Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI RUANG TAMU
Tubuh Purbaya langsung menegang.
Ia sama sekali tidak menyangka Alya akan senekat itu--datang ke rumahnya.
Untuk sesaat ia terdiam, mencoba menata ekspresinya agar tidak terlihat mencurigakan.
“Ah... eh... i-iya,” katanya akhirnya dengan suara sedikit gugup, meski berusaha terdengar biasa. “Aku... aku segera menemuinya.”
Dari balik pintu terdengar langkah Mbok Sri menjauh.
Di dalam kamar, Eva yang tadi berdiri di dekat ranjang mulai memasang kembali bajunya yang sempat ia lepaskan. Matanya menatap Purbaya dengan kening berkerut.
“Siapa, Mas?”
Purbaya berbalik cepat, berusaha terlihat santai.
“Eem... nggak tahu,” jawabnya singkat. “Mbok Sri juga nggak jelas ngomongnya.”
Eva masih memandangnya, seolah mencoba membaca sesuatu di wajah suaminya.
Purbaya menghindari tatapan itu.
“Kamu tunggu di sini saja,” katanya sambil merapikan kerah bajunya. “Aku keluar dulu lihat siapa.”
Tanpa menunggu jawaban Eva, Purbaya segera melangkah keluar dari pintu kamar.
Sementara di belakangnya, Eva hanya berdiri diam.
Benar saja.
Begitu sampai di ruang tamu, Purbaya langsung melihat Alya sudah berdiri di sana.
Perempuan itu menyilangkan tangan di dada, berdiri santai seolah rumah itu bukan tempat yang asing baginya. Tatapannya sedang tertuju pada sebuah foto besar yang tergantung di dinding.
Foto keluarga.
Purbaya bersama Eva... dan Noya di tengah mereka.
Alya memperhatikan foto itu beberapa detik lebih lama.
Saat menyadari Purbaya sudah berdiri di belakangnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sinis.
“Wah...” katanya pelan tanpa berbalik.
“Foto keluarga yang sangat sempurna.”
Baru setelah itu ia menoleh.
Tatapannya langsung mengunci Purbaya.
“Suami yang terlihat begitu baik,” lanjutnya dengan nada menyindir. “Istri yang cantik... dan anak yang manis.”
Ia kembali melirik foto itu sekilas.
“Siapa yang menyangka,” tambahnya sambil menatap Purbaya lagi, “bahwa pria di foto itu beberapa jam yang lalu masih berada di kamar hotel bersamaku.”
“Alya, hentikan.”
Bentakan Purbaya keluar tertahan, tapi cukup keras.
Ia segera melangkah mendekat lalu meraih pergelangan tangan perempuan itu.
“Ayo ke luar.”
Tanpa memberi kesempatan Alya berkata lagi, Purbaya menariknya sedikit menjauh dari ruang tamu, menuju teras depan rumah.
Dari kejauhan, Mbok Sri yang sedang di dapur sempat melirik. Ia tidak mendengar jelas percakapannya, tapi cara Purbaya menyeret tamunya itu terasa aneh. Namun perempuan tua itu memilih diam, hanya memperhatikan dari jauh.
Di teras, Alya langsung menarik tangannya kasar.
“Jangan tarik aku!” bentaknya kesal.
Purbaya menatapnya tajam.
“Sekarang kamu maunya apa?”
Alya justru tertawa kecil.
Tawa mengejek.
Alya bisa melihat wajah Purbaya yang pucat, tapi matanya menyala seolah menantang.
“Tenang saja,” kata Alya sambil menyilangkan tangan lagi. “Untuk saat ini aku tidak akan merusak ketenangan rumah tanggamu.”
Ia menekankan kata rumah tangga dengan nada sinis.
“Tapi aku tidak terima dengan ucapanmu siang tadi.”
Purbaya mengembuskan napas keras.
“Jadi kamu datang ke rumahku hanya untuk itu?”
Alya mendekat satu langkah.
“Aku mau kamu tetap bersamaku.”
Purbaya menatapnya tidak percaya.
“Alya--”
“Aku tahu istrimu ada di rumah,” potongnya santai. “Anakmu juga.”
Lalu Alya tersenyum tipis.
“Sebenarnya gampang sekali, lho... kalau aku mau memporak-porandakan keluargamu sekarang.”
