Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Wanita
“Nama saya Bianca Damar. Disini saya dikenal dengan nama Number Six, saya Sekretaris Senior disini. Mohon maaf atas perlakuan anak buah saya terhadap ibu.” Aku memperkenalkan diri.
“Kenapa kamu tadi tidak bertindak? Kamu kan atasannya.”
“Justru karena saya tidak bertindak, Bu Angeline jadi tahu kan yang mana Farah?!” sahutku.
Angeline mendengus.
Aku memulai rayuanku.
“Bu Angeline pasti pernah mengalami masa-masa seperti Bu Jihan, benar? Saya prediksi, anak Bu Angeline saat ini disembunyikan dari kakek-neneknya.”
Angeline terkesiap.
“Saya juga berani bertaruh, Bu Jihan saat ini sedang dalam pengasingannya...”
Terdengar isakan Bu Jihan.
“Saya belum pernah hamil, tetapi saya mengerti rasanya. Karena itu saya mempertemukan kalian berdua. Pasti kalian juga tidak yakin Bima akan mau ditemui. Dari awal juga kalian tahu kalau Bima akan menghindar tetapi kalian nekat maju karena... kalian beranggapan Bima akan berubah untuk kalian.”
Mereka berdua menatapku dengan rasa sakit yang tertahan.
“Saya hanya berharap kalian tidak menyalurkan kemarahan kalian untuk Bima kepada anak kalian. Mereka hadir karena kesalahan orang tuanya, mereka tidak berdosa, mereka bahkan tidak mengerti yang terjadi, mereka tidak harus menanggung apapun... Dan saya yakin kalian berdua sudah tahu kalau Bima banyak memiliki pacar lain.”
“Saya ingin kalian berdua saling menjaga.” Sahutku kemudian.
Jihan dan Angeline saling bertatapan.
“Kalian harus bersatu demi anak-anak kalian. Anak-anak tidak harus tahu kalau bapaknya breng**sek.” Sambungku. “Kita wanita kuat. Kita harus saling menjaga karena disakiti oleh orang yang sama. Sama-sama terjerumus lubang yang sama, kalau saling tolong akan bisa keluar dari lubang, benar?”
Berikutnya hanya ada keheningan.
“Bianca... setidaknya saya ingin berbicara dengan Bima, pada akhirnya anak saya harus tahu walinya...” sahut Jihan.
Aku tersenyum.
“Itu yang saya mau bicarakan.” Sahutku. Aku melirik ke kiri dan kanan, lalu mencondongkan tubuhku.
“Kalian tidak akan bisa menemui Bima di Kantor. Catat nomor whatsap saya, saya akan atur makan malam. Kalian bisa serang Bima di sana. Saya sarankan, kumpulkan wanita yang lain juga...” bisikku.
Wajah Jihan terlihat bersinar, dan Angeline antusias.
“Baik.” Angeline menatap Jihan. “Untuk meminta pertanggungjawabannya sudah tidak diharapkan, tapi setidaknya saya bisa tunjukan kalau saya kuat. Kalau mencakar itu extra lah yaaa...”
Aku terkekeh.
“Tapi Bianca, bagaimana cara kamu mengatur makan malam?”
“Ya, tentunya dengan banyak orang juga... tapi tidak apa-apa, lebih ramai lebih seru, toh?!”
Mereka berdua tersenyum.
Setidaknya mereka bisa tidur malam ini, sambil menunggu kabar dariku.
Aku menatap Jihan dan Angeline yang keluar dari Waiting Room. Angeline menopang tubuh Jihan yang lemah sambil menunggu lift. Mereka saling berpelukan, saling bercerita.
Aku sangat sedih...
Melihat mereka membuatku bertekad, aku akan menikah dengan orang yang mencintaiku. Aku tidak akan terburu buru, karena yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan.
Aku akan menyerahkan diriku pada Takdir.
Aku melirik para Security disekelilingku, mereka menatapku dengan pandangan salut, lalu mereka tersenyum dan menunduk hormat. Aku balas menunduk kepada mereka.
Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan...
Engkau tidak akan sekuat laki-laki,
tapi engkau lebih tabah dari mereka.
Dan ketabahan itulah yang menjadikan wanita mampu mengalahkan laki-laki (Unknown)
------
Hari Jumat berikutnya, pagi-pagi Security membawakan aku bingkisan. Kotak berwarna orange dengan pita putih.
Saat itu aku sedang terlibat obrolan melalui pesan singkat dari ponsel dengan Angeline dan Jihan. Kuperkirakan dalam waktu dekat acara makan malam akan diadakan. Aku meminta mereka bersiap-siap.
“Dari Siapa Pak Karno?” tanyaku.
“Dari kantor pusat Bu, tadi diantar oleh kurir khusus management.”
Aku mengangkat alisku.
Dari sudut mataku aku bisa melihat sekretaris yang lain memanjangkan lehernya karena penasaran.
Aku membuka ikatan pitanya dan menemukan Tas Herm**es putih, dengan kotak kecil berisi rangkaian perhiasan dari Mouaw**ad Dubai.
Aku tahu merek ini... ditaksir seluruh hadiah ini bernilai milyaran. Beaufort Mining juga salah satu pemasok berlian untuk Mouaw**ad Dubai.
Aku membaca kartunya.
“For you, who deserve better. Alex B.”
Aku menghela napas.
Aku bisa mendengar para sekretaris terperangah. Namun yang berani mendekatiku hanya Number Eight.
“Astaga, Mbak Six... berkilauan... aku boleh pegang?” rayunya.
“Boleh. Lagipula akan saya kembalikan. Terlalu mahal...”
“Loh... kenapa? kan bisa dijual lagi mbak nanti... lumayan buat modal nikah!” sahut Number Eight.
Aku ingin sekali tertawa, bahkan sudut bibirku sudah bergerak sedikit, untung bisa kutahan.
“Hadiah mahal, belum tentu bermakna... kamu juga pasti tahu rasanya kan?”
Number Eight memiringkan kepalanya, berpikir.
Aku menjelaskan padanya.
“Kamu lebih senang mana, dikasih kalung emas sama Pak Wisnu, atau martabak yang dibawain suami kamu saat dia pulang kerja padahal kamu ngga minta?”
“Yang kedua, dong... kalo Pak Wisnu yang kasih, aku malah waspada, jangan-jangan dia mau ngerepotin aku.”
“Ya, seperti itulah perasaanku sekarang.”
“Ooooh... hahahaha. Kalo hadiahnya semahal ini ngga kebayang dia bakalan nyuruh-nyuruh apa ya.”
“Ssshh...” desisku.
Number Eight menutup mulutnya.
Tepat saat itu Lucas datang.
Dengan senyumnya yang biasa namun pandangannya tertuju ke kotak didepanku.
Aku bisa mendengar seseorang berdehem.
“Dari siapa? Big Boss?”
Aku mengangguk.
Ya Ampun...
Aku kangen banget rasanya... beberapa hari ini ngga ketemu dia, selalu menghilang kalau sudah lewat jam kantor. Mungkin dia ada urusan.
Aku juga tidak berbalas pesan dengannya karena takut mengganggu.
“Aku titip ya...” aku menuliskan sesuatu pada kartu ucapan Big Boss. “Kembalikan ke Pak Alex.”
Lucas mengangkat alisnya.
“Kamu...mau kembaliin ini?”
Aku mengangguk.
“Kamu mau kembalikan ini karena kepergok aku dan ngga enak sama aku atau kamu ngga suka yang beginian?” Kenapa ada nada cemburu di suaranya?
“Aku suka kalo dari kamu.” Aku ingin banget senyum. Rasanya ada yang ngga pas ngomong romantis tapi muka kayak tembok kaku begini.
Lucas menatapku serius.
“Aku ngga bisa kasih yang begini.” Sahutnya.
“Kamu kasih aku pisang goreng juga aku tetap suka, yang penting dari kamu.” Desisku.
Ia tampak tertegun, lalu pandangannya ke leherku.
Iya, kalung darinya masih kukenakan sampai sekarang.
Lalu bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
“Oke, aku bawa ya...” desisnya sambil mengambil kotak dari Pak Alex. “Nanti aku bawain pisang goreng.” Ia menyeringai sambil mengerling padaku.
Aku menelan ludah...
Senyumannya... bikin kakiku lemas.
Eits! Aku hampir jatuh...ehm.
Pak Andre Rutherford datang menghampiriku, aku menyerahkan tablet jadwalnya dan memo-memo penting untuk dia tandatangan. Sebagai Sekretaris senior aku memang berkewajiban untuk memeriksa dan memberitahukan jadwal seminggu kedepan dan jadwal hari ini kepada setiap direksi, serta menyampaikan memo atau dokumen yang telah diacc ataupun ditolak oleh Big Boss. Namun untuk hal lain, sekretaris mereka masing-masing yang mengatur.
Number Seven, Bertanggungjawab untuk segala keperluan Pak Bimacharaka, Direktur Operasional dan IT. Kemarin dia sudah pulang dari Singapore dan aku dapat melihat Number Seven melaporkan kejadian Angeline dan Jihan padanya sambil misuh-misuh di ruangan Pak Bima.
Number Eight, bertanggung jawab untuk mengurusi Pak Wisnu Kamandhaka, Direktur Personalia dan Umum. Setahu aku perlakukan Pak Wisnu lebih kalem terhadap Number Eight, bisa jadi karena suaminya Number Eight adalah komandan di kepolisian, jadi ia tidak berani macam-macam.
Number Nine, bertanggung jawab untuk segala keperluan Pak Sultan Aria, Direktur Bisnis. Tapi sepertinya Pak Aria cukup selektif kalau masalah perempuan, buktinya Number Nine lebih sering berkencan dengan Pak Bima.
Number Ten, bertanggung jawab untuk segala keperluan Pak Andre Rutherford, Direktur Utama. Masalahnya Pak Andre walaupun sering ‘memakai’ Number Ten, ia masih mengejar-ngejarku, Jadilah untuk urusan nyinyir, Number Ten intens banget padaku.
“Morning Six, any news?” Tanya Pak Andre.
“Big Boss declined the proposal from property project, Sir. He wants all people who has incharge to this project can be rebudget.”
Pak Andre langsung menatapku tajam.
“Really, He said that?!?”serunya.
Semuanya langsung terpaku padanya.
“I haven’t finished my word sir, ...and meeting on Monday for rebudget schedule. All of it.”
“fu**k...” umpat Pak Andre. “Six, Give me Leon on 15. We have to prepare back up investment for end of month.”
“We Have back up investment...” jawabku.
Dia ngga jadi ke ruangannya.
“Who?”
“Cafe Rossa Indah, Miss Samantha Project...Today is her assigment.”
Mukanya cerah lagi.
“You were right, Thanks God we have you.”
Itulah aku.
“So, you still want Mr. Leon at 15?”
“Nope. That's all...Thank you.”
Ia berjalan ke ruangannya.
Sekitar pukul 10 Samantha datang didampingi Pak Aria. Hari ini rencananya Samantha akan menandatangani perjanjian pinjamannya. Aku melirik Number Nine, terlihat ia sama sekali tidak senang dengan situasi saat ini. Sementara Samantha tersenyum sumringah, melangkah dengan percaya diri sambil mengikuti Pak Aria.
Namun saat melihatku ia menunduk menghormat. "Pagi, Mbak Six..."
Aku diam.
Pak Aria mengerutkan kening.
Pak Andre menaikan alis.
Mungkin mereka heran kenapa orang seangkuh Samantha menunduk menghormat padaku.
"Pagi, Samantha." aku menghampirinya dan mengangkat dagunya. Lalu membenahi rambutnya dan merapihkan tuniknya. "Sudah siap?"
"Sudah."
"Semoga semuanya lancar yah, jangan lupa berdoa sebelum tandatangan."
"Baik Mbak Six. Makasih..." sahutnya riang sambil menuju ruang meeting. Aku jadi merasa seperti mengantar adikku ujian... Tapi saat ia berjalan ke ruang meeting, angkuhnya mulai merasa lagi.
"Ayo Aria, data sudah siap kan, karena saya ada janji lagi saat makan siang." sahutnya ke Pak Aria.
"Eh...iya..." Pak Aria masih menatapku sambil terheran-heran. Pak Aria mengajak Number Nine masuk ke ruangan sambil tetap curi-curi pandang melirikku.
Ah! Aku baru sadar...
Samantha memanggilku dengan sebutan Mbak, dan aku hanya panggil dia nama saja... Dia segitu takutnya padaku yah?
Semoga ia tidak terlalu jatuh ke dalam pesona Pak Aria dan menjalankan rencana dengan baik.
malah mantan😉
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.