NovelToon NovelToon
APA INI?

APA INI?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.6
Nama Author: andee Rosalia

para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan

wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap

"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Hariku masih tetap berlanjut setelah mendapat cuti tidak resmi kemarin aku kembali memijakkan kaki di kantor kebanggan Brawijaya grup hingga waktu telah menunjukkan pulul 9:30 sudah sangat terlambat bagiku untuk tiba dikantor.

Pagi ini aku memang sengaja datang terlambat ke kantor dan bisik – bisikan dari karyawan sepertinya harus jadi kewajiban ketika melihatku apa lagi aku datang menggunakan mobil lelaki itu. aku yakin kini mereka menanyakan mengapa aku masih bisa berjalan santai memasuki kantor, padahal aku sudah menyinggung dan menggumpati pemilik perusahaan ini.

Aku masih melangkah dengan anggun bahkan terkesan angkuh. setibanya di lantai teratas dimana ruanganku berada terlihat tio, tika, lisa, andre juga narend di hadapan meja kerjaku bisa kutebak mereka tengah mengira aku tlah dipecat oleh ms Brawijaya akan sikapku kemarin.

Untuk mendapatkan perhatian dari mereka aku harus berdehem dan lihat mereka melihatku dengan wajah takjub, wajah – wajah ini rasanya kini sangat menyenangkan untuk ku pandangnya. Tio yang pertama kali bersuara, kali ini tio berkata

“Kau masih hidup?”

“Kau sepertinya sangat mengharapkan kematianku tuan sampai-sampai memerintahkan yang lain untuk merampok di meja kerjaku” ujarku sambil melangkah untuk semakin dekat dengan mereka.

"Wihhhh hebat kupikir kamu sudah jadikan butiran debu oleh mrs brawijaya" Ucap lisa.

"Bagaimana keadaan si bos ?" Ucap Narend.

“Dia sangat baik, sangat baik sampai merepotkan kita semua sebagai bawahannya” balasku acuh.

“Duuh ni mulut bisa ngak si semenit doang ngak luncurin kalimat sarkis. Heran banget deh, tuhan lagi melaknat siapa sih pas captain kamu?” ujar Tika sambil mencubitku. Jika seperti itu respon Tika, lain lagi dengan tio.

“…” Tio tidak bersuara dia malah memindai tubuhku seakan mencari debu yang tak kasat mata. Risih di perhatiakan seperti itu, aku berkata

“Kalian sedang apa sih?. Gih balik ke tempat kalian” usirku dengan angkuh.

"Hei jangan banyak bergerak, aku sedang cek apa Mrs menyakitimu?" Ucap andre sambil memperhatikan wajahku dengan sangat intens.

"Wi… jelaskan pada kami" Ujar tio melihatku penuh dengan telisik mencoba mengintimidasi dan mencari jawaban dari raut wajahku.

Aku membuang napasku dengan kasar mendapat segala perhatian dari mereka, ku akui diantara mereka akulah yang sangat tertutup dan hanya menjawab seadanya jika bercerita hal ini.

kali membuat mereka gemas sendiri dan sering mengintrogasiku guna mendapat semua info yang mereka inginkan dan tak hayal pula mereka tidak mendapatkan secuil informasi apapun dari mulut ini.

"Jelaskan pada kami wi" Desak Tio lagi

" Mmm" Gumamku acuh.

"Mm apa? jelaskan pada kami sebenarnya terjadi segera wi, sekarang tidak pake drama panjang kami tidak memiliki banyak waktu untuk mendesakmu bicara" Ucap tika geram

Dan pada akhirnya aku menceritakan detail yang terjadi kemarin tentunya dengan sedikit kebohongan untuk menyakinkan mereka.

aku hanya mengatakan tidak tahu menahu kondisi si boss dan hanya mengantar juga mengisi registrasi untuk si boss selebihnya tidak menggangu si boss yang membutuhkan istirahat full sedangkan aku sibuk mengatur kembali segala skejul kerja yang berantakan untuk beberapa hari ini.

sampai si boss kembali bekerja, ucapanku membuat mereka hanya menganggukkan kepala karena alasan itu sangat logis untuk mereka.

