Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pada akhirnya aku, Bintang dan Afif memutuskan untuk makan bersama di salah satu restoran.
Menu yang aku pesan sama seperti Bintang yaitu nasi goreng kampung dan kami memilih es teh manis, lalu Afif memesan steak dengan lemon tea.
Sebetulnya malas untuk duduk dengannya, apalagi dengan tatapannya yang agak berbeda hari ini__tapi, aku juga tak bisa mengindahkannya, terutama saat Bintang bersama kami. Barangkali, mungkin makan kali ini adalah makan bersama terakhir, karena setelah ini aku benar-benar tidak akan mau di ajak makan dengannya, apapun alasannya. Keputusanku sudah final, aku ingin berpisah darinya dan tidak ada interkasi lagi dengannya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin menjaga hatiku saja
“Kenapa gak di makan, mau aku suapin?.“Tanyanya membuatku yang sedang melamun pun kontan tersentak kaget, heuh apa katanya tadi? Dia mau menyuapiku? Apa dia sedang bercanda? Pasalnya jarang sekali fenomena ini terjadi, terkecuali saat awal-awal nikah dan saat mengandung Bintang dulu__agaknya, karena aku sudah begitu kecewa dengan kelakuannya, alih-alih merasa tersipu malu karena hangat dan perhatiannya, aku malah mengendik jijik.
“Kenapa ekspresimu begitu?.“Tanyanya, ku jawab dengan hendikan bahu.
“Kamu jijik sama aku?.“
Aku bungkam, tidak mau mengiyakan atau pun membantah.
Afif terdengar menghela nafasnya panjang, lalu tatapannya beralih pada Bintang yang kini sibuk memakan nasi gorengnya, tanpa merasa terganggu olehku dan Afif.
“Sini, biar papa suapin.“Ucapnya yang membuat kunyahan Bintang pun terhenti dan kini anak itu menatap ke arah papanya dengan kening yang mengeryit. Sama sepertiku, selama ini. Terutama setelah Afif pindah ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya, itensitas pertemuan juga interaksi hangat seperti ini sangat tidak pernah ia lakukan dengan Bintang. Ya, mungkin anakku pun bertanya-tanya dan kebingungan sendiri melihat papanya yang mendadak jadi perhatian begini.
Afif terdengar mendengus kesal dengan sorot mata yang terlihat kecewa sekali. Ahh, jangan salahkan kami, salahkan saja kamu yang dulu tidak seperhatian itu pada kami, mampus!
“Yasudah, makan masing-masing.“Ucapnya agak emosi, aku pun hanya menghendikan bahu dan tersenyum penuh arti, sedang Bintang dia kelihatan serba salah, lalu aku mengusap kepalanya dan tersenyum serta memberikannya kode supaya kembali melanjutkan makannnya, seolah mendapat dukungan, Bintang pun kembali menyuapkan nasi goreng miliknya.
Aku yang mendidiknya dan mengajarkan supaya Bintang mandiri, termasuk dalam hal makan. Dia memang masih lima tahun, tetapi bukan alasan untuk terus bermanja-manja denganku__karena tidak ada yang tahu masa depan, kan? Bukan aku berharap kalau aku akan segera mati dan meninggalkan Bintang. Enggak sama sekali, kalau pun di beri pilihan, maka aku dengan lantang akan meminta supaya di beri umur panjang untuk bisa melihat Bintang dewasa, menikah sampai punya anak__tapi kan siapa yang tahu, ya? Aku hanya ingin Bintang bisa melakukan hal remeh temeh begini sendiri, dia harus bisa walaupun masih kecil dan lihatlah, aku berhasil mengajarkannya, mungkin ke depannya pelajaran yang lainnya tentang hidup akan aku ajarkan juga padanya.
“Kamu jadi content creator?.“Tanyanya setelah hening beberapa saat.
“Ya.“Jawabku singkat.
“Kenapa?.“Saat dia tanya begitu aku langsung menoleh dan ku temukan dia menatapku lembut, aku mendengus lalu memilih memfokuskan mataku dengan makanan yang ada di hadapanku.
“Ya, gak kenapa-kenapa. Pingin aja.“
“Kalau masalah uang, aku masih ngirim rutin kok setiap bulannya.“
Aku mengangguk lalu tersenyum seadanya”Ya, memang. Tapi kan gak selamanya juga Mas__”.
