Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Oh Brams
Siang itu, Ranum akhirnya duduk di kursi penumpang mobil hitam Brams. Mobil melaju mulus di jalan tol. Pendingin udara terasa terlalu dingin di kulitnya.
Ranum menyentuh cincin pernikahannya di jarinya, semalam Brams, sudah merenggut segalanya. Dan pagi harinya ia masih menuntut hingga memaksa untuk ikut dalam acara perjalanan bisnisnya.
Ranum masih mengingat ucapan Kakek Barra tadi sebelum berangkat.
"Kakek akan menyusul kalian di hari ketiga. Ranum... anggaplah tiga hari ini, masa bulan madu mu bersama Brams," Oh sungguh ucapan Kakek Brams, membuat Ranum geram, tapi ia tak bisa melawan.
"Brams... dia memang pria sibuk, tapi kakek senang Brams mengajakmu untuk ikut perjalanan bisnisnya. Kakek rasa... Brams sedang menebus dosanya pada kakek juga padamu." Ucapan kakeknya membuat Ranum tak bisa berkata-kata lagi. Ia ingin menceritakan tentang sikap cucu laknatnya, tapi Ranum tidak ingin membuat kesehatan Kakek Barra menurun lagi.
Ranum menatap Brams di sampingnya, pria itu sibuk dengan ponsel.
Nada suaranya datar, profesional, berbincang dengan rekan bisnisnya.
Ranum tidak memperdulikan percakapan itu, namun ia sangat menyadari gerakan tangan Brams.
Sesekali, ibu jari Brams menyentuh bibir bawahnya sendiri. Tepat di sudut yang sedikit terluka. Bekas gigitan Ranum tadi pagi. Jantung Ranum berdegup tidak teratur.
“Baik,” suara Brams terdengar lagi. “Lima belas menit lagi aku sampai. Persiapkan proposal yang menarik.”
Tut.
Panggilan terputus.
Deg! Tatapan Ranum bertemu dengan Brams.
“Kau benar-benar akan bertemu klien dengan penampilan seperti ini?” kata Ranum. Sambil menatap luka kecil di bibir bawah Brams. Merah tipis dan sangat terlihat jelas.
“Siapa suruh kau menggigitku.” Brams mencondongkan tubuhnya sedikit. Terlalu dekat. Terlalu santai.
“Itu akibat ulahmu sendiri,” ucap Ranum dingin. Brams tersenyum miring.
Ranum refleks mengangkat tangan, menahan bahu Brams. Tatapannya tajam, penuh peringatan.
“Brams, itu...,” bisiknya cepat. Lalu matanya melirik ke depan. Ke kursi sopir. Ke asistennya.
Brams mengikuti arah pandangnya. Sekilas.
Lalu terkekeh kecil.
“Kita Menepi di Café Asteria,” katanya santai.
“Baik, Tuan,” jawab sang asisten tanpa menoleh.
Brams menarik kembali tubuhnya, Namun sebelum benar-benar menjauh, jarinya menyentuh jilbab Ranum lembut, membersihkannua dari debu yang tak benar-benar nampak.
Dan Ranum, menatap ngeri sikap Brams, "Nanti..." Ucap Brams, "Jangan bersikap manja di depan klien ku." Lanjut Brams.
Ranum berdecak kesal. Menepis tangannya Brams cepat. Brams tersenyum puas, menatap lurus ke depan.
"Maaf, aku bukan type wanita manja." Celetuk Ranum.
Mobil berbelok masuk ke area café.
Dan Ranum tahu, ini baru permulaan dari tiga hari yang akan menguras seluruh pertahanannya.
Saat ini Ranum sudah menemani Brama di dalam Cafe, tempatnya sangat nyaman, hingga tak terasa Brams sudah satu jam lamanya duduk berbincang dengan klien bisnisnya.
"Bagaimana Tuan Brams, apa anda berminat untuk menerima proposal bisnis saya?" Tanya seorang pria muda di depannya.
Brams memelintir pena di tangannya, pelan. "Istri saya yang akan memutuskan apakah kau pantas atau tidak untuk bergabung dengan Bisnisku."
Ranum seketika menoleh cepat pada Brams. "Brams." Panggil Ranum lirih. Sorot matanya seolah berkata. 'Apa-apaan kau ini, aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan dengan pria itu.' Ranum sampai menggeleng kecil.
"Bagaimana, istriku? Apakah aku harus menandatangani proposal bisnis Tuan Reno?" Tanya Brams sekali lagi.
"Oh Brams," Batin Ranum memanggil nama suaminya, Ranum sekarang ingin menjerit histeris, tapi tertahan, mulutnya terbuka tapi tak ada yang keluar.
Dan Brams tersenyum menatap Ranum, ia suka melihat Ranum saat panik, 'Cantik' batin Brams.
Ranum mengerutkan alis dan keningnya, dan menggeleng kecil. Batinnya menjerit. 'Tolong hentikan permainan gila ini Brams.'
Dan Tuan Reno, di sisi meja sana, menunggu keputusan harap-harap cemas.
Bersambung...
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu