Terlahir menjadi anak yang terbuang tak membuatnya berkecil hati. Semangat yang dimilikinya kembali berkobar kala melihat banyaknya orang yang menyayanginya.
Namun dunianya berubah kala dirinya memutuskan untuk menikah. Meski harus merasakan kepahitan akan cinta pertamanya. Denisa tetap bisa bertahan meski pada akhirnya dia memilih mematikan hatinya demi membuang rasa sakitnya.
~Kau tak pernah tahu perihnya luka yang tak nampak namun terasa sangat menyayat jiwa. Jika luka gores itu akan hilang dengan sendirinya namun tidak dengan luka hati, sampai kapanpun dia akan tetap kekal abadi.... Denisa
~ Kuakui aku bodoh. Seharusnya aku menggunakan akal dan hatiku bukan menggunakan emosiku... Raka.
Bagaimana kisah mereka mengarungi biduk rumah tangga dengan bayang bayang cinta lain yang masih melekat di hati Raka.
Mampukah Denisa kembali merasakan cinta dalam hatinya yang telah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Keyakinan Hati
"Hem, harum sekali. Masak apa sayang?"
Raka yang langsung memeluknya dari belakang membuat Denisa berjingkat kaget. Dia yang memang setengah melamun bahkan tak menyadari jika suami tampannya itu telah keluar dari kamar dan bahkan kini berada disisinya.
Dagu yang diletakkan di pundak sebelah kanan membuat Denisa kikuk. Sikap mesra Raka selalu saja membuatnya tremor dan berdebar tak karuan.
"Nasi goreng seperti biasanya, mas. Maaf aku bangun kesiangan jadi hanya bisa menyajikan ini saja."
"Tak apa. Apapun itu aku akan memakannya selagi istriku yang memasaknya." Raka menyerukan kepalanya di perpotongan leher Denisa. Menghirup aroma menenangkan yang entah sejak kapan dirinya suka.
Pikirannya yang kacau tadi sedikit berkurang bahkan cenderung tenang. Aroma tubuh Denisa benar-benar obat yang mujarab baginya. Raka mendengus kecil mencoba menyelami hatinya yang nyeri.
Flashback.
Setelah masuk ke dalam kamar mandi. Raka tak lantas melakukan tujuannya disana. Lelaki itu memilih mendudukkan dirinya di atas closed dan merenung.
Ucapan Frans sebelumnya telah membuka benang kusut di hatinya secara perlahan meski simpul nya belum terlepas seutuhnya namun Raka bisa merasakan sedikit ke damaian. Tak lagi ada sesak yang berlebihan atau rasa tak nyaman di sepanjang harinya. Bahkan dengan sedikit membuka diri, Raka bisa menerima kehadiran Denisa sebagai seorang istri.
"Aku akan beristirahat kalau begitu."
"Hem, ya beristirahat lah."
"Jangan lupa jaga kesehatanmu disana."
"Tentu aku akan selalu mengingatnya."
"Aku merindukanmu Hon, sangat."
"Aku juga merindukanmu, kau sangat tau itu bukan?"
"Tentu. Karena aku yakin jika cintamu hanya untukku. Baiklah Hon, aku akan pergi bersama teman temanku nanti."
"Baguslah. Berhati-hatilah dijalan. aku akan menghubungimu lagi nanti."
"I love you hon."
"Love you too."
Percakapannya dengan Laras kali ini entah mengapa terasa sangat hambar. Apalagi sebelumnya dia mendapat laporan jika gadis yang masih berstatus kekasihnya itu tengah berada di apartemen seorang lelaki yang selalu dekat dengannya setiap kali Raka tak ada.
Suara dan sikap Laras yang ceria selalu mampu membuat Raka terkecoh selama ini. Sedihnya gadis itu seolah adalah jurang bagi Raka. Dia lemah jika sudah dihadapkan dengan air mata dan rengek an manjanya.
Sesuai saran dari Frans agar dirinya melepas secara perlahan rasanya. Raka benar-benar melakukannya, dia tak memaksa rasa itu pergi dengan sendirinya. Anggap saja dirinya sedang bermain drama dengan pemeran utama dirinya sendiri. Entah sampai kapan namun yang pasti Raka benar-benar menunggu hal itu usai dan dirinya terbebas dari segala rasa termasuk rasa bersalahnya pada Laras.
Raka mengusap wajahnya kasar. Dua hari ini hidupnya sedikit berwarna. Dirinya bisa tertawa lepas seolah tanpa beban. Keputusannya untuk menerima Denisa di sisinya ternyata memberinya suasana berbeda. Ada nyaman dan tenang dirasakannya selama istrinya itu berada disekelilingnya.
Bahkan terkadang tanpa sadar dia memeluk dan mencium gadis itu meski hanya sebuah kecupan singkat namun rasanya sangat berbeda. Mengingat Denisa membuat Raka tersadar dari lamunannya dan bergegas membersihkan dirinya.
Tanpa dia sadar jika kini ada hati yang menjerit terluka karenanya.
Flashback off.
"Mas nanti pulangnya malam?" Keduanya berada di depan pintu apartemen kali ini. Raka dengan pakaian lengkapnya yang bersiap ke kantor sedang Denisa dengan tas kecilnya yang selalu menemani kemana gadis itu pergi.
Penampilan sederhana Denisa tak pernah berubah meski kini dia menjadi seorang istri pembisnis muda yang namanya bahkan diidolakan beberapa wanita diluaran sana.
