Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 16
"Sial." Umpat Bian saat sedikit tersadar tentang apa yang terjadi. Bian langsung segera membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
"Sial" umpatnya untuk yang kedua kalinya. Bian menyadari jika dirinya telah masuk ke dalam perangkap kupu-kupu malam yang telah menjadi istri kontraknya. "Wanita licik." Ucapnya dengan kedua tangan yang mengepal.
••••••
Mia mendadak membulatkan mata, saat melihat sang sahabat yang pagi-pagi sekali sudah berada di depan pintu kamar kos miliknya.
"Vanya, ada..." Ucapan Mia terputus kala Vanya langsung meletakkan jari telunjuk tepat di depan bibir Mia.
"Jangan tanya apa yang terjadi. Jangan tanya aku dari mana. Hari ini, biarkan aku istirahat. Tolong tinggalkan aku sendiri." Kata Vanya lalu masuk ke dalam kamar, tanpa menghiraukan Mia sama sekali.
Mia hanya mengerjapkan mata, menatap Vanya dengan penuh tanda tanya.
"Apa yang terjadi?" Gumam Mia menatap punggung belakang Vanya yang kini berjalan masuk ke dalam kamar.
Di kamar, Vanya merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, Vanya menangis sejadi-jadinya dengan sangat pilu. Hingga siapa pun yang mendengar langsung ikut bersedih. Begitupun, dengan Mia yang saat ini berdiri tepat di depan pintu kamar.
"Vanya, aku tahu hari ini pasti sangat sulit dan berat bagimu." Lirih Mia yang sudah tahu betul sifat sang sahabat. Yang tidak akan muda menangis jika hanya hal sepele. Dan itu artinya ada masalah besar yang saat ini Vanya hadapi.
Sehari berlalu, Mia yang begitu sangat menghawatirkan Vanya. Hingga Mia pun memutuskan mengetuk pintu kamar Vanya.
"Van, ini aku. Please, buka pintunya Van." Ucap Mia.
"Nggak ke kunci ko Mia." Jawab Vanya
Mia merasa lega mendengar sahutan dari Vanya, dan Mia pun langsung membuka pintu kamar.
"Sarapan dulu. Kemari kamu sama sekali tidak mengisi perutmu dengan masakanku." Kata Mia sambil memberikan nampan yang berisi makanan pada Vanya.
"Terima kasih Mia, kau memang yang terbaik." Ucap Vanya dan langsung meminum susu buatan Mia, dan juga menyantap nasi goreng. "Terima kasih, karena tidak bertanya soal apapun padaku." Ucap Vanya sambil kembali memakan nasi gorengnya dengan lahap.
"Aku tidak akan bertanya sampai kau sendiri yang akan bercerita padaku tentang apa yang terjadi. Aku siap menunggu sampai kau siap menceritakan semuanya." Jawab Mia.
••••••
Di sini lah Vanya berada. Di depan pintu apartemen milik Bian. Ya, Vanya memutuskan untuk kembali ke apartemen sampai kontrak pernikahan mereka selesai. Vanya membuka pintu secara perlahan, dan mata Vanya langsung menatap sosok yang sudah ia hindari selama sehari ini. Vanya menelan salivanya secara kasar.
Bian duduk di sofa sambil menatap ponsel miliknya dan kemudian tatapan Bian beralih ke Vanya. Bian menatap Vanya dengan tatapan tajam.
Vanya berjalan tanpa memperdulikan Bian yang sedang melihatnya.
"Wanita murahan." Ucap Bian dengan tajam, sehingga sontak membuat Vanya menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Bian.
"Apa kau bilang?" Tanya Vanya.
"Kau tuli atau pura-pura tuli?" Jawab Bian dengan sebuah pertanyaan.
Vanya pun memilih menghindari pertengkaran dan kembali melanjutkan langkah kakinya, namun Bian kembali berkata kasar sehingga membuat Vanya kembali berhenti melangkah.
"Berapa banyak pria yang kau layani dengan tubuh kotormu itu." Ejek Bian, membuat hati Vanya begitu sakit.
Vanya menatap tajam ke arah Bian. "Setidaknya tubuh kotorku ini sudah kau cicipi dengan sangat liar." Jawab Vanya dengan lantangnya membuat Bain tersulut emosi dan berjalan menghampiri Vanya.
"Apa kau bilang?" Tanya Bian
"Kau tuli atau pura-pura tuli?" Jawab Vanya dengan sebuah pertanyaan sambil tersenyum sinis.
Bian yang tidak terima langsung mengangkat tangannya ingin mencengkram pipi Vanya, namun dengan cepat Vanya menghindar.
"Jangan menyentuh tubuh kotor ini, jika tanganmu tidak ingin terkena kotoran." Ucap Vanya lalu membalik tubunya dan berjalan menuju kamar menjauh dari Bian.
"Bre*ngsek! Beraninya!" Geram Bian melihat punggung belakang Vanya.
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...