Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 15
Arun.
Ketika melihat mita menangis, entah kenapa hatiku ikut merasakan kesakitan hatinya. Aku tak tahu apa yang menyebabkan mita menangis, ketika ada panggilan masuk tiba-tiba badannya jatuh kelantai dan di saat itu juga mita menangis. Aku yang kebingungan langsung mendekatkan tubuhku pada mita lalu mita menyuruhku itu mematikan ponselnya. Sungguh aku sangat bingung apa yang membuatnya menangis sangat histeris.
Aku ingin bertanya apa yang membuatnya menangis tapi aku tau ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Jiwa mita sekarang sedang terguncang dan lebih baik aku menunggunya tenang terlebih dahulu.
Aku menarik mita kedalam pelukanku berharap membuatnya lebih tenang. cukup lama mita menangis dalam pelukanku saat mendengar tangisnya mulai reda aku lepaskan pelukanku darinya.
Aku tatap wajah mita matanya sembab hidungnya merah membuatnya seperti anak kecil yang lemah butuh pertolongan. Aku singkirkan rambut-rambut yang menempel pada wajahnya lalu aku hapus air matanya dengan ibu jariku tapi air matanya tetap keluar walaupun tak sederas tadi. aku memangkunya menuju kasur, kemudian merebahkan tubuhnya secara perlahan ke atas kasur, membenarkan posisi tidurnya agar mita merasa nyaman. Ketika aku akan beranjak dari kasur, mita menarik ujung bajuku memintaku agar tidak pergi. Aku menurutinya menemani mita sambil membaca buku.
Saat melihat ke arahnya, mita sudah tertidur pulas, masih ada jejak air mata di pipinya. Aku arahkan jari-jariku untuk mengusap pipinya pelan. Tiba-tiba hatiku di landa rasa kasihan pada mita, rasa ingin melindunginya, rasa yang tak ingin melihat diri mita menangis, dan ingin mejauhkan hal-hal yang membuatnya sedih. Apakah ini rasa cinta, menurutku ini bukan rasa cinta mungkin lebih ke rasa simpati.
Aku memajukan wajahku lalu mencium kedua mata mita secara bergantian. “semoga ini yang pertama dan yang terakhir aku melihat mata ini menangis” bisik-ku
Aku ikut membaringkan tubuhku di samping mita, niat awalnya Cuma ingin membaringkan tubuh sebentar kemudian aku akan mandi karena tubuhku agak sedikit lengket habis olahraga tadi pagi, tapi ternyata tanpa sadar akupun ikut tertidur..
*******
Saat aku membuka mata pertama yang aku lihat adalah wajah mita pas sekali berhadapn dengan wajahku, bahkan deru napasnya terasa di wajahku, aku menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah mita agar tidak menghalngi aku untuk memandang wajahnya, saat sedang asik memandangi wajahnya tiba-tiba mita mengerakan tubuhnya aku langsung menutup kembali mataku, aku tak ingin ketahuan bahwa aku memandangi wajahnya ketika dia tertidur, mita menggeser tubuhnya mendekat ke arahku, milingkarkan tangannya pada pinggangku dan menempelkan wajahnya ke dadaku.
Aku kira mita akan bangun tapi ternyata dia hanya mencari tempat yang lebih nyaman. Aku ragu-ragu ingin melingkarkan tanganku pada pinggang mita dengan penuh kehatian akhirnya aku melingkarkan tanganku ke pinggang mita. Ada sesuatu rasa yang hangat menghampiri hatiku yaitu rasa nyaman.
Beberapa saat dalam posisi berpelukan seperti ini aku merasakan rasa sesak di bawah celanaku, oh ini tidak mungkin. Sudah lama sekali tubuhku ini tidak bereaksi walaupun banyak diluaran sana wanita-wanita yang terang-terangan menggodaku. Sekalipun ada wanita yang melepas semua pakaiannya di hadapanku tetap saja yang di bawah celanaku tidak bereaksi tapi kenapa dengan hanya berpelukan begini tubuhku bereaksi. Oh ini ada yang tidak beres pada tubuhku. Aku segera bangun dari tempat tidur ini.
Saat aku ingin bangun dari tidur, mita mengeratkan pelukannya pada tubuhku. Aku mencoba perlahan-lahan melepaskan pelukannya agar dia tidak terbangun, saat aku sudah mulai berhasil melonggarkan pelukannya, mita mengeratkan lagi pelukannya pada tubuhku, sebenarnya wanita ini tidur atau tidak? Kenapa susah sekali untuk melepaskan pelukannya.
