Gara-gara ucapan nenek misterius yang entah darimana asalnya, Raya dan Rafa terpaksa menerima perjodohan oleh kedua orangtua mereka yang bersahabat.
NOVEL INI MASIH BANYAK YANG BELUM DIREVISI, MOHON MAAF BILA MASIH BANYAK KESALAHAN PENULISAN🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Mulai terbiasa
Hari berganti hari. Bulan pun ikut berganti, menyatukan dua orang berbeda karakter memang tidak mudah. Namun semua berjalan dengan baik karena terbiasa.
Pengalaman demi pengalaman mengajarkan kita untuk lebih bersabar pada hidup yang terkadang tidak sesuai keinginan.
"Yah aku dateng bulan," Raya yang sedikit kecewa karna bulan ini ia juga datang bulan. padahal dia ingin cepat hamil agar beban di hatinya segera berlalu.
"Kok wajahnya ditekuk gitu?" tanya Aima yang heran melihat menantunya murung lagi.
"Aku lagi datang bulan ma."
"Terus?"
"Ya jadi gak hamil dong ma."
"Jangan putus asa gitu dong! kan bisa coba lagi!"
"Tapi ini udah 3 bulan kita nikah ma."
"Pasangan lain juga udah tahunan malah, masih juga belum hamil."
"Assalamualaikum," tiba-tiba Rahma datang berkunjung kerumah.
"Waallaikumssalam."
"Eh bundaaaaa," Raya berlari langsung memeluk sang bunda, walau bertemu seminggu sekali namun Raya selalu kangen dengan bundanya itu.
"Kalian lagi apa?serius banget kayak nya." tanya Rahma, dan ikut bergabung di dapur.
"Ini Lo Rah, anakmu lagi galau."
"Galau kenapa, sayang?" tanya Rahma sambil mengelus rambut Raya.
"Raya datang bulan lagi bulan ini, makanya dia gak semangat," jawab Aima.
"Udah gak sabar punya bayi ya?" ledek Rahma.
"Bunda, jangan mulai deh!"
"Iya iya, kamu tuh sabar la Ray!mungkin belum saatnya kalian punya anak sekarang."
"Tapi waktu kita gak banyak Bunda, bukannya Rafa harus punya keturunan sebelum umur 20 tahun?"
"Iya mama tau Ray. Tapi kalo tuhan memang gak ngasih Rafa keturunan ya kita bisa apa," ucap Aima pasrah. Memang ketakutan itu selalu ada namun Aima berusaha ikhlas.
"Lagian tuh nenek nenek siapa sih? bikin orang merinding aja," Raya bergidik ngeri membayangkan wajah si nenek misteri.
"Huuss kamu jangan asal ngomong!gimana pun kamu kan gak tau kejadian itu. Kalo kamu tau Ray. Bunda aja sampai sekarang masih merinding kalo inget kejadian itu."
"Udah udah jangan bahas masa lalu, mending kita ngobrol yang lain aja!" potong Aima.
"Oh ya, nak Rafa gimana kerjanya di kantor Bayu, betah?" tanya Rahma.
"Ntah la Rah, kata mas Bayu kayaknya Rafa gak minat jadi pebisnis Rafa lebih tertarik jadi dokter."
"Raya sih setuju kalo Rafa jadi dokter, soal nya Rafa kan jenius di sekolah ma,bun, sayang kalo otaknya gak di gunain."
"Liat nanti aja deh. lain kali kita bahas lagi tentang ini. Mama cuma dukung aja karna apapun keputusan yang kamu sama Rafa ambil, mama yakin kalian udah mikir matang-matang sama keputusan kalian."
"Bener tu Ray, bunda juga seneng kalau liat anak mantu bunda seneng."
Percakapan berakhir, Rahma pamit pulang karna hari sudah sore dan tak lama kemudian Rafa dan Bayu pulang dari kantor.
"Kamu beneran gak tertarik jadi pebisnis Raf?"
tanya Raya setelah Rafa selesai mandi.
"Bukan gak tertarik sih,lebih tepatnya kurang percaya diri aja."
"Padahal tampang kamu cocok lo jadi CEO." dengan wajah senyum malu-malu.
"Emang jadi CEO itu cuma modal ganteng?" Rafa dengan wajah yakin.
"Siapa bilang kamu ganteng?" raut ketus mulai lagi.
"Bukan nya tadi kamu bilang tampang ku cocok jadi CEO?" sedikit kesal.
"Emang semua CEO, ganteng??" ketus tingkat dua.
"Gak juga sih," jawab Rafa sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Menghadapi Raya memang butuh kesabaran extra. Tapi seiring waktu kesabaran itu tumbuh karena terbiasa....
Kau dengar gosip aja udh marah berhari hari, pdahal cuma gosip.
Semantara drimu dgn sadar, dn sukarela berhubngan dgn laki2 lain bahkan smpai jumpa kluarganya disaat berstatus istri org