NovelToon NovelToon
Alvaro

Alvaro

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia
Popularitas:925
Nilai: 5
Nama Author: Patmandari Nugraheni

Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...

Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 9 Memberi Sedikit Kelonggar untuk Varo

[Ruang Kelas Alvaro - Pukul 11.00 WIB]

Bel pulang sekolah pun berbunyi

Kringggg!

Kringgg kringggg

"Ok anak-anak jam pulang sudah berbunyi kalian bisa membereskan peralatan belajar sekarang, sekolah selesai langsung pulang ya anak-anak dan jangan lupa istirahat ya" ucap guru tersebut karena sudah waktunya untuk pulang.

"Baik bu" jawab mereka semua serentak.

Setelah guru tersebut pergi dan datanglah Elvano dan teman-temannya, mereka datang ke dalam kelas Alvaro dan tidak lupa untuk mengetuk pintu mereka berenam tidak mau di ceramahi oleh Alvaro seperti tadi saat jam istirahat.

"Kalian sudah beres-beresnya?" tanya Vian.

"Sudah kami sudah selesai" jawab Ervon.

"Ya sudah ayo kita berangkat sekarang ke restoran dulu baru ke mall" ucap Elvano.

"Ayooo" ujar mereka serentak.

Di parkiran sekolah

"Kita berdua duluan ya kalian mengikuti kami dari belakang aja biar gak kejauhan dari restorannya kalau kalian duluan" ucap Elvano panjang

Dan semuanya pun mengangguk dan menaiki kendaraannya masing-masing untuk mengikuti Elvano dan Alvaro dari belakang mereka.

Sesampainya mereka di restoran steak yang mewah favorit dari Alvaro mereka pun sedikit kaget karena mereka baru tau jika restoran steak tersebut adalah restoran bintang lima meskipun jauh dari restoran yang lain.

"Wau gilaa nih restoran jauh banget dari restoran lainnya" celetuk Aksa.

"Iya weh kaget gua kalau ini restoran bintang lima" ucap Vian.

"Ayo masuk dah laper inih akuu" ujar Alvaro dengan mata yang berbinar-binar karena sejak meninggalnya sang mamah ia jadi jarang kerestoran ini.

"Mari tuan untuk berapa orang?" tanya pelayan di sana.

"Untuk dua belas orang" jawab Elvano singkat.

"Mari saya tunjukkan tempatnya tuan" ucap pelayan tersebut dan merekapun mengikuti pelayan tersebut yang menunjukkan meja mereka.

"Ini tuan buku menunya" ujar pelayan tersebut dan merekapun melihat-lihat menu apa saja yang ingin mereka pesan.

"Kak kita mau pesen Wagyu steaknya dua belas sama minumnya hmm, kalian mau pesen apa minumnya" ucap Alvaro.

" Hmm aku Cappuccino aja deh" jawab Clara.

"Aku sama kayak Clara" ucap Elena.

"Kita Ice Americano aja" ucap Darren sebagai perwakilan.

"Aku sama kayak kalian minumnya" ujar Elvano

Lalu Alvaro melirik ke arah Elvano untuk meminta izin ke sang kembaran.

"Van aku boleh Americano gak?" tanya Alvaro dan mereka semua serentak tidak mengizinkan.

"Tidak Var kamu yang lain aja" ucap mereka tegas.

"Yang lain aja ya Var tapi boleh cicip sedikit nanti punyaku" ujar Elvano memberi pengertian.

"Huh ya udah deh, kak Matcha Lattenya satu ya" ucap Alvaro.

"Baik kak saya ulangi lagi pesanannya Wagyu steaknya dua belas, Cappuccinonya dua, Ice Americano sembilan sama Matcha Lattenya satu ya" ulang pelayan tersbut kepada pesanan mereka.

"Iya kak" ujar Elena.

"Baik di tunggu pesanannya" ucap pelayan tersebut.

1 jam kemudian pesanan mereka satu persatu pun datang mulai dari makanan sampai minuman.

"Akhirnya aku sudah laper dari tadi" ucap Alvaro tapi ia juga masih bad mood karena tidak boleh memesan Americano padahal ia biasa meminum kopi tersebut.

"Sudah lah Vano jangan bad mood gitu nanti bisa minta punyaku tapi dikit aja" ujar Elvano yang dari tadi melihat wajah Alvaro yang bad mood.