Ah akhirnya pelukannya lepas dari tubuhku, dengan penuh perjuangan dan kehati-hatian aku bisa lepas dari pelukannya yang sangat berbahaya. Aku tak bisa berlama-lama berada di pelukan mita aku tak ingin ada sesuatu terjadi pada diriku dan diri mita. Ini bukan waktu yang tepat untuk meminta hak-ku sebagai suami kepada mita. Tak menunggu waktu lama aku langsung menuju arah kamar mandi untuk mendinginkan tubuhku yang panas ini.
Tubuhku sudah kembali normal setelah mandi, saat keluar dari kamar mandi mita masih tertidur pulas di atas kasur. Aku melihat ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukan pukul satu siang, waktunya untuk makan siang.
Melihat meja makan tidak ada makanan aku berinisiatif untuk memasak. Jangan kira aku tidak bisa memasak, aku bisa memasak walaupun tidak terlalu ahli.
Aku melihat kedalam kulkas ada beberapa sayuran dalam kulkas seperti wortol, kentang, kol, kancang panjang dan beberapa sayuran lainnya. Aku juga membuka freezer kulkas didalam sana ada daging ayam yang sudah dipotong-potong dan makanan frozen lainnya. Aku mengeluarkan daging ayam tersebut kemudian merendamnya dengan air di wastafel agar betu es di ayam tersebut mencair. Aku punya ide untuk membuat sop ayam saja, karena bahan-bahan masakannya juga mendukung untuk membuat sop ayam.
Hampir dua jam sudah kulewati untuk memasak, akhirnya selesai juga aku memasak tinggal satu pekerjaan lagi yang harus aku kerjakan yaitu membersihkan bekas masak di dapur. Setelah semuanya beres dan menata makanan di meja aku pergi ke kamar untuk membangunkan mita. Wah ini wanita lama juga tidurnya
“mita bangun yu” aku menguncangkan tubuh mita pelan agar tidak mengagetkan mita
“mita” goyangkan lagi tubuh mita tapi belum ada tanda-tanda mita akan bangun, aku menyentuh pipi mita menusuk-nusuknya pelan
“mita bangun” wah ini mah udah nggak bisa di bangunin secara halus lagi, kalau dibangunin dengan cara halus tidak bangun-bangun.
Akupun mulai geram dengan mita yang tidak mau bangun-bangun, boro-boro bangun tubuhnya bergerak pun tidak. Akupun memencet hidung mita agar dia susah bernapas, jika susah bernapas maka kemungkinan mita akan bangun. Dan ternyata caraku berhasil mita mulai mengeliatkan tubuhnya tapi aku tidak melepaskan tanganku memencet hidungnya sebelum benar-benar mita membuka matanya.
“abian aku masih ngantuk” ucap mita, aku tersenyum miring mendengar ucapan mita, dia mengira kalau yang membangunkannya adalah abian mantan kekasihnya. Iya aku tahu kalau mantan pacar mita namanya adalah abian karena aku sudah mencari informasi tentang mantan pacar mita.
“abian aku masih ngantuk” mita menepis tanganku dari hidungnya dan menutupi kepalanya dengan selimut. Kenapa aku harus kesal mengetahui bahwa mita menganggap abian yang membangunkannya. Apakah dulu lelaki itu sering masuk ke kamar mita dan membangunkannya.
Aku menarik selimut yang menutupi kepala mita
“mita ayo bangun” tidak ada lagi sura lembut yang aku keluarkan seperti sebelumnya, tiba-tiba saja hatiku sangat kesal. Mita bangun dari tidurnya tapi setengah terpejam, tidak sempurna membuka matanya. Mita menatapku kemudian memeluku dengan erah bahkan mita duduk kepangkuanku.
“abian aku kangen kamu” ucap mita dengan suara khas orang bangun tidur
Hatiku tambah kesal mendapati hal seperti ini, aku mencoba melepaskan pelukan mita dariku, tapi mita makin mengeratkan pelukannya.
“sebentar aja abian, aku masih kangen banget sama kamu” aku sudah benar-benar kesal, dan aku tarik tubuh mita secara kasar dari agar pelukannya lepas dari tubuhku. Mita menatapku kembali masih dengan mata setengah terbuka.
Tanpa aba-aba mita langsung mencium bibirku, aku yang kaget dan tubuhku yang tidak ada persiapan jatuh di atas kasur membuat posisiku berada di bawah dan mita di atasku.
Mita melmat bibirku lembut sepertinya ini ciuman penghantar rindu. Oke mita aku akan membantumu mengurangi rasa rindumu pada abian, aku membalas ciuman mita membalikan posisi mita menjadi di bawahku, merasa kehabisan napas aku melepaskan ciumannya, berhenti beberapa detik kemudian melanjutkanya lagi. sebegitunyakah mita merindukan abian sampai mengira kalau aku ini abian.