NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 KHSC

Setelah dua minggu yang penuh kedamaian di Raja Ampat, kembali ke markas besar Bhaskara Corp terasa seperti terjun payung kembali ke medan perang. Udara dingin dan formalitas kantor yang mencekik langsung menyambut Juna dan Nares.

Juna dan Nares tiba di kantor. Nares mengenakan setelan kerja yang elegan namun sederhana, jilbabnya rapi, memancarkan aura profesionalisme yang tenang. Juna, kembali dengan tuksedo custom-nya, kini berjalan di samping Nares, bukan di depan Nares. Genggaman tangannya pada Nares terasa lebih alami, bukan lagi posesif, melainkan protektif.

Rio menyambut mereka di lobi. “Selamat datang kembali, Pak Juna, Nyonya Nareswari. Suasana sedikit tegang. Paman Gunawan sudah menggalang suara di dewan.”

“Paman Gunawan?” tanya Juna, alisnya terangkat.

“Ya. Beliau adalah kerabat jauh dari garis keturunan Bhaskara. Selama ini dia hanya menjadi komisaris biasa. Tapi setelah pengumuman Anda, dia mulai bergerak. Dia mempertanyakan pembatalan kontrak warisan dan yang paling penting, penunjukan Nyonya Nareswari sebagai Kepala CSR,” jelas Rio.

Juna menatap Nares. “Kau siap untuk ini?”

Nares mengangguk mantap. “Aku tidak akan lari dari tugas yang kau berikan, Juna. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas mendapatkan posisi ini, bukan hanya karena aku istrimu.”

***

Ruang rapat dewan direksi Bhaskara Corp yang mewah dan dingin dipenuhi oleh tatapan skeptis dan penuh perhitungan. Nares duduk di samping Juna, di kursi yang biasanya ditempati oleh Rio.

Juna memulai rapat dengan memperkenalkan agendanya. “Selamat pagi. Hari ini, saya ingin secara resmi memperkenalkan istri saya, Nareswari Kirana, yang akan mengambil posisi sebagai Kepala Divisi Corporate Social Responsibility dan Sustainability.”

Sebelum Juna sempat menjelaskan alasannya, suara bariton yang berat memotongnya.

“Dengan segala hormat, Arjuna. Penunjukan ini tidak bisa dilakukan sembarangan,” kata Gunawan Bhaskara, seorang pria paruh baya yang berwibawa, tetapi matanya memancarkan kesombongan yang tersembunyi.

“Kenapa tidak, Paman?” tanya Juna dingin.

“Divisi CSR adalah wajah Bhaskara Corp. Penunjukan harus didasarkan pada kompetensi dan pengalaman. Nyonya Nareswari, meskipun cantik, hanya memiliki latar belakang sebagai mahasiswi. Di sisi lain, pembatalan kontrak warisan membuat kedudukanmu—dan status istrimu—di Bhaskara ini menjadi goyah. Kami, dewan direksi, perlu tahu mengapa posisi strategis ini diberikan kepada seseorang tanpa pengalaman korporat yang memadai. Apakah ini hanya cara untuk mengamankan kekuasaan Anda?” Gunawan menyerang dengan pertanyaan yang sangat tajam, menuduh Nares sebagai pion.

Ruangan menjadi hening. Juna merasakan genggamannya pada pulpen mengeras.

Nares menyadari Juna hampir meledak. Ia meletakkan tangan di lengan Juna, memberikan sinyal ketenangan, lalu ia berdiri, menghadap Gunawan dan seluruh dewan.

“Terima kasih atas pertanyaan yang sangat relevan, Bapak Gunawan. Dan ya, saya setuju, penunjukan strategis tidak boleh didasarkan pada nepotisme,” Nares memulai, suaranya tenang, tetapi tegas.

“Memang benar saya tidak memiliki pengalaman korporat yang panjang. Namun, saya memiliki integritas dan visi yang tidak bisa diukur hanya dengan tahun kerja.”