“Aiss percumaa kami menghawatirkanmu. Memang benar kalo penjahat tuh matinya lama dan susah” ujar Lisa kini bersidekap karena sebal padaku setelah mendengar kebohonganku.

“Siapa juga yang nturuh kalian khawatirin aku terus kumpul disini?” tanyaku menatap mereka satu persatu.

“Kami mau ngumpulin barang-barangmu, dan niatnya sebentar sore mau ngantarin ke kosanmu tapi ngak jadi” kata Natan kali ini.

Sekarang tidak bisa ku ungkiri jika mereka adalah teman – teman yang sangat baik selama aku bekerja di brawijaya grup. Entah kenapa mereka selalu menerima sikapku dan ucapanku yang ku yakin sering menyakitkan hati mereka namun mereka seakan tidak pernah menanggapi semua itu.

Mereka memperlakukanku layaknya sahabat lama yang sudah tau semua buruknya dan hal itu yang membuatku nyaman bersama mereka sebagai teman. Tersentuhkah aku karena aksi heroic mereka?, tidak.

Nyatanya aku malah menggomeli mereka karena menyentuh barang pribadiku. Sebagai sekertaris, aku dibuat harus siap siaga 24 jam tergantung jam kerja bossku, jadi aku menyiapkan dalaman ganti.

Barang pribadi seperti itu sangat ku perhatikan tapi sepertinya mereka sudah melihat bahkan menyentuhnya. Untuk mengalihkan rasa Maluku, aku berkata

“Duhhh heroic sekali kalian, tapi itu ngak guna” kataku sembari menggembalikan beberapa barang dari dos ke tempatnya semula.

“Kamu emang manusia ngak tahu terima kasih ya. Aku curiga pas lahir kamu numbalin hatimu biar punya otak dan mulut yang sarkis ya jadi bisa jadi sekertaris?” kata Lisa menahan geramnya.

“apa hubungannya rasa terimah kasih dan jabatan?”

“Lo emang setara ma boss tapi aku penasaran berapa lama kamu bisa bertahan”

“Kau peduli atau sedang melihat peluang untuk merebut jabatanku” balasku semakin angkuh saja.

“Nyuri posisimu dan mati enggan hidup pun sengsara haha sorry yaa no” ujarnya mulai sarkis sepertiku.

“Kau yakin? Gajinya gede log bisa nyicil rumah gedonggan sekali gajian” ujarku memancingnya.

“Gaji gede setimpal dengan deritanya. Kamu yang udah yang paling tepat di samping iblis itu, iblis dan setan kan satu habitat”

“Sialan balik gih, btw thanks ya udah perhatian” kataku lalu berlalu begitu saja dari hadapan mereka lalu masuk ke dalam ruang Khusus CEO perusahaan ini.

Dalam ruangan itu, aku hanya menggambil beberapa berkas untuk di alihkan pada wakil Ceo. Perasaanku, aku tidak begitu lama di ruangan itu tapi setelah aku keluar dari ruangan Dedi, suasana yang sempat serasa menyenangkan berubah menjadi mencekam.

Ternyata Tuan besar alias Pemilik perusahaan sesungguhnya sedang berdiri sambil memberi mereka semua petuah dan ancaman yang tidak main-main.

Aku yang berada di ambang pintu niatnya akan mempersilahkan dia masuk sedangkan aku berlalu untuk melanjutkan aktivitasku tapi nyatanya sekali lagi niatku itu gagal karena lelaki itu dengan sikap bossynya berkata

“Masuk, banyak hal harus kamu jelaskan” ujarnya lalu mendorong pintu agar terbuka makin lebar.

