Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agnes Dirawat
Malam itu, suasana rumah Tante Isabel dipenuhi keheningan.
Semua koper telah tersusun rapi di ruang tamu.
Tina berdiri sambil memandangi setiap sudut rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama delapan belas tahun.
Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, di sanalah ia tumbuh.
Di sanalah ia belajar berjalan, berbicara, tertawa, dan mengejar cita-citanya.
Isabel menghampiri Tina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sudah siap, Sayang?" Ucap Isabel
Tina mengangguk pelan.
"Sudah, Omah."
Fisya yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya memperhatikan dengan senyum tipis.
Ia tahu...
Perpisahan ini tidak akan mudah.
Bik Lili membawa koper terakhir menuju mobil.
"Bu, semua barang sudah masuk."
Fisya mengangguk.
"Baik."
Beberapa menit kemudian mereka berempat keluar rumah.
Sebelum pintu ditutup... Tina menoleh sekali lagi.
Matanya memandang rumah yang selama ini memberinya begitu banyak kenangan.
"Ayo, Sayang," ucap Fisya lembut.
Tina mengangguk dan mereka masuk ke dalam mobil dan Isabel memilih menyetir sendiri menuju bandara.
Sepanjang perjalanan... Tidak ada yang banyak berbicara.
Suasana begitu sunyi, sesekali Isabel melirik Tina melalui kaca spion, dadanya terasa sesak.
Ia tahu...
Mulai malam ini rumahnya akan terasa sangat sepi.
Sementara Tina menggenggam tangan Fisya.
"Mama..."
"Iya, Sayang." Jawab Fisya
"Aku pasti akan sering menelepon Omah" ucap Tina
Fisya dan Isabel tersenyum
"Tentu." Ucap Fisya
"Omah juga pasti sering menghubungimu." Jawab Isabel sambil menyetir
Tak lama kemudian mobil memasuki area bandara.
Bik Lili menurunkan koper dan Fisya mengurus proses keberangkatan.
Sementara itu... Isabel memeluk Tina erat, pelukan itu berlangsung cukup lama.
"Omah..." Suara Tina mulai bergetar.
Isabel mengusap rambut gadis itu.
"Omah bangga sama kamu jadilah anak yang selalu mendengarkan Mama, jaga diri baik-baik."
"Dan jangan pernah berubah menjadi anak yang sombong."
Air mata Tina akhirnya jatuh.
"Aku pasti kangen sama Omah"
"Begitu juga Omah! Kalau ada waktu, pulanglah kesini dan Omah akan selalu menunggumu." Ucap Isabel
Tina mengangguk sambil menangis.
"Aku janji."
Isabel lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
"Ini untukmu."
Tina membukanya perlahan, di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana.
"Ini milik Almarhumah nenek mu Omah menyimpannya selama bertahun-tahun sekarang saatnya kalung ini menjadi milikmu."
Tina langsung memeluk Isabel kembali.
"Terima kasih, Omah"
"Aku akan menjaganya."
Bik Lili yang melihat pemandangan itu ikut mengusap air matanya.
"Nyonya Isabel, terima kasih atas semua kebaikan nyonya selama delapan belas tahun ini saya disini"
"Ya bik, saya yang seharusnya berterima kasih karena bibi telah banyak membantu menjaga cucuku Tina" Ucap Isabel sedih
Isabel memeluk bik Lili karena baginya bik Lili bukan hanya sekedar seorang pembantu melainkan keluarga
Pengumuman keberangkatan mulai terdengar dan Fisya mendekati mereka.
"Tan... Saatnya kami masuk." Ucap Fisya
Isabel mengangguk meski berat.
"Jaga Tina."
Fisya menggenggam tangan Isabel.
"Terima kasih sudah menjaga putriku selama ini."
Isabel tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih karena Tina juga cucu Tante."
Mereka pun saling berpelukan.
Tak lama kemudian...
Fisya, Tina, dan Bik Lili memasuki ruang keberangkatan.
