"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melahirkan
Di ruang bersalin, suasana tegang namun penuh harap menyelimuti segalanya. Rasa sakit yang Siti alami makin lama makin menjadi-jadi, gelombang rasa nyeri datang tiada henti dengan jarak yang makin dekat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, hijab yang ia kenakan sudah berantakan sehingga rambutnya keluar menempel di kening dan leher, sementara napasnya tersengal berat berusaha menahan setiap rasa sakit yang meluluhlantakkan tubuh mudanya.
Di samping tempat tidur, Yusuf tak pernah sekalipun beranjak. Ia berdiri di sisi kanan Siti, tangannya menggenggam erat tangan wanita itu, membiarkan jemarinya diremas kuat hingga memutih, tak peduli rasa sakit yang ia terima. Baginya, rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang sedang ditanggung Siti saat ini. Ia terus membisikkan kata-kata penyemangat, mengelus kening dan pipi Siti yang basah keringat dan air mata, mengusap punggungnya berulang kali untuk memberikan kenyamanan sekuat tenaga.
Di sisi lain, Nora berdiri tegap mengenakan seragam dokternya, wajahnya terlihat profesional dan tenang, namun jauh di lubuk hatinya, badai besar sedang berkecamuk hebat. Ia bertugas membantu proses persalinan ini, memantau detak jantung bayi, memberi arahan kapan harus mengejan dan kapan harus bernapas, tapi matanya tak lepas dari interaksi suaminya dan wanita yang sedang melahirkan anak suaminya itu.
Setiap kali Yusuf menyeka keringat Siti, setiap kali Yusuf menata bantal agar lebih nyaman, setiap kali Yusuf menatap wajah Siti dengan sorot mata penuh kekhawatiran dan kasih sayang... hati Nora terasa disayat-sayat tajam. Ia sadar, selama ini ia yang memagari diri, ia yang membatasi jarak, tapi saat momen kritis seperti ini, insting Yusuf sebagai pelindung dan suami sah Siti muncul sepenuhnya, melewati segala sekat dan batasan yang pernah ada.
"Arghhh... sakiiiit, Mas! Sakit sekali!" jerit Siti menahan rasa nyeri yang memuncak, tubuhnya menegang hebat, jemarinya mencengkeram lengan Yusuf hingga meninggalkan bekas merah.
"Sabar, Siti... sabar. Tarik napas panjang... buang... begitu, teruskan," arah Nora dengan suara tenang, meski hatinya bergemuruh.
Yusuf mendekatkan wajahnya, menatap mata Siti lekat-lekat, mengusap pipi wanita itu dengan kedua tangannya sepenuh hati. Wajahnya terlihat cemas, matanya berkaca-kaca melihat penderitaan Siti. Ia membungkuk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Siti, berbicara dengan nada yang begitu lembut, begitu dalam, dan begitu akrab hingga membuat dada Nora sesak napas.
"Kuat ya, Sayang... kamu pasti kuat. Sedikit lagi... tahan sedikit lagi. Mas ada di sini, jangan takut. Mas nggak akan ke mana-mana. Kamu hebat sekali, Sayang... hebat sekali sudah bertahan sejauh ini."
Satu kata itu. Sayang.
Kata yang dulu hanya terdengar untuknya. Kata yang menjadi milik eksklusif hubungan suami istri mereka. Kata yang kini meluncur begitu saja, tanpa beban, tanpa ragu, dan bahkan tanpa disadari oleh Yusuf sendiri saat ia sedang fokus memberi semangat.
Darah wajah Nora seketika surut. Kakinya terasa lemas seolah tak bertulang, meski ia tetap berdiri tegak mempertahankan wibawa profesionalnya. Hatinya berdenyut nyeri, rasa cemburu yang selama ini ia tahan, rasa sakit hati yang ia pendam, rasa takut yang ia sembunyikan... semuanya meledak bersamaan mendengar satu panggilan itu.
'Dia memanggilnya sayang...' batin Nora menjerit lirih, menahan air mata yang hampir lolos jatuh. 'Di depan mataku. Di saat aku yang membantunya melahirkan anak suamiku. Dia memanggilnya sayang dengan nada yang begitu lembut... seolah Siti adalah segalanya baginya.'
Nora tahu, mungkin Yusuf tak bermaksud apa-apa. Mungkin itu hanya kebiasaan, atau luapan perasaan haru dan khawatir yang tak tertahankan. Mungkin itu hanya cara Yusuf menenangkan wanita yang sedang kesakitan berat. Tapi bagi Nora, kata itu adalah pengakuan diam-diam. Bukti nyata bahwa selama ini, di balik sikap tanggung jawab itu, di balik rasa iba itu, Yusuf mulai memiliki ruang khusus di hatinya untuk Siti. Ruang yang dulu hanya ada untuk Nora dan Haikal.
