NovelToon NovelToon
Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Suami amnesia / Tamat
Popularitas:64.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mari Ani

Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.


Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?



Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.

Ikuti cerita ini terus ya readers.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Airin di culik

Sementara itu, Airin tersenyum lega saat bisa menggagalkan pertunangan suaminya. Pukul tiga sore Airin baru membuka pintu kamar, bibirnya tersenyum meskipun Wiksa menatapnya dengan semua kekesalan. "Kamu! Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan! Dasar **** tidak tahu malu!" sentak Wiksa emosi.

Mendengar umpatan suaminya Airin hanya tersenyum, berjalan mendekat. "Aku berani melakukan itu karena Mas adalah suamiku, Mas ingat kita selalu melakukan ini," jawab Airin meyakinkan.

"Aku tidak ingat dan sekarang ...." Wiksa terdiam menatap Airin untuk sesaat, pergumulan yang mereka lakukan pagi tadi ada satu hal yang terlintas dalam ingatannya, akan tetapi Wiksa hanya menggeleng saat kepalanya berdenyut sakit, hal yang tidak bisa dia jangkau serasa ada penghalang yang membuat ingatannya terpental dalam ruang gelap dan kosong.

"Argh ... kamu hanya membuatku pusing dan kamu!" Wiksa berjalan mendekat menghampiri Airin menatap dua manik mata yang begitu memujanya.

Perlahan wajahnya mendekat mengamati setiap detail wajah Airin, jemarinya perlahan menyapu pelan merasakan setiap inci pahatan sempurna dari wajah cantik yang mulai terhanyut dengan sentuhannya. "Aku tidak menyangka jika kamu berani menyentuhku bahkan bercinta denganku," ujar Wiksa kemudian mendorong wajah Airin jijik.

"Jangan pernah melakukan itu lagi. Aku ...." Wiksa tidak melanjutkan ucapannya menilik baju yang berserakan di lantai.

Tangannya terulur mengambil baju yang terberai dengan kasar menggunakan jas yang sempat terhempas tanpa kendali karena hasratnya, keluar dari kamar tanpa mengatakan satu kata pun.

"Jangan pergi!" cegah Airin memburu langkah suaminya. Wiksa hanya menoleh dengan pandangan risau.

"Hash ... kenapa aku tergoda dengan kenikmatan yang kamu tawarkan bahkan aku tidak bisa menahan atau menolak tubuhmu, sentuhan tanganmu. Kamu ...." Wiksa meraup wajahnya kasar, mengguar rambutnya kesal. Netranya terus menatap Airin berusaha menembus wajah asing didepannya.

Cukup lama Wiksa berdiri mencari rahasia kekosongan yang tidak pernah bisa terjawab dengan tatapannya. "Aku, harus pergi!" serunya sambil berlalu pergi begitu saja.

Airin akhirnya menyerah, membiarkan suaminya pergi begitu saja dengan segala kegundahan dan amarah yang tersirat dari tatapan matanya. "Apalagi usahaku untuk mengagalkan pertunangan ini," lirihnya putus asa.

Satu jam kemudian Airin hanya bisa menghela napas panjang, kala Wiksa datang dengan wajah gusar penuh amarah. Wiksa hanya melihatnya sekilas kemudian masuk kamar dan tidak lama kembali ke luar lagi, hanya dengusan napas panjang suaminya yang bisa Airin dengar. "Ya, Allah. Semoga rencana pertunangan mereka gagal."

Semalaman Airin tidak bisa memejamkan mata, tidur dengan gelisah berbagai pemikiran kini sedang berkecamuk dalam hatinya. Dini hari tepatnya pukul dua malam Airin mendengar suara mobil berhenti di depan pagar, cukup lama deru mobil berhenti dan tidak lama kemudian melaju kencang. "Aneh, jika Mas Wiksa kenapa tidak langsung membuka pagar?" Airin mengikat asal rambutnya, menyibak tirai untuk melihat siapa gerangan yang berhenti di depan pagar rumahnya.

"Mas Wiksa." Airin bergegas ke luar, saat yakin jika siluet tubuh yang berdiri di depan pagar milik suaminya.

"Mas baru pulang?" tanyanya tidak percaya tetapi tubuh suaminya tidak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri.

Airin mematung untuk beberapa saat. "Aneh! Mas Wiksa." Airin memanggil dan tangannya sibuk membuka pagar, mendorong dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya.

"Mas ...." Airin memanggil cemas.

Tangannya terulur berusaha menyentuh bahu sang suami, tetapi tubuh Airin seketika membeku. "Jangan bergerak atau benda ini akan menusuk perutmu," ancam seorang laki-laki dari belakang. "Jangan berteriak atau berusaha memancing kecurigaan orang!" tekan laki-laki dengan suara berat.

"Mas Wiksa!" teriak Airin berusaha meminta pertolongan.

"Mas! Tolong ...." Airin berteriak tanpa menghiraukan ancaman yang didapatnya, tubuhnya memberontak berusaha melawan.

Namun, laki-laki yang diyakininya sebagai suaminya tidak kunjung menjawab tubuhnya berdiri menatap jalan raya tanpa bergeming. Langkah Airin terseok, saat tubuhnya di tarik dan di dorong masuk mobil yang terparkir beberapa meter dari rumahnya.

