NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: BAYANGAN DI PIAZZA DEL POPOLO

Pagi di Piazza del Popolo selalu penuh dengan hiruk-pikuk turis dan seniman jalanan, namun bagi Alesha, tempat ini adalah medan pertempuran untuk mendapatkan tekstil terbaik.

Ia baru saja keluar dari sebuah toko kain antik yang tersembunyi di sudut alun-alun, membawa gulungan sutra mentah yang berat dan tas kulit berisi contoh kancing perak.

Namun, saat ia melangkah melintasi bayangan obelisk raksasa di tengah Piazza, bulu kuduknya berdiri.

Sensasi itu bukan hal asing bagi Alesha, tumbuh besar di lingkungan yang keras membuatnya memiliki insting seperti kucing liar.

Ia merasa ada sepasang mata yang menempel di punggungnya, mengikuti setiap ritme langkah kakinya.

Ia berhenti sejenak di depan sebuah air mancur, berpura-pura memperbaiki tali sepatunya sambil melirik pantulan air.

Di sana, di antara kerumunan, ia melihat seorang pria mengenakan jaket hoodie abu-abu dengan topi yang ditarik rendah.

Pria itu segera memalingkan wajah saat Alesha menoleh.

"Bodoh," gumam Alesha dengan senyum miring yang meremehkan.

"Kalau mau menguntit, setidaknya belajarlah cara menyatu dengan turis."

Alih-alih menelepon Marcello atau meminta bantuan tim keamanan Matteo yang biasanya berjaga di jarak jauh, sifat bar-bar Alesha justru mengambil alih.

Ia merasa terhina diikuti seperti mangsa lemah. Ia ingin tahu siapa yang mengirim tikus ini.

Alesha mempercepat langkahnya, masuk ke dalam gang-gang sempit yang bercabang di belakang Via di Ripetta.

Ia sengaja memilih rute yang semakin sepi, melewati lorong-lorong tua dengan jemuran yang menjuntai di antara jendela.

Ia bisa mendengar langkah kaki di belakangnya, cepat namun mencoba tetap senyap.

Alesha berbelok ke sebuah gang buntu yang dipenuhi oleh tumpukan kotak kayu kosong dan beberapa roll kain canvas bekas yang baru saja diturunkan dari truk pengangkut.

Ia segera menyelinap di balik tumpukan kain tersebut, mengatur napasnya agar tidak terdengar.

Pria berjaket abu-abu itu muncul di ujung gang. Ia tampak bingung, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok pengantin Al-Ricci yang baru saja menghilang.

Ia melangkah perlahan, semakin masuk ke dalam jebakan.

"Mencari seseorang, Tikus?"

Suara Alesha menggelegar dari balik tumpukan kain.

Sebelum pria itu sempat bereaksi, Alesha menendang sebuah gulungan kain canvas yang berat hingga menggelinding dan menghantam kaki pria itu.

Pria itu terjatuh, dan dengan kecepatan yang luar biasa, Alesha melompat keluar.

Ia tidak menggunakan senjata tajam. Ia menggunakan tas kulit besarnya yang berisi contoh kancing perak yang beratnya hampir menyamai batu bata.

BUAK!

Alesha menghantamkan tas itu tepat ke arah wajah pria tersebut saat dia mencoba bangkit. Pria itu mengerang, hidungnya mulai berdarah.

Belum sempat dia pulih, Alesha sudah duduk di atas perutnya, mencengkeram kerah jaketnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sudah siap dengan gunting kain yang runcing tepat di bawah dagu pria itu.

"Siapa yang mengirimmu? Keluarga Lorenzo? Atau kakak perempuanku yang iri itu?" bentak Alesha.

Matanya berkilat liar, tidak ada sedikit pun rasa takut di sana.

Pria itu terengah-engah, mencoba melihat wajah Alesha di balik rambutnya yang berantakan.

Saat penutup kepalanya terbuka, Alesha tertegun sejenak. Pria itu tidak terlihat seperti preman bayaran biasa.

Wajahnya keras, dengan bekas luka melintang di alisnya, dan tatapan matanya penuh dengan kepahitan yang mendalam.

"Lepaskan aku, Nyonya," desis pria itu.

"Aku tidak di sini untuk melukaimu."

"Lalu untuk apa? Ingin meminta tanda tangan?" Alesha menekan ujung guntingnya lebih dalam.

"Bicara sekarang, atau aku akan memastikan kau tidak bisa bicara selamanya!"

Pria itu meringis.

"Namaku Luca. Aku adalah... mantan pengawal pribadi Matteo Al-Ricci. Tangan kanannya sebelum kecelakaan itu terjadi."

Alesha terdiam. Ia pernah mendengar Marcello menyebut nama itu sekali dengan nada bicara yang penuh rahasia.

Luca adalah orang yang seharusnya berada di dalam mobil saat kecelakaan maut itu menimpa Matteo, namun secara misterius ia dipecat dan menghilang dari Roma tanpa jejak.

"Kenapa kau menguntitku, Luca?" tanya Alesha, suaranya sedikit merendah namun tetap waspada.

"Karena kau satu-satunya orang yang berada di dekatnya sekarang," Luca batuk, mengeluarkan sedikit darah.

"Aku ingin memperingatkanmu. Semua orang di kota ini berpikir Matteo adalah korban. Pria malang di kursi roda yang kehilangan kekuatannya."

Luca menatap Alesha dengan tatapan yang sangat serius, membuat Alesha merasa ada sesuatu yang jauh lebih gelap di balik kemewahan Villa Al-Ricci.

"Kau harus hati-hati dengan suamimu, Alesha," bisik Luca.

"Kursi roda itu... itu bukan satu-satunya topeng yang dia pakai. Matteo yang kau lihat setiap hari hanyalah sebuah bayangan yang sengaja dia ciptakan agar dunia tetap merasa kasihan padanya."

"Apa maksudmu?" tuntut Alesha.

"Aku melihatnya setiap hari. Dia menderita, dia menjalani terapi ilegal di bawah tanah—"

"Terapi ilegal?" Luca tertawa getir.

"Itu bukan sekadar terapi untuk sembuh, Nyonya. Itu adalah persiapan. Matteo tidak pernah menjadi lemah. Dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan semua orang yang pernah meremehkannya, termasuk kau jika kau menghalangi jalannya."

Luca merogoh kantongnya, memberikan sebuah flashdisk kecil yang sudah usang ke tangan Alesha.

"Lihat isinya jika kau punya nyali. Di sana ada rekaman malam kecelakaan itu. Matteo tidak hancur karena kecelakaan itu, Alesha... kecelakaan itu adalah awal dari rencana besarnya."

Sebelum Alesha sempat bertanya lebih lanjut, Luca menyentak tangan Alesha dan berguling menjauh. Ia berlari dengan cepat menuju jalan utama dan menghilang di antara kerumunan Piazza del Popolo yang mulai padat.

Alesha berdiri mematung di tengah gang yang kusam. Ia menatap telapak tangannya yang memegang flashdisk dingin itu.

Kata-kata Luca terngiang-ngiang di kepalanya, Kursi roda itu bukan satu-satunya topeng yang dia pakai.

Ingatannya kembali pada malam di ruang bawah tanah, saat ia melihat Matteo berbicara dengan otoritas yang begitu besar.

Ia mengingat senyum tipis Matteo saat ia mengusir para sosialita. Semakin ia memikirkan suaminya, semakin ia menyadari bahwa ia tidak benar-benar mengenal siapa pria yang tidur di kamar sebelah itu.

Apakah Matteo benar-benar seorang korban takdir? Ataukah ia adalah sutradara dari seluruh kekacauan ini, termasuk pernikahan mereka?

Alesha memasukkan flashdisk itu ke dalam sakunya dengan erat. Sifat bar-bar-nya mungkin membuatnya berani menghadapi penguntit di gang sempit, namun kali ini, ia merasa sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia lawan hanya dengan tas berat atau gunting kain.

Ia kembali berjalan menuju butiknya di San Lorenzo, namun kali ini langkah kakinya tidak lagi seringan biasanya.

Di tengah keindahan Piazza del Popolo, bayangan Matteo Al-Ricci terasa semakin panjang dan gelap, menutupi seluruh jalan hidupnya.

"Topeng, ya?" bisik Alesha pada angin.

"Mari kita lihat, Matteo. Seberapa tebal topeng yang kau pakai, dan seberapa hancur kau saat aku membongkarnya nanti."

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!