[ SEDANG REVISI ]
Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata kamu menikah dengan seorang pria pemarah dan sangat egois?
Kalista, seorang wanita smart dan penuh prestasi, terpaksa menerima pahit takdir hidupnya, ketika ia tahu jika pria yang menjadi suaminya ternyata sosok pria pemarah dan sangat egois.
Kalista bahkan seperti tidak pernah melihat cinta dan kasih sayang dari diri suaminya itu. Sampai pada suatu hari, dia berada di ujung kesabarannya saat mengetahui jika suaminya punya hubungan dengan wanita lain.
"Aku minta cerai! " Ucap Kalista
Tiga kata yang keluar dari mulut Kalista yang sudah sejak lama ia pendam dan bungkam.
Apakah keputusan Kalista untuk berpisah dengan suaminya merupakan keputusan yang tepat?
Benarkah jika suaminya, berselingkuh dengan wanita lain seperti dugaan Kalista?
Dan benarkah jika Raditya Gunawan, pria yang sudah memberikan Kalista dua orang anak perempuan itu, sama sekali tak menaruh hati kepada Kalista?
Siapkan kesabaran dan tisu sebelum me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lv Edelweiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMU BOLEH, KENAPA AKU TIDAK?
"Gue ngerasa aneh deh Sin... " kataku pada Sintya. Kami sedang duduk di toko kue milik Papa mertuaku yang saat ini aku kelola.
"Aneh gimana maksud lo? " tanya Sintya.
"Ya aneh aja. Tiba-tiba mas Radit jadi care sama gue juga anak-anak. Nggak biasanya." ucapku.
"Ya bagus dong Lis. Apanya yang aneh sih. Lo ada-ada aja." cetus Sintya.
"Masalahnya kan Sin, itu tuh kayak bukan mas Radit yang gue kenal. Apa mungkin... "
"Dia selingkuh maksud lo?" tebak Sintya.
Aku mengangkat kedua bahu ku. May be yes, may be no.
"Kotor banget sih pikiran lo sama laki sendiri." cetus Sintya.
"Tapi gue mau cari tahu lebih jauh tentang wanita yang bernama Bianca itu deh Sin... "
"Bianca yang mana?"
"Itu tu... cewek yang sering nge-whatsapp mas Radit. Kayaknya mereka lebih dari sekedar rekan bisnis. Gue curiga mereka ada hubungan." bakat detektif ku pun muncul.
"Serah lo aja deh... gue nggak ikut-ikutan masalah rumah tangga orang." ucap Sintya seraya mengangkat kedua tangannya.
"Eh bentar ya, Demian telepon nih. Gue angkat dulu ya. Kali aja penting." kataku sambil menyerahkan Kaila pada Sintya.
"Hmmm, kalau mantannya yang telepon gercep banget tu anak." Sintya lalu bermain bersama Kaila, sambil menikmati beberapa potong kue diatas meja.
Aku berjalan mendekati pintu masuk. Lalu bergegas mengangkat telepon dari Demian.
"Ya Dem.."
"Kamu... lagi dimana? " tanya Demian.
"Lagi di toko nih, kenapa Dem?"
"Enggak... cuma mau tau kabarmu aja. "
Deg!
Ritme detak jantungku terasa mengencang. Kenapa tiba-tiba aku jadi seperti ini?
"Kamu apaan sih Dem? Aku serius nih."
"Ya aku juga serius. Nggak, maksud aku, aku mau ngajak kamu ketemu. Buat ngebahas tentang kerja sama bisnis yang mau aku tawarin ke kamu." jelas Demian.
"Kerja sama? Maksudnya gimana ya Dem. Sorry sorry, aku masih agak amatir kalau bicara masalah bisnis. Maklum, selama ini kan aku cuma berkutit dengan masalah rumah aja."
"Ntar deh aku jelasin. Kamu atur aja kapan kita bisa ketemu. Dimana dan jam berapa, I always ready for you."
"Okey Dem. See ya.. " Aku lalu menutup teleponnya.
"Bahas apa sih?" tanya Sintya.
"Demian, ngajak gue kerja sama. Masalah bisnis apa gitu, gue juga belum terlalu ngeuh."
"Te-rus?"
"Ya... gue mau. Tapi kita ketemu dulu baru gue bisa paham maksud kerja sama yang Demian tawarin ke gue."
Sintya menarik nafas panjang.
"Kenapa lo... ?" tanyaku.
"Ati-ati lo... Lo tau kan, mas Radit kagak suka lo dekat sama Demian. Lo juga bilang kalau mas Radit sekarang uda berubah. Nggak lagi dingin kayak kulkas dua pintu. Jangan sampai ni yah, pertemuan lo sama Demian buat dia berubah kembali kayak dulu lagi. Itu sih saran dari gue."
"Lo kok tiba-tiba jadi pro sama mas Radit sih. Dulu aja, lo selalu ngatain lakik gue." cetus ku sambil mengunyah bolu gulung.
"Serah lo deh. Gue sebagai sahabat cuma kasih saran aja. Mengingatkan aja. Jangan sampai lo nyesel nantinya."
"Udah ah, gue mau balik dulu." Sintya menyerahkan Kaila kembali padaku. Dia memainkan wajah imut Kaila beberapa kali sebelum kemudian keluar dari toko.
"Datang lagi ya... " teriak ku. Sintya hanya melambaikan tangannya. Kemudian dia melaju dengan motornya dan hilang dari pandanganku.
...****************...
Malamnya
Aku meletakkan segelas teh hangat di atas meja. Teh hangat permintaan mas Radit. Aku lalu duduk di sampingnya walau tak begitu dekat. Mulutku sudah gatal sedari tadi mau mengutarakan sesuatu. Semoga saja, mas Radit tidak marah saat mendengar apa yang nanti aku sampaikan.
"Mas... " panggil ku pelan.
"Hmm... " jawabnya seperti biasa. Dia tetap menatap layar ponselnya tanpa melihat kearah ku.
"Demian ngajak aku kerja sama... " ucapku pelan namun aku yakin, meski suara sudah aku rendahkan, tetap mas Radit dapat mendengarnya dengan cukup baik.
Mas Radit diam tak menggubris ucapanku. Dia lalu mengambil teh hangat yang ku suguhkan di atas meja dan meneguknya perlahan. Aku masih melihat ke arahnya. Pria ini, apa cueknya kambuh lagi? Baru juga kemarin dia berubah menjadi hangat. Eh sekarang kembali lagi ke settingan pabrik.
"Mas... " panggil ku yang langsung disambut dengan penolakannya.
"Nggak boleh... " katanya tegas.
"Kok nggak boleh sih mas... Kan ini peluang buat usaha aku biar bisa berkembang pesat. Yang untungkan kita juga." kataku dengan nada kesal dan lalu berdiri didepannya.
Mas Radit lalu menoleh ke arah ku.
"Kamu tuli? Aku bilang enggak ya enggak. Jangan ngebantah."
"Aneh banget sih kamu mas. Jangan cuma karena kamu cemburu pada Demian, kamu jadi bertingkah kayak anak kecil seperti ini."
"Aku? Cemburu? Pada Demian? Astaga, Jangan ngarang kamu Lis." Mas Radit tersenyum sinis dan dia juga ikut berdiri.
"Terus kalau bukan cemburu apa namanya? Coba mas beri aku satu alasan, kenapa mas ngelarang aku untuk kerja sama dengan Demian." tanyaku yang membuat mas Radit bungkam.
"Mas nggak bisa jawab kan? Jadi benar. Mas cemburu sama Demian. Hanya mas terlalu egois dan gengsi untuk mengakuinya."
Mas Radit masih diam. Dia bahkan tak melihat ke arah ku.
"Jawab aku mas? Jawab! " teriakku.
"IYA!!! Aku memang cemburu. Lalu kenapa? Salah??? Salah kalau aku cemburu ada laki-laki lain, apa lagi itu mantan istri ku, yang mendekati istriku. SALAH? " Mas Radit berteriak padaku.
"Terus... bagaimana dengan kamu dan Bianca? Apa aku boleh bilang kalau aku juga cemburu?"
Aku melangkah mendekati mas Radit. Sekarang kami sudah berdiri sangat dekat. Sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Jawab aku mas... "
"Kalau mas dan Bianca boleh? Kenapa aku tidak?"
"Kenapa diam mas? Kamu bingung mau jawab apa kan?"
"Kamu benar-benar keterlaluan Kalista. Kamu mau jadi istri durhaka? Berani kami membantah perintah suamimu?"
Nada suara mas Radit masih sama seperti tadi. Masih sama angkuh dan egoisnya.
"Terus... aku harus ikuti semua kemauan mas gitu? Sementara mas... mas boleh melanggar apa yang mas larang terhadapku? Egois kamu mas! " Aku menggelengkan kepala seraya mundur perlahan dan pergi meninggalkannya.
Lama-lama bicara dengan mas Radit yang ada aku semakin terbawa emosi. Bagaimana tidak, acap kali kami berbeda pendapat, hanya dia saja yang selalu benar. Sementara aku... aku selalu salah dimatanya. Ditambah posisiku adalah istri.
Terkadang seorang suami selalu menuntut istrinya untuk menjadi istri yang sholeha. Tunduk dan patuh pada perintah dan larangannya. Namun di sisi lain, dia sendiri yang sering melanggar aturan yang dia tetapkan atas istrinya itu.
Aku sudah merasa cukup sabar selama ini. Mengikuti semua aturan yang mas Radit buat. Aku tidak boleh kerja. Tidak boleh pergi ke reuni. Tidak boleh datangi kantornya. Bahkan hangout bareng Sintya aja dilarang. Bersyukur aku dapat mertua yang sangat luar biasa, kalau tidak. Aku yang pintar ini lama-lama bisa lemot kalau terus mengikuti kata suami.