Arya dan Rania dipaksa menikah oleh kedua orang tua masing masing karena tidak ingin wanita lain yang merawat bayi yang dilahirkan oleh Ayumi yang tidak lain dari kakak dari Rania sendiri. Arumi meninggal dunia tak lama setelah melahirkan anak keduanya.
Ternyata menjadi ibu sambung untuk anak yang terbiasa memanggil dirinya Tante dan menjadi istri dari laki laki yang terbiasa dia panggil kakak ipar adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sofia, putri pertama Arya dan Arumi yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menerima Rania sebagai ibu sambung. Kata kata hinaan dan kata kata tuduhan dari Sofia menjadi santapan Rania di awal pernikahannya dengan Arya. Bukan hanya Sofia yang menolak kehadirannya. Arya yang seharusnya memberikan perlindungan kepada Rania. Laki laki itu juga sangat jelas menunjukkan kebenciannya pada Rania.
Lalu, sanggupkah Rania bertahan. Apakah Rania tega meninggalkan Rio yang mengenal dirinya sebagai ibunya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bingung
"Aku ijin keluar kak."
Rania sadar, sebagai seorang istri dirinya harus mendapatkan ijin jika keluar dari rumah. Sedari tadi. Arya hanya terdiam. Tidak memberikan harapan atau memutuskan berpisah setelah mendengar kata kata Rania. Rania yang sudah menyetujui bertemu hari ini dengan Hanin langsung bersiap siap.
Kamar Rio adalah kamar Rania juga. Sebelum Arya masuk ke kamar itu. Dirinya sudah mempersiapkan diri untuk keluar rumah. Rania menyambar tasnya yang tergantung kemudian memasukkan ponsel ke dalamnya. Dia tidak perlu mengulang minta ijin kembali.
"Mau kemana kamu, Ran?. Mau bertemu Randy?"
Rania menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Andaikan Arya mengetahui jika Rania sudah memblokir nomor Randy setelah mengatakan jika dirinya berada di luar kota. Tentu saja Arya tidak akan memberikan pertanyaan seperti itu.
"Sebagai seorang wanita bersuami. Aku tahu dengan siapa aku harus bertemu kak," jawab Rania. Untuk mengatakan yang sebenarnya. Rania mengingat pesan Hanin.
"Kamu tanggung jawab ku, Ran. Aku harus tahu kamu kemana dan bertemu dengan siapa."
"Karena aku adik iparmu?" tanya Rania. Daripada tanggung jawab. Rania lebih ingin mendengarkan jika Arya mengakui dirinya sebagai istri. Karena tanpa menikah pun. Berada di rumah itu akan tetap menjadi tanggung jawab Arya. Tanggung jawab sebagai kakak ipar.
"Tidak perlu khawatir kak. Aku hanya sebentar. Hanya beli skincare kok. Dan jika memungkinkan, mungkin me time sebentar."
Rania memberikan alasan keluar yang masuk. Dia tidak memaksa Arya untuk memperjelas tanggung jawab seperti apa yang dimaksudkan laki laki itu. Karena Rania tahu, sampai detik ini. Arya belum membuka hati akan pernikahan mereka.
"Pakai lah uang ini, Ran. Ini hak mu." Arya menyodorkan amplop berisi uang yang tadi malam ditolak oleh Rania. Ketika dirinya tadi melewati ruang tamu. Ternyata amplop itu masih di atas meja. Inilah yang membuat dia percaya pada bibi Nining. Wanita itu tidak panjang tangan dan mereka tidak pernah kehilangan selama Bibi Nining bekerja di rumah itu.
Meskipun keberadaan ponsel Ayumi belum ditemukan. Tidak pernah terlintas di benak Arya untuk mencurigai Bibi Nining. Bukan sekali dua kali barang barang berharga terletak sembarangan di rumah itu. Tapi tidak pernah hilang. Di masa hidupnya, Ayumi termasuk yang ceroboh menyimpan barang berharga. Bibi Nining memang pantas sangat dipercaya.
"Baik kak. Memang tak seharusnya aku menolak gaji pertama."
Setelah mengambil amplop berisi uang dari tangan Arya. Rania keluar dari kamar itu. Seketika langkahnya terhenti di depan pintu utama. Dia ingat akan Sofia. Dulu, sebelum dirinya menjadi ibu sambung. Jika dirinya berkunjung ke rumah itu. Pasti Rania mengajak Sofia ke swalayan terlebih dahulu sebelum balik ke kostan.
