Jayden harus menerima takdirnya sebagai seorang bintang, merasa tak memiliki orang yang mencintainya dengan tulus, bahkan Kayla, kekasihnya yang bertahun-tahun dicintainya, hanya memanfaatkannya untuk ketenarannya.
Hingga suatu saat dia bertemu dengan seorang wanita, wanita yang memandangnya dengan cara berbeda, namun bukan hanya itu yang dia temukan, 2 dunia yang berbeda memisahkan mereka bahkan sebelum kuncup cinta bisa mengembang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 -
Jayden membuka matanya, mendapat Launa masih ada di dalam pelukannya, terlihat begitu manja tidur di sampingnya, dia tersenyum, pagi harinya diawali dengan sangat indah.
Jayden tak bergerak sedikit pun, mencoba untuk membiarkan Launa agar tidur dengan lebih lama, tak jemu dia melihat wajah itu, dia bisa mencium wangi yang menenangkan, tak bisa menolak untuk bisa mencium dahi Launa.
Launa sedikit menggeliat, memutar tubuhnya hingga lepas dari pelukannya, tiba-tiba pintu kamar Launa terketuk lembut, membuat Jayden mengangkat tubuhya, dia perlahan turun dari ranjang itu, dan membuka pintunya,dia mengerutkan dahinya melihat wajah Mery yang sedikit cemas di sana.
"Ada apa?" tanya Jayden.
"Aku rasa kau sudah dijemput, " kata Mery memandang Jayden yang tadi wajahnya masih terlihat masih mengantuk, namun mendengar itu dia segera menatap Mery dengan sangat tajam.
"Mereka? sepagi ini?" kata Jayden yang tak percaya, dia kira ibunya akan menemukannya tidak ada di vannya siang hari ini dan mereka akan menjemputnya setidaknya sore hari ini sehingga dia masih punya waktu untuk bersama Launa, sepertinya ada yang akhirnya sadar bahwa dia tak ada di sana, yang pasti itu bukan ibunya.
"Ya, sebuah helikopter mendarat di lapangan tengah kota pagi ini, dan polisi mulai mencari keberadaanmu, aku rasa jika mereka menemukan mu di sini, ini tidak akan baik untukku atau Launa, jadi ...." kata Mery yang sungkan melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, aku tahu maksudmu, tapi ...." kata Jayden yang melirik ke arah Launa yang masih tertidur lelap di bawah selimutnya, tampak begitu nyaman.
"Akan lebih mudah jika kau meninggalkannya seperti ini, jika nanti dia sudah terbangun, aku yakin kau tak akan sanggup meninggalkannya, Jayden, banyak sekali polisi yang sekarang mencarimu," kata Mery lagi terlihat cemas, bisa saja mereka dituduh menculik Jayden jika mereka menemukannya di sini.
Jayden tentu tak rela, tak sedikit pun bisa rela meninggalkan Launa, namun dia harus menghadapi kenyataan, tempatnya memang bukan di sini, mau tak mau dia mengangguk pada Mery.
"Beri aku beberapa menit, dan aku meminta nomor ponselku, hingga aku bisa menanyakan kabarnya," kata Jayden pada Mery, Mery mengangguk, dia segera mencari kertas dan pena untuk menuliskan nomor ponselnya.
Sedangkan Jayden kembali masuk ke dalam kamar Launa, menutup pintu itu sejenak, berjalan melangkah kembali ke arah ranjang Launa, menatap wajah Launa yang begitu tenang, cantik sekali bahkan baru bangun tidur, benar-benar kecantikan yang begitu hakiki, Jayden mengelus kepala Launa dengan perlahan, wajahnya begitu sedih, suram sorot matanya, sendu cara dia memandang wajah Launa, tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, tak ada kata perpisahan, karena bagi Jayden ini bukanlah sebuah perpisahan, dia akan kembali, mungkin tubuhnya pergi dari sana, namun di tempat ini lah dia meninggalkan hatinya.
Jayden menyudahi sentuhannya di rambut Launa, mencium dahi Launa sejenak, lalu meninggalkan tempat itu segera, Jayden menggunakan kembali hoodie-nya, memakai masker dan segera menemui Mery.
"Ini, kau bisa menghubungi aku kapan saja," kata Mery menyerahkan sebuah kertas pada Jayden yang lansung di ambilnya, berisi deretan angka, Jayden langsung menyimpannya.
"Jagalah dia untukku, aku pasti kembali, katakan maaf karena pergi tanpa menunggunya bangun," kata Jayden begitu berat mengatakannya, sesekali matanya melihat ke arah kamar Launa.
"Baiklah, pasti," kata Mery yang sebenarnya juga tahu apa yang dirasakan oleh Jayden, pasti sangat sulit meninggalkan seseorang yang begitu berarti dalam hidupmu.
"Berikan padanya saat dia bangun nanti,"Kata Jayden memberikan satu-satunya peninggalan dari ayahnya, kalung dengan cincin sebagai mainannya, sebuah nama terukir di sana, nama ibu Jayden. Mery melihat kalung itu, dia lalu mengangguk mengerti.
Jayden hanya memaksakan sebuah senyuman, sebelum menutup wajahnya dengan maskernya, perlahan walaupun begitu berat dia keluar dari rumah itu, dia sesekali menatap ke arah rumah itu, Mery tampak di ambang pintu, tak tahu apa yang harus dikatakannya jika nanti Launa terbangun.
Jayden menunduk, berjalan menjauh, semakin jauh dia melangkah semakin dia merasa tak rela, ingin rasanya dia kembali berlari lagi ke rumah itu, namun dia menahan dirinya, apa yang dikatakan oleh Mery benar,, apalagi semakin dia dekat dengan kerumunan yang mulia terlihat, begitu banyak orang yang menyaksikan kejadian aneh, sebuah helikopter yang mendarat di daerah mereka.
Jayden berhenti, melihat asistennya yang tampak di antara kerumunan, mereka segera saling bertemu pandang, dan Asistennya itu segera berjalan ke arahnya.
Jayden hanya diam, rasanya tak sanggup lagi melangkah, dia hanya ingin kembali lari dan pergi dari sana, namun dia hanya bisa diam, terpaku begitu saja.
Asistennya berlari dan segera mendekatinya dan seluruh perhatian segera ke arahnya, sepertinya mereka tidak membocorkan kehilangannya, atau mungkin belum.
"Jayden," kata Asistennya itu segera melihat Jayden yang hanya terlihat matanya saja.
"Bagaimana bisa kalian meninggalkanku?" tanya Jayden yang membuat asistennya itu segera tampak terkejut, dia langsung memasang wajah sungkannya, dia dengan cepat merangkul Jayden dan segera menggiringnya menuju ke arah Helikopter seperti biasa mereka lakukan setelah Jayden selesai konser.
Mereka segera membawa masuk Jayden ke dalam helikopter, menerobos kerumunan yang benar-benar semakin padat, Setelah Jayden duduk, secepatnya mereka mengudara, Jayden melihat ke arah luar, mencari dengan mata nanar dimana dia bisa melihat rumah Launa, nyatanya dia tak mendapatkannya, dan mereka terbang menjauh.
---***---
Launa membuka matanya, tak ada bedanya saat dia menutup atau membukanya, dia lalu meraba ke arah ranjang di sampingnya, kemarin setelah sampai di rumah, dia dan Jayden menghabiskan waktunya bersama, dan seingat Launa bukannya kemarin dia tertidur di dalam pelukan Jayden yang nyaman?
Launa mencoba untuk duduk, ini kamarnya, dia tahu benar tata letaknya, dia segera turun dari ranjangnya, dia segera berjalan keluar, mencoba menggapai pintu kamarnya, membukanya perlahan, di ruangan tengah itu Mery segera melihatnya dan mendatanginya.
"Sudah bangun?" tanya Mery yang sebenarnya berwajah sedih, saat dia tadi melihat mata Jayden yang begitu tak rela meninggalkan mereka, Mery benar-benar tersentuh, menatap punggung pria itu pergi, hatinya sedih, dia sudah bisa membayangkan wajah Launa yang pasti sangat terpukul mengetahui pria itu pergi.
"Ya, Mery ....?" tanya Launa.
"Jayden sudah pergi, pagi-pagi tadi dia di jemput untuk segera pulang," kata Mery langsung menjelaskan, tahu betul apa yang ingin di tanyakan oleh Launa.
Launa terdiam, matanya yang biasanya penuh cahaya kini tampak suram, wajahnya yang tadi masih bisa tersenyum kini tampak datar, perlahan menunjukkan kesedihan.
"Dia sudah pergi? dia tak berpamitan padaku?" tanya Launa, merasa sangat sedih, bagaimana Jayden sama sekali tak berpamitan dengannya, bahkan tak membangunkannya sama sekali.
"Dia mengatakan dia tak sanggup untuk berpamitan denganmu, lagi pula keadaan tak memungkin kan baginya, Launa, Jayden bukanlah orang yang seperti kita, dia sangat berbeda, Launa aku rasa mulai sekarang kau harus merelakannya," kata Mery, walaupun dia tahu Jayden begitu tulus pada Launa, tapi jika begini, rasanya tak mungkin lagi ada jalan bagi Launa dan Jayden.
"Tapi dia menyuruhku untuk menunggunya," kata Launa dengan polosnya, air mata tampak sudah menumpuk di sudut matanya, Mery menggigit bibirnya menatap pemandangan itu, wajah Launa begitu sedih.
Ya, dia sangat sedih, sedih sekali hingga susah di katakan olehnya, dadanya serasa ingin meledak, kenapa tega sekali tak mengucapkan salam perpisahan? kenapa memberikan harapan namun pergi begitu saja tanpa pesan?
"Launa, percayalah, siapapun dia di dalam pikiranmu, Jayden bukanlah pria yang akan begitu gampangnya bisa bersamamu, bahkan jika dia sangat mencintaimu, keadaan kalian tak akan memungkinkan, jadi, dari pada kau menunggunya, menyia-nyiakan waktumu, aku hanya ingin mengatakan, lebih baik kau melupakannya sekarang," kata Mery lagi menatap air mata Launa yang meleleh dari matanya itu, bening sekali, jatuh begitu saja seolah mengatakan pada Mery betapa sakitnya yang di rasakan oleh Launa sekarang. Mery memeluk Launa yang segera menumpahkan segalanya, air matanya deras namun Launa hanya bisa diam, tangisnya pun diam, sesekali dia menarik napasnya, namun tangis begitu pula yang terasa begitu menyentuh, Dua hati saling mencinta, namun ternyata tak bisa menyatu, pasti sesak itu terasa.
Mery memegang kalung yang di berikan oleh Jayden, rasanya dia tak akan memberikan kalung itu pada Launa, bagaimana pun itu akan selalu membuat Launa mengingat Jayden, jadi lebih baik dia tak memberikannya.
kapan update abang jayden lagi...
udah setahun nungguin nya...