"Mas, kamu harus tau. Mantan suamiku dulu, dia sempat menyesal karena mengambil keputusan terlalu cepat dan dalam keadaan emosi."
Menghirup nafas lebih dalam, Rey menyadari kesalahannya. "Dan itu sama dengan yang Mas lakukan ke kamu?"
"Iya,"
Rey menyesali ucapan talaknya yang diucapkan satu kali. Lantas apa yang membuat Fitri hampir dicerai lagi oleh suami keduanya?
Kesalahan apa yang dilakukannya dimasa lalu yang menyebabkan hidupnya di penuhi sejuta luka?
(adult romance)
Jangan lupa siapin tisu sebelum membaca dari bab awal 😢
@ana_miauw
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahi Fitri secara siri
Menghela nafas berulang-ulang, Fitri merasa sangat resah. Kalimat-kalimat pujian untuk Tuhannya terus diucapkan dalam hatinya. Siapa yang menyangka, siapa yang mengira ia kembali mendapat cobaan yang begitu berat. Keinginan untuk menikah memang masih ada, tapi bukan dengan cara seperti ini. Ibunya juga berada di kota, tidak mungkin dalam tiga puluh menit bisa sampai berada disini menyaksikan pernikahan paksaan dengan orang yang tak dikenal.
Lalu bagaimana dengan Reyhan?
Reyhan masih sibuk menelpon budheya dan keluarganya yang lain. Memasukkan ponselnya kedalam saku pakaian, Reyhan sepertinya butuh waktu untuk berbicara berdua dengan Fitri. Dilihatnya kesamping, Fitri sedang menangis memikirkan pernikahan yang akan dilakukan selama lima belas menit kedepan.
"Kita perlu bicara." Ucap Reyhan yang kemudian diangguki pelan oleh Fitri.
"Meskipun kita tidak saling mengenal, aku tidak menganggap pernikahan kita main-main. Aku harap kamu mampu mendampingiku seumur hidup, apapun yang terjadi."
"Maafin aku mas Rey...ini semua gara-gara a--" Ucapan Fitri terhenti saat Reyhan mengelus lembut bahunya. Senyum tercetak di bibir Reyhan membuat Fitri merasa lebih tenang. Itu artinya Reyhan tidak menolak pernikahan ini?
"Ssst ! Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita hadapi sama-sama ya. Sudah, kamu jangan nangis lagi."
"Aku seorang janda Mas, orang yang sudah pernah menikah. Apa keluarga Mas nanti bisa menerimaku? Aku takut mereka menolakku."
"Insyaallah tidak akan terjadi apa-apa. Jangan merendah seperti itu aku tau, tidak ada satupun didunia ini wanita yang mau menjadi janda. Aku tidak mempermasalahkannya, aku yakin sama kamu. Kamu wanita baik-baik."
"Reyhan! Fitri !!" Pekik bu Ningsih tiba-tiba datang bersama suaminya Pak Cakra.
Melihat kedatangan Budhenya Reyhan langsung berdiri, mencium tangan budhenya. "Iya budhe.. "
"Kenapa bisa jadi begini Nak." Tanya budhe Ningsih, matanya berkaca-kaca. Kok bisa anak baiknya di grebek dengan Fitri yang ia kenal wanita yang sangat baik. Fitri hanya menunduk malu dan menahan air matanya.
"Panjang ceritanya Budhe." Jawab Reyhan.
Pandangan Bu Ningsih beralih kepada Fitri yang tengah menunduk lesu disamping Reyhan, bu Ningsih langsung menubruk Fitri. "Ibu yakin ini bukan salah kamu, Fitri."
Menatap bau Bingsih, air mata Fitri semakin luruh membasahi pipinya. Tidak ada kata-kata yang keluar melainkan mata yang menggambarkan keteduhan. Bu Ningsih mengeratkan pelukannya, menguatkan wanita rapuh itu.
***
"Saya terima nikah dan kainnya Fitri humairah binti Almarhum Fatur rahman dengan mas kahwin tersebut tunai." Dengan satu tarikan nafas Reyhan dapat mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan benar. Hingga semua saksi yang hadir dijana mengucap kata "Sah !!"
Dengan malu-malu Fitri mencium punggung tangan suaminya dan Reyhan mencium kening istrinya. Fitri memang bukan cinta pertamanya, tapi Fitri adalah orang yang pertama kali Reyhan cium selain ibunya. Harapan Fitri ini adalah pernikahan terakhir baginya meskipun Tuhan (maaf author😄) mempersatukan mereka dengan cara yang tidak diduga-duga. Tapi yang jelas ia ingin hidup bahagia di pernikahannya yang sekarang dan bisa menua bersama Reyhan. Meskipun nantinya mereka butuh waktu untuk saling mengenal karena mereka baru mengenal TIGA HARI !! Bisa dibayangkan, baru tiga hari pemirsah...
Diperjalanan pulang.
Mereka semua sudah memasuki mobil tak terkecuali pasangan pengantin yang baru mengucapkan ijab kabul beberapa menit yang lalu.
"Tau gitu mah kemarin budhe lamarin Fitri buat kamu aja Rey, bukan buat Faisal. Eh ya udah ding namanya jodoh ngga ada yang tau." Celetuk bu Ningsih.
"Sudahlah Bu, jangan asal nyablak saja." Pak Cakra yang ada di kursi kemudi langsung menyeru takut istrinya bablas ngomong ini itu yang dapat melukai perasaan keduanya.
"Gimana cara Reyhan bilang ke mama ya budhe?" Tanya Reyhan, sedari tadi ini terus isi kepalanya. Reyhan takut mamanya tidak bisa menerima Fitri.
