"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Suara warga yang memergoki mereka langsung memecah kesunyian malam.
"Kalian ini sedang apa?" bentak seorang lelaki sambil mengangkat lampu senter. Sorot cahayanya jatuh tepat ke tubuh Ranu dan Galuh yang masih sama-sama terduduk di lantai semen yang basah.
Galuh langsung tersentak. Wajahnya memucat. Ia buru-buru mendorong tubuh Ranu agar menjauh.
"Pak... bukan seperti yang Bapak pikirkan!" ucap Galuh gugup.
Ranu segera bangkit. Kemejanya yang tadi ia kenakan setelah mandi belum sempat dikancingkan seluruhnya. Dua kancing bagian atas masih terbuka. Rambutnya juga masih basah.
Sementara itu, Galuh yang sempat terjatuh membuat roknya tersingkap. Bahu kirinya sedikit terlihat karena kain bajunya ikut tertarik saat tubuh Ranu menimpa dirinya.
Pemandangan itu justru membuat para warga semakin yakin dengan dugaan mereka.
"Astaga..."
"Kurang ajar!"
"Berani sekali berbuat macam-macam di rumah orang!"
"Apa kalian pikir di sini sepi jadi mau berbuat asusila?"
Galuh buru-buru merapikan bajunya.
"Tolong dengarkan dulu. Beliau ini terpeleset. Tadi lantainya licin."
"Benar," sambung Ranu tenang. "Saya kehilangan keseimbangan."
Namun penjelasan mereka seolah menguap begitu saja.
"Halah! Jangan beralasan."
"Apa kami harus percaya?"
"Kalau cuma jatuh, kenapa posisinya begitu?"
"Kalau cuma terpeleset, kenapa bajumu berantakan?"
Ucapan demi ucapan terus menghujani mereka.
Galuh menggigit bibir bawahnya.
"Demi Allah, tidak terjadi apa-apa."
"Tidak usah bersumpah!" bentak seorang ibu. "Kami melihat dengan mata kepala sendiri."
Keributan itu terdengar sampai ke dalam rumah.
Bu Burhan bergegas keluar.
"Astaghfirullah... ada apa ini?"
Beliau memandang Galuh yang wajahnya sudah basah oleh air mata.
"Bu..." suara Galuh bergetar.
Seorang warga langsung menunjuk ke arah Ranu.
"Kami memergoki mereka berduaan di belakang rumah."
"Berduaan?" potong Bu Burhan cepat. "Galuh memang sedang mencuci tadi, Bu. Tamu kami juga tadi mau ke kamar mandi. Mungkin ini salah paham saja, Bu ibu."
"Iya, Bu," sambung Galuh. "tadi bapak ini terpeleset."
Bu Burhan ikut mengangguk.
"Benar. Saya sendiri yang menyuruh Galuh mengantar tamu ke kamar mandi."
"Tapi kami melihat sendiri mereka saling tindih!"
"Itu karena jatuh!"
"Tidak mungkin!"
"Mana ada orang jatuh sampai begitu."
Suasana semakin panas.
Ranu menghela napas panjang.
"Saya tidak akan mengulang penjelasan yang sama. Saya memang terpeleset."
Nada bicaranya tetap datar.
Justru itu membuat warga menganggapnya tidak merasa bersalah.
"Lihat itu."
"Masih berani membela diri."
"Orang kota memang pandai bicara."
Galuh memejamkan mata. Rasanya marah sekali. Ia merasa tidak ada lagi yang mau mendengar.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki tergesa. Pak Burhan datang bersama Supardi.
"Ada apa ini?" tanya Pak Burhan kebingungan.
Seorang warga langsung menjawab. "Pak Burhan, tamumu berbuat tidak pantas dengan anak perempuan mu."
Wajah Pak Burhan berubah. Tatapannya berpindah kepada anaknya. Seolah meminta penjelasan.
"Dia terpeleset tadi, pak," jelas Galuh.
Lalu pak Burhan pindah ke Ranu.
"Dia benar."
"Halah, mana ada maling mau ngaku!" seru warga, seorang ibu-ibu.
