Novel ke-enam
Kejadian satu malam dengan pria lain akhirnya merusak kepercayaan Louis terhadap Elena. Setelah bercerai dan terpaksa meninggalkan putranya yang masih berusia dua bulan, Elena memutuskan mendekati kembali putranya yang kini berusia delapan tahun.
Karena keadaan tersebut, Elena rela dipanggil bibi oleh putranya dan menjadi orang lain demi menghindari tatapan kebenciannya.
Dengan percaya diri ia membuat kesepakatan dengan mantan suami yang menyadari kehadirannya.
"Aku jal*ang yang mempesona, kan?" senyumnya tanpa beban. "Aku hanya minta waktu satu tahun dari seumur hidup yang kau punya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggoda Daddy?
"Sebaiknya jangan memanggilku nyonya lagi. Aku tidak nyaman dengan itu."
Aneh saja mendengar wanita yang pernah memanggilnya mom kini memanggilnya dengan sebutan nyonya.
"Lalu, aku harus memanggilmu apa?"
"Apa saja selain nyonya."
"Baiklah, Mom! Aku akan membantumu memasak!" putus Elena, membuat Rosemary terdiam sejenak. Tidak menyangka Elena akan menggunakan panggilan lamanya lagi.
"Tidak perlu. Keahlian memasakmu buruk," tolak Rosemary tanpa ekspresi.
"Kapan aku akan diakui," gumamnya cemberut dan kembali duduk dalam diam.
"Kau benar-benar mencintai putraku, Elena?" tanya Rosemary tiba-tiba.
Jujur, Elena selalu terkejut jika Rosemary bertanya tiba-tiba. Wanita yang jarang tersenyum dan bersikap lebih memang lebih menakutkan.
"Tentu saja," gumamnya pelan.
"Lalu, kenapa kau melakukanya?" Berselingkuh dengan orang lain. Begitu maksud Rosemary, kan?
Elena terdiam sambil memainkan sendok di tangannya cukup lama.
"Tidak perlu di jaw—"
"Jika aku bilang tidak melakukannya ... apa mom percaya?"
Rosemary belum menjawab. Benar jika ia tidak suka pengkhianat, tapi dirinya tidak pernah bilang siapa yang ia benci. Dan apa ia mempercayai Elena?
"Aku percaya. Jadi, cobalah hadapi masalahmu. Tidak ada salahnya melawan arus saat ada jurang di depanmu. Selamatkan dirimu lebih dulu sebelum melindungi orang lain," ucap Rosemary penuh arti.
—
—
—
"Selamat datang, Louis!" sambut Elena di pintu utama. Noah yang tidak sengaja lewat langsung teralihkan perhatiannya pada dua manusia itu.
Apa tidak salah dengar?
Seperti dugaan Louis jika Elena akan memulai aksinya hari ini. Kebetulan mereka berdua tidak bertemu tadi pagi karena mengantar Noah ke sekolah lebih awal dari biasanya.
"Kau pasti lelah, kan? Aku akan siapkan makan untukmu. Ah biar kubawa tasmu juga."
Louis hanya memasang tampang datarnya. Tas kerja juga sudah beralih tangan. Pria itu tidak berniat menghentikan Elena atau apapun yang hendak di perbuat wanita itu. Tanpa bicara satu kata pun, ia berjalan melewati Elena dimana wanita itu bergerak cepat mengikutinya.
Kening Noah mengkerut melihat mereka. Apa bibi Elena mulai menunjukkan cakarnya juga? Pesona ayahnya memang luar biasa sampai bibi Elena pun ikut mengejarnya. Anehnya Noah tidak merasa kesal sama sekali. Jika itu wanita lain, sudah bisa di tebak bagaimana reaksinya, bukan?
"Bagaimana dengan Elena?" tanya Rosemary yang tiba-tiba ada di sebelahnya.
"Grandma! Buat terkejut saja."
"Ayahmu sedang di goda. Kau tidak mau mengurusnya?" tanya Rosemary lagi, berniat menggoda Noah yang biasanya akan langsung memasang badan untuk ayahnya dalam situasi seperti ini.
"Memangnya bibi mau menggoda daddy?" tanyanya berpura-pura tidak mengerti.
"Kau memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" goda Rosemary lagi.
Ternyata sudah ketahuan. Tapi, berhubung ini adalah Elena, Noah pasti menutup mata, kan? Rosemary menahan senyum melihat gelagat cucunya.
"Kalau kau setuju, kau harus membantunya."
"Entahlah," acuh Noah mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah? Kau tidak mau Elena menjadi ibumu?"
Noah jadi terdiam. Apa bibi Elena bisa? Selama ini ia menganggap Elena teman karena berpikir ayahnya mungkin tidak akan menyukai wanita itu. Bisa dilihat sendiri, kan, bagaimana tingkah Elena yang terkadang kekanakan? Pasti daddynya akan sedikit kesal menghadapinya.
Noah tidak ingin berharap lebih, tapi, apabila ayahnya bisa jatuh hati pada Elena, itu suatu kemajuan untuk ayahnya yang membenci wanita. Setidaknya sang ayah bisa melupakan masa lalunya.
...***...
Di sisi lain ....
"Kau sedang apa?" tanya Louis tanpa ekspresi dengan kehadiran Elena di kamar tidurnya. Tangan Elena menggantung di udara.
"Menyiapkan baju— mu," jawabnya agak ragu.
Louis mendekat tanpa bicara, kemudian mengambil alih baju yang di pegang Elena cukup kasar.
"Tidak perlu," datarnya, lalu menatap wanita itu lekat. "Ingat, jangan berharap apapun sampai kau membuktikannya. Sebelum hari itu tiba, usahamu hanya sia-sia," peringat Louis sambil berjalan melewati Elena.
"Dan jangan masuk ke kamar ini lagi tanpa izinku. Ingat posisimu, Elena," lanjutnya setelah menghentikan langkah kakinya sejenak tanpa membalik tubuhnya.
----------------
tapi jangan pernah menjadikan alesan untuk menyakiti orang lain apalagi terjadi yg namanya pembullyan
karena kita tidak tau seluka dan setrauma apa orang yg mengalami nya.
kau tau apa yg lebih kejam dr pembullyan itu sendiri
yaitu pengambian dan tidak melakukan apa apa .
korban satu akan membuat pelaku kejahatan yg lain.
nice ending
beautiful story
mulai saat ini pelajaran buat kita karena kesalahpahaman akan membuka kejahatan yg lain
lindungi dirimu sendiri dengan melindungi orang " sekitar mu
tapi yg utama.... lindungi dirimu sendiri
bullying bukan hanya sekedar kenakalan remaja saja
apalagi terlihat teman temannya tidak ada rasa menyesal.
karena perbuatannya memberikan trauma mendalam.
jangan menormalisasikan kenakalan remaja ini
ini adalah sebuah. kriminalitas.
karena kita ga akan pernah tau,sedalam apa efek nya pada tiap korban
dan ketika membalas apa yg dia rasakan ketika dulu,dia di cap sebagai penjahat.
double standar bukan?
segala sesuatu itu tergantung sudut pandang orang 🥹🥹
ga ada dan ga akan pernah ada yg bisa membandingkan seciah cinta seorang ibu buat anaknya.
apalagi melukiskan seberapa megah dan besarnya rasa cinta ibu.
akhhh
sakitnya Ampe kedalem Thor, karena aku juga seorang ibu 🥹