Isabel masih berdiri memandangi mereka hingga ketiganya menghilang di balik pintu pemeriksaan.
"Semoga Tuhan menjaga kalian."
Beberapa saat setelah duduk di ruang tunggu... Fisya mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Sebastian
("Selamat malam, Bu.") Ucap Sebastian
Di indonesia menunjukan waktu jam dua pagi
("Sebastian.") Panggil Fisya
("Iya, Bu.") Jawab Sebastian
("Maaf ganggu, ada sedikit perubahan jadwal, Pesawat kami kemungkinan baru mendarat sore hari.") Ucap Fisya
("Baik, Bu. Besok sore saya akan menjemput Ibu dan Non Tina.") Jawab Sebastian
("Lalu... Kalau Jason bertanya apa pun... Biarkan saja dan jangan jelaskan apa pun.") Tegas Fisya
Sebastian langsung mengerti.
("Baik, Bu. Saya paham.")
Telepon pun ditutup.
Fisya tersenyum kecil, permainannya baru saja dimulai.
***
Keesokan paginya.
Jason bangun jauh lebih awal dari biasanya, ia mengenakan pakaian terbaiknya, hari itu hanya ada satu tujuan di kepalanya.
Bertemu Tina.
"Akhirnya... Ayah akan bertemu denganmu."
Ia segera menuju bandara, sesampainya di sana...
Jason berdiri di dekat pintu kedatangan internasional.
Matanya terus memperhatikan setiap penumpang yang keluar.
Di dalam pikirannya sudah tersusun berbagai rencana.
Kalau nanti Fisya datang... Ia akan berpura-pura tidak sengaja bertemu.
Kalau Fisya bertanya... Ia akan mengatakan sedang menunggu seorang teman.
Dengan begitu... Fisya tidak akan curiga.
Jam demi jam berlalu namun... Fisya tidak juga muncul dan Tina juga tidak terlihat.
Jason mulai gelisah, ia kembali melihat layar informasi penerbangan.
Semua penerbangan dari Swiss sudah selesai.
Tetapi... Nama Fisya tidak juga muncul.
Sementara itu... tidak berapa jauh dari tempat Jason menunggua
Salah satu orang kepercayaan Fisya sedang memperhatikan Jason
Ia segera mengirim pesan.
**Bu, Tuan Jason sudah berada di bandara sejak pagi. Beliau terus menunggu di pintu kedatangan.**
Tak lama kemudian...
Balasan dari Fisya masuk.
**Tetap awasi. Jangan sampai dia tahu kita sedang mengamatinya.**
Orang itu kembali membalas.
**Baik, Bu.**
Saat membaca laporan itu...
Fisya hanya tersenyum.
Ia menatap Tina yang sedang membaca buku di ruang VIP bandara transit.
Lalu bergumam dalam hati.
*"Silakan tunggu aku, Jason."*
*"Kalau perlu tunggu sampai malam."*
*"Hari ini kamu tidak akan bertemu aku."*
*"Tidak juga bertemu Tina."*
*"Kita akan bertemu besok pagi..."*
*"Di kantor."*
Senyumnya semakin lebar.
***
Sementara itu... Jason mulai kehilangan kesabaran.
Sudah hampir siang dan ia berkali-kali melihat jam tangannya.
"Kenapa belum datang? Dan Sebastian juga tidak kelihatan."
"Sebenarnya ada apa?"
Ia mencoba menghubungi Sebastian namun teleponnya tidak diangkat.
Jason semakin kesal hingga akhirnya, ia mengepalkan tangan.
"Brengsek! Aku dikerjai!"
Dengan wajah penuh amarah... Jason meninggalkan bandara dan mobilnya melaju kencang menuju kantor.
***
Beberapa jam kemudian...
Jason tiba di kantor dan tanpa membuang waktu, ia langsung berjalan menuju ruang kerja Fisya.
Pintu dibuka.
Kosong.
Ia lalu menuju ruang Sebastian, ruangan itu juga kosong.
Jason mulai kesal.
Saat itulah ia melihat seorang karyawan sedang membawa beberapa berkas.
