Dodik Aksara Bintara Bangga. Calon pewaris Maha Dewi Group yang mewarisi lebih dari sebagian saham di sana.
Suatu hari, Dodik mengetahui kebenaran orang tuanya yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Karena marah, ia kabur dari rumah. Tanpa sengaja, ia tidur bersama seorang perempuan--
Ini hanya tidur! Tidur dalam artian sebenarnya, bukan khusus. Namun, warga desa malah memaksanya menikahi perempuan, yang tak lain adalah anak Pak RT.
Kehidupan Dodik berubah 180 derajat. Tinggal di desa, dikelilingi sapi, dan ibu mertua yang menyebalkan ....
Bagaimanakah kisah kehidupan Dodik selanjutnya?
Instagram: @citragtw_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Calon Pencuri Di Rumahku
“Tiga tahun yang lalu. Tapi sekarang, jas itu milikku. Aku sudah membayarnya dengan bekerja selama tiga tahun,” Citra lebih menegaskan.
Itu benar, tetapi Dodik tidak pernah kalah. Dia pun berusaha menerobos Citra, sedangkan Citra sangat teguh. Semakin lama dorongan Dodik semakin kuat. Citra tidak mau kalah. Dia membalas dorongan Dodik dengan dorongan lebih kuat sehingga mereka akhirnya jatuh bertumpang tindih di atas ranjang.
“Lepaskan aku!” seru Dodik memberontak.
Citra malah semakin menguatkan kunciannya dengan mencengkeram seprei. “Enggak!” seru Citra lebih menegaskan.
“Bukannya kamu akan menjalankan tugasmu sebagai istri seperti di kontrak?” tanya Dodik.
“Memang aku akan menjalankan tugasku sebagai istri, tapi membagi harta enggak pernah ada dalam daftar tugas istri dari dulu sampai sekarang,” jawab Citra.
Dodik tersenyum miring. “Jadi benar jas itu ada di lemari?” duga Dodik menyudutkan.
Citra tidak menjawab karena memang benar jas itu ada di lemari. Meski harganya fantastis, Citra tidak pernah mengira ada pencuri yang berminat mencurinya. Kini, Citra mulai kerepotan karena bukan orang asing, melainkan suaminya yang memiliki minat itu.
Tiba-tiba Citra merasakan tangan Dodik memeluk pinggangnya. Sedangkan tangan satunya terangkat untuk menyentuh pipi Citra.
“A-apa yang kamu lakukan?” tanya Citra mulai gugup. Dia tidak bisa menghentikan gerakan Dodik karena tangannya masih mengerat di seprei.
“Entah kenapa … aku mulai merasa kamu terlihat manis,” goda Dodik. Tangannya dari pipi mulai merayap hingga menyisihkan rambut-rambut tipis yang menutupi wajah Citra ke telinga. “Sayang sekali wajah ini harus tertutupi rambut.”
Citra tidak bisa menahan degup kencang pada jantungnya dan membuat tubuhnya menjadi lemah.
“Sebenarnya … kamu adalah perempuan pertama yang berhubungan denganku.” Kini tangan Dodik meneruskan langkahnya menelusuri bagian leher Citra. “Sebelumnya aku belum pernah menyentuh perempuan mana pun sekali saja.”
Akhirnya cengkeraman Citra terlepas. Dodik yang menyadari itu langsung membalikkan keadaan dengan mendorong Citra sehingga Citra berada di bawah dan dirinya berada di atas.
Citra terkejut dengan pergantian posisi itu. Dia belum pernah bersentuhan dekat dengan laki-laki mana pun, apalagi bertumpang tindih dalam posisi ini. Citra lugu yang berani menindih Dodik tadi hilang, digantikan Citra yang tersipu malu. Apalagi keseriusan yang terpancar pada bola mata Dodik membuat Citra semakin tidak kuat. Debaran dalam dadanya semakin kencang saja.
Pelan-pelan, Citra merasakan sentuhan merayap di atas lengannya. Dia pun menoleh. Rupanya tangan Dodik berjalan pelan untuk menggenggam tangannya. Saat Citra berbalik, wajah Dodik semakin mendekat. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? batin Citra kebingungan. Dia langsung menutup kelopak matanya erat-erat.
.
.
.
Satu detik … dua detik ….
Bagaimana ini? Sebentar lagi ….
Tiga detik … empat detik ….
Apa masih lama?
Lima detik … enam detik ….
Apa yang terjadi? Kenapa tidak terjadi apa pun?
Tiba-tiba terdengar suara tawa keluar dari mulut Dodik. Citra pun membuka kelopak matanya. Mulut menganga Dodiklah yang menyambut pandangannya. Akhirnya Dodik merendahkan suara tawanya setelah melihat wajah bertanya-tanya Citra.
“Apa kamu gugup hanya karena itu?” ejek Dodik. Dia kembali tertawa.
Apa maksudnya ini? batin Citra bertanya-tanya.
“Dasar payah!” seru Dodik menambahi ucapannya. “Aku belum pernah menyentuh perempuan mana pun sebelumnya, tapi kamu merasa gugup hanya karena sentuhan payahku. Rupanya kamu lebih payah dari sentuhanku.”
ga jelas2 ceritanya
pusing bacanya ceritanya TDK berkembang itu dan itu lagi di bolak balik