desa terbuat dari tanah padat yang bersih, tanpa satu pun sampah atau dedaunan kering berserakan. Suasana terasa damai, sepi, dan hening, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat ini.

Namun, ada satu hal yang langsung terasa berbeda dan sedikit membuat merinding: sepanjang jalan masuk itu, tak satu pun warga yang terlihat beraktivitas. Desa itu tampak indah dan hidup, tapi sepi seperti tak berpenghuni. Hanya suara angin berhembus menyapa dedaunan dan suara burung berkicau yang memecah keheningan.

"Desa ini... sangat bersih dan tertata. Tapi kenapa sepi sekali ya?" bisik Sari pelan sambil menatap sekeliling dengan rasa penasaran bercampur waspada.

Dika mengangguk setuju, matanya mengamati setiap sudut jalan. "Desa Cemara memang terkenal sangat tertutup dan memegang teguh adat istiadat. Mungkin ada aturan tertentu yang membuat warga jarang keluar rumah saat siang hari. Tetap waspada, teman-teman. Kita datang sebagai tamu, kita harus bersikap sopan dan hormat, tapi jangan lengah sedikit pun."

Mereka berjalan terus ke arah tengah desa, menuju bangunan terbesar dan paling megah yang berdiri kokoh di pinggir aliran sungai kecil yang membelah desa itu. Itulah Balai Desa, pusat pemerintahan sekaligus kediaman Kepala Desa. Baru saja mereka tiba di halaman depan, seorang lelaki tua berperawakan tegap dengan jubah putih bersih dan ikat kepala hitam muncul dari balik pintu, disertai dua orang pemuda berbadan kekar yang berjalan di belakangnya. Wajah lelaki tua itu berwibawa, tatapannya tajam namun tenang, dan senyum tipis terukir di bibirnya. Dialah Pak Harun, Kepala Desa Cemara.

"Selamat datang, para pendekar dari Padepokan," sapa Pak Harun dengan suara berat dan lantang, terdengar ramah namun penuh perhitungan. "Kami sudah menunggu kedatangan kalian. Kabar bahwa ada rombongan tamu dari padepokan yang akan melewati wilayah kami sudah sampai ke telinga kami sejak kemarin sore. Silakan masuk, duduklah. Jangan sungkan, anggap ini rumah sendiri."

Dika dan yang lain saling pandang kaget dalam hati. Mereka baru berangkat kemarin sore, dan rahasia tujuan perjalanan mereka pun dijaga ketat. Namun Kepala Desa ini sudah tahu mereka datang dan dari mana asalnya. Semakin menambah rasa curiga dan misterius desa ini.

Dika maju selangkah, memberi hormat dengan sopan dan santun sesuai adat. "Terima kasih atas sambutan Bapak Kepala Desa. Kami datang dengan niat baik, hanya sekadar melewati dan mencari istirahat sejenak. Kami sedang menjalankan tugas mencari benda pusaka milik padepokan kami yang hilang, dan jejaknya mengarah ke wilayah sekitar sini. Kami berharap Bapak dan warga desa berkenan membantu kami jika ada informasi apa pun."

Pak Harun tersenyum makin lebar, mempersilakan mereka masuk ke beranda balai desa. Ia mendengarkan penjelasan Dika dengan tenang, sesekali mengangguk seolah mengerti dan bersimpati.

"Kami turut berduka mendengarnya. Benda pusaka pasti sangat berharga bagi kalian. Kami akan berusaha membantu sebisa kami," jawab Pak Harun tenang. "Namun sejauh pengetahuan kami, selama ini tak ada orang asing yang masuk atau keluar desa ini, apalagi membawa barang berharga. Desa kami damai, aman, dan warga kami hidup sederhana. Tak ada yang berani berbuat jahat di sini."

Pembicaraan berlangsung cukup lama. Pak Harun menjelaskan panjang lebar tentang adat istiadat desa, aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap tamu yang menginap, dan bagaimana kehidupan warga mereka yang sangat menjaga ketertiban dan kesucian desa. Semuanya terdengar masuk akal, indah, dan baik-baik saja. Namun di telinga Liam yang peka, ada nada yang sedikit tersembunyi, ada rasa ditutup-tutupi yang samar namun jelas terasa. Selama pembicaraan itu berlangsung, Liam tetap diam berdiri di belakang teman-temannya, menatap lekat-lekat wajah Pak Harun, menangkap setiap gerik mata dan perubahan nada bicaranya.

Saat matahari mulai condong ke barat dan hari mulai sore, Pak Harun mengakhiri pembicaraan dan mengurus tempat tinggal mereka.

"Karena hari sudah mulai sore dan jalan ke depan cukup berbahaya jika ditempuh malam hari, sebaiknya kalian menginap di sini saja malam ini. Besok pagi baru lanjutkan perjalanan," kata Pak Harun. "Sudah saya siapkan tempat yang nyaman untuk kalian. Kalian akan menginap di rumah Pak Suryadi, warga kami yang rumahnya cukup luas dan bersih, letaknya tak jauh dari balai desa ini. Warga sana sudah disiapkan untuk melayani kebutuhan kalian."

Mereka pun berpamitan dan berjalan menuju rumah yang dimaksud. Rumah itu cukup besar, terbuat dari kayu jati kokoh, dikelilingi halaman luas yang penuh tanaman obat dan bunga wangi. Tuan rumah, Pak Suryadi dan istrinya, menyambut mereka dengan sangat ramah, sopan, dan berlebihan bahkan, seolah tamu kehormatan. Mereka menyiapkan makanan lezat, minuman hangat, dan kamar-kamar bersih untuk istirahat.