Tanpa banyak bicara dan tanya aku hanya mengikuti perintahnya memasuki ruangan khusus untuk ceo di perusahaan ini. Saat aku kembali memasuki ruangan itu, ku lihat Lelaki lanjut usia itu sedang duduk di sofa dengan posisi sedikit bersandar, kakinya menyilang sedangkan kedua tangannya berada di sandaran tangan sembari menatapku dengan intens dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Jangan harapkan kami akan duduk berhadapan lalu membicarakannya sama lalu juga masa kini dengan cara yang benar karena pada faktanya lelaki tua itu tidak mempersilahkan aku duduk.

Dia malah semakin menatapku sambil bermain-main dengan pikirannya sendiri. ketika mata Mr Bram memperhatikanku, perasaanku yakin dia tidak akan heran lagi melihatku di perusahaannya.

Sebenarnya aku cukup penasaran drama apa yang akan di jalankan oleh tuan besar ini namun urung ku tunjukkan padanya. Aku yakin jika aku bisa berlaku santai pada pemeran utama yang hancurkan kehidupanku, mengapa aku tidak dapat memainkan peran terbaikku di hadapan tuan besar kali ini.

Suasana terasa sangat mencekam namun itu hanya sesaat karena tanpa ku pinta dia berkata

“Dedy sedang sakit, jadi untuk sementara saya yang akan menggantikannya” jelasnya singkat padat dan sangat jelas bagiku.

“….” Aku tak menjawab malah memilih mengganguk saja.

“selama dedy betrest kamu akan tetap membantu dan mengatur jadwal saya” katanya lagi.

“baik” jawabku singkat padat dan jelas.

“bagaimana cara selama ini?” tanyanya masih dengan posisi dan nada suara yang datar.

“seperti sekertaris lainnya pak, menemani boss menghadiri metting di luar dan jika melebihi jam kerja dianggap bonus dan akan berlipat tergantung ke bijakan atasan” jawabku.

“okey” ujarnya masih dengan wajah datar.

“apa yang terjadi kemarin?” tanyanya gamang.

Jujurnya aku tidak menggerti kemana arah pembicaraan kami tapi tidak ingin bertanya lalu terlihat bodoh aku malah menggeser tabletku lalu menyebutkan semua agenda yang kemarin sempat tertunda.

Lelaki itu beberapa kali mengganguk dan sesekali menyela dengan pertanyaan-pertanyaan yang untungnya dengan sigab ku jawab.

Layaknya tes dadakan yang mendebarkan, aku baru bisa bernafas lega kala di berhenti menanyakan hal-hal yang selama ini ku kerjakan bersama anaknya.

Lihatlah dari sikapnya saja dia seolah tidak menggangapku sebagai menantunya, jadi apa yang harus kami selesaikan secara kekeluargaan.

Semua telah selesai aku ucapkan dan jelaskan dengan detail padanya dan tahu apa balasan setelah aku berkoar-koar panjang? Dengan santainya dia berkata

“Telpon mereka sekarang. Atur setelah waktu makan siang”

“Baik, ada yang lain pak?”

“Tidak”

“Baik, saya permisi kalo seperti itu” kataku

“Tunggu”

“Ya pak?”

“Tidak ada yang ingin kau jelaskan pada saya?” tanyanya dengan nada sarkis.

“Sampai saat ini saya tidak mendapatkan penjelasan apa pun dari keluarga anda. Jadi untuk apa penjelasan dari saya”

“Kau” ujarnya berang sambil berdiri menatapku dengan penuh amarahyang masih bisa dia tahan.

“Saya permisi pak” pamitku sekali lagi lalu benar-benar berlalu.

Ya seperti itu pertemuan pertamaku dengan lelaki itu. Tidak ada kalimat basa-basi yang tidak perlu karena setelah jadwal makan siang selesai, aku kembali di sibukkan dengan pekerjaan yang memang sudah terjadawal.

Jadwal tertunda kemarin akhirnya tetap ku jalani bersama tuan Mr Bram, tuan besar ini selalu memperhatikanku setiap kegiatanku dengan intens hal itu jelas membuatku risih pada awalnya namun semakin kesini membuatku semakin acuh dan semakin mencomoh keluarga brawijaya.

