Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Dia Ibunya?
Keysa tersentak kecil, namun ia segera memaksakan senyum terbaiknya. "Iya, aku kan bilang mau masak makanan spesial buat kamu. Kamu mandi dulu, ya. Setelah itu kita makan," ucap Keysa tanpa berani menatap mata Lucas terlalu lama.
Lucas mengernyitkan dahi, ia merasakan ada yang berbeda, genggaman tangan Keysa terasa sedikit dingin dan ada semburat kemerahan di matanya yang bukan karena asap dapur. Namun, ia memilih untuk tidak membahasnya sekarang.
Lucas hanya mengangguk pelan, meski matanya terus mengawasi gerak-gerik Keysa yang tampak sedikit terlalu terburu-buru menata sendok lalu ia menaiki tangga untuk membersihkan diri.
Dua puluh menit kemudian, Lucas kembali dengan kaos santai dan celana kain. Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap hidangan Ayam Betutu yang warnanya begitu menggoda. Namun, fokusnya teralih pada Keysa yang hanya mengambil sedikit nasi dan lebih banyak mengaduk-aduknya daripada menyuapkannya ke mulut.
"Keysa," panggil Lucas tenang namun tegas.
Keysa yang dipanggil pun mendongak, "I-iya?" tanya Keysa.
"Apa terjadi sesuatu di supermarket tadi?" tanya Lucas tanpa basa-basi, ia meletakkan sendoknya dan memberikan perhatian penuh pada istrinya.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma capek sedikit karena tadi antreannya panjang," bohong Keysa, ia meraih gelas air putih dan meminumnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Setelah makan malam, Lucas pun menatap istrinya yang tampak melamun di depannya. Lucas meraih tangan Keysa dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, mencoba mencari celah kejujuran di mata wanita itu.
"Istirahat di kamar ya, aku masih ada beberapa dokumen yang harus diurus di ruang kerja," ucap Lucas lembut lalu mengecup dahi Keysa dan merasakan suhu tubuh istrinya yang sedikit dingin.
Keysa hanya mengangguk patuh, "Kalau capek istirahat ya, jangan terlalu larut masuk kamarnya," ucap Keysa pelan.
"Iya, nanti setelah semuanya selesai, aku langsung ke kamar," ucap Lucas.
Lucas pun keluar dari lift untuk pergi ke ruang kerjanya di lantai dua, selain itu tak lupa ia juga menekan tombol lantai tiga di mana kamar utama ada di lantai tiga dan begitu pintu lift tertutup, ekspresi Lucas berubah seketika. Kelembutan itu menguap dan digantikan oleh aura dingin yang tak tersentuh, ia melangkah menuju ruang kerjanya yang kedap suara dan segera menghubungi Bastian dengan menekan tombol di meja kerjanya yang terhubungan dengan Bastian.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Bastian untuk muncul di hadapan Lucas, "Iya, Tuan?" tanya Bastian.
Lucas menyalakan cerutu, asapnya mengepul tebal di ruangan remang-remang itu. "Cari tahu apa yang terjadi pada Keysa hari ini," perintah Lucas.
"Baik, Tuan," jawab Bastian. Setelah itu, Bastian pun keluar dari ruang kerja Lucas.
Bastian segera bergerak cepat, ia tidak hanya menanyakan detail kejadian kepada supir, tetapi juga memeriksa rekaman kamera pengawas di area parkir dan lobi supermarket tempat Keysa dan Bi Lita berkunjung.
Lucas menunggu di ruang kerjanya dengan sisa cerutu yang hampir habis, matanya menatap tajam ke arah pintu seolah siap menerkam siapapun yang berani menyakiti istrinya.
Sepuluh menit kemudian, Bastian kembali dengan wajah yang lebih tegang dan meletakkan sebuah tablet di meja kerja Lucas.
"Tuan, supir mengatakan Nyonya memang sempat menunggu di area lobi selagi Bi Lita mengantre di kasir. Dari rekaman CCTV gedung supermarket, terlihat seorang wanita paruh baya menghampiri Nyonya. Mereka berbincang cukup lama, sekitar lima belas menit," lapor Bastian sembari memutar rekaman video tersebut.