"Sella." Panggil Jason
Wanita itu langsung berhenti.
"Selamat siang, Pak Jason."
"Sebastian masuk hari ini?" Tanya Jason
"Iya, Pak." Jawab Sella
"Mana dia?" Tanya Jason lagi sambil celangak celinguk
"Pak Sebastian baru saja keluar." Ucap Sella
"Keluar ke mana?" Tanya Jason lagi penasaran
"Beliau tadi memimpin rapat mewakili Bu Fisya dan setelah rapat selesai, beliau langsung pergi karena mendapat tugas dari Bu Fisya." Jelas Sella
Jason langsung membeku.
"Apa?"
"Iya, Pak maaf hanya itu saja yang saya tahu." Ucap Sella
Sella pun kembali bekerja.
Sementara Jason berdiri dengan wajah memerah.
"Brengsek kalian"
Lalu Jason berjalan cepat menuju ruangannya.
Brak!
Pintu dibanting keras.
Ia langsung mengambil ponselnya dan nama Kasandra muncul di layar.
Telepon segera tersambung.
("Halo, Sayang.") Suara Kasandra terdengar ceria.
("Aku gagal.") Jason menggertakkan giginya.
("Gagal kenapa dan ada apa?") Tanya Kasandra yang belum mengetahui apapun
Jason menjelaskan semuanya pada Kasandra tentang percakapan Sebastian di telpon dengan Fisya
("Apaaa! Tina kembali kesini hari ini") Ucap Kasandra dengan nada terkejut
("Ya tapi Fisya mengubah jadwal, aku menunggu di bandara dari pagi sampai siang tapi dia tidak datang.") Jelas Jason
Kasandra terdiam beberapa detik.
("Lalu?")
("Aku yakin dia sengaja melakukannya, dia pasti sudah tahu aku menunggu.") Ucap Jason
Jason mengepalkan tangannya.
("Tapi... Sekarang aku sudah tahu satu hal.")
("Apa itu?") Jawab Kasandra
("Tina benar-benar kembali ke Indonesia? Kita tinggal menunggu waktu dan tidak lama lagi... kita akan bertemu dengannya.") Ucap Jason
Di ujung telepon...
Kasandra langsung tersenyum lebar.
("Benar juga?")
("Akhirnya, Aku sudah menunggu hari ini selama delapan belas tahun.") Suara Kasandra dipenuhi kegembiraan.
("Aku ingin melihat wajah Tina dan aku ingin dia memanggilku Mama.") Ucap Kasandra
Jason ikut tersenyum penuh arti.
("Itu akan segera terjadi dan saat hari itu tiba... permainan kita memasuki babak baru dan kita akan menjadi orang kaya dan akan kita usir Fisya dari rumahnya sendiri")
("Ya aku sudah tidak sabar menunggu akan hal itu") Ucap Kasandra
Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari balik pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
Dengan wajah kesal, Kasandra mematikan layar ponselnya, lalu berjalan menghampiri pintu.
Ceklek...
Pintu terbuka.
"Ada apa? Mengganggu saja!" tanya Kasandra dengan nada tidak sabar.
Di depan pintu, Bik Nisa berdiri dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf, Bu... Non Agnes panasnya sangat tinggi. Tolong, Bu... bawa Non Agnes ke rumah sakit," ucap Bik Nisa memohon.
Kasandra hanya melipat kedua tangannya di dada.
"Aku tidak peduli. Aku mau istirahat."
"Bu... saya mohon, badannya sangat panas, saya takut terjadi apa-apa," pinta Bik Nisa lagi.
"Kamu saja yang bawa dia berobat. Aku tidak mau membawa dia. Nanti mobilku kotor." Ucap Kasandra ketus
Ucapan itu membuat hati Bik Nisa semakin sesak.
"Tapi Bu, saya..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Kasandra sudah menunjuk ke arah luar.
"Cepat keluar dari sini! Aku mau istirahat!"
Brak!
Pintu ditutup begitu saja di depan wajah Bik Nisa.