Semua pekerjaan di hendel dengan sangat bagus, tidak heran jika Dedi sangat handal di bidangnya karena ternyata lelaki tua yang berstatus mertuaku itu juga sangat jago menghendel dan mengintimidasi lawannya, sehingga ketika melakukan aksi tawar – menawar yang alot bersama klient dengan mudahnya lelaki tua bangka itu memenangkannya dengan hasil yang memuaskan dan sangat mengguntunkan perusahaan Brawijaya Grup.

Semua yang ku lakukan pada Suami atau lebih tepatnya bossku itu juga kulakukan pada lelaki yang menyandang status mertuaku itu, tidak ada yang berbeda karena memang tugasku sebagai sekertaris memang hanya sebatas itu saja.

Kini kami sedang di salah satu restoran mewah, kedatangan kami bukan untuk sekedar makan dan menikmati hasil karya para koki handal melainkan untuk melakukan meeting dengan seorang wanita.

Wanita itu adalah perwakilan dari salah satu perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan kami. Setelah sedikit berbasa-basi, wanita itu menjelaskan hasil analisis yang telah dia kerjakan.

Analisnya menggenai penjualan produk yang sedang diiklankan melalui semua media yang ada, nilai jual yang sangat mengguntungkan respon pasar serta market dan pembagian hasil dari kerja sama ke dua perusahaan.

“Jadi anda bisa melakukan Diversifikasi produk dengan..” kata wanita itu.

“Debt to EBITDA-nya berapa?” potong bossku seketika.

Sekedar informasi, Deb to EBITDA adalah rasio utang terhadap pendapatan setelah di kurangi beban langsung serta beban umum dan administrasi. Jika di normalkan maka artinya “(butuh berapa tahun pendapatan untuk membayar utang)”

“tiga kali” jawab wanita itu mantap.

Aku yang mendengar pembicaraan mereka sibuk membaca kembali laporan keuangan yang mereka berikan pada kami. Jujurnya memang sedikit ada kekurangan dari perkataan juga proposal itu.

Untungnya bossku sangat jeli walaupun sudah berumur, boss besar sekaligus mertuaku itu lebih dulu berkata

“yakin?” tanya bossku dengan menyipitkan dan kepala agak miring. Kelihatan sekali jika dia tidak percaya bahkan meremehkan lawan bicaranya saat ini.

“iya pak” jawab wanita itu sekali lagi.

“saya tanya sekali lagi, berapa debt to EBITDA-nya?”

“…” kali ini wanita itu yang terdiam cukup lama sambil menggutak-atik leptopnya.

Entah apa yang sedang dia periksa, mendapat respom seperti itu, lelaki tua itu mendenggus keras hingga sempat mengganggu konsentrasi wanita di hadapan kami.

Wanita itu sepertinya belum sadar betul kesalahannya, namun biarpun wanita itu masih berusaha mencari kesalahannya, bosku lebih dulu membuka mulut dan berkata

“Debt to EBITDA-nya ini sangat penting. Bagaimana kami bisa yakin menginvestasikankan dana kami ke perusahaan anda jika proposal kerja sama kalian saja belum bisa di bilang sempurna. Rasio-rasionya saja kalian tidak cantumkan dan perkirakan dengan benar, jadi apa yang bisa kalian janjikan pada kami” kata lelaki tua itu.

“….” Wanita itu masih diam. Ku yakin kini dia berharap segera lenyap dari tempat ini sekarang juga.

“….” Tidak mendapatkan respon balik dari wanita itu, lelaki lanjut usia kini menyandarkan tubuhnya di kursi restoran mahal.

Lelaki itu terdiam cukup lama tapi pandangannya menuju ke arahku. Entah apa maksud dari lelaki itu tapi aku memilih tetap bungkam dan acuh saja.

“jadi berapa angkanya?” tanya bossku kian mendesak wanita itu.

“ti.. tiga koma delapan” jawab wanita itu ragu- ragu.