Pandangannya seketika gelap saat penutup wajah di pasang dengan kasar yang terdengar hanya suara deru mobil yang melaju kencang tanpa arah. "Lepas! Siapa kalian?" Airin terus memberontak tanpa menghiraukan ancaman laki-laki dengan suara beratnya.

"Diam!" bentak laki-laki dan menampar wajah Airin keras, hingga membuatnya terdiam kemudian mengikat kedua tangan Airin.

"Lepas!" teriak Airin berusaha untuk berontak, meskipun tangannya sudah terikat.

"Berisik!" bentak laki-laki yang duduk di sampingnya, "tutup mulut wanita itu!" perintah laki-laki dengan suara berat.

"Siap Bos dengan senang hati," jawab laki-laki yang duduk di sebelahnya.

Mobil yang mereka kendarai terus melaju tubuhnya beberapa kali terguncang seakan melewati jalanan makadam, aroma bunga tercium bercampur dengan hawa sejuk pagi hari yang menyentuh kulitnya. Airin semakin menajamkan pendengarannya hanya ini cara yang bisa Airin lakukan, tetapi semua yang di dengarnya hanya suara deru mobil yang melaju cepat. Jantungnya makin berdegub kencang kala mobil berhenti dan terdengar pintu terbuka kemudian menutupnya kembali dengan dentuman keras.

"Apa semua sudah siap?" tanya salah satu dari mereka.

"Siap Bos," jawab salah satu dari mereka yakin. "Apa? Kalian sudah meninggalkannya dalam keadaan aman?" tanya laki-laki dengan suara berat tidak yakin.

Percakapan mereka kembali terhenti hingga beberapa menit kemudian yang terdengar hanya nada panggilan dari ponsel dari salah satu di antara mereka. Airin kembali menajamkan pendengarannya, tetapi hanya suara samar laki-laki pemberi perintah. "Rencana berubah!" teriaknya keras, berbicara pelan dengan beberapa temannya.

"Bos, tetapi ...." Suara salah satu dari mereka merasa keberatan.

"Sudah kerjakan saja!" bentaknya tidak mau di tolak.

Airin kembali mendengar pintu mobil di buka, dari hembusan napasnya Airin bisa merasa jika salah satu dari mereka mendekat memeriksa ikatan tangan Airin dan kini semakin di buat kencang. "Argh ... kenapa kalian menculikku!" teriak Airin berontak.

Laki-laki ini hanya tertawa kemudian kembali menutup pintu mobil dengan keras. "Sepuluh menit lagi, setelah mobil jemputan datang kita eksekusi dia!"

Tubuh Airin seketika membeku, jiwa pemborantaknya seketika menciut mendengar kata-kata eksekusi. Bayangan kematian kembali memenuhi pikirannya, kecelakaan yang baru dua bulan dia alami akan kembali terulang. Hatinya merasa pedih siapa yang begitu tega menginginkan kematiannya.

Lagi-lagi tubuh Airin menegang suara mobil berhenti cukup jauh dari mobil yang di tumpanginya. Percakapan aneh yang kembali terdenngar dan kini Airin tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang tengah mereka perdebatkan. Namun, akhirnya terjadi satu kesepakatan yang bisa Airin tangkap dari perdebatan mereka. "Kalian dengar tugas yang harus kalian lakukan? Kerjakan jika perlu jangan sampai meninggalkan jejak, lakukan senatural mungkin, kalian paham!"

Suara keras laki-laki yang selalu memberi perintah terdengar egois dan semua harus di lakukan dengan sebersih mungkin. "Bos ... bagaimana dengan kami?" tanya salah satu dari mereka.

"Kalian sudah tahu, apa yang harus kalian lakukan. Bayaran kalian sudah di transfer di rekening kalian masing-masing," jelas laki-laki dengan suara berat.

"Oke, Bos."

"Kerjakan serapi mungkin dan segera bergabung dalam mobil setelah tugas kalian selesai!" perintah laki-laki ini kemudian sepi.

1
sari. trg
beruntungnya Airin terus ketemu dengan ibu yang baik
sari. trg
Wah, seperti ada sesuatunya
sari. trg
Selamat Airin. Tapi sayangnya, Wiksa masih melupakanmu
sari. trg
Syukurlah Adam menyelamatkan Airin
Hera sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻
sari. trg
Aku jadi deg deg kan, apakah itu Airin?
sari. trg
Bagus, keren Bu
sari. trg
GK tahu malu
sari. trg
Semoga Wiksa segera sadar
sari. trg
keren kamu, Airin/Grin/
sari. trg
GK tahu malu /Angry/
sari. trg
aturan GK usah di tutupi airin
💞Amie🍂🍃
bunga untukmu thor
sari. trg
Seharusnya lebih dari menampar wajahmu. Gerem, aku/Angry/
sari. trg
Wina ini dalangnya
💞Amie🍂🍃
mawar berduri buat othorr
💞Amie🍂🍃
Iklan juga buat othor
💞Amie🍂🍃
Gara2 kamu
💞Amie🍂🍃
🌹for you thor
💞Amie🍂🍃
Gak bakal, yakin deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!