Wanita paruh baya itu hanya mampu mengusap air matanya, tanpa membuang waktu, ia segera berlari menuruni tangga menuju kamar Agnes.
Agnes masih terbaring lemah, wajahnya memerah karena demam tinggi, sementara napasnya terdengar berat.
"Yang kuat ya, Non... kita pasti cari pertolongan," bisik Bik Nisa sambil mengelus kening Agnes.
Dengan tangan gemetar, Bik Nisa mengeluarkan ponselnya
Orang pertama yang terlintas di pikirannya hanyalah Fisya.
Telepon pun segera tersambung.
("Halo, Bik Nisa?") suara Fisya terdengar dari seberang.
("Nona Fisya...") suara Bik Nisa langsung bergetar.
("Ya Bik, ada apa?") Tanya Fisya
("Bu tolong Non Agnes... panasnya sangat tinggi. Saya sudah meminta Bu Kasandra mengantar ke rumah sakit, tapi beliau menolak.") Ucap Bik Nisa
Wajah Fisya langsung berubah serius.
("Bagaimana keadaan Agnes sekarang?")
("Badannya sangat panas bu, saya takut terjadi sesuatu.") Jawab bik Nisa
("Tenang, Bik.") Nada bicara Fisya tetap tenang, tetapi penuh ketegasan.
("Saya akan mengirim orang sekarang juga. Jangan biarkan Kasandra tahu. Tetap tunggu di depan rumah bersama Agnes") Ucap Fisya
("Baik, Nona. Terima kasih... terima kasih banyak.") Ucap bik Nisa terharu
("Jangan khawatir. Agnes akan segera mendapat pertolongan, nanti setelah saya sampai Indonesia, saya akan segera kerumah sakit dan akan membawa Agnes keluar dari rumah neraka itu") Ucap Fisya dengan tegas
Mendengar ucapan Fisya, Nisa langsung meneteskan air mata
("Ya bu, sekali lagi terima kasih")
Setelah panggilan berakhir, Fisya langsung mengambil ponselnya yang lain.
("Saya ingin kalian segera menuju alamat yang saya kirim. Jemput Bik Nisa dan Agnes sekarang juga.")
("Baik, bu.")
("Ingat, lakukan diam-diam. Jangan sampai Kasandra mengetahui kalian datang.") Perintah Fisya
("Siap.")
Tak sampai lima belas menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter dari rumah Kasandra agar tidak menarik perhatian.
Dua orang kepercayaan Fisya turun dengan sigap.
"Bik Nisa?" tanya salah seorang dari mereka.
"Iya... saya." Jawab bik Nisa
("Kami diperintahkan Nona Fisya untuk menjemput Anda dan Non Agnes.") Ucap orang suruhan Fisya
Mereka segera membantu menggendong Agnes yang tubuhnya masih panas dan tidak sadarkan diri.
Mobil itu kemudian melaju meninggalkan rumah dengan tenang, sementara lampu kamar Kasandra masih padam.
Wanita itu sama sekali tidak menyadari bahwa Agnes telah dibawa pergi untuk mendapatkan pertolongan.
Sesampainya di rumah sakit, petugas medis langsung membawa Agnes ke ruang penanganan darurat.
Beberapa tenaga medis segera memeriksa suhu tubuh, tekanan darah, dan memasang infus untuk menstabilkan kondisi Agnes.
Bik Nisa melihat Agnes sudah mendapatkan penanganan, ia mengembuskan napas lega.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya bik Nisa penuh khawatir.
Dokter yang baru selesai memeriksa Agnes menatap bik Nisa dengan wajah serius.
"Untung ibu membawanya tepat waktu, demamnya sangat tinggi kalau terlambat beberapa jam lagi, kondisinya bisa jauh lebih berbahaya, untuk sementara, kami akan merawatnya sampai kondisinya benar-benar stabil." Ucap Dokter menjelaskan
Mendengar penjelasan itu, Bik Nisa langsung menangis haru.
"Syukurlah"