"Ya habisnya aku gak boleh minum kopi padahal aku biasanya juga minum itu" jawabnya dan mereka semuanya pun hanya bisa menghela nafas karena bertapa keras kepalanya dirinya jika ia menginginkan sesuatu padahal itu beresiko kedirinya sendiri.

40 menit kemudian

Mereka semuanya pun sudah menyelesaikan makanan mereka dan mood Alvaro kembali seperti semula karena tadi menyicipi minumannya Elvano meskipun ia hanya bisa memintanya sedikit karena sudah di peringati oleh teman-temannya dan kembarannya.

Setelah mereka membayar makanannya, merekapun naik motor menuju ke arah mall sesuai ke inginannya Alvaro yaitu jalan-jalan tanpa ada pengawasan yang ketat seperti saat ia berada di dalam mansion.

20 menit kemudian, mereka semua pun sampai di mall terbesar di kota mereka sekaligus mall milik keluarga Alexander. Setelah mereka memparkirkan montor mereka, merekapun masuk kedalam mall untuk melihat-lihat atau berbelanja di sana.

Saat mereka naik ke lantai atas, Alvaro tiba-tiba menarik tangan Elvano untuk membeli es krim karena ia melihat ada toko es krim di lantai itu dan ia sangat menginginkan es krim.

Karena kaget tiba-tiba Alvaro menarik Elvano menuju toko es krim teman-temannya pun sempat berhenti mendadak supaya mereka tidak jatuh saat Alvaro menarik Elvano menuju toko es krim.

"Elvano aku ingin es krim" ucap Alvaro berbinar saat ia dan Alvaro tiba di toko es krim.

"Ya pilih lah es krim yang kamu inginkan nanti aku bayar" jawabnya.

Tiba-tiba teman-temannya berada di samping dan di belakang dirinya, karena mereka sempat berhenti sebentar karena ulah Alvaro yang tiba-tiba menarik dirinya.

"Di beli es krim" tanya Aksa.

" Iya ia sangat ingin es krim katanya" ucap Elvano dan semua teman-temanya hanya mengangguk.

"Vano sudah" panggilnya dan Elvano pun datang kekasir.

"Berapa kak?" tanya Elvano.

"150.000 kak" jawab kasir tersebut.

"Ini ya kak uangnya" ucapnya.

"Baik kak pas ya, terimakasih" ujar kasir tersebut dan ia hanya mengagguk.

"Wau Var es krim segini lumayan juga ya, favoritmu ya" ucap Arvin lalu Alvaro hanya mengangukkan kepalanya, karena ia sedang sibuk menikmati es krim yang ada di genggamannya.

"Ini kita mau kemana?" tanya Bara.

"Hmm ke gramed yok aku mau lihat buku buat latihan ujian nanti" ucap Alvaro dan yang lain mengangguk setuju karena mereka juga bentar lagi ujian bukan sebaiknya cari buku untuk latihan apa lagi mereka juga sudah kelas XII bukan pikir mereka.

[Gramedia Mall Alexander - Pukul 13.40 WIB]

Lang dari dua belas remaja itupun sampai di depan gramedia tersebut, merekapun dapat perhatian dari beberapa pengunjung yang ada di sana karena mereka semua adalah anak dari keluarga terkenal dan terkaya di dunia, dan tidak luput dari pandangan mereka yaitu si kembar Alvaro dan Elvano anak pemilik mall ini.

"Nah kita sampai juga, masuk gih Var katanya tadi mau cari buku baut ujian" ucap Bara.

Alvaro pun dengan semangat bergegas masuk dan tidak lupa membuang cup es krim yang sudah habis ke dalam tempat sampah, aroma dari kertas-kertas yang ada di sana membuat Alvaro semangat lalu tanpa pikir dua kali ia berlari menuju ke arah buku pendidikan yang sangat ia cari-cari untuk latihan ujian nanti dan tentunya ia mencari buku khusus kelas XII untuk UTBK.

"Eh astaga pelan-pelan Var nanti kesandung" seru Clara mengingatkan, dan orang yang sedang di ingatkan hanya bisa memperlihatkan senyumnya saja.

Ervon hanya bisa menyenggol lengan Elvano yang dari tadi melihat Alvaro yang berkeliling mencari buku yang sangat ia inginkan.

"Ia emang gitu ya Van kalau udah liat buku apalagi sebentar lagi ujian apa lagi tadi ia sangat manja buat bisa minum kopi" ucap Ervon.