“anda sudah mengecek sampai mana? Anda menjemlahnya dari laporan keungan tahun berapa? Sekarang hampir akhir tahun, harusnya laporan keuangan quarter di perusahaan anda sudah di selesaikan kan?. Kalian baru berutang untuk injeksi modal anak perusahaan kalian. Seberapa besar keyakinan anda?” tanya laki-laki itu beruntun hingga wanita itu semakin ketar-ketir saja di tempatnya.

“…” wanita itu masih terdiam bahkan menundukkan kepalanya kian dalam saja.

“saya menolak kerja sama ini. Jadi silahkan anda tinggalkan tempat ini” usir Mr. Bram.

“…” wanita itu masih diam tapi tetap melakukan perintah si tuan besar.

Wanita itu sempat sedikit membungkuk sebelum benar-benar pergi dari hadapan kami berdua. Kini hanya ada aku dan lelaki itu, sepeninggal mereka, aku dan tuan bram memakan makanan kami dengan santai, sungguh walaupun makanannya terasa sangat nikmat tapi menatap wajah lelaki tua itu seketika berubah menjadi hambar.

"Apa kau tidak memiliki sikap simpati pada suamimu?" Ucap tuan bram rilih namun terdengan sangat dingin entah ucapannya ini berupa pertanyaan atau peryataan aku tidak peduli dan hanya kutangapi dengan senyuman tipis untuknya.

“…” Tidak ada kata yang ingin ku sampaikan padanya dan tuan besar ini sepertinya menungguku mengeluarkan semua amarahku padanya tentang masa lalu itu.

Makan siangku telah habis dan waktu makan siang hampir habis aku ingin segera mengakhiri aksi tatapan maut si tuan besar dengan beralasan akan kembali ke kantor dan mengerjakan pekerjaanku namun tidak di indahkan olehnya dan dengan kata lain dia tidak mengizinkanku berdiri dari kursiku dan meninggalkan restoran ini.

Beberapa menit telah berlalu aku masih berada di posisiku begitupun dengan tuan Bram kami sama – sama hanya diam, hingga rasa jenuh mendominasiku membuatku muak dan akhirnya bersuara lebih dulu

"Sebenarnya apa yang anda ingin dengar dari saya tuan ?" tanyaku menahan amarah.

" Semuanya" Ucapnya singkat dan dengan tegas.

"Tidak pernah ada apapun diantara keluarga anda dengan saya" Kataku dengan senyum angkuh.

sungguh aku ingin menghilang dari tempat ini sebenarnya tatapan dan ucapannya itu membuatku mulai bergetar menggingat pedihnya aku melalui penderitaan karena keluarga mereka.

"Benarkah? " Katanya santai namun ada senyum mencibir yang ditampilkannya padaku.

" Tentu saja" Kataku dengan sangat yakin.

"Apa aku harus menggingatkanmu menantuku? " Ujarnya lagi dengan menekan kata menantu dan yang paling menjengkelkan adalah senyum angkuhnya yang sangat sering di tunjukkan padaku.

"Sepertinya kata itu terdengar sangat tidak menarik saat anda yang menggucapkannya tuan" kataku sembari ikut menyinggingkan senyum mengejekku padanya.

"ahahaha" tawanya menggelegar sehingga kami menjadi pusat perhatian namun bukan tawa bahagia tetapi tawa yang sangat memancing amarahku.

“ini pertama kalinya saya bertemu wanita searogan kau” ujarnya diakhiri dengan decihan seolah meremehkan.

“saya sangat tersipu mendengarnya tuan, dan keluarga anda juga mengajarkan jika brengsek itu memang ada” ujarku santai.

“kosa katamu memang sepertinya harus di perbaiki kembali nyonya” ujarnya sinis

“ahahaha perintahkan pada anak anda untuk menceraikan saya, menjadi istrinya hanya kutukan untuk keluargaku”

“anakku sepertinya sangat memanjakanmu. Lakukan jika kau bisa”

“jika bukan karena uang dari keluarga anda, perceraian itu mungkin sudah sedari dulu saya lakukan” ujarku mulai terpancing.

