dihianati suami dan adiknya, dan menjadi tameng bagi kebebrokan perilaku kedua orang terdekatnya. Afifah memutuskan untuk bercerai.
dah, gitu aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 - Raka Buming
Bab 16
"Itu pria yang di bus, kan?" gumam Afifah mengingat betul sosok pria yang duduk di sampingnya. Terlebih lagi hal yang membuat Afifah tak bisa lupa, yaitu karena pria itu memergoki Afifah tengah menonton rekaman CCTV suaminya yang menunjukkan adegan yang tidak senonoh.
Afifah bak tengah tertangkap basah menonton video porno di depan Raka. Meskipun memang ia melihat video tak pantas, tapi Afifah tidak bermaksud melihat tontonan seperti itu untuk iseng atau sekedar hiburan.
'Dia masih ingat padaku atau tidak, ya?' batin Afifah cemas.
Raka mengedarkan pandangan ke sekeliling gedung dan melihat Afifah yang berdiri tak jauh darinya. Ya, pria itu masih ingat betul dengan Afifah. Meskipun hanya sekilas, tapi Raka masih ingat bagaimana sosok Afifah.
"Semuanya kumpul dulu!" panggil atasan Afifah.
Beberapa pegawai pun mulai berkumpul, termasuk Afifah. "Ini Pak Raka Buming. Pak Raka ini yang akan menggantikan Pak Tito."
"Salam kenal semua, semoga kedepan kita bisa bekerja sama dengan baik." sapa Raka ramah.
"Siap pak." Semua menjawab serentak.
"Pak Raka, ini semua bagian dari quality kontrol. Yang di kiri itu namanya Bu Yuni, yang paling lama di pabrik ini. Yang di sebelahnya namanya mbak Alika. Mereka yang pegang bagian voice." Kata atasan Afifah memperkenalkan satu persatu orang yang akan menjadi rekan kerja Raka nantinya. Raka mengangguk mengerti.
Atasan Afifah memperkenalkan lagi bawahan Raka, hingga tiba giliran Afifah.
"Nah, kalau yang ini, Afifah, salah satu karyawan terbaik. Pinter, masih muda juga pak, sayangnya udah nikah. Nggak bisa di gebet, pak." Kelakar atasan Afifah yang di sambut tawa oleh yang lainnya. Tentu, membuat istri dari Arga itu tersenyum malu.
"Oohh, Afifah, ya?" ucap Raka sembari mengulurkan tangan pada Afifah.
Afifah menyambut uluran tangan Raka dan menjabat tangan pria tampan itu. "Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik, pak." tukas Afifah lirih.
"Senang kita bisa bertemu lagi!" celetuk Raka pada Afifah. Pria itu juga menekankan kata "lagi", untuk memberitahu Afifah kalau dirinya mengingat Afifah.
Afifah membulatkan mata lebar-lebar. Kata "lagi" yang diucapkan oleh Raka hampir saja membuat wanita itu tersedak.
"L-lagi? Maksudnya?" tanya Afifah berpura-pura bodoh. Wanita itu tak mau mengakui kalau dirinya pernah berjumpa dengan Raka dan terlibat kejadian yang cukup memalukan bagi Afifah.
Raka tersenyum. Wajar saja Afifah tak mau mengaku. Pasti Afifah merasa malu. Pikirnya.
"Masih nonton, Mbak Afifah?" bisik Raka membuat wajah Afifah langsung memerah.
"M-maaf! Saya permisi ke toilet!" pamit Afifah segera melarikan diri.
Wanita itu berlari kencang menuju kamar mandi dan bersembunyi di sana selama beberapa waktu. "Astaga! Dia masih ingat aku? Memalukan sekali!" rengek Afifah tak lagi memiliki muka di depan Raka.
Rasanya ia ingin menghilang saat ini juga. Bertemu kembali dengan Raka hanya akan membuka kembali rasa malu yang sudah ia coba untuk lupakan.
"Aku harus bertemu dengan orang itu setiap hari? Di sini? Oohh, tidak! Ujian macam apa ini?" gumam Afifah tak percaya. Lebih baik ia ditelan bumi sekarang juga, daripada harus melihat Raka meledeknya.
"Apa yang akan dia pikirkan tentang aku? Dia pasti mengira aku wanita mesum yang suka melihat video porno!" gerutu Afifah.
Mau tak mau, Afifah harus menghadapi Raka. Tak mungkin juga ia harus keluar dari tempat kerja hanya karena masalah sepele. Tapi tetap saja harga dirinya merasa terinjak-injak setiap kali ia melihat Raka.
Begitu jam kerja usai, Afifah langsung melarikan diri dari kantor sebelum ia berjumpa lagi dengan Raka. Ini baru hari pertama. Entah apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya, di mana wanita itu harus bekerja sebagai bawahan Raka.
"Bagaimana nasibku di kantor besok?" gumam Afifah hampir merasa putus asa karena keberadaan Raka.
Hari-hari berikutnya, Afifah pun makin gencar menghindari Raka. Tentu saja, menghindar tanpa menimbulkan kecurigaan bagi orang lain ataupun Raka itu sendiri. Seperti pagi ini, saat ia mendengar namanya di pengeras suara untuk segera datang ke ruang meeting kecil.
"Haahh,, aku nggak sanggup ketemu sama pak Raka. Tapi, aku juga nggak bisa menghindar terus." Gumam Afifah saat masih berada di front line dan memberi briefing pada pekerja lapangan. Afifah tau, Raka lah yang memanggilnya. Karena memang selama ini Afifah hanya mengirim laporan lewat email. Kadang juga hanya menitipkan beberapa berkas pada Yuyun atau teman sesama Quality control lainnya.
Sementara itu di ruang meting kecil. Raka melihat jam yang melingkar di lengannya. Menunggu Afifah tak kunjung muncul, sedangkan waktu terus berjalan.
"Afifah kok lama ya?" Tanya nya pada beberapa orang yang hadir.
"Lagi briefing kali, pak." Sahut Bu Yuni.
"Udah dapat sounding, kan?"
"Udah, pak." Jawab Yuyun.
"Ya udah kita mulai aja,"
Hingga meeting usai, Afifah tak juga menampakan batang hidungnya. Raka sebenarnya cukup puas dengan laporan yang Afifah berikan. Tapi, dia hanya tak suka dengan sikap Afifah yang seperti menghindari dirinya.
"Yuyun!" Panggil Raka pada sahabat Afifah itu.
"Iya pak?" Sahut Yuyun menoleh dan menghentikan langkah.
Raka sedikit berlari hingga mereka berdiri sejajar. "Kamu temennya Afifah kan?"
"Iya, pak."
"Saya merasa sedikit heran dengan temanmu itu. Apa dia dengan pak Tito juga kirim laporan lewat email? Nitip tanda tangan sama yang lain?"
"Enggak juga sih, pak. Emang kita kan kadang butuh email buat beberapa laporan."
"Iya, benar. Masalahnya, dia selalu kirim lewat email. Dan selalu orang lain yang antar laporannya pada saya."
"Wah, iya juga ya, pak? Aneh." ucap Yuyun menanggapi.
"Kamu tau kenapa?" Tanya Raka. Yuyun hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Katanya profesional dalam bekerja? Kerjaan dia sih saya suka. Cuma satu, dia kek menghindar gitu dari saya."
"Heemmm...." Yuyun pun jadi ikut berpikir.
"Apa dia suka sama saya ya, Yun?"
"Haahh?" Yuyun tampak kaget mendengar ucapan Raka yang tentu saja langsung tertawa melihat ekspresi Yuyun.
"Enggak, enggak, becanda doang." Ucap Raka memegangi perutnya.
"Bisa aja sih pak, dia kan lagi proses cerai. Eehh." Yuyun segera menutup mulutnya karena kelepasan. Melirik Raka dengan pandangan canggung.
"Proses cerai?"
"Bapak kan ganteng, pinter lagi, wajar kalau banyak yang suka." ungkap Yuyun mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tadi kamu bilang Afifah proses cerai?"
Yuyun merasa bersalah karena sudah kelepasan bicara, hanya bisa tersenyum cangung.
terimakasih author
bahwa kehadirannya sungguh berharga.,. wkwkkkk