Mengingat kenangan itu. Ingin rasanya, Rania mengajak putri sambungnya itu untuk bertemu dengan Hanin. Sofia pasti senang bertemu dengan Hanin. Lagipula, Hanin hanya berpesan untuk merahasiakan pertemuan mereka dari bibi Nining dan Arya. Jadi tak ada salahnya mengajak Sofia.
"Sofia, Tante mau keluar. Mau ikut?" tanya Rania. Rania sudah berada di kamar Sofia.
Anak itu hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh. Matanya tetap fokus pada buku komik yang di tangannya. Sikap Sofia memang masih dingin. Mengalahkan es batu yang mencair jika terkena panas sedikit saja. Sofia sama sekali tak tersentuh dengan perhatian apapun sejak Hanin tidak pernah lagi datang.
Rania tak menyerah. Dia mendekati ranjang Sofia.
"Apa sih dekat dekat," kata Sofia ketus sambil mengibaskan tangannya. Sehingga wajah Rania yang hendak berbisik terkena tangan Sofia. Padahal Rania ingin membisikkan jika dirinya ingin bertemu Hanin.
"Tante mau ke swalayan loh, Sofia. Yakin tidak mau ikut?" tanya Rania lagi.
"Nggak."
"Kalau ketemu Tante Hanin, mau?"
"Bohong. Tante Rania pembohong."
"Tante serius loh, Sof."
"Pergi dari kamarku Tan. Aku tidak suka Tante."
Rania mundur menahan sesak di dadanya mendengar perkataan Sofia. Sungguh, dirinya merasa tak berarti. Entah bagaimana dirinya bisa meluluhkan hati Sofia. Ternyata di ingatan anak itu berbekas jika dirinya mengusir Hanin.
"Jadi, kamu mau bertemu dengan Hanin, Ran?"
Rania terkejut. Ketika berbalik. Arya sudah berdiri di depan pintu dengan menggendong Rio. Seketika, Rania tercekat. Untuk jujur, tapi Rania penasaran mengapa Hanin meminta merahasiakan pertemuan mereka. Tapi jika berbohong lagi. Sofia akan selamanya merekam jika dirinya pembohong.
"Sebenarnya jika Sofia mau. Setelah belanja skincare. Aku ingin mengajak Sofia ke rumah mbak Hanin. Aku mengerti Sofia pasti rindu pada mbak Hanin. Karena Sofia tidak mau. Jadi dong me time."
"Kemarin mereka bertemu. Besok juga akan bertemu. Karena kamu melarang Hanin di rumah ini. Hanin menemui Sofia di sekolahnya. Hampir setiap hari."
Rania hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun di kepala bermunculan tanda tanya. Tapi untuk kali ini, Rania berusaha tidak terlalu memikirkan tanda tanya itu. Kenyataan itu memang mengejutkan. Jika itu yang membuat Sofia bahagia. Biarkan saja. Nanti jika bertemu Hanin. Rania juga berencana akan meminta Hanin untuk sering sering berkunjung ke rumah.
Terserah jika wanita itu mempunyai maksud untuk menggoda suaminya. Sekarang, Rania berusaha untuk membuat Sofia bahagia. Rania juga berpikir jika kebahagiaan Sofia dan Arya ada pada Hanin. Maka dia akan mundur. Tidak ada gunanya bertahan jika suami dan putri sambungnya tidak menginginkan keberadaannya.
Tiba di kafe lestari. Rania mengedarkan pandangannya. Di jam sepuluh seperti ini, suasana kafe sudah mulai ramai sehingga Rania sedikit kesulitan untuk mencari keberadaan Hanin. Hingga tatapan tertuju pada wanita yang ada paling belakang sudut sebelah kanan.
Wanita itu tidak sendiri. Ada laki laki yang duduk di sebelah Hanin. Jika melihat gelagat dan pakaian yang mereka pakai. Sepertinya laki laki itu adalah suami Hanin. Mereka terlihat sangat romantis. Laki laki itu terlihat mengusap sudut bibir Hanin setelah wanita itu menjauhkan gelas dari bibirnya. Mereka juga terlihat saling tersenyum dengan tatapan mesra.
Yang menjadi pertanyaan di kepala Rania. Jika hubungan Hanin dan suaminya baik baik saja. Lalu mengapa, wanita itu seperti ingin meraih hati Arya. Hanin juga memperlihatkan perhatiannya pada Arya melebihi perhatian seorang sahabat. Seketika, Rania bingung dengan kenyataan di depan matanya.
pantes dr kmrn cek riceknko gk update 😁