Rahang Lucas mengeras saat melihat sosok wanita yang ada di layar, meskipun kualitas gambarnya tidak terlalu tajam, ia mengenali gestur angkuh dan tatapan menghina itu.
" Apa dia Ibunya?" tanya Lucas yang menerka-nerka identitas wanita di video tersebut.
"Benar, Tuan. Setelah wanita itu pergi, Nyonya tampak menangis dan terlihat sangat terguncang hingga Bi Lita datang," balas Bastian.
Lucas mematikan cerutunya dengan kasar di asbak kristal, "Apa kau sudah mendapat informasi tentang apa yang mereka bicarakan?" tanya Lucas.
"Belum, Tuan," jawab Bastian.
Lucas terdiam cukup lama, matanya tak lepas dari layar tablet yang menunjukkan sosok Keysa yang tampak rapuh di hadapan wanita angkuh itu dan ia merasakan amarah yang dingin mulai merayap di dadanya. Bagi Lucas, menyakiti Keysa adalah sebuah deklarasi perang, bahkan jika pelakunya adalah ibunya Keysa, Lucas tidak peduli.
"Cari tahu apa yang mereka bicarakan," perintah Lucas.
"Baik, Tuan," jawab Bastian.
Setelah itu, Lucas memilih untuk kembali ke kamar, ia pun melangkah masuk ke dalam kamar utama yang temaram dengan gerakan yang sangat pelan.
Di sana, Lucas melihat Keysa masih duduk bersandar di kepala ranjang, matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup gorden. Pikirannya tampak berkelana jauh, begitu jauh hingga ia tidak menyadari kehadiran suaminya sampai langkah kaki Lucas berada tepat di samping tempat tidur.
Keysa tersentak, bahunya gemetar kecil saat melihat Lucas, apalagi Lucas yang tiba-tiba melepaskan kausnya hingga memamerkan otot punggung dan dadanya yang tegap di bawah cahaya lampu tidur yang kekuningan. Keysa menelan ludah dengan susah payah, bayangan tentang intensitas hubungan mereka sebelumnya seketika memenuhi kepalanya dan secara naluriah, Keysa menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dadanya dan matanya melebar karena terkejut sekaligus gugup.
"Lu-Lucas... kamu mau... lagi?" tanya Keysa dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Keysa teringat rasa nyeri yang masih tersisa di tubuhnya dan ia tidak yakin apakah ia sanggup menghadapi gairah Lucas yang meledak-ledak malam ini dalam kondisi mentalnya yang sedang hancur.
Lucas tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru bergerak mendekat dan menaiki ranjang dengan lututnya hingga berat tubuhnya membuat kasur empuk itu melesak. Namun, bukannya melakukan apa yang Keysa takutkan, Lucas justru meraih pinggang Keysa dan menariknya dengan satu gerakan lembut namun bertenaga hingga tubuh wanita itu rebah dalam pelukannya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya ingin tidur sambil memelukmu," ucap Lucas, suaranya kini terdengar sangat dalam dan menenangkan dan kontras dengan aura dingin yang ia bawa dari ruang kerja tadi.
Lucas menyandarkan punggungnya pada bantal yang ditumpuk dan membiarkan kepala Keysa bersandar di dada bidangnya yang hangat, ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua lalu tangan besarnya mulai mengusap lembut helai demi helai rambut Keysa, sebuah gerakan yang begitu ritmis dan penuh kasih sayang.
"Tidurlah, Keysa. Jangan biarkan apa pun yang terjadi hari ini menghantuimu," bisik Lucas di atas puncak kepala istrinya.
Keysa terpaku dan jantungnya berdegup kencang ketika mendengar perkataan Lucas, 'Apa Lucas tahu? Lucas pasti sudah mengetahui semuanya? Nggak, kayaknya Lucas nggak tahu deh, kalau dia tahu pasti dia bakal marah dan usir aku,' batin Keysa.
Rasa hangat dari kulit Lucas yang bersentuhan langsung dengan kulit wajahnya perlahan-lahan mulai meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun sejak sore tadi.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...