Sebuah kenyataan hidup yang sangat pilu dan menyakitkan membuat sebagian orang mengalami kejadian trauma yang sulit dilupakan. Namun, tidak semua orang merasa bahagia menikmati hidupnya yang penuh luka yang membekas di hati mereka.
Kebahagiaan yang diimpikan telah sirna oleh kenyataan pahit yang mereka alami. Disini, akan dibahas dalam sebuah novel LUKAS yang akan menguras emosi dan air mata.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Jangan lewatkan update terbaru dari perjalanan kehidupan yang penuh pilu ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Amarah Dimas
"Aqila. Siapa yang melakukan ini padamu dan sejak kapan disini?" tanya Dimas menatap Aqila yang lemas tak berdaya.
"Mas Azka. Tuan Dimas. Hiks…hiks…" Aqila menangis tersedu di pelukan kakaknya.
Tiba-tiba Aqila pingsan dan dengan cepat Dimas mengambil alih Aqila dari Azka lalu menggendongnya keluar gudang menuju rumah.
Sedangkan Davina, Clarissa dan Ervin dalam perjalanan pulang ke rumah tampak bahagia dengan membawa beberapa belanjaan malam ini.
"Ma, Aqila pasti sudah berteriak tak berdaya di gudang gelap itu dan tak ada yang menolongnya karena tempat itu jauh dari jangkauan. Hahaha" kata Clarissa tertawa puas.
"Kamu benar, Nak. Dia pasti sudah pingsan berkali-kali karena ketakutan di ruangan pengap dan gelap itu," ucap Davina tersenyum jahat.
Sedang Ervin pun hanya menggelengkan kepala melihat sikap Mama dan adiknya yang sudah keterlaluan pada Aqila.
"Mama dan Clarissa. Kalian berbuat jahat lagi pada Aqila? Sebenarnya tujuan kalian apa melakukan itu pada Aqila?" Ervin menanyakan maksud dan tujuan perbuatan mereka berdua.
"Kamu diam saja Ervin. Tidak perlu ikut campur urusan kami. Sudah nyetir saja sana. Mama sudah lelah seharian keluar rumah. Takut papamu curiga nanti," bentak Davina merasa kesal dengan pertanyaan anak sulungnya.
Ervin pun diam tak bertanya kembali dan memilih melajukan kendaraannya dengan kencang menyalip mobil satu per satu.
Sampai di rumah, ketiganya keluar dan membawa belanjaan masing-masing.
"Mampus, Ma. Papa, sudah pulang!" Clarissa melihat mobil papanya sudah terparkir di samping.
"Sudah, kamu tenang saja Clarissa. Biar Mama yang mengatasi bila terjadi hal yang tidak-tidak."
Ervin pun berjalan lebih dulu masuk kerumah disusul Davina dan Clarissa yang membawa barang lebih banyak.
*
Dimas yang telah mendengar cerita dari Aqila langsung tahu bahwa itu ulah Davina. Dirinya merasa kali ini Davina keterlaluan dan kelewat batas terhadap Aqila.
"Lebih baik, Aqila tidur saja. Beri dia vitamin untuk menjaga daya tahan tubuhnya," pinta Dimas pada Bu Dalia.
"Baik, Tuan Dimas. Terima kasih sudah menolong Aqila kedua kalinya," ucap Bu Dalia mencium tangan Dimas sebagai bentuk rasa terima kasihnya.
"Tidak perlu sungkan. Kalian sudah kuanggap seperti keluarga. Baiklah, Saya permisi," pamit Dimas keluar kamar Aqila dengan penuh amarah dan benci pada Davina.
Dimas pun berjalan dengan cepat menuju kamar istrinya.
"Braaak"
Davina terkejut saat pintu dibuka dengan keras. "Papa!" Sedang Clarissa menelan salivanya karena kali ini apa yang di khawatirkannya pasti terjadi saat melihat papanya terlihat menahan emosi dari raut wajahnya.
