Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 BAB 7: SEGEL PERAK
Jakarta menyambut mereka dengan kemacetan yang merayap di sepanjang jalan tol dalam kota. Pemandangan hijau pegunungan di Jantung Selatan kini berganti menjadi deretan beton pencakar langit yang dingin dan lampu-lampu neon yang berkedip gelisah. Di dalam mobil SUV-nya, Arga tetap diam, tangannya sesekali menyentuh kotak perak yang tergeletak di pangkuannya—kotak "Sumpah Darah" yang mereka ambil dari kuil tua.
Kirana melirik ke samping. Wajah Arga tampak lelah, namun ada sorot mata yang berbeda. Sorot mata yang lebih tajam, lebih dalam, seolah pria itu sedang menyeberangi jembatan yang menghubungkan dua kehidupan.
"Kita tidak bisa ke apartemenku," kata Kirana memecah keheningan. "Laras pasti sudah mengirim orang untuk mengawasi tempat itu. Dia mungkin kalah di gunung, tapi dia punya jaringan di kota ini."
Arga mengangguk setuju. "Kita ke penthouse-ku di SCBD. Keamanannya berlapis. Tidak ada yang bisa masuk tanpa sidik jari dan pemindaian retina dariku. Bahkan Laras sekalipun."
Mobil melaju memasuki area parkir khusus penghuni apartemen mewah yang menjulang tinggi di pusat finansial Jakarta. Saat pintu lift terbuka langsung di dalam unit penthouse dua lantai milik Arga, Kirana tertegun. Tempat itu sangat maskulin, didominasi warna abu-abu gelap, kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota, dan perabotan minimalis yang sangat mahal. Namun, di sudut ruangan, terdapat sebuah lemari kaca khusus yang menyimpan koleksi barang antik Majapahit milik Arga.
"Duduklah, Kirana," Arga meletakkan kotak perak itu di atas meja marmer di ruang tengah. "Kau ingin minum sesuatu? Anggur? Atau air putih?"
"Aku butuh dapur," sahut Kirana singkat. "Stres membuatku lapar, dan aku tahu maagmu pasti sedang berteriak minta diisi. Aku mencium aroma kecemasan dari tubuhmu sejak kita masuk tol tadi."
Arga tersenyum tipis. "Dapurnya ada di sana. Pakai saja apa yang ada. Aku akan menyuruh asistenku memesan bahan-bahan organik paling segar sekarang juga."
"Tidak perlu asisten. Aku sudah bawa 'amunisi' dari Jantung Selatan," Kirana mengangkat tas belanja kain yang ia bawa. "Aku menemukan daging sapi wagyu kualitas terbaik di pasar lokal dekat lereng gunung tadi, dan aku punya minyak wijen murni yang diproses secara tradisional."
Di dapur yang luas dan canggih milik Arga, Kirana mulai bergerak. Baginya, memasak adalah meditasi. Dia mengeluarkan irisan daging sapi yang sangat segar. Lemaknya terdistribusi sempurna seperti marmer.
Dia mulai memanaskan wajan baja. Aroma minyak wijen yang khas mulai memenuhi ruangan—aroma yang hangat, gurih, dan memiliki nuansa kacang yang kuat. Kirana menambahkan jahe yang dimemarkan dan bawang putih cincang halus. Suara desisan daging saat menyentuh permukaan panas wajan menciptakan musik yang menenangkan.
"Kau tahu, Arga," kata Kirana tanpa menoleh, tangannya lincah mengayunkan spatula. "Di masa lalu, saat kau pulang dari perang dengan luka di perut, aku sering memasakkanmu daging sapi dengan minyak wijen dan sedikit kecap rempah. Minyak wijen bagus untuk melapisi dinding lambung, dan jahenya membuang angin jahat dari tubuhmu."
Arga berdiri di ambang pintu dapur, mengamati punggung Kirana. Bayangan masa lalu kembali berkelebat. Dia melihat Kirana di tubuh Putri Tantri, rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh keringat karena panasnya tungku kayu, namun matanya bercahaya penuh dedikasi.
"Aku ingat," bisik Arga. "Baunya... persis seperti ini."
Kirana mematikan kompor. Dia menyajikan daging sapi minyak wijen itu di atas piring porselen putih, ditaburi wijen sangrai dan sedikit irisan daun bawang. Di sampingnya, ia menyertakan nasi hangat yang pulen.
"Makanlah dulu. Kita butuh energi penuh sebelum membuka kotak itu," Kirana meletakkan piring di depan Arga yang kini sudah duduk di meja makan kayu jati yang besar.
Arga mulai makan. Setiap kunyahan seolah menarik kembali kepingan-kepingan memori yang selama ini terkunci di bawah alam sadarnya. Rasa gurih daging yang menyatu dengan kehangatan minyak wijen membuatnya merasa sangat aman—perasaan yang sangat langka bagi seorang pebisnis sesibuk dia.
...****************...
...Bersambung.... Terima kasih telah membaca📖 Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
arga itu kakak iparnya Panji? terus Kirana siapanya panji sih? 😅
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia