Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anarkhis
Waktu berjalan begitu cepat, sehingga semua siswa mulai membereskan seluruh perlengkapan mereka dan bergegas pulang kerumah mereka masing-masing. Namun bagi siswa-siswi peserta UN, diarahkan oleh kepala sekolah untuk mendengarkan beberapa arahan darinya.
Dia adalah Pak Alang, kepala sekolah yang telah mengangkat nama baik sekolah mereka lewat prestasi-prestasi yang di capainya, sehingga nama sekolah mereka begitu terkenal dikalangan masyarakat kabupaten Flobamorata.
Dia merupakan kepala sekolah termudah, walaupun sikapnya yang terlihat seperti anak muda, tetapi dia sangat disiplin dalam menjalankan tugasnya, sehingga namanya selalu menjadi patokan untuk merubah hidup bagi masyarakat sekitarnya.
“Anak-anakku yang tercinta, selamat siang,” sapa Pak Alang, yang berdiri tegak dibawah teriknya matahari di depan lapangan apel.
Seluruh siswa menatap dengan senyuman yang penuh makna, oleh karena keramahannya begitu melekat, “Siang, Pak.”
“Lima bulan lagi kalian akan UN, oleh karena itu Bapak memohon... Tolong sampaikanlah pesanku kepada bapa-mama kalian, mewakili ketua komite, bahwa besok ada rapat pemantapan peserta UN, yang berlangsung di aula sekolah tepat pukul 09:00. Jadi, bapak sangat mengharapkan kehadiran orangtua kalian... Paham!”
Mereka semua mengangguk pelan, “Iya, paham Pak. Pesan Bapak akan kami sampaikan.”
Mendengar itu, Metallo langsung menanyakan Festo yang berdiri tidak jauh darinya, walaupun pembicaraan Pak Alang belum selesai, "Festo, kira-kira besok, ayah atau ibumu yang datang mengikuti rapat?”
Festo mengerutkan dahinya, “Kayanya, Ayahku. Soalnya Ibuku lagi sakit. Lalu bagaimana denganmu?”
“Yang pasti Ibuku, kalau bukan dia siapa lagi?"
“Mana mungkin Ibumu hadir, sedangkan sekarang saja dirimu tak pernah diperhatikannya," cetus salah seorang Gadis yang berdiri di belakang Faelo dan Indiri.
Mendengar itu, Faelo dan Indri langsung membalikkan badan mereka menatapnya degan amarah yang begitu membara. Faelo sendiri ingin menggamparinya, hanya saja laju tangannya di halangi oleh Indri.
"Apa-apaan kamu Faelo... Biarkan saja. Lihat Pak Alang, yang lagi memberikan arahan di depan."
Faelo menggit bibir bawahnya, "Hm... Jikalau bukan karena Pak Alang, dia telah ******."
Gadis itu tak lain adalah Melani, dia yang selalu saja mengusik Metallo. Dia sangat cantik tak beda jauh dari Indri hanya saja sikapnya terlalu egois.
Kata-kata itu membuat Metallo tak bisa menahan lagi amarahnya, sebab kejadian pertama yang alaminya juga berawal dari dia, dan sekarang sikap egoisme Melani makin menjadi-jadi mengusiknya.
Walaupun Pak Alang sedang memberikan arahan kepada mereka semua, Metallo sama sekali tidak menghiraukannya, “Dasar! Wanita so, cari-cari perhatiaan. Dengar ya! Aku tak pernah melecehkan keluargamu... Ingat itu! Jikalau kau ulangi lagi kata-katamu itu apalagi menyangkut Ibuku, akan Aku berikan pelajaran terhadap dirimu!” Metallo kemudian menekan-nekan kening Melani.
Pak Alang yang berada di depan mereka tak mendengar ujaran Metallo, sehingga dia terus melanjutkan pembicaraannya, namun beberapa siswa yang berada di sekeliling mereka mulai merasa tidak nyaman.
Melani melipatkan kedua tangannya di depan dada, serta tatapan menjadi sinis terus mengarah kepada Metallo , “Memangnya apa yang aku katakan ini, salah?”
“Diam kamu! Jangan kau pangdang tinggi dirimu, hanya karena anak dari Bapak Kepala Desa, sehingga kau bertingkah semaumu!” tegasnya.
Seketika Pak Alang kaget, dan langsung menghentikan pembicaraannya. Seluruh pandangan pun tertuju kepada Metallo, sedangkan beberapa guru yang berada di depan kantin sekolah, mengirah Metallo telah membentak Pak Alang, sehingga semua pun datang menghampiri Metallo dengan raut wajah yang sangat geram.
“Metallo... Metallo, sudalah. Jangan kau hiraukan ujarannya,“ pinta Festo, sembari menghalangi laju tangan Metallo yang hampir saja mendadak sampai ke pipi Melani.
"Metallo... Kenapa!” tegas Pak Anang, sungguh sangat geram karena melihat Metallo begitu anarkis, sebab arahannya tak dihiraukan lagi oleh mereka semua gara-gara masalah tersebut.
Sesaat Metallo menundukkan kepalanya, dan menghela nafas panjang, sebelum mengarahkan pandangannya yang berapi-api kepada Melani, “Dia! Dia! Sungguh keterlaluan, Pak,” ia kemudian menunjuk Melani sebagai biang semua ini.
“Janganlah dihiraukan ujarannya, Metal... Dia orangnya memang begitu.“ pinta Indri, menggelengkan kepalanya pelan.
Pak Anang mengkerutkan dahinya, ketika Metallo menjuk ke arah Melani, “Memangnya ada apa Melani? Sini kalian berdua.”
Mereka berdua pun dipanggil oleh Pak Anang untuk memberikan keterangan, sedangkan siswa yang lain dipulangkan, namun Mey dan teman-temannya yang lain menunggu Metallo, begitu pula dengan teman-temen Melani.
Setelah mendapatkan hadiah cubitan lima kali dari Pak Anang, Metallo dan Melani pun disuruh pulang ke rumah oleh Pak Anang.
“Bagaimana, Metal?” tanya Mey, sedikit mengeledeknya.
Ia tertawa kecil menatapi mereka semua, “Iya, lumayan."
“Makanya jangan terlalu ribet hidupmu. Metal... Aku mengingatkan engkau, jikalau guru ataupun orang lain sedang berbicara harusnya kau hargai.Jikalau tidak, jadinya begini,” Pekik Festo, mengolok-oloknya.
“Iya, iya... Yuk, pulang,” ajaknya, namun seketika ia tertegun memikirkan problem yang baru saja terjadi, 'Ah... Masalah... Masalah,' iapun mulai memikirkan semua masalah yang menimpanya.
“Metal, jangam bengong. Yuk ... pulang,” pekik Indri, seraya mendorong-dorongnya sebab Ia melamun.
Mereka pun melanjutkan lagi perjalanan dengan penuh keceriaan. Dengan demikian, tidak terlintas sedikit pun masalah yang baru saja menimpanya, sedangkan Melani dan teman-temennya yang lain telah mendahului mereka.
“Oh, iya. Kayanya sore ini, aku tak ada kesempatan untuk ngerjain tugas bareng kalian,” keluh Festo.
Mey menggelengkan kepalanya pelan, ketika mendengar ujaran Festo, “Kenapa? Ada apa dengan dirimu?”
“Tidak ada apa-apa," jawabnya singkat, dan tidak mau memberikan penjelasan lebih lanjut.
'Apakah ada masalah,' batin Metallo penuh tanya, namun dia juga tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Lias, mengingat mereka sekolompok dengan Melani, jikalau dia mengerjakannya maka yang pasti terjadi keributan lagi
“Aku juga sama Fes. Sebel bangat sama dia, apalagi kita sekelompok dengannya," pinta Metallo.
Indri menggelengkan kepalanya pelan oleh karena mereka sekelompok. Jikalau mereka berdua tak mengerjakannya, yang pasti hanya Indri dan Melani saja yang mengerjakan tugas kelompok itu, sedangkan Mey juga belum tentu mau mengerjakan tugas itu.
“Kenapa kalian tidak mau ngerjain tugas bareng dia. Jikalau kalian berdua tidak mau mengerjakannya, maka aku juga sama," pinta Indri dengan raut wajah yang sangat cemberut.
“Terserah, apa yang harus kuperbuat Indri, melihat tingkahnya yang konyol itu, tak bisa kutahan amarah ini.”
Tidak terasa mereka kini telah berada di depan pondok kecil tempat nongkrong mereka. Faelo langsung bergegas menuju kerumah Metallo, sedangkan teman-temennya yang lain masih ngobrol disitu.
Festo menepuk pundak Metallo, sebelum kembali ke rumahnya, “Tenang saja Metal. Kan, masih ada aku, nanti malam ke rumahku, ya."
“Iya Festo. Entar malam kita kerjakan sama-sama."
“Nah! Aku juga bosan melihat dirinya.”
Indiri dan Mey sedikit pusing melihat mereka berdua,
"Hm... Jikalau demikian kita kerja barang, ya," pinta Mey, sembari menghela nafas panjang, sebelum menatap mereka dengan penuh ceria, sebab malam ini mereka bisa bersama-sama lagi, walau tak seperti hari-hari kemarin karena malam ini ada tugas, jadi waktu untuk bergurau sangatlah sempit.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??