"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam pertama di istana Pradipta terasa seperti sebuah ujian baru bagi lambung dan logika Aira. Ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, dua orang pelayan berseragam rapi mengetuk pintu kamar tamu tempat Aira membersihkan diri, mengantarkannya menuju ruang makan utama.
Aira melangkah dengan canggung, meraba daster katun barunya yang dibelikan Dewa. Begitu kakinya menginjak ruang makan, matanya langsung membelalak sempurna.
Di tengah ruangan yang diterangi lampu gantung kristal sebesar pohon beringin itu, membentang sebuah meja makan kayu jati yang panjangnya mungkin setara dengan panjang seluruh kontrakan lamanya.
Di atas meja itu, berderet belasan wadah perak berisi makanan yang mengepulkan aroma harum. Ada bebek panggang madu, sup sirip ikan, steak daging sapi yang potongannya setebal batu bata proyek, hingga makanan-makanan estetik berbentuk bulat kecil yang Aira sendiri tidak tahu cara makannya.
Dewa sudah duduk di kursi ujung meja, tampak sangat tampan meski hanya mengenakan kaus rumahan santai. Di kursi seberangnya, Nyonya Widya duduk dengan anggun, meskipun wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa pucat pasca sakit.
"Duduk, Aira," ucap Nyonya Widya, nadanya sudah jauh lebih lembut, walau aura wibawanya tetap membuat Aira merinding.
Aira duduk di kursi sebelah Dewa. Kursi itu begitu empuk sampai-sampai Aira merasa badannya agak ambles ke dalam.
Baru saja ia memegang garpu, tiga orang pelayan wanita langsung bergerak serentak mendekatinya. Salah satu pelayan membawa mangkuk air, yang lain bersiap menyendokkan nasi, dan yang ketiga sudah memegang pisau daging.
"Biar saya bantu ambilkan hidangannya, Nyonya Muda," ucap pelayan berbaju hitam-putih itu dengan sangat sopan.
Aira tersentak. Ia refleks menarik piringnya menjauh, seolah pelayan itu ingin merebut makanannya. "Eh! Tidak usah, Mbak! Jangan! Biar saya ambil sendiri saja. Tangan saya masih lengkap, alhamdulillah," tolak Aira panik, bicaranya yang ceplas-ceplos khas anak gang langsung keluar.
Mendengar itu, Dewa yang sedang meminum air es langsung tersedak. "Uhuk!"
Hans yang berdiri di sudut ruangan dengan sigap menyodorkan tisu, sementara Dewa menahan tawa hingga bahunya bergetar hebat.
Pelayan-pelayan itu mematung, bingung harus berbuat apa karena seumur hidup belum pernah ada majikan yang menolak dilayani dengan alasan tangan yang masih lengkap.
"Aira," tegur Nyonya Widya dengan dahi sedikit berkerut, namun bukan karena marah. "Di rumah ini, kamu tidak perlu repot. Tugas pelayan di sini adalah memastikan semua kebutuhan kalian terpenuhi tanpa kalian perlu mengangkat jari. Biarkan mereka yang menyendokkan nasi untuk Dewa."
Aira menatap ibu mertuanya, lalu melirik ke arah Dewa yang sedang menatapnya dengan senyum geli. Sifat keras kepala dan bakti Aira sebagai istri mendadak bangkit. Ia meletakkan garpunya dengan pelan, lalu menggeleng tegas.
"Maaf, Mama," ucap Aira, menggunakan panggilan baru yang diminta Nyonya Widya tadi siang. "Saat Mas Dewa masih jadi kuli di proyek, yang mencuci bajunya, menyiapkan kopinya, dan menyuapinya makan adalah saya. Sekarang, mau Mas Dewa jadi CEO atau jadi presiden sekalipun, dia tetap suami saya. Mengurus suami adalah tugas dan pahala saya, bukan tugas Mbak-mbak pelayan ini."
Suasana ruang makan seketika senyap. Nyonya Widya terpaku. Lidahnya mendadak kelu mendengar jawaban polos namun sarat akan ketegasan moral dari menantunya.
Dewa yang mendengar ucapan itu merasa dadanya bergemuruh oleh rasa bangga yang luar biasa.