“Maksud kamu?.“Potongnya yang membuatku menoleh lalu tersenyum getir kepadanya. Apa dia lupa ya? Dia pernah menyinggung tentang gugatan cerai lho.
Rasanya sakit sekali, ada yang patah di dalam sana, tapi bukan tulang. Melainkan hati. Aku menikah dengannya bukan untuk bercerai, tetapi membangun keluarga yang sakinnah, mawwaddah dan, warrahmah, perceraian adalah hal yang tak pernah ku prediksi sebelumnya. Seperti kebanyakan wanita lain, aku pun sangat berharap kalau pernikahanku dengannya akan abadi, setidaknya sampai kami kembali ke SisiNYA, tepi ternyata, ah sudahlah. Mungkin memang begini ending kisahku dan Afif, harus berpisah!
“Setelah proses cerai selesai, kamu gak ada kewajiban buat nafkahin aku, kalau Bintang. Tentu saja, dia adalah anak kamu, mau kamu sayang atau enggak pun.“
“Kata siapa aku gak sayang sama anakku?.“Ucapnya sewot yang ku balas dengan hendikan bahu serta tatapan penuh arti__tampaknya tanpa aku terang-terangan bilang tentang ini pun. Semua yang melihat akan tahu apakah Afif sayang dengan anaknya atau tidak.
“Dan kata siapa aku bakal mau ngabulin itu?, enggak ya, Nad. Aku gak mau cerai dari kamu!!.“Tukasnya dengan nada bicara yang terdengar naik beberapa oktaf, sontak aku langsung dengan sigap menutup kedua telinga anakku__walau rasanya telat, sebab Bintang sudah mengetahui semuanya, tapi ya. Tidak apa-apa, daripada tidak sama sekali.
“Eum..“Aku berdehm lalu tatapan mataku mulai mencari salah satu pelayan di tempat restoran kami, dengan lambaian tangan satu pelayan wanita pun datang ke mejaku, lalu aku pada akhirnya menitipkan Bintang padanya setelah sebelumnya memberikan dia uang, aku tahu mungkin tindakan ini tidak etis, terlebih dia sedang bekerja__namun saat ku tanya apakah aku bisa menitipkan Bintang selama beberapa menit, karena aku harus mengobrol bersama papanya dan obrolan kami bisa di katakan urgent, pelayan itu mengangguk. Dia bilang tidak masalah dan lagi managernya sedang tidak masuk, sebagai tanda terimakasih, aku pun memberikannya uang sebesar tiga ratus ribu rupiah.
“Mau kamu apa sih, sebenarnya. Mas?.“Tanyaku dengan nafas tersenggal-senggal menahan emosi.
“Aku mau kamu dan Bintang, dan kalian kembali ke rumah.“
“Buat apa? Toh kamu juga udah bahagia sama keluarga baru kamu itu.“Skndirku sambik terkekeuh miris.
Tatapan matanya menajam dan alisnya menukik, dia sepertinya merasa tersinggung atau marah karena sindiranku, entahlah. Tapi bodo amatlah, kalau pun dia akan melakukan sesuatu yang ekstrim di sini, maka aku tidak takut. Toh di restoran ini cukup banyak pelayan juga banyak orang-orang yang makan, tinggal teriak aja.
“Nadia, ngomong apa sih kamu?.“Ucapnya terdengar tak suka dengan fakta yang ku beberkan.
Aku tersenyum getir”Memang begitu kok, di saat udah ada Laras aja, kamu mau tuh anter sama jemput Salsa. Padahal Salsa bukan anak kandung kamu. Sama Bintang mah enggak mau, kamu selalu punya alasan, sibuklah apalag. Saat di kebun binatang juga, kamu lebih akrab sama Salsa ketimbang Bintang dan kamu minta ke aku buat gak pulang karena khawatir sama Laras yang sedang mengandung.“
Dia terlihat menghela nafasnya lelah, namun aku tak peduli. Dia harus mendengar semua alasanku tentang pernikahan kami yang sudah tidak bisa di pertahankan.
“Itu udah cukup buat sku sadar, kalau kamu emang udah enggak sayang sama kita!!.“Tekanku, Adif terlihat neraup wajahnya frustasi dan perlahan-lahan matanya yang tadi melototr pun meredup lembut, saat Afif menciba meraih tanganku, aku segera menepisnya.
