cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
...
Tiga bulan sudah Yayan menghirup debu kampus yang sama dengan Jelita, namun semesta tampaknya sedang memakai mode stealth tingkat dewa. Yayan resmi menyerah. Labirin fakultas ekonomi, jadwal kuliah yang bentrok, dan penyakit buta map-nya yang kronis membuat pria itu akhirnya memilih untuk "berdamai" dengan nasib. Dia tidak lagi keliling fakultas orang tiap jam makan siang seperti intel kurang kerjaan.
"Udah lah, Yan. Mungkin dia emang udah pindah ke dimensi lain. Mending lo ikut kita nongkrong, otak lo udah bau asep knalpot gara-gara galau mulu," celetuk Arka, cowok vibes bad boy kalem yang jadi temen akrab Yayan di teknik.
Yayan mendengus, menyandarkan punggungnya di kursi kantin teknik yang panasnya minta ampun. Di depannya ada Reno, si jenius komputer yang mulutnya lebih tajam dari kodingan Python, dan Vanya, cewek tomboy berambut wolf-cut yang gaya bicaranya selalu to the point. Mereka bertiga adalah sirkel baru Yayan yang bikin dia sedikit lupa sama hantu SMP-nya.
"Gue denger di jurusan akuntansi ada cewek namanya Jelita, primadona sana. Katanya temboknya tinggi banget, kaku kayak beton, tapi aslinya cantik parah," Reno berujar sambil mengotak-atik laptopnya.
Jantung Yayan sempat berdegup skip sebentar. "akuntansi? Jelita?"
"Iya, tapi jangan harap lo bisa deketin," Vanya menyela sambil menyeruput es kopinya. "Dia punya pawang yang gila banget. Tiap jam pulang, ada Porsche hitam yang standby di depan gerbang. Bodyguard posesifnya itu nggak bakal biarin lalat jantan mana pun nempel di radius satu meter."
Yayan tertawa "Porsche hitam? Kaya banget tuh cowoknya." Dia tidak tahu bahwa Porsche hitam itu adalah milik saudaranya sendiri yang setiap malam tidur hanya terpisah satu dinding kamar dengannya.
"Mending kita fokus ke touring minggu depan aja, Yan. Lupain Jelita-Jelita itu. Nama Jelita di Jakarta mah ribuan," tambah Arka sambil menepuk bahu Yayan.
Yayan mengangguk pelan. "Ya, gue udah nyerah. Mungkin emang bukan waktunya."
...----------------...
Satu bulan menuju anniversary satu tahun, sedang duduk di taman fakultas bareng Felicia, sahabat kampusnya yang selalu up-to-date soal gosip cowok-cowok ganteng.
"Jee, lo tau nggak? Katanya di Teknik ada cowok pindahan yang gantengnya mirip banget sama Langit lo," Felicia menyenggol lengan Jelita.
Jelita yang lagi fokus baca buku akuntansi langsung menoleh. "Masa sih? Perasaan lo aja kali, Fel. Langit kan cuma satu di dunia ini."
"Serius! Tapi auranya beda. Kalau Langit lo kan 'nakal' dan 'sengklek', nah yang ini katanya lebih 'dark' dan misterius. Tapi sayang, katanya hati nya udah ada yang punya," Felicia bercerita dengan menggebu-gebu.
Jelita hanya tersenyum tipis. Pikirannya tidak pada cowok teknik itu. Pikirannya sedang melayang pada rencana kejutan yang dibisikkan Langit semalam saat sleep call.
...----------------...
Sore itu, seperti biasa, Langit sudah nangkring di depan lobby dengan gaya sombongnya. Begitu Jelita masuk ke dalam Porsche hitam, Langit langsung menyambar bibir Jelita sebelum gadis itu sempat memasang sabuk pengaman.
"Kangen, Sayang," bisik Langit, aroma parfum mahalnya memenuhi kabin mobil.
"Lang... ada Felicia tuh liatin di sana!" Jelita memukul lengan Langit, wajahnya merah padam.
Langit melirik Felicia sekilas, lalu memberikan jempol—sebuah kode "tutor sukses" yang membuat Felicia tertawa di kejauhan.
