Rindu menerima tawaran Azahra bos di kantornya untuk menjadi surrogate mother. Walaupun pamannya melarangnya, Rindu tetap nekad menjadi surrogate mother. Karena ia ingin menebus sertifikat rumah pamannya yang digadaikan ke bank.
Namun rencana tidak seindah yang dibayangkan. Ketika Rindu sedang hamil empat bulan, Azahra meninggal dunia karena penyakit jantung. Sedangkan suami Azahra yang bernama Nizam sulit untuk dihubungi.
Bagaimanakah dengan nasib Rindu dan bayi di dalam kandungannya?
Follow ig Deche @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Nazriel
Setelah selesai mandi, Nazriel bergabung dengan keluarganya di ruang makan. Ia duduk di sebelah Rindu. Ibu Neri dan Pak Haidar sudah selesai makan. Mereka sedang makan buah-buahan. Sedangkan Rindu belum selesai makan.
“Maaf, ya. Kemarin aku tidak datang ke pernikahan kamu sama abang. Karena aku sedang ada seminar di Australia,” kata Nazriel sambil mengambil lauk-pauk yang berada di atas meja.
“Iya. Tidak apa-apa,” jawab Rindu.
Nazriel melihat perut Rindu yang mulai membuncit.
“Keponakanku sudah berapa bulan?” tanya Nazriel.
“Sudah lima bulan,” jawab Rindu.
“Berarti melahirkannya empat bulan lagi,” kata Nazriel.
“Iya,” jawab Rindu.
Ibu Neri dan Pak Haidar memperhatikan Nazriel yang mengajak Rindu terus menerus.
“Sudah jangan diajak bicara Rindu terus! Biarkan Rindu makan dulu,” kata Ibu Neri.
“Namanya juga baru kenalan, Mah. Tak kenal maka tak sayang,” jawab Nazriel.
Akhirnya Nazriel menghentikan pembicaraannya. Ia pun mulai makan. Tak lama kemudian Rindu sudah selesai makan.
“Loh, kenapa berhenti?” tanya Nazriel.
“Sudah kenyang,” jawab Rindu.
“Ayo makan lagi. Ini makanannya masih banyak,” kata Nazriel sambil menunjuk makanan di meja makan.
“Nggak ah, mau makan buah-buahan saja,” jawab Rindu. Rindu mengambil buah jeruk lalu memakannya.
Setelah selesai makan Rindu kembali ke kamarnya. Ia berbaring di kamarnya. Ia memandangi sekeliling kamarnya.
Sampai kapan aku di sini? tanya Rindu di dalam hati.
Tiba-tiba Rindu teringat kepada pamannya. Ia belum mengabari kalau ia sudah berada di Bandung. Rindu mengambil ponselnya. Ia menelepon pamannya.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Adjat.
“Waalaikumsalam,” jawa Rindu.
“Bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Pak Adjat.
“Alhamdullilah baik,” jawab Rindu.
“Paman, Rindu mau memberitahu kalau sekarang Rindu sudah berada di Bandung,” kata Rindu.
“Alhamdullilah, syukurlah kalau kamu sudah di Bandung,” ucap Pak Adjat.
“Sewaktu Pak Haidar mau berangkat ke Singapura, Pak Haidar menelepon paman. Ia bilang ia dan istrinya akan menjemputmu ke Singapura,” kata Pak Adjat.
“Oh ya, Paman. Tolong bilang ke Haikal, kalau ia ada waktu suruh mampir ke rumah Pak Haidar. Rindu punya sedikit oleh-oleh untuk Paman, bibi dan adik-adik,” kata Rindu.
“Kenapa kamu repot-repot membelikan oleh-oleh untuk semua orang di rumah? Lebih baik kamu simpan saja uangmu,” kata Pak Adjat.