Akan tetapi tidak bagi Denisa, kebersamaannya dengan Raka saat ini sudah cukup membuat hatinya bahagia. Tak ada keinginan lain karena dia tahu dengan pasti jika kebersamaan itu mempunyai batasan waktu. Yang bisa dilakukannya hanya menyimpan semua kenangan terindah untuknya.
"Sepertinya hari ini bisa pulang cepat, kenapa? kamu mau jalan jalan lagi?"
"Ah tidak, bukan begitu mas. Aku mau ijin nanti sepulang kerja akan langsung ke supermarket. Persediaan di rumah sudah menipis jadi aku harus menambah stok lagi."
Raka menganggukan kepalanya. Ada rasa senang ketika Denisa memilih meminta ijin padanya tentang apa yang ingin dilakukan gadis itu. Padahal sejak awal dirinya tak pernah peduli, tak mau peduli lebih tepatnya dengan apapun yang berhubungan dengan Denisa. Tapi sekarang entahlah diapun tak mengerti tentang hatinya.
Tentang Cinta, pasti bukan. Karena hingga detik ini cinta itu masih tetap menyebutkan nama yang sama selama 4 tahun ini. Yaitu Laras.
Keduanya memilih berjalan keluar apartemen beriringan dan berpisah setelah sampai di basement. Raka yang langsung menuju tempat dimana mobilnya terparkir sedang Denisa yang melanjutkan langkah menuju resto yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempatnya tinggal.
.
.
.
Rico tersenyum kecil melihat kelakuan adik kembarnya dan Citra. Kedua gadis itu sedang mengacak-acak dapur kali ini. Entah apa yang ingin mereka buat yang jelas dapur tak lagi rapih seperti semula malah terkesan seperti kapal pecah.
Radit yang baru saja turun juga melakukan hal yang sama. Pemuda yang memiliki tinggi diatas rata-rata pemuda lain pada umumnya termasuk Rico itu sampai mengaga melihat ulah kedua orang di depannya.
Ingin marah namun lucu. Kedua pemuda itu akhirnya memilih membiarkan saja keduanya melakukan apa yang mereka inginkan.
"Sudahlah, lebih baik kita tunggu saja hasilnya. Semoga tak mengecewakan." Keduanya tergelak seraya melangkah ke arah ruang tengah. meninggalkan kedua gadis yang sedang tertawa dengan riangnya didapur itu.
Tak ada obrolan yang berarti terjadi diantara keduanya. Hanya seputaran rencana reston dan juga Denisa. Tak ingin memisahkan karena mereka tak akan pernah ikut campur dengan urusan rumah tangga ke dua orang kakak yang sangat mereka sayangi. Akan tetapi mereka mempunyai misi untuk membuat sang kakak terutama Raka sadar akan perasaannya dan mampu menentukan keputusan yang tepat demi masa depannya.
Hingga satu jam berlalu barulah nampak Rena dan Citra memanggil keduanya untuk makan malam.
Keempatnya makan dengan lahap. Meski tampilannya sungguh tidak menggugah selera tapi pada kenyataannya rasanya tak mengecewakan. Terutama bagi Rena yang memang jarang sekali masuk ke dapur apalagi memasak.
Gadis itu sangat senang dengan senyum yang terus terukir di wajahnya. Matanya yang berbinar menambah kecantikannya. Putri Nyonya Yenni tersebut benar-benar merasakan bahagia apalagi melihat tatapan Radit padanya dengan senyum kecil di ujung bibir pemuda dengan tatapan teduh tersebut.
"Ah kenyangnya." Suara cempreng Citra membuyarkan lamunan Rena
Rico hanya tergelak sebelum mengajak Radit untuk pergi ke ruang tengah meninggalkan kedua gadis itu dengan segala kekacauan yang telah mereka buat.
"Abang, bantuin cuci piring napa sih?" Sungut Rena menatap kesal kakaknya yang malah menjulurkan lidah ke arahnya tanpa berniat membantu.
"Abang aku sumpahin ya."
"Sumpahin apa? makin ganteng gitu. Tentu saja dari orok abang sudah ganteng jadi tidak perlu lagi bantuanmu dek. Abang tetap ganteng meski tanpa doamu." Tengilnya.
"Au ah, abang nyebelin." Rena menghentakkan kakinya kesal. Gadis itu melangkah ke dapur dengan bibir mengerucut dan piring kotor di tangannya.
"Aku bantu ya."
Rena mendadak kaku, Radit berada disebelahnya dengan tangan yang cekatan menggosok piring kotor bekas makan mereka dengan spoon.
Sementara Citra yang berniat masuk ke dapur dan turut membantu malah ditarik tangannya oleh Rico dan membawa gadis itu kembali ke ruang makan untuk mengupas kan buah untuknya. Sebenarnya semua itu hanyalah modus Rico yang memang berniat mendekatkan adiknya dengan Radit. Selain melihat ketertarikan sang adik, Rico juga dapat melihat bagaimana sosok Radit yang sangat baik dan bisa bertanggungjawab. Rico hanya ingin adiknya bersama dengan orang yang tepat. Baik hati dan perbuatannya, semua itu dapat dia lihat dalam diri Radit yang sederhana.
tpi rayyan udah sama jennie kan thor di kota B..
selamat ya ren
jangan menunda momongan lah.. biar kan berjalan sesuai kehendak yg kuasa.. kalian cukup ngadon aja 🤭
mau liat live streaming ini 🤣🤣
gass yok
ibu telat 🤭🤭
akhirnya rencana berjalan lancar.
selamat untuk rena dan radit