"Dia adalah anakku, bukan anak haram"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Mereka tak pernah benar-benar ada karena cinta. Mereka disampingku hanya untuk harta dan kedudukan, bahkan mereka akan mundur perlahan karena malaikat kecil yang selalu ada di sisiku. Tapi kau, bagaimana dengan kau?"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Aku tak pernah benar-benar mencintai wanita sebesar ini"
~Bimantara Eka Julian~
"Melihatlah ke arahku! Dan jangan katakan itu lagi, karena itu sangat menyakitkan buatku"
~Bimantara Eka Julian~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon r_eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu Menghalangi
"Kakak kemana saja?" Tanya Mila dengan tatapan yang masih nampak seperti dulu. Tatapan mengagumi.
Mereka kini berada di lorong menuju toilet restoran, berdiri saling berhadapan.
"Maaf", sebuah ucapan singkat dari Dimas itu mampu meluluhlantakkan hati Mila. Wanita itu begitu saja memeluk erat tubuh Dimas yang kekar. Kemudian, terdengar suara tangisan dari seorang Mila.
"Aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu", kata Mila dengan tangan masih melingkar di tubuh Dimas.
Pria itu hampir saja menyentuh dan membelai kepala Mila, namun ia urungkan. Ia tak mau memberi harapan pada Mila, yang jelas masih nampak menyukainya. Sedangkan ia sendiri, sama sekali sudah tak memiliki rasa apapun pada wanita yang pernah dihamilinya itu, karena dihatinya kini tengah terisi wanita lain, meski ia sendiri belum menyadari hal itu.
Dimas membiarkan Mila mengungkapkan keluh kesahnya. Ia tau, Mila pernah menderita karena tingkahnya. Hamil di usia sekolah, namun ia tinggalkan begitu saja wanita itu keluar negeri. Mengatai dirinya sendiri sebagai pria brengsek, mungkin tak cukup untuk menggantikan penderitaan Mila. Namun, sementara hanya itu yang bisa ia lakukan.
Dengan hati-hati Dimas mendorong tubuh Mila yang semenjak tadi menempel di tubuhnya yang masih berbalut kemeja kantoran yang sudah nampak tidak licin lagi. "Aku ingin menanyakan sebuah hal penting padamu. Aku harap, kamu menjawabnya dengan jujur", kata Dimas.
Mila mengangkat kepalanya perlahan, kemudian mengusap sisa-sisa air mata yang masih nampak membasahi wajahnya. "Apa yang ingin kakak tanyakan?", suara Mila terdengar parau.
"Gala", ucap Dimas.
Nampak ada rasa kecewa yang terpancar dari wajah Mila, mendengar satu nama yang disebutkan oleh laki-laki yang ada dihadapannya itu. Ia pikir, Dimas menemuinya murni karena dirinya, tapi ternyata bukan.
Mila bermaksud meninggalkan Dimas, namun Dimas dengan cepat menarik tangganya dan mengungkung tubuh wanita itu dengan dua tangannya di tembok. "Aku belum selesai bicara", kata Dimas.
"Kakak mencariku hanya untuk menanyakan bocah itu saja? Kemana nurani kakak?" Plakkk...sebuah tamparan mendarat di pipi Dimas.
Sambil mengelus dadanya dan kembali menangis. "Kak Dimas dulu meninggalkanku karena anak itu, kak Dimas sekarang menemuiku juga karena anak itu. Apa maksud kakak?" Mila menggoyang kedua lengan Dimas, sebelum akhirnya benar-benar melangkah meninggalkan Dimas.
"Berarti dia benar-benar anakku", lirih suara Dimas. Kaki-kakinya yang tadinya kuat menopang tubuhnya yang kekar, kini nampak lemas, membuatnya akhirnya terduduk dilantai dengan tangis yang tak mampu ia bendung.
********
Sita baru saja kembali ke kantor, setelah menjemput anaknya dari sekolah dan membawanya kembali ke rumah.
"Bu Sita, tadi ada adik Bu Sita kemari, mencari Ibu", kata seorang sekretaris Sita ketika mendapati sita hendak masuk ke ruangannya.
Sejenak sita terdiam, berfikir ada apa gerangan, hingga sang adik ingin bertemu dengan dirinya.
"Hubungi dia kembali, aku menunggunya", kata Sita yang kemudian benar-benar masuk keruangannya.