“Tidak apa-apa, Paman. Kebetulan waktu itu Rindu baru pulang dari dokter, Rindu mampir ke Arab Street. Di sana banyak toko oleh-oleh, jadi sekalin Rindu beli oleh-oleh,” ujar Rindu.
Tiba-tiba terdengar suara kasak kusuk di belakang Pak Adjat. Sepertinya adik-adiknya sedang mendengarkan pembicaraannya dengan Pak Adjat.
“Ayah, Teh Rindu bawa oleh-oleh?” Terdengar suara Nisa di telepon.
“Iya,” jawab Pak Adjat.
“Asyiiiiiikkkk Teh Rindu bawa oleh-oleh.” Terdengar suara teriakan Nisa.
“Ayah, pinjam teleponnya. Mira mau bicara sama Teh Rindu,” kata Mira.
“Hallo, Teh. Bener Teteh bawa oleh-oleh?” tanya Mira.
“Iya. Semua orang kebagian, tapi tidak banyak,” jawab Rindu.
“Alhamdullilah. Hatur nuhun, Teh,” ucap Mira.
“Sami-sami, Mir,” jawab Rindu.
“Nih, Yah.” Terdengar suara Mira mengembalikan telepon ayahnya.
“Kamu, orang tua lagi nelepon malah direbut teleponnya. Lagipula bukannya ditanya bagaimana kabar Teteh. Malah nanya oleh-oleh.” Terdengar suara Pak Adjat yang menegur Mira.
“Lupa, Yah.” Terdengar jawaban Mira.
“Ibu mau bicara sama Rindu.” Terdengar suaraI Ibu Emin.
“Assalamalaikum, Rindu,” ucap Ibu Emin.
“Waalaikumsalam, Bi,” jawab Rindu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ibu Emin.
“Alhamdullilah Rindu sehat, Bi,” jawab Rindu.
“Syukurlah kalau kamu sehat. Makan makanan yang bergizi, jangan lupa minum susu untuk Ibu hamil! Kurangi makan baso, lebih baik cari jajanan yang bergizi! Jangan terlalu cape harus cukup istirahat!” kata Ibu Emin.
“Iya, Bi,” jawab Rindu.
“Ya sudah, Bibi cuma mau bilang itu saja,” kata Ibu Emin.
“Sudah dulu, ya. Assalamualaikum.” Ibu Emin mengakhiri pembicaraan.
“Waalaikumsalam,” Rindu mematikan teleponnya.
***
Rindu sedang duduk di teras belakang rumah. Tiba-tiba Bi Imas menghampirinya.
“Non, di depan ada yang mencari Non Rindu,” kata Bi Imas.
“Siapa, Bi? Namanya Haikal bukan?” tanya Rindu.
“Betul, Non,” jawab Bi Imas.
“Suruh dia duduk dulu. Saya mau ke kamar sebentar,” kata Rindu.
“Baik, Non,” jawab Bi Imas.
Rindu pun beranjak menuju ke kamarmya. Tidak lama kemudian ia turun dari lantai atas sambil membawa gody bag ukuran besar. Rindu berjalan keluar rumah melalui garasi. Di depan rumah terlihat Haikal dan Nazriel sedang berbicara. Nazriel menggunakan jas putih persis seperti seorang dokter. Rindu menghampiri Haikal.
“Haikal,” panggil Rindu.
“Eh, Teh Rindu.” Haikal menyalami Rindu.
“Ini adik kamu, Rin?” tanya Nazriel kepada Rindu.
“Iya, Pak,” jawab Rindu.
Rindu memberikan gody bag kepada Haikal.
“Ini oleh-olehnya. Titip ya, Kal,” kata Rindu.
“Iya, Teh. Hatur nuhun, Teh,” ucap Haikal.
“Haikal pamit, Teh. Assalamualaikum,” ucap Haikal.
“Waalaikumsalam,” jawab Rindu dan Nazriel.
Haikal naik ke atas motornya, lalu meninggalkan rumah Pak Haidar.
.
.
.