Di sampingnya, Siti yang mendengar panggilan itu seketika merasa seluruh rasa sakitnya berkurang separuh. Wajahnya yang pucat dan berkerut kesakitan berubah sekejap menjadi penuh haru dan kebahagiaan yang menyakitkan. Air matanya makin deras mengalir, bukan lagi karena sakit, tapi karena panggilan itu. Panggilan yang begitu indah, yang begitu ia dambakan, meski ia tahu itu mungkin terucap hanya karena momen ini, hanya karena Yusuf sedang terbawa suasana.
"Ma... Mas..." isak Siti, menatap Yusuf dengan pandangan yang begitu dalam, penuh cinta dan kepedihan yang bercampur jadi satu. "Aku... aku akan berusaha... demi Mas... demi anak kita..."
"Iya, Sayang. Begitu. Ayo, kalau ada dorongan kuat, keluarkan ya! Semangat!" seru Yusuf lagi, masih dengan panggilan manis yang sama, masih dengan perhatian yang sama besarnya. Tangan kanannya kini beralih memegang kening Siti, sementara tangan kirinya tetap menggenggam tangan kanan wanita itu erat.
Nora memalingkan wajah sejenak, berusaha menenangkan diri, berusaha memfokuskan pikirannya kembali pada tugas medisnya. Ia harus profesional. Ia harus ingat posisinya. Ia istri sah. Ia yang ada di hati Yusuf sejak awal. Ia ibu dari anak pertama Yusuf. Namun melihat pemandangan di hadapannya itu, melihat bagaimana Yusuf begitu sigap, begitu lembut, begitu melindungi, persis seperti dulu saat ia melahirkan Haikal... rasa cemburu itu membakar ulu hatinya.
'Dulu dia juga begini padaku...' batin Nora pedih. 'Dulu dia juga memanggilku begitu, menatapku begitu. Dan sekarang... semuanya terulang kembali. Hanya saja orangnya berbeda. Apakah dia mulai mencintai gadis ini? Apakah rasa tanggung jawab ini perlahan berubah menjadi rasa cinta yang sama?'
Di sudut ruangan, Bu Aminah yang ikut menyaksikan semuanya, hanya bisa menghela napas panjang dan diam-diam mengusap air mata sendiri. Ia paham segalanya. Ia melihat kepedihan Nora, ia melihat kebahagiaan sekaligus kesedihan Siti, dan ia melihat ketulusan Yusuf yang terjebak di antara dua wanita yang sama-sama berharga dalam hidupnya dengan cara yang berbeda.
Proses itu berlangsung menegangkan dan melelahkan. Hingga akhirnya, diiringi jeritan panjang Siti dan dorongan tenaga terakhirnya, terdengar tangisan nyaring seorang bayi memecah suasana ruangan. Tangisan itu begitu jernih, begitu kuat, menandakan nyawa baru yang telah lahir ke dunia.
"Alhamdulillah... selamat. Bayi laki-laki, sehat, kuat," ucap Nora pelan, suaranya sedikit bergetar meski berusaha tersenyum ikhlas. Ia segera menolong membersihkan bayi itu, memotong tali pusar, dan membungkusnya dengan kain hangat.
Siti terbaring lemas, napasnya tersengal-sengal berat, tubuhnya basah kuyup keringat, tapi senyum bahagia terukir lebar di bibirnya. Yusuf langsung mendekat, mencium kening Siti dengan penuh rasa syukur dan haru, matanya berkaca-kaca menatap wajah wanita itu.
"Terima kasih, Sayang... terima kasih sudah berjuang hebat sekali. Kamu luar biasa," bisik Yusuf, kali ini panggilan itu terdengar begitu jelas, begitu penuh makna, sepenuhnya sadar.
Hati Nora serasa diremas hancur saat itu juga. Ia melihat Yusuf beralih mengambil bayi itu, lalu membawanya mendekatkan ke dada Siti agar bisa disusui. Ia melihat bagaimana Yusuf memperbaiki hijab Siti dengan penuh kasih sayang, bagaimana ia menatap kedua manusia kecil besar itu dengan kebahagiaan yang meluap-luap.
Nora mundur selangkah, memberi ruang. Ia merasa asing di antara kebahagiaan mereka. Di matanya, mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang bahagia, baru saja dikaruniai anak, lengkap dan sempurna. Sementara dirinya... ia hanya dokter yang membantu persalinan, istri sah yang keberadaannya perlahan tersisihkan oleh perasaan yang tumbuh diam-diam.
Rasa cemburu itu kini bukan lagi sekadar rasa sakit karena berbagi suami. Itu adalah rasa takut yang menjadi kenyataan. Takut bahwa Yusuf perlahan jatuh hati pada Siti. Takut bahwa kehadiran anak ini dan kebersamaan mereka selama masa sulit ini telah mengikat hati suaminya pada wanita lain jauh lebih dalam dari yang ia kira.
Di tengah kebahagiaan kelahiran itu, Nora berdiri sendiri di sisi ruangan, menyembunyikan luka hatinya yang baru saja bertambah parah, menyaksikan bagaimana kata sayang yang dulu miliknya, kini terbagi dua, dan bagaimana perhatian Yusuf yang dulu utuh, kini terbagi rata di antara dua wanita yang saling mencintai lelaki yang sama.
Bersambung.....