Mendengar percakapan mereka lagi-lagi Fitri berkecil hati karena statusnya.
"Nanti kalau kamu nggak berhasil budhe bantu ngomong. Ya kalau terpaksanya si Nuning--" Bu Ningsih menjeda kalimatnya. "Kalian nggak usah tinggal sama orang tua dulu, tinggal saja di apartemen."
"Baiklah."
Melihat kesamping, Reyhan mendapati istrinya memejamkan mata. "Masih pusing?" lirih Reyhan mengusap pucuk kepala Fitri.
"Sedikit,"
Sama dengan Reyhan, Fitri juga sedang memikirkan Ibunya yang hanya dikabari lewat telpon barusan. Belum bercerita kepada beliau secara menyeluruh.
Tadinya sempat berdebat karena masalah nasab perwalian. Fitri anak yatim, wali nasab kedua setelah ayah adalah kakek. Sedangkan kakaknya pun sudah meninggal satu tahun yang lalu. Jadi wali nasab diserahkan kepada pamannya yang kebetulan tinggal tidak jauh dari desa tempat Fitri tinggal. Harap-harap cemas, akhirnya paman datang ditemani oleh istrinya satu setengah jam kemudian.
***
Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah budhe Ningsih. Reyhan memutuskan masuk kekamar dimana ia biasa tidur. Baru tiga hari sampai ke kampung budhenya, pulang-pulang bawa istri, nggak habis pikir. Padahal kesana niatnya memenuhi undangan syukuran khitanan Zakaria plus liburan kecil-kecilan.
Reyhan terus menggeleng dan mengacak rambutnya. Kalau nanti mamanya ngga syok aja sudah syukur.
Bu Ningsih menuangkan minum ke dalam gelas, suasana rumah sudah sepi. Faisal sudah pulang ke rumahnya karena hari sudah menunjukkan pukul delapan malam. "Pamanmu langsung pulang Fit, bukannya nginap dulu."
Fitri duduk diruang tamu seperti orang hilang, "Iya Nu, ngga bisa ditinggal lama-lama. Paman sama bibi merawat peternakan burung puyuh."
"Panggil saha Budhe. Saya itu Budhemu sekarang, Nuning itu adik perempuanku. Kami beda satu tahun tok sih." Fitri menganggukan kepalanya. Tampaknya ia harus menghafalkan silsilah keluarga suami barunya.
"Reyhaaaan!!" Pekik Ningsih, Fitri yang mendengar seketika agak berjengit mendengar teriakan petir Ningsih. Mengetahui Fitri kaget, Ningsih menatap Fitri. "Maaf ya Fit, mulut Budhe seperti speaker masjid. Kamu harus maklum soalnya Budhe dulu bekas pedagang palawija di pasar."
"Iya nggak papa Budhe."
Terlihat Reyhan menghampiri Budhenya, rambutnya begitu acak-acakan. "Iya Budhe, ada apa?"
"Kamu ini loh, ajak istrimu masuk kedalam. Masa dibiarkan sendirian. Budhe mau gantian sama kang Cakra ngipasin burung adek yang baru dipotong tadi siang. Nih Fitri nggak ada yang nemenin."
Ya ampun budheee, batin Fitri ingin tertawa.
Jarak Faisal dan Zakaria memang selisih 18 tahunan, karena Ningsih kebobolan. Kebetulan Zakaria memang susah dibujuk untuk khitan karena takut sakit, jadi lumayan telat. Sekarang usia Zakaria 10 tahun.
Reyhan baru menyadari kalau dirinya melupakan Fitri. "Oh iya ding! Lupa."
"Astagaaa! Baru berapa jam menikah sudah lupa istrinya," protes Ningsih pada Reyhan.
"Aku mau pulang dulu Mas, Budhe..." pamit Fitri.
"Biar aku antar." Sahut Reyhan.
"Lho, nggak tidur disini opo. Oh iya ding, siapa tau mau malam pertama. Ntar kedengaran."
Mendengar malam pertama wajah Fitri langsung memerah seperti tomat. Budhe Ningsih ini memang sedikit bar-bar.
Merasa tidak enak, Reyhan meminta maaf. "Maaf yah Fit, Budhe ini memang sedikit bar-bar," mengalihkan pandangannya kepada Ningsih, "malu tau Budhe jangan ngomong gitu." Protes Reyhan.
To be continued.
pemeran utama pria selalu salah, dia dibohongi ujung2 dia juga yang salah, dia pergi kerja lama dia juga salah, dua ujuga yang dibuat menyesal, mengemis2 maaf, pemeran utama pria di novel selalu dibuat karakter bodoh yang Terima saja diperlakukan apapun dan pada lahir dia dibuat mengemis2 pada istrinya
pemeran utama wanita selalu akan dibenarkan, dia membohongi suami dengan kebohongan yang sangat menyakitkan tapi ujung2 pemeran utama pria juga yang salah dan mengemus maaf, pemeran utama wanita pergi dari rumah dan buat suami kayak pengemis dan menderita novel anggap biasa saja bukan kesalahan yang perlu dibesar2kan dan tidak perlu minta maaf tapi pemeran utama pria pergi karena kerja yang sangat penting udah dibuat jadi kesalahan fatal dan dapat hukuman dan diremehkan pria lain
vano lelaki lain yang suka pada pemeran utama pria terlalu diistimewakan dan tidak pernah dianggap salah dan bisa merasakan tubuh pemeran utama wanita dan bebas memprovokasi pemeran utama pria, kesalahan sangat banyak, meleceh wanita, memaki jalang pada peran utama wanita, menghancurkan rumah tangga adiknya tapi karena tidak dianggap salah dana tidak perlu dapat balasan