“coba saja kalo kau bisa melakukannya” katanya memantang dan semakin menyulut amarahku.

“….” Karena sudah sangat muak akhirnya tanpa izin dan sopan santun pun aku meninggalkan restoran ini dengan tenang, aku sangat bersyukur memiliki pengendalian diri yang sangat baik hingga dapat memanipulasi kondisiku yang lemah malah terlihat sangat tegar dan tidak mudah terpengaruh dengan orang lain.

Di depan restoran aku memberhentikan taksi dan meminta mengantarku kerumah kontakanku, di dalam taksi air mata laknat itu tidak dapat kupendam lagi mengalir begitu saja.

Tubuhku bergetar menahan isak tangiski aku ingin menjerit sebenarnya mengeluarkan semua amarahku namun kewarasan masih sangat mendominasi kali ini, semua serasa sangat menyiksa.

Semua serasa sangat membebani hidupku, kuakui selama menjalani sandiwara ini membuatku semakin serasa hancur namun ambisiku mendapat pertanggung jawaban dari mereka membuatku bertahan.

1
Sondang Sartika Lumbanraja
yang paling aneh tuh orang tua Dewi bisa nya anak nya bolak balik dimasukkan ke kadang harimau udah tau anak nya disakiti dilecehkan dan dibuang tapi tetap aja disuruh balik ke suami nya yg gila
Irma Wati
kan judulnya apa ini.jadi cerita nya pun sm apa ini ko ngk jls
Allessha Nayyaka
pada akhirnya dewi bkl nyesel mpe mati
Kurniawati Adek
terlalu panjang alur nya,klu bisa inti nya ja supaya ga bosan membaca nya🙏
Siti Aisyah
secara agama dewi sdh bebas meskipun tdk ada ucapan ...wanita yg tidak di nafkahi lahir bathin selama 3 bulan berturut.turut itu sdh jatuh talak...jd dewi sdh wanita single lg...janda rasa perawan..krn gak pernah disentuh..🤣🤣🤣
Siti Aisyah
gak ada yg hrs dikomentarin yaa thor...prolog kepanjangan
Lestari Lestari
sumpah ini adalah novel terburuk yg pernah ku baca
Risa Istifa
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Risa Istifa
😭😭😭😭😭😭😭
Risa Istifa
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Jade Meamoure
cerita yg aneh tp aq tetep support agar di kesempatan lain bisa membuat karya yg lebih greget dan di sukai pembacanya
Jade Meamoure
kasih tendangan penghancur masa depan Napa...sebel aq koq teraniaya mulu
Jade Meamoure
nyimak Thor
RiStha Carvalho
ceritanya gak jelas,,, gimana kelanjutan rianti sama dedi??? menguap begitu saja. dgn mudahnya dewi balik lagi sama dedi setelah berulang kali di sakiti. bener" cerita in****ar
Nety
aku takan pernah sudi merendah kan harga dirinya.

ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi

hmmmm 🤔🤔??
Citra Esmi
sumpah deh geregetan aq.... pengin berhenti baca kasian dewi nya.... tapi penasaran .... huaaaaaaaa
Davina Jbg
sbnrnya msh bnyak pertanyaan yg blm terjawab sih.. spt hub rianti dan dedi, kmn dedi menghilang n jarang pulang, dan bagaiman hkdpan dedi stlah dewi menghilang.
Maritza Hanan
mumet aku bacanya 💣
Debora Tangke
capek ngikutin alurx gak jelas ,kirain saat dewi koma dan sadar utk brpamitan dan prgi utk slma2x kisahx sdh end ,kok malah jdi pux ank lagi kan janinx sdh diangkat dan mati krn kecelkaaan ?
Revalina
jujur aku belom paham alur ceritanya Keman? terus plakor nya hilang? kemana kecelakaannya kenapa? aku 😕😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!