Nares berjalan ke layar proyektor dan menyalakan presentasi yang sudah ia siapkan diam-diam dengan bantuan Rio.

“Selama ini, CSR Bhaskara Corp hanya berfokus pada donasi jangka pendek. Itu tidak berkelanjutan. Visi saya adalah mengubah CSR dari sekadar cost center menjadi strategi investasi jangka panjang yang mendukung sustainability inti perusahaan.”

Nares menunjukkan data. “Saya mengidentifikasi bahwa 80% pemasok kami di sektor manufaktur masih menggunakan praktik yang tidak ramah lingkungan, yang berisiko merusak citra kita di pasar internasional. Sementara itu, 60% karyawan di daerah pedesaan terancam kehilangan pekerjaan karena kurangnya pelatihan digital.”

“Visi saya adalah meluncurkan Program Fondasi Komunitas. Kami tidak hanya memberi uang, kami memberi pendidikan keterampilan dan teknologi ramah lingkungan kepada pemasok dan masyarakat lokal. Ini akan:

Mengamankan Supply Chain: Memastikan kualitas pemasok kita sesuai standar global.

Menciptakan Loyalitas Pasar: Konsumen modern mencari perusahaan yang bertanggung jawab.

Mengurangi Risiko Hukum: Menghindari denda lingkungan yang mahal.”

“Saya sudah menyiapkan pilot project yang membandingkan hasil donasi lama dengan model investasi ini. Target pengembalian citra (bukan finansial langsung) dalam tiga tahun adalah peningkatan 30% pada indeks Brand Loyalty dan penurunan 50% pada Environmental Risk Index.”

Nares menutup presentasinya. Ia menatap Gunawan. “Bapak Gunawan, apakah Bapak memiliki strategi yang lebih baik untuk membuat CSR menjadi aset, bukan hanya beban pengeluaran? Jika tidak, saya sarankan Anda untuk tidak lagi mempertanyakan kompetensi saya, tetapi fokus pada peningkatan kinerja Anda sendiri.”

Seluruh ruangan terdiam. Nares telah menghancurkan argumen Gunawan dengan data, logika, dan visi yang jelas. Juna tersenyum bangga.

Gunawan, yang terpojok, mencoba serangan terakhir. “Itu hanya teori di atas kertas, Nyonya. Siapa yang akan mendanai pilot project ini?”

“Dana akan dialokasikan dari efisiensi yang saya temukan dalam anggaran marketing yang tidak perlu,” jawab Juna, melangkah maju. “Dan saya, Arjuna Bhaskara, CEO perusahaan, menjamin penuh proyek istri saya. Ada pertanyaan lain?”

Tidak ada yang berani menjawab. Juna telah menegaskan kekuasaannya, dengan Nares sebagai kekuatan strategis di belakangnya.

***

Setelah rapat, Juna menarik Nares ke ruang kerjanya. Juna memeluk Nares erat.

“Kau luar biasa, Nareswari. Kau menghancurkan mereka. Gunawan tidak bisa berkata-kata,” bisik Juna, bangga.

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Juna. Aku punya ide. Aku ingin Bhaskara Corp benar-benar menjadi perusahaan yang baik, tidak hanya perusahaan yang kaya,” kata Nares.

Juna melepaskan pelukan itu, menatap Nares. “Kau telah membuktikan bahwa kau bukan hanya istri, tetapi juga partner strategisku. Tapi, Gunawan tidak akan menyerah. Dia menginginkan Bhaskara Corp. Dia akan mencari kelemahan di mana pun.”

“Kelemahan apa yang dia cari?” tanya Nares.

“Kelemahan terbesar Bhaskara Corp ada di sektor property. Aku sudah lama mencurigai ada permainan kotor di proyek pembangunan resort di Pulau Seribu. Kontraknya rumit, ada dana yang menguap. Tapi aku belum bisa membuktikannya,” jelas Juna.