“Maaf, tapi aku gak mau. Keputusan aku udah bulat, Mas!.“Tuturku sambil menunduk, Afif terdengar menggeram marah.
“Harusnya kamu nunggu aku Nad, kamu sabar dulu sama Bintang..“
Mendengar ucapanku aku pun kembali mendongak dan memfokuskan kedua netraku ke arahnya.
“Nunggu apa? Nunggu sampai kamu yang menceraikan aku, begitu? Atau nunggu, sampai kamu mau nikah sama wanita lain lagi, begitu??“.Suaraku terdengar tercicit pelan, namun aku sangat yakin sekali kalau Afif mendengarnya begitu jelas sekali.
“Mas. Kamu sadar nggak sih, kamu itu berubah. Kamu bukan kayak mas Afif yang dulu selalu janji mau menjadikan aku ratunya seorang, mas Afif yang selalu ada dan perhatian, dan Mas Afif yang mau dengerin istrinya..“Air mataku berkumpul di pelupuk dan begitu saja luruh dari mataku, aku memandangnya kecewa.
“Aku udah jelasin sama kamu, Nad. Kalau aku di suruh nikah sama seseorang yang udah bantu bisnis aku.“
“Dan kamu gak bisa nolak, begitu? Terus kenapa kamu gak bilang atau izin sama aku dulu? Kamu anggap apa aku, ini? Hah.. aku emang gak kerja setelah nikah sama kamu, aku full jadi ART dan nunggu transferan dari kamu. Tapi bukan berarti aku juga gak punya pendapat, mas. Dan bukan berarti semua keputusan kamu yang nentuin
.“Tuturku lemah, rasanya energi terkuras habis hanya dengan bicara dengannya. Aku meraih tisu lalu mengelap air mataku dan aku juga sudah tidak peduli dengan wajahku yang sekarang. Mungkin tampak mengeringan karena bengkak sehabis menangi, tapi bodo amatlah.
“Nadia__.“
“Apa? Kamu mau bilang kalau kamu merasa berhutang budi sama papanya dan gak bisa nolak. Terus kamu mau bilang kalau kamu juga gak bisa mengabaikan atau menolak Laras, begitu mas??.“
Terlihat wajah Afif yang merasa bersalah dan tak bisa menimpali ucapanku, yang berarti dia membenarkan__sial, aku benci ini. Ketidak adilan yang di lakukan oelh suami sendiri hanya karena alasan dia berhutang budi, cihh.
“Sudah jelas bukan kalau aku udah gak bisa bertahan di rumah tangga ini lagi. Peranku emang udah gak berarti lagi.“
“Nad, aku gak mau cerai..“Pelasnya dan membuatku terkikik hambar.
“Kenapa? Bukannya menikah sama Laras malah menguntungkan buat kamu, mas? Di anak orang kaya, kamu gak perlu capek-capek muter otak buat ngembangin bisnis kamu itu, kamu juga gak perlu cari investor sana-sini, bapaknya kaya kan? Terus kamu juga sebentar lagi akan punya anak dari dia.“
“Nadia.“
“Stop panggil nama aku dan stop nahan-nahan aku, karena percuma aja, keputusan aku udah bulat, aku akan terusin gugatan itu, mau kamu setuju atau enggak pun, mas. Tapi sih menurut aku, kalau mau cepet tanpa aku perkarakan soal nikah kamu yang masih siri itu, baiknya kamu setujuin sih.“
Matanya terlihat membeliak dan mulutnya menganga lebar, terlihat Afif terkejut mendengar fakta yang aku beberkan padanya.
“Kaget aku tahu kalau mas dan Laras nikah siri?.“Tanyaku sambil tersenyum penuh arti”Mas, Alloh itu maha baik sama aku. Aku punya buktinya. pun saat kamu dan Laras chek in sebelum kalian nikah siri. Dan mas ngerti kan apa yang akan aku ambil andai mas gak mau mempermudah semuanya..“
“Nadia, aku gak nyangka..“
“Aku yang lebih gak nyangka sama kamu, mas. Kamu udah hianatin pernikahan kita, janji kamu di depan kuburan kedua orang tuaku. Kamu ngecewain aku mas dan Bintang.“