Sepanjang sore hingga malam, suasana tetap sama: damai, tenang, namun terasa ada sesuatu yang mengganjal. Diah, yang dari tadi tak pernah lepas dari Liam, terus berusaha mencari perhatian. Saat makan malam, ia yang duluan mengambilkan makanan untuk Liam. Saat istirahat, ia duduk tak jauh dari tempat Liam berada, terus mengajak bicara, bertanya ini itu, memuji kebijaksanaan Kepala Desa, atau sekadar mengagumi keindahan desa itu.

"Desa ini indah sekali ya, Liam? Damai, bersih, dan warganya sangat baik hati. Rasanya betah sekali tinggal di sini," ucap Diah sambil tersenyum manis, berharap Liam mau membalas atau sekadar mengangguk setuju.

Namun Liam hanya menjawab singkat dan sopan seperti biasa, matanya tak pernah berhenti bergerak mengamati sekeliling, mendengarkan suara-suara halus yang tak bisa didengar orang lain. Di dalam hatinya, ia merasa semakin yakin: Mustika Naga Pusaka itu memang ada di desa ini. Tenaga sakti benda itu terasa makin kuat, makin dekat, makin jelas terasa getarannya. Dan tenaga itu... tidak tersimpan diam saja. Tenaga itu sedang dipakai, sedang dialirkan, dan dikendalikan oleh seseorang.

Malam semakin larut. Bulan purnama bersinar terang sekali di langit, menerangi seluruh desa dengan cahaya putih keperakan yang dingin. Semua teman-temannya sudah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat lelah seharian berjalan. Diah pun akhirnya pamit masuk ke kamar, meski sempat menatap Liam agak lama sebelum menutup pintu.

Liam tidak masuk tidur. Ia duduk diam di beranda belakang rumah, tempat yang agak sepi dan gelap, membelakangi dinding rumah, menatap lurus ke arah tengah desa, ke arah bangunan balai desa dan pekarangan di sekitarnya. Angin malam berhembus kencang, membawa aroma tanah basah, bunga, dan aroma lain yang samar namun tajam — aroma benda pusaka itu.

Pikirannya kembali melayang jauh ke Seruni. Di tengah tugas dan misteri ini, gadis itulah satu-satunya ketenangannya. Kau sedang apa sekarang, Seruni? Apakah kau sudah selesai bekerja? Apakah kau sedang menatap bulan yang sama ini? Bertahanlah... sebentar lagi tugas ini selesai, aku akan pulang menjaga orang tuamu, dan menghitung hari sampai kau kembali.

Tiba-tiba, panca indera tajamnya menangkap perubahan kecil.

Dari arah balai desa, di antara rimbunan pohon besar yang gelap, bergerak satu bayangan hitam.

Gerakannya sangat cepat, sangat halus, dan sama sekali tak bersuara, seolah melayang di atas tanah tanpa menyentuhnya. Sosok itu tinggi besar, seluruh tubuhnya tertutup kain jubah panjang berwarna hitam pekat yang menutupi sampai ke ujung kaki, dengan tudung yang menutupi seluruh kepala dan wajahnya sehingga tak terlihat sedikit pun siapa sosok itu. Sosok itu bergerak melesat di antara bangunan-bangunan rumah, menghindari jalan utama, memilih jalur sempit di sela-sela pekarangan, bergerak menuju arah timur desa.

Liam menegakkan tubuhnya seketika, tatapannya menajam berlipat ganda. Ia mengunci pandangannya pada sosok itu, tak melepaskan sedikit pun. Ia merasakan hawa yang sangat dingin, sangat gelap, dan sangat kuat memancar dari sosok berjubah hitam itu. Bukan hawa jahat biasa. Hawa itu bercampur baur dengan tenaga mustika yang dicari mereka.

Itu dia... batin Liam bergemuruh. Orang ini... orang inilah yang memegang mustika itu. Dialah pencurinya, atau dialah yang menjaganya.

Sosok berjubah hitam itu berhenti sejenak di dekat sebuah bangunan tua di pinggir sungai, tepat di tengah desa. Sosok itu berbalik sedikit, seolah merasakan ada yang mengawasinya. Tudungnya bergerak sedikit, seolah ada mata yang mengintai ke arah rumah tempat Liam menginap.

Liam tetap diam, tak bergerak sedikit pun, menyatukan dirinya dengan kegelapan malam. Matanya yang hitam pekat itu bersinar samar berwarna merah gelap hanya sekejap, menangkap bayangan samar di balik tudung jubah itu: sepasang mata yang menyala merah menyala juga, tajam, dingin, dan penuh kekuatan misterius.

Tak lama kemudian, sosok itu kembali bergerak, menghilang cepat di balik bangunan tua itu, lenyap tertutup kegelapan dan rimbunan pohon, meninggalkan hawa dingin yang masih terasa menggigilkan tulang.

Liam tetap diam di tempatnya cukup lama, memastikan tak ada bahaya lain yang mengintai. Di dalam hatinya, ia sudah menemukan jawaban besar. Desa ini bukan sekadar desa damai biasa. Di balik kedamaian, kebersihan, dan keramahan warganya... tersembunyi rahasia besar, kekuatan gelap, dan sosok misterius yang memegang kunci hilangnya pusaka padepokan.

Liam perlahan bangkit berdiri, menatap langit bulan purnama sekali lagi. Besok pagi, ia harus memberitahu Dika dan teman-temannya. Bahwa jejak mereka benar. Bahwa benda yang dicari ada di sini. Dan bahaya yang sesungguhnya baru saja mereka lihat sekilas wujudnya.

Di kejauhan, di tengah keheningan Desa Cemara, rahasia itu bersembunyi dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan wujud aslinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!