"Clarissa, segera kembali ke kamarmu dan tidur." kata Dimas lembut dan tak ingin anaknya melihat sesuatu hal yang akan mengguncang jiwanya.
"Baik, Papa." ujar Clarissa terlihat tenang walau dalam hatinya merasa was-was.
Pintu pun tertutup dan Davina berjalan maju mendekati Dimas yang diliputi amarah berniat ingin bergelayut manja di lengan suaminya.
Plak
Plak
Davina terkejut bukan main, dirinya jatuh tersungkur ke lantai dengan memegang pipinya yang panas setelah ditampar dua kali oleh Dimas.
"Papa! Kenapa menampar Mama. Apa salah Mama!" teriak Davina merasa tidak terima dengan perlakuan Dimas.
"Apa salah Mama! Jelas, Mama salah dan melewati batas. Apa yang telah Mama lakukan pada Aqila di gudang!" bentak Dimas.
Davina pun merutuki kebodohannya. Dirinya melupakan Dimas yang juga mengetahui perihal gudang itu. "Sialan. Aku lupa, kalau Mas Dimas juga tahu soal gudang di dekat danau." batin Davina berucap dalam hati.
"Mama, baru sampai dari luar bersama Clarissa dan juga Ervin. Bagaimana mungkin Mama bisa mengurung Aqila disaat keluar rumah?" kilah Davina berusaha menutupi kesalahannya.
"Bohong. Mama berbohong. Kalau mau menyekap Aqila, kenapa dirumah ini. Kenapa tidak luar rumah ini, Ma. Mama pikir, Papa akan percaya dengan perkataan Mama barusan." kata Dimas menunjuk tepat di wajah Davina.
Davina lagi-lagi kalah telak. Bagaimana dia bisa melupakan Dimas yang pandai berargumen.
"Ya. Mama yang mengurung Aqila karena Papa pergi berdua dengan gadis kampung itu. Sekarang, apa yang akan Papa lakukan setelah mengetahui hal ini, hah!" teriak Davina yang tidak mau kalah dengan Dimas.
Dimas merasa heran dan tidak habis pikir dengan sifat istrinya itu. Bagaimana bisa dirinya menikahi wanita ular seperti Davina ini. Akhirnya Dimas meminta kartu kredit dan kunci mobil pada Davina sebagai hukuman dirinya karena telah mengurung Aqila tanpa sebab dan alasan yang tidak masuk akal.
Davina awalnya tidak menyetujui permintaan suaminya. Tetapi, dirinya diancam akan dimasukkan penjara bila berbuat jahat pada Aqila lagi. Dengan terpaksa Davina menyerahkan beberapa kartu kredit dan kunci mobil pada suaminya itu.
Dimas pun pergi dari kamar dan menutup pintu dengan keras hingga Davina terkejut kedua kalinya.
"Dasar berengseeek kamu Dimas! Awas kamu, akan ku balas perbuatanmu tiga kali lipat dari ini!" teriak Davina dengan melempar vas bunga dan semuanya yang berada di dekatnya.
Di kamar, Dimas pun merebahkan tubuhnya yang lelah setelah apa yang terjadi hari ini. Dirinya tidak menyangka istrinya akan melakukan hal itu kedua kalinya terhadap Aqila. Gadis yang mulai masuk ke dalam hidupnya.
"Maafkan aku, Aqila. Andai saja aku tahu, kalau Davina akan berbuat jahat padamu. Aku akan menolongmu tepat pada waktunya," gumam Dimas menatap langit-langit kamar.
Dirinya merasa bersalah dengan Aqila dan sesak di dalam hatinya saat mengetahui kekasih yang dicintainya disekap dua kali dengan orang yang sama.
