Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Rama
Aku terbangun pukul delapan pagi, karena kedatangan kedua orang tuaku ke apartemen membuaku sedikit was-was dan juga takut. Takut mereka tahu ada Lina di dalam apartemen, dan berpikir aneh-aneh.
Jujur aku di ijinkan tinggal terpisah dari orang tua, dengan syarat tidak membawa perempuan pulang, apalagi sampai nginep di apartemen.
Sebenarnya mata ini masih sangat mengantuk, karena baru tidur pukul setengah lima pagi, setelah selesai sholat subuh dan membersihkan apartemen.
"Tumben jam 8 sudah sampai sini, pa?" ujarku sambil melirik kamar tamu, di mana Lina masih belum keluar.
"Mau jemput nenekmu di bandara," jawab papa sambil menikmati kopi, sedang mama masih sibuk merapikan isi lemari pendingin.
"Nenek dari Jogja?"
"Ya iyalah, emang nenek siapa lagi."
"Ya, siapa tahu nenek dari bunda." candaku, membuat papa geleng-geleng.
Aku punya dua orang nenek, dan tiga kakek. Jangan di tanya kenapa kakekku ada tiga, pastinya karena nenekku nikah dua kali. Kalau dari pihak bunda, kakek nenek menetap di puncak menikmati hari tua. Sedang dari papa, aku memiliki dua kakek dan satu nenek, satu pasang tinggal di Jogja dan satu kakek tinggal di pinggiran ibu kota.
"Ada acara apa nenek dan kakek ke ibu kota, Naya bikin ulah?"
Naya kakak kembarku yang tinggal di Jogja, sambil melanjutkan S2.
"Tidak, tapi mau jodohin kamu."
"Uhuk uhuk uhuk," aku terbatuk karena tersedak air minum yang sedang aku minum, saat mendengar ucapan mama. Membuat papa malah tertawa renyah, bukannya merasa kasihan padaku.
"Jangan bercanda deh mah, gak lucu. Lagian ya, usiaku itu baru 27 tahun, gak mungkin itu terjadi."
"Kenapa gak mungkin?" ujar mama, dengan memicingkan sebelah matanya kearahku.
"Pertama, Naya belum nikah, harusnya Naya yang nikah duluan karena dia kan kakakku. Kedua, dari segi usia Naya sudah lebih dari cukup buat nikah. Sedang aku pria, jadi gak masalah jika nikah di usia yang lebih matang."
Papa dan mama saling pandang, sebelum akhirnya tersenyum bersama.
"Biasanya gak mau mengakui Naya kakak, hanya karena usia kalian berbeda hitungan menit."cibir mama, membuat papa mengangguk sambil tertawa.
" Pokoknya aku gak mau nikah, sebelum Naya nikah. Lagian aku belum niat nikah, mau fokus pada karir dulu seperti kakek."
"No! Jika dalam karier, gak masalah kaya kakek, tapi tidak dengan pernikahan. Pernikahan harus kamu tentukan takdirMu sendiri, gak usah mengulang kisah seperti kakekmu." ujar mama nampak tidak suka, membuatku mengerutkan keningku.
Aku tidak tahu dengan nasib pernikahan mereka, tapi yang aku lihat semua terlihat bahagia. Bahkan kakek Haidar yang tidak punya pasangan, juga terlihat bahagia dan bisa hidup rukun dengan mantan istri, serta suami nenek yang juga kakekku, kakek Wahyu.
Aku melirik papa yang terlihat menghela nafas. "Emang kenapa dengan pernikahan mereka, Kakek Rio dan nenek terlihat bahagia, aja. Bahkan kakek Haidar yang tidak punya pasangan, juga tidak terlihat kesepian."
"Sudah gak usah di bahas," ujar mama sambil berdiri dari duduknya. "Ayo pah, waktunya ke bandara menjemput bunda."
Papa berdiri, lalu memukul bahuku pelan. "Pernikahan kakek Rio dan kisah kakek Haidar, bukan kisah yang baik untuk di contoh."
Aku mengerutkan keningku bingung, berharap mendapat penjelasan dari papa.
"Tidak usah di pikirkan, nanti juga akan tahu. Kami pergi dulu, assalamu'alaikum!" ucap mama sambil berlalu pergi, yang kemudian di ikutin papa.
"Assalamu'alaikum!"
"Walaikumsalam."
Setelah memastikan pintu apartemen tertutup, aku berdiri dengan membawa gelas kotor bekas kopi papa ke wastafel, bersamaan dengan pintu kamar tamu terbuka.
"Orang tuanya sudah pulang, pak?" tanya Lina, membuatku mengangguk pelan.
Dalam hatiku, aku bersyukur dia tahu diri untuk tidak keluar menyapa kedua orang tuaku, yang bisa curiga kalau kami ada hubungan.
"Duduklah, mamaku membawakan aku sarapan. Jadi kita bisa sarapan dulu, sebelum aku antar kamu pulang."
"Terimakasih pak," ujarnya yang aku lihat duduk di kursi yang ada di depan meja pantry. "Perlu bantuan, pak?"
"Tidak usah, duduk aja." jawabku sambil meletakkan piring dan membuka rantang yang di bawa mama, yang ternyata berisi ayam rica-rica.
"Apa kamu mendengarkan obrolan kami, tadi?"
"Sedikit pak," ujarnya terdengar canggung. "Saya tidak sengaja mendengar, saya janji akan pura-pura tidak dengar, pak."
"Hmmm," jawabku, yang sebenarnya juga bodoamat kalau dia tahu, karena tidak akan berpengaruh apapun.
Toh Lina tidak akan bercerita kalau aku di jodohkan, karena tidak mungkin dia mengenal circle pertemananku. Kecuali Rangga dan Heni, jika mereka tahu bisa gawat kalau sampai tersebar, 'seorang Abirama di jodohkan'.
Mereka bisa menganggap aku patah hati, karena putus dengan Carol. Padahal aku pacaran dengan Carol, hanya demi sebuah status daripada jomblo. Toh, Carol wanita yang cantik dan juga pernah menjadi ratu kampus 3 tahun berturut-turut.
"Biarkan saya yang cuci piring, pak. Biar saya bisa, sedikit melakukan hal untuk membalas kebaikan bapak." ucap Lina, sambil mengambil piring kotor di depanku. membuatku sedikit terkejut yang malah menepis tangannya.
Bersamaan dengan suara pintu apartemen terbuka, membuat kami saling pandang. "Sembunyi!" ujarku spontan.
Lina langsung berdiri dengan buru-buru, sampai tidak sengaja kakinya malah membuatnya hampir jatuh, membuatku spontan menariknya hingga jatuh di pangkuanku.
"Suit suit!"
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in