Ia bahkan tertawa kecil setelah mengatakan itu.
Tawa yang membuat Purbaya merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dadanya.
“Kamu jangan cari gara-gara, Al,” kata Purbaya dengan suara ditekan.
Alya langsung menepis tangannya.
“Kamu yang cari gara-gara!” balasnya tajam.
Purbaya mulai kehilangan kesabaran. Ia melangkah lebih dekat, menurunkan suaranya hampir seperti berbisik.
“Sssst... tolong, jangan--”
Alya menyipitkan mata.
“Jangan apa?”
Ia sengaja menaikkan sedikit suaranya, menantang.
Belum sempat Purbaya menjawab--
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Langkah Eva terdengar dari dalam rumah.
Ia keluar dari kamar dan berhenti beberapa langkah dari ruang tamu.
Matanya langsung menangkap pemandangan di depan pintu rumah itu.
Seorang perempuan asing berdiri berhadapan sangat dekat dengan Purbaya.
Dan Purbaya... tampak gelisah seperti seseorang yang tertangkap basah.
Eva berhenti beberapa langkah dari ruang tamu. Tatapannya bergantian antara Purbaya dan perempuan yang berdiri di dekat pintu.
“Kenapa tamunya di luar saja, Mas?” tanyanya heran. “Silakan masuk.”
Purbaya dan Alya sama-sama kaget.
Untuk sesaat tidak ada yang menjawab.
“Tamunya dari mana?” lanjut Eva sambil berjalan mendekat.
Purbaya terlihat mencari kata-kata.
Namun Alya lebih cepat bereaksi.
Perempuan itu langsung memasang senyum sopan, seolah baru pertama kali bertemu.
“Oh... maaf, Bu,” katanya ringan. “Saya Alya.”
Ia menoleh sekilas ke arah Purbaya, lalu kembali ke Eva.
“Saya asisten riset Pak Purbaya.”
Purbaya menelan ludah.
Alya melanjutkan dengan tenang, seolah cerita itu sudah sangat wajar.
“Sebentar lagi kan Bapak mulai aktif mengajar lagi di kampus,” katanya. “Jadi saya datang untuk meminta arahan beberapa bahan penelitian yang harus saya siapkan.”
Ia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Tadi sebenarnya saya sudah mencoba menelpon Pak Purbaya,” lanjut Alya dengan nada tenang. “Tapi tidak ada jawaban. Karena urusannya cukup mendesak, jadi saya memberanikan diri datang langsung ke sini.”
Eva mengangguk pelan.
“Oh begitu. Silakan masuk dulu, Mbak Alya.”
Ia mempersilakan dengan sopan.
Alya melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya sekilas menyapu ruangan itu--sofa, rak buku, dan kembali berhenti pada foto keluarga besar yang tadi ia lihat.
Senyumnya tipis.
Purbaya berdiri kaku beberapa langkah di belakang mereka.
Eva duduk di sofa lalu berkata ramah,
“Mau minum apa, Mbak Alya? Teh atau kopi?”
“Tidak usah repot, Bu. Saya tidak lama,” jawab Alya cepat.
Namun sebelum duduk, Alya sempat melirik Purbaya sekilas.
Tatapan yang hanya berlangsung satu detik... tapi cukup membuat Purbaya semakin gelisah.
Eva tidak menyadari itu.
“Oh begitu... jadi ada yang ingin didiskusikan dengan Pak Purbaya, ya?” kata Eva sambil menatap Alya.
Purbaya seperti baru tersadar.
“Iya... itu... soal penelitian kampus nanti,” jawabnya terbata.
Alya langsung menyambung dengan tenang.
“Saya hanya butuh beberapa tanda tangan dan arahan dari Pak Purbaya, Bu.”
Eva mengangguk.
“Oh begitu.”
Lalu ia berdiri.
“Kalau begitu saya tinggal, ya.”
Kalimat itu membuat Alya dan Purbaya saling melirik tanpa sengaja.
Begitu Eva berjalan menjauh...
Baru Alya bersandar santai di sofa.
Senyumnya berubah.
“Bagaimana sandiwaraku, rapi sekali kan, Mas. Kau berhutang padaku," bisiknya pelan.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