"Iya gitu lah, aku tuh khawatir apa lagi imun dia itu paling lemah di antara kami bertiga makanya tadi aku gak bolehin dia minum kopi" jawabnya sambil menghela nafas.

"Sabar aja deh Van" ujar Ervon sambil menepuk bahu Elvano.

Di lorong buku ujian ia membawa tiga buku ujian UTBK dan ia membawanya kepada Darren untu merekomendasikan buku yang cocok untuk dirinya latihan nanti.

"Darren, menurut kamu yang ini sama yang ini bagusan mana buat latihan matematika dasar?" tanya Alvaro sambil menyodorkan dua buku ke hadapan Darren.

Darren, yang memang salah satu murid pintar di kelasnya, mengambil kedua buku tersebut dan memeriksa sekilas. "Yang kanan penjelasannya lebih detail, Var. Ada rumus cepatnya juga. Kalau yang kiri cuma menang di variasi soal aja."

"Oke, aku ambil yang kanan deh. Makasih, Daren!" Alvaro tersenyum puas dan memasukkan buku pilihan Bara ke keranjang belanjaannya.

Di saat Alvaro mencari buku untuk ujian berbeda lagi dengan dua temannya yaitu Arvin dan Aksa yang berada di rak buku komik.

"Heh kalian, kita itu ke sini mau nyari buku ujian, kenapa lu malah melipir ke rak anime, Sa, Ian?" tegur Elena yang tiba-tiba muncul di belakang mereka sambil berkacak pinggang.

Aksa menyengir kuda. "Hehe, refreshing otak bentar, Len. Biar pas lihat soal ujian nanti kagak langsung pingsan."

"Alasan aja lu mah" sahut Vian yang tangannya sudah memegang dua komik volume terbaru.

"Halah kalian berdua itu sama aja ya itu apa tuh komik di tangan lu" ucap Clara yang baru aja sampai karena mendengar keributan yang di ciptakan dua temannya itu dan Vian yang sadar pun menyembunyikan komik tersebut.

Setelah kurang lebih 30 menit mereka mengelilingi gramedia untuk mencari buku, mereka pun berniat untuk membayar semua buku-buku yang mereka ambil, terutama Alvaro yang keranjangnya sudah penuh dengan buku-buku latihan serta beberapa alat tulis yang ingin ia beli. Elvano yang melihat isi keranjang kembarannya langsung mengambil alih keranjang tersebut sebelum Alvaro sempat memprotes.

"Udah selesai pilihnya?" tanya Elvano.

Alvaro mengangguk riang. "Udah! Ini aja cukup buat bahan belajar sebulan ke depan."

"Yakin cuma ini? Gak mau sekalian beli novel atau apa gitu?" tanya Arvin yang ikut menyusul ke kasir bersama teman-teman yang lain.

"Enggak, fokus ujian dulu," jawab Alvaro mantap.

Mereka semua pun berjalan menuju kasir.

Elvano pun langsung mengeluarkan kartu debitnya karena uang cashnya sudah habis karena membayar es krim Alvaro tadi, tapi menurutnya tidak masalah jika Alvaro senang itu saja sudah cukup, dan ia juga langsung menyerahkannya kepada kasir sebelum Alvaro mengeluarkan uang sakunya.

"Totalnya jadi 850.000 ya, Kak," ucap petugas kasir setelah memindai semua buku.

Selesai bertransaksi, mereka keluar dari toko buku dengan dua kantong plastik besar di tangan Elvano dan Bara yang berbaik hati ikut membawakan.

"Habis ini kita kemana lagi nih? Langsung pulang atau mau nongkrong dulu di arcade di lantai atas?" tanya Vian antusias sambil menunjuk ke arah eskalator menuju lantai paling atas mall.

Alvaro langsung menatap Elvano dengan tatapan penuh harap, memberi kode bahwa ia masih belum mau pulang ke mansion yang membosankan itu.

"Ya sudah 30 menit aja ya nanti malah pulang-pulang Varo sakit" ucap Elvano dengan nada cemas karena ia takut kakak kembarnya jatuh sakit karena kecapekan.

"Baiklah 30 menit aja ya kasian Varo" ulang Darren kepada teman-temannya dan yang lainnya pun mengangguk mengerti.

"Ayo aku sudah tidak sabar" ujar Alvaro.

"Iya Varo sabar" ucap Elena pengertian dan mereka pun mengikuti Alvaro dan Elvano yang ada di sampingnya yang sudah duluan menaiki eskalator.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!