Ia menatap Aira dengan tatapan matanya yang berbinar penuh cinta. Pria itu langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para pelayan. "Kalian semua keluar. Tinggalkan kami."
"Tapi, Tuan Muda..."
"Keluar," perintah Dewa sekali lagi, kali ini suaranya berat dan mutlak, khas seorang CEO yang tidak suka dibantah.
Belasan pelayan itu membungkuk dalam-dalam lalu berjalan mundur meninggalkan ruangan dengan senyap. Kini tinggal mereka bertiga.
Aira tanpa ragu langsung menarik mangkuk nasi besar yang beratnya mirip ember semen itu. Dengan telaten, ia menyendokkan nasi ke piring Dewa, lalu mengambilkan sepotong ayam panggang dan sayuran.
"Ini, Mas. Dimakan yang banyak," ucap Aira tulus, hampir saja salah sebut karena masih terbiasa dengan rutinitas lama mereka.
Dewa menerima piring itu dengan senyum selebar samudra. Ia melirik ibunya dengan tatapan 'Lihat kan, pilihan Dewa tidak salah'.
Nyonya Widya hanya bisa menghela napas panjang, sebuah senyum tipis akhirnya terukir di bibirnya yang pucat. Ia mulai mengerti mengapa putranya rela membuang kemewahan demi hidup di rumah petak bersama gadis ini.
Setelah makan malam yang penuh drama dan tawa kecil itu selesai, Dewa menuntun Aira menuju kamar utama mereka di lantai tiga.
Kamarnya sangat luas, mungkin tiga kali lipat dari ukuran seluruh rumah kontrakan mereka. Di tengah ruangan, sebuah ranjang berukuran super king-size dengan sprei sutra putih berkilau di bawah temaram lampu tidur yang romantis.
Balkon kamar terbuka lebar, menampilkan pemandangan kerlip lampu kota Jakarta yang indah seperti taburan permata.
Aira berjalan pelan, lalu mendudukkan dirinya di ujung ranjang. Ia mengelus permukaan sprei yang sangat halus.
"Mas..." panggil Aira ragu.
Dewa yang baru saja menutup pintu kamar berjalan mendekat. "Kenapa, Sayang?"
"Kasur ini... kalau kita tidur berdua, jaraknya terlalu jauh. Nanti kalau aku menggelinding ke kiri, bisa-bisa butuh waktu lima menit untuk ketemu kamu lagi," celetuk Aira dengan wajah polos tanpa dosa.
Dewa tertawa renyah. Ia berjalan mendekat, lalu duduk tepat di samping Aira, membuat jarak di antara mereka terkikis habis. "Kalau begitu, tidurnya jangan jauh-jauh. Sini mendekat."
Dewa mengulurkan tangannya, melingkarkannya ke pinggang Aira, menarik tubuh kecil istrinya hingga menempel pada dada bidangnya. Jantung Aira langsung berdegup kencang seperti suara knalpot motor bebek tua Dewa yang mogokan.
Suasana mendadak berubah canggung dan penuh riak ketegangan yang manis. Selama satu bulan lebih menikah di kontrakan, mereka memang belum pernah melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya.
Awalnya karena Aira yang terus-menerus jatuh sakit akibat kelelahan dan tekanan dari keluarga Surya, ditambah kondisi kamar kontrakan yang sempit dan dindingnya yang tipis, membuat mereka selalu merasa sungkan.
Sekarang, di kamar yang super mewah, kedap suara, dan tanpa gangguan siapa pun, kenyataan bahwa mereka adalah sepasang suami istri sah tiba-tiba menghantam kesadaran mereka.
Dewa bisa merasakan tubuh Aira yang mendadak kaku dan tegang dalam pelukannya. Ia menurunkan wajahnya, menatap pipi Aira yang kini sudah semerah kepiting rebus.
"Ai... kamu tegang ya?" goda Dewa, suaranya berubah menjadi bisikan rendah yang sangat seksi.
"S-siapa yang tegang! Aku cuma sedang berpikir... AC di rumah ini dingin sekali, Mas. Apa tidak bisa dimatikan saja? Boros listrik," kilah Aira, mencoba mencari alasan sekenanya demi menutupi rasa gugupnya yang sudah di ubun-ubun.
...----------------...
To Be Continue ....