Nares menyentuh lengan Juna. “Aku bisa membantu. Divisi Sustainability akan melakukan audit menyeluruh terhadap semua proyek pembangunan. Kita akan menyamar sebagai audit lingkungan dan sosial. Jika ada permainan kotor, kita akan menemukannya.”

Juna tersenyum. “Kau selalu selangkah lebih maju dariku. Kau membuatku merasa... aman.”

***

Nares dan Rio mengatur audit internal rahasia untuk proyek resort di Pulau Seribu. Nares menggunakan latar belakangnya sebagai mahasiswi yang peduli lingkungan untuk menyamar.

Nares pergi ke lokasi proyek bersama tim CSR yang baru dibentuk. Di sana, ia bertemu dengan Manajer Proyek, seorang pria yang tampak terlalu gugup.

Saat Nares meninjau lokasi, ia menyadari adanya kejanggalan:

Laporan Lingkungan Palsu: Laporan mencantumkan bahwa area hutan bakau yang luas telah dilindungi, tetapi Nares menemukan bukti foto bahwa hutan itu telah dibersihkan secara ilegal, tepat di sebelah lokasi pembangunan.

Dana Kompensasi Fiktif: Nares menemukan kuitansi pembayaran kompensasi kepada penduduk lokal yang fiktif. Penduduk lokal yang seharusnya menerima uang itu, ternyata belum menerima sepeser pun.

Nares mengumpulkan bukti foto dan dokumen. Dia menemukan bahwa semua dokumen disetujui di tingkat dewan oleh Gunawan, yang menggunakan perusahaan cangkang untuk menyalurkan dana.

“Ini adalah penipuan, Rio. Dana untuk kompensasi warga dan pelestarian lingkungan telah dicuri. Dan Gunawan adalah yang menyetujui semua dokumen ini,” lapor Nares kepada Juna melalui panggilan video saat Juna di kantor.

Juna mendengarkan, matanya menyala. “Kerja bagus, Nareswari. Kau berhasil. Ini lebih dari sekadar mengamankan kekuasaan. Ini tentang keadilan dan integritas perusahaan.”

***

Nares kembali ke penthouse (sebelum pindah ke rumah baru), membawa semua bukti fisik dan digital.

Juna menunggu Nares, tidak sabar. Saat Nares masuk, Juna menarik Nares ke dalam pelukannya.

“Aku bangga padamu. Kau telah membersihkan Bhaskara Corp. Kau telah memberikan aku alasan yang lebih kuat untuk berdiri. Ini bukan lagi tentang warisan. Ini tentang masa depan Bhaskara Corp yang bersih,” kata Juna.

“Apa yang akan kau lakukan pada Gunawan?” tanya Nares.

“Aku tidak akan membuat rapat dewan. Aku akan menemuinya secara pribadi,” jawab Juna. “Aku akan memberinya pilihan: mundur dari dewan dan Bhaskara Corp tanpa tuntutan hukum, atau aku akan melaporkan semua penipuan ini ke polisi.”

Nares melihat tekad di mata Juna. Juna kini tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, ia berjuang untuk nilai-nilai yang Nares ajarkan padanya.

“Aku harus melakukannya sendiri. Tapi aku ingin kau menemaniku sampai ke rumahnya,” kata Juna.

“Aku akan selalu menemanimu, Juna,” balas Nares.

Malam itu, mereka duduk di balkon penthouse lama mereka. Mereka sudah menyelesaikan urusan kotor pertama di Bhaskara Corp, bersama-sama. Mereka tidak hanya merobohkan benteng Juna, tetapi juga benteng-benteng korupsi di perusahaannya.

“Aku mencintaimu, Nareswari. Bukan karena kontrak, tetapi karena kau telah membuatku menjadi pria yang lebih baik,” bisik Juna, lalu ia mencium Nares dengan penuh cinta.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!