Di kamar berbeda, Ervin terus memikirkan Aqila yang berada di gudang. "Aqila. Bersabarlah, aku ingin memberitahu pada Papa malam ini tentang Mama dan Clarissa yang menyekapmu di gudang." gumam Ervin langsung keluar kamar menemui Dimas dan belum mengetahui bahwa Aqila telah diselamatkan oleh Dimas papanya sendiri.
Tok…tok…tok
"Masuk."
Ervin membuka pintu dan duduk di sofa saat papanya sedang menatap laptop. "Selamat malam, Papa."
"Malam juga Ervin. Ada apa, malam-malam begini kamu datang kemari?" tanya Dimas menatap Ervin sekilas dan melanjutkan mengerjakan tugasnya di laptop.
"Hmmm…!" Ervin ragu mau mengatakan pada papanya. Tetapi, jika bukan papanya siapa lagi yang dimintai menolong Aqila.
"Papa. Ervin butuh bantuan, Papa," pinta Ervin memohon pada Dimas.
"Apa itu? Katakan saja," ucap Dimas tetap fokus pada pekerjaannya.
"Ini tentang Aqila," Ervin berbicara dan Dimas berhenti sejenak menatap kembali Ervin.
"Ada apa dengan Aqila?" tanya Dimas.
"Papa, tolong Aqila. Dia berada di gudang seharian ini. Ini semua karena Mama dan Clarissa yang mengurung Aqila disana," terang Ervin dan membuat Dimas kembali terkejut.
"Clarissa! Clarissa ikut andil dalam penyekapan Aqila?" tanya Dimas bahwa pendengarannya tidak salah.
"Kenapa, kamu tidak bilang pada Papa, Ervin?" Dimas merasa heran dengan Ervin yang tidak menghubunginya sejak awal.
"Maaf, Papa. Sebab, Mama mengawasiku dan seharian ini mengantar Mama dan Clarissa ke mall," jawab Ervin dengan perasaan bersalah.
"Papa, maafkan. Tapi lain kali hubungi Papa bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan."
"Soal Aqila kamu tenang saja. Papa sudah membebaskannya dari gudang itu. Dan Mama sudah dihukum atas perbuatannya. Mengenai Clarissa, Papa sungguh terkejut dan baru mengetahui hal ini, Ervin. Terima kasih." jelas Dimas dan meminta Ervin untuk tenang.
"Syukurlah. Terima kasih, Papa. Aku sayang, Papa." Ervin memeluk Dimas erat dan Dimas membalasnya dengan tersenyum.
Ervin pun akhirnya berpamitan pada Dimas untuk kembali ke kamarnya karena sudah malam dan Dimas akan memikirkan hukuman untuk Clarissa esok harinya.
lanjutin aja laaah 😎🤫🥺
heeeemmm mau alasan apalagi neeeh
yaakiiiiin neeeh 🫣🫣🏃🏃
ntar temen arisannya mengira jika Bayu lah suami Davina donk 👉👈
padahal sepasang kekasih itu akan seneng banget jika kekasihnya selalu berada di sampingnya
lha klo kamunya wafat, lalu yang menjaga Aqila siapa donk ???
eeeeiiiiitttssss tapi kamu kan masih terikat dengan pernikahan ya, lalu jaga Aqila gak bisa maksimal deeeh
kamu doa aja supaya Aqila selalu dalam lindungan Allah
aamiin ya rabbal alamiin
ternyata kena prank ama Kak Dina deeeeh
huuuuuuffttttt syukurlah jika itu semua hanya mimpi belaka
semula dirinya yang ingin membunuh Dimas eeeh ini malah dia sendiri yang wafat 👉👈
ada apa ini sebenarnya???
kenapa ada adegan tusuk menusuk seeeh....
Idul Adha kan masih lama tuuuh 🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃
dan Aqila yang sedang dalam posisi membawa pisau 😱😱😱😱
karena percuma aja, ikutan ajang kumpul-kumpul eeeh gak membawa pada kebaikan
kapan ya, Dimas akan mergoki Davina ama Bayu