Galuh menggeleng berkali-kali.
"Pak... tidak seperti itu."
Pak Burhan tidak langsung menjawab. Ia mengenal putrinya. Tetapi, apa yang dilihat warga membuat pikirannya bercampur aduk.
Supardi maju selangkah.
"Pak, saya yakin Pak Ranu tidak melakukan hal seperti itu."
"Kenapa yakin?"
"Saya sudah lama bekerja dengan beliau."
"Memangnya kamu melihat kejadian tadi?"
Supardi terdiam. Ia memang tidak melihat. Seorang tokoh kampung akhirnya maju.
"Daripada ribut terus, lebih baik dibawa ke balai desa."
"Iya."
"Biar kepala desa yang memutuskan."
Galuh langsung panik.
"Jangan..."
Arkan yang sejak tadi berdiri di pintu rumah mulai menangis.
"Ibuk..."
Galuh langsung memeluk anaknya.
"Sudah... jangan menangis."
Arkan memandang wajah ibunya yang dipenuhi air mata.
"Ibuk kenapa?"
Galuh tidak sanggup menjawab. Pak Burhan memejamkan mata cukup lama. Sebagai seorang ayah, ia ingin mempercayai putrinya. Namun sebagai warga desa, ia tahu kabar seperti ini tidak akan berhenti hanya dengan penjelasan.
Nama baik Galuh sudah telanjur menjadi bahan pembicaraan. Tokoh kampung kembali bersuara.
"Pak Burhan."
"Iya."
"Kalau memang tidak ada penyelesaian malam ini, besok seluruh desa akan membicarakan anakmu."
Pak Burhan menunduk. Suaranya lirih. "Lalu... menurut Bapak harus bagaimana?"
"Sebaiknya dinikahkan."
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi. Galuh membeku.
"Apa?"
Ranu ikut mengangkat wajah.
"Saya bahkan baru mengenalnya malam ini."
"Tapi masyarakat sudah melihat kalian."
"Kalau tidak dinikahkan, nama baik perempuan ini akan hancur. Kau juga harus bayar denda. Kedua belah pihak."
Galuh memandang ayahnya. Pak Burhan tampak begitu terpukul.
"Galuh..."
Air mata kembali jatuh dari pelupuk mata wanita itu.
"Kalau memang ini yang harus terjadi... aku ikut keputusan Bapak."
Bu Burhan langsung memeluk putrinya. Tangis keduanya pecah. Arkan ikut menangis karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Ranu berdiri diam. Hidupnya terasa seperti sedang dipermainkan keadaan. Ia datang hanya karena mobil rusak. Kini ia diminta menikahi perempuan yang baru dikenalnya.
Supardi mendekat pelan.
"Pak..."
Ranu memejamkan mata. Lalu membuka dompetnya.
"Uang tunai saya hanya ada dua ratus ribu."
Tokoh kampung mengangguk.
"Itu saja cukup."
Malam itu juga akad sederhana dilaksanakan di ruang tamu rumah panggung itu. Tanpa pelaminan.Tanpa pakaian pengantin. Tanpa senyum. Tanpa keluarga besar.
Hanya ada saksi, penghulu desa, dan warga yang masih memenuhi halaman. Ranu mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap. Mahar yang ia berikan hanya uang sebesar dua ratus ribu rupiah.
Sah.
Satu kata itu terdengar begitu berat. Seorang ibu berbisik kepada tetangganya.
"Cuma dua ratus ribu."
"Kasihan Galuh."
"Apa orang kota semiskin itu?"
"Enggak tau, dia bawa mobil loh."
"Hmmm, pelit dia."
"Bisa jadi itu cuma mobil rental."
"Nasibnya memang begitu. Ndak pernah mujur kurasa."
"Janda dapat suami orang kota."
Galuh mendengar semuanya.
Namun ia memilih diam.
Sedari awal tidak ada yang benar-benar ingin mendengar penjelasannya.
Kini ia sudah terlalu lelah untuk membela diri. Malam semakin larut. Pak Burhan menghela napas panjang.
"Maafkan kami, Pak Ranu."
Ranu menggeleng pelan.
"Ini bukan salah siapa-siapa."
Karena rumah hanya memiliki dua kamar, akhirnya Ranu tidur di ruang tamu bersama Supardi. Arkan justru tampak sangat bahagia. Ia membawa bantal kecil bergambar mobil. Lalu berdiri di depan Ranu.
"Pak."
Ranu membuka mata.
"Ada apa?"
"Boleh tidur sama Ayah?"
Kalimat polos itu membuat semua orang terdiam. Galuh yang sedang membereskan gelas langsung menoleh.
"Arkan."
"Tapi sekarang Ayah sudah ada."
Galuh menunduk. Dadanya kembali terasa sesak. Ranu memandang anak kecil itu cukup lama. Lalu menggeser sedikit tempat tidurnya.
"Kalau hanya malam ini."
Arkan langsung tersenyum lebar.
"Iya."
Anak kecil itu memeluk lengan Ranu tanpa rasa canggung. Tidak lama kemudian ia tertidur dengan wajah penuh kebahagiaan. Ranu hanya menatap langit-langit rumah. Matanya sulit terpejam. Ia masih belum percaya. Dalam satu malam hidupnya berubah sepenuhnya.
Pagi datang bersama suara ayam berkokok. Arkan sudah mengenakan seragam sekolah. Ia berlari menghampiri Ranu yang baru selesai mencuci muka.
"Ayah."
Ranu menoleh.
"Hari ini antar Arkan sekolah ya."
"Ayah baru Arkan."
"Aku mau kenalkan ke teman-teman."
Galuh langsung menarik pelan bahu anaknya.
"Arkan."
"Tapi Buk..."
"Jangan memaksa."
Arkan langsung cemberut. Tatapannya berpindah kepada Ranu yang tetap memasang wajah dingin.
"Baik..."
Tak lama kemudian Supardi datang membawa kabar.
"Pak, mobilnya sudah selesai diperbaiki."
Ranu mengangguk. Ia kembali masuk ke dalam rumah. ia menulis dalam kertas kecil dan menyerahkan nya pada Galuh.
"Kalau ada sesuatu yang penting, hubungi nomor ini."
Hanya itu. Tidak ada janji. Tidak ada penjelasan. Tidak ada ucapan akan kembali.
Ranu berjalan menuju mobil. "Arkan! Ayo! Aku antar kamu ke sekolah."
"Horee!" Arkan berlari sampai halaman sambil bersorak.
"Arkan!" panggil Galuh, lalu menggeleng. Dia gak bisa membiarkan orang asing membawa anaknya.
"Tapi, Ayah..."
"Enggak!"
"Buk..."
Ramu hanya menatap, tapi lalu berbalik masuk ke mobilnya. Dia tak akan memaksa, dia tau ketakutan seorang ibu ketika anaknya ikut orang asing.
"Ayah!"
Mobil itu perlahan menjauh. "Jalan!"
"Ayah!"
Anak kecil itu masih melambaikan tangan hingga kendaraan tersebut menghilang di tikungan.
Galuh hanya berdiri mematung. Angin pagi meniup rambutnya.
****
Perjalanan pulang terasa begitu panjang. Setibanya di rumah, Ranu langsung masuk ke kamar. Ia merebahkan tubuh tanpa mengganti pakaian.
"Ning... Kenapa takdir begitu aneh?"
Matanya terpejam. Semua kejadian semalam terus berputar di kepalanya. Ia datang sebagai pria lajang. Pulang sebagai suami dan ayah bagi seorang anak yang bahkan baru dikenalnya.
Keesokan harinya, Ranu kembali menjalani rutinitas. Supardi mengantarnya menuju kantor Global Sentosa CV. Mobil berhenti di halaman gedung. Ranu turun sambil merapikan jasnya.
Ia melangkah menuju ruang direktur. Namun langkahnya mendadak terhenti. Di depan meja sekretaris berdiri seorang wanita.
Wanita itu mengenakan kemeja putih dan rok hitam rapi. Rambutnya disanggul sederhana. Saat mata mereka bertemu, keduanya sama-sama membeku.
"Kamu...!?"
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up