Tak berapa lama, pintu ruangan Sita terbuka. Seseorang yang ia tunggu, perlahan masuk dan mendekati meja kerjanya.
"Ini tempat bekerja, bukan cafe atau tempat kongkow. Aku harap besok kamu tidak memakai pakaian seperti itu di kantor", sindir Sita tatkala melihat pakaian adiknya yang jelas kurang pantas untuk dikenakan di kantor, karena terlalu ketat dan mini.
Tanpa dipersilahkan, Mila duduk begitu saja di seberang Sita. "Mbak Sita selalu saja begitu. Dari dulu melarangku untuk ini dan itu. Mbak Sita lupa jika aku sudah dewasa", kata Mila dengan santainya.
"Umurmu sudah dewasa, tapi sikapmu tidak menunjukkan sebagaimana umurmu", kata Sita.
Sedari dulu, Sita dan Mila memang jarang sekali akur. Terlebih pasca meninggalnya kedua orang tua mereka dan pengasuhan Mila lebih banyak dilakukan oleh tantenya.
"Baiklah, Mbak Sita memang selalu benar", kata Mila mengejek.
"Ada apa kamu mencari Mbak?" Tanya Sita sambil mengambil beberapa berkas, dari laci meja kerjanya.
"Aku akan menikah dengan Kak Rafi?" Kata Mila dan sukses membuat Sita terkejut.
"Mbak Sita terkejut? Karena Kak Rafi yang baru saja kenal denganku sudah mengajakku serius menikah?" Kata Mila dengan sombongnya.
"Apa sudah kamu pikirkan masak-masak?" Sita berusaha bersikap tenang.
"Tentu saja aku sudah memikirkannya dengan baik. Jika belum, tidak mungkin aku meminta izin pada Mbak Sita", kata Mila. "Eh maaf, bukan minta izin tapi memberitahu", Mila meralat ucapannya.
"Pernikahan bukan untuk satu hari dia hari, Mila. Aku harap kamu menimbangnya kembali", kata Sita. "Apalagi umurmu masih sangat muda", lanjutnya.
Mila memukul meja dengan pelan. "Kenapa Mbak Sita selalu menghalangi apa yang aku suka?" ucap Mila. "Apa sebenarnya Mbak Sita masih mencintai kak Rafi?" Kata Mila lagi.
"Kamu salah paham, Mila. Mbak Sita begini karena khawatir denganmu. Mbak Sita tidak ingin kamu kelak kecewa. Mbak Sita cuma ingin kamu bahagia", kata Sita.
"Terserah Mbak Sita saja. Mbak Sita setuju atau tidak, aku akan tetap menikah dengan Kak Rafi", kata Mila. "Aku akan menemui kakek, sebelum aku melangsungkan pernikahan", kata Mila tetap pada pendiriannya.
Sita menghembuskan nafas perlahan. Tak tahu apalagi yang harus ia lakukan untuk memberikan pengertian pada adiknya yang memang keras kepala.
"Oh ya, sebelum aku melangsungkan pernikahan, aku mau sahamku dialih namakan pada Kak Rafi", kata Mila dengan entengnya.
"Tidak semudah itu", jawab Sita dengan tegas.
"Kenapa tidak? Bukankah mudah bagi Mbak Sita melakukan itu?" Ucap Mila. "Apa Mbak Sita takut aku dibohongi oleh Kak Rafi? Aku bukan anak kecil kak. Kak Rafi juga akan memberikan sebagian saham perusahaannya kepadaku", kata Mila.
"Apa masih ada yang ingin kamu sampaikan? Jika tidak, kembalilah bekerja", Sita sengaja mengusir Mila karena baginya rasanya percuma menasihati adiknya yang keras kepala itu. Dengan kesel Mila meninggalkan ruangan Sita.
"Ya Allah, ujian apa lagi ini", Sita menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memijit keningnya.
#########
Happy Reading🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa tinggalkan jejak, karena jejakmu semangatku 😉
smga sehat" trs dan bs lnjut lg thor
nah semangat thor, semoga sukses.
memang ada sih yang bilang biar penasaran.
mending mantan penjahat ya kan
buat perjanjian pranikah antara mila dan rafi misalnya " apabila rafi ketahuan selingkuh maka gugur kepemilikkan saham"