"Bodo amat. Denger ya, Tembok Beton gue. Satu bulan lagi kita anniversary setaun. Gue nggak mau kita cuma makan malam di Jakarta yang macet ini," Langit mulai memacu mobilnya keluar dari kampus, tepat saat motor besar Yayan, Arka, dan Reno masuk lewat gerbang belakang. Lagi-lagi, selisih waktu tiga puluh detik menyelamatkan segalanya.
"Terus mau ke mana?" tanya Jelita penasaran.
"Bandung. Kita sewa villa di Lembang yang view-nya langsung ke kota. Gue udah booking tempat yang privat banget. Gue mau 'tutorin' lo sepuasnya tanpa ada gangguan dari Windi, Haikel, hanya kita berdua," Langit menyeringai nakal, tangannya meraih tangan Jelita dan mengecupnya berkali-kali.
Jelita tertawa,. "Villa privat? Lo mau ngapain aja di sana, Lang?"
"Rahasia. Pokoknya lo harus siap-siap mental. Gue bakal upgrade sesi 'nakal' kita ke level maksimal. Gimana? Setuju?"
"Emang gue punya pilihan buat bilang nggak?"
"Nggak ada. Karena gue nggak nerima penolakan, inget?"
...----------------...
Malam harinya, Langit pulang ke rumah Mamanya dengan wajah super ceria. Dia melihat Yayan sedang duduk di ruang tamu bersama Arka dan Vanya yang lagi mampir.
"Woi, si jomblo karatan! Tumben bawa temen ke sini," sapa Langit sambil melempar kunci mobilnya ke atas meja.
Arka dan Vanya sempat terpaku melihat Langit. "Gila... beneran mirip lo, Yan. Tapi yang ini lebih... sombong mukanya," bisik Arka pelan.
Yayan hanya tersenyum kecut. "Biasa, dia lagi seneng. Palingan abis ketemu pacarnya."
Langit duduk di sofa seberang, menyalakan rokoknya. "Bulan depan gue mau ke Bandung setaunan sama cewek gue. Lo mau nitip apa? Atau mau gue cariin cewek Bandung biar lo nggak lumutan di kamar mulu?"
Vanya tertawa. "Boleh tuh, Lang. Cariin Yayan cewek yang bisa bikin dia melek map, biar nggak nyasar mulu kalau nyari orang."
"Emang dia nyari siapa sih? Segitunya banget," tanya Langit pura-pura tidak tahu, padahal dia sudah bosan dengar cerita Yayan.
"Cewek namanya Jelita, Lang. Katanya di Ekonomi, tapi Yayan tiap ke sana cuma dapet bau parfum doang, orangnya mah nggak pernah kelihatan," Reno menimpali sambil tetap fokus ke laptop.
Langit tersedak asap rokoknya sendiri. Dia tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. "JELITA?! Hahahaha! Yan, Yan... gue bilang juga apa. Nama Jelita di Ekonomi itu ada berapa puluh? Lo mending fokus kuliah teknik aja deh, jangan sok-sokan jadi detektif cinta."
Yayan mendengus. Dia kali ini kesal dengan ejekan langit, jengkel karena melihat Aura bahagia langit kuat banget. Dia sudah mencari sebulan, lewat di depan fakultasnya tiap hari, tapi tidak pernah melihat siluet yang dia cari.
"Gue udah nyerah, Lang. Terserah lo mau ngomong apa," ucap Yayan sinis,
Arka dan Vanya hanya tertawa saja. Sementara Langit, pria yang paling "beruntung" di dunia saat ini, kembali merogoh ponselnya untuk membalas chat yang barusan di terimanya dari jelita dan pergi kekamar melakukan rutinitas sleep call nya
"hahah.. ngakak banget gue, kembaran lo bener bener ya.. sekali ngeledek sampe tulang.. sakitnya tuh disini" ucap arka
"diem lo ka"
"makanya yan.. nyari cewek lain aja.. biar gak di cariin kembaran lo cewek di bandung" imbuh reno
yayan menatap teman teman nya horor.
"ampun bos.. jangan sangar gitu wajah nya! " ngakak Vanya,
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