"Lo tau Asam Sulfat? Tapi, itu belum cukup buat lelehin hati lo yang beku. Tapi, gue juga gak bakal Nyerah semudah itu"
~ Arfenik Arkasa
Arfen, si Bocah Sains sang badboy ahlinya PHP, Pemecah rekor murid terlambat setiap hari. Paling enggak bisa patuh sama peraturan.
Arfen yang gak bisa nurut peraturan terlalu hobi mengganggu Lathifa si gadis Hukum yang identik dengan peraturan dari kelas IPS Satu.
Siapa yang sangka, Gangguan iseng Arfen setiap harinya berakibat jatuhnya ia terlalu dalam pada cinta nya Lathifa.
Mampukah Arfen menaklukan Hati beku Lathifa? Apakah Lathifa si gadis hukum mau menerima sang BadBoy?
Ingin tau kisah nya?
Cek yuk ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
***
Kak Thifa cantik banget... Muka Shiren bisa gitu gak yah?
Batin Shiren. Bocah imut itu mengeluarkan sesuatu dari kantong Boneka beruang nya.
Cermin ajaib kesayangan. I lov yuuu
Batin Bocah mungil ini, menatap pantulan wajah nya dari cermin itu. Shiren menupi wajah nya yang tengah ia gaya - gaya kan, menggunakan boneka nya. Agar tak terlihat Arfen maupun Thifa.
Kira - kira, Orang secantik Kak Thifa mandi gak yah? Biasakan orang cantik kayak Shiren gak mandi.
Sambung nya lagi. Masih curi - curi pandang menatap lekat Thifa. Gadis yang saat ini sedang duduk di sebelah kakak nya.
"Kak Thifa... Shiren mau di pangku. Siapa tau cantik nya kak Thifa nurun ke Shiren" celetuk Shiren manja. Menatap nanar calon kakak ipar nya.
"Oik, umur Shiren udah sepuluh tahun loh" protes Arfen.
"Loh? Udah Sepuluh tahub Fen? Aku pikir masih Tujuh Tahun. Soal nya imut gini? " Tambah Thifa, menarik Tubuh mungil Shiren ke pangkuan nya. Apa yang Thifa katakan adalah Fakta, tubuh Shiren masih terlalu mungil, di tambah dengan wajah nya yang begitu imut.
Arfen begitu bahagia, ada Suara ria di hatinya. Melihat Shiren akrab dengan Thifa.
"Kak Arfen, belok kanan entar" Celetuk Shiren, menunjuk Arah nya.
"Rumah Sakit nya lurus. Gak ada belok kanan " protes Arfen.
"Tukang Buah nya di kanan, enggak ada lurus"
"Kita mau jenguk Raisa. Bukan mau beli buah"
"ini nih, punya kakak yang gak logis. Yah kalii kita ke Rumah sakit bawa udara doang. Bawa buah kek, apa kek, "
"Oh iyah, kakak lupa"
"Kak Arfen mah gitu. Kalo tuh mata enggak nempel di muka, tiap pergi pasti dah ketinggalan tuh mata. "
Thifa hanya menahan tawanya. Menurut nya, Adik dan Kakak ini luar biasa.
Cetakkkk
Selentikan Lembut Ala Arfen sudah mendarat ke pucuk kepala adik kecil nya.
"Arfen!! Nyetir aja deh! Gak usah ganggu adik gue! " bentak Thifa.
"Adik gue tuh. Lo kalo mau punya adik begitu, sini nikah sama gue. Bila perlu kita ke KUA sekarang " sahut Arfen santai, membelokkan mobil nya ke arah kanan.
"Anda siapa? Kak Thifa kenal Orang ini? Supir Kak Thifa? Kok mukak nya biasa aja? " ledek Shiren, yang berpura - pura tidak mengenal Arfen. menatap Penuh makna Thifa.
"Mau Kakak jitak lagi? "
"Kak Thifa~" rengek bocah itu manja, memeluk erat tubuh Thifa.
"Arfen"
Arfen berdecak kesal. Ia Sama sekali tidak bisa melawan dua gadis kesayangan nya itu.
***
"Kak Thifa kenapa berhenti? Ayo masuk. Di dalam ada kak Ais. Entar Shiren kenalin" celetuk Shiren polos, menarik tangan Thifa untuk masuk. Saat mereka sudah berdiri di depan kamar Raisa.
Kak Ais? Seakarab itu?
Batin Thifa. kaki nya terasa kaku, sangat sulit di gerakkan.
Bughh
Arfen menepuk pelan bahu Thifa. "Udah lah, Sayang jangan gagu gitu. Oh yah, Di dalam ada mamah mertua kayak nya"
"Udah yuk kak masuk. Ucapan supir enggak usah di terge. Biarin aja" Shiren dengan lugu nya menarik tangan Thifa masuk.
Thifa diam, Matanya lekat menatap Raisa dengan perban di kepala nya. Yah, Raisa yang tengah terbaring lemah di sana. Kini rasa gelisah di hati Thifa, terganti oleh rasa iba.
"Kak Ais... I Love yuuu.. Shiren bawa buah nih" celetuk Shiren, menggenggam tangan Raisa hangat.
"Kak Thifa. Sini ayo, Shiren kenalin sama Kak Ais. Sini.. " Panggil Shiren melambaikan tangan nya ke arah Thifa.
"Sayang, di panggil adik ipar tuh. Nyahut dong. Udah sana" bisik Arfen. Thifa mulai melangkah kan kakinya pelan. Memangkas jarak antara dirinya dan Raisa.
Sebenarnya apa hubungan Arfen dan Raisa? Kalau mereka pacaran, kenapa Shiren manggil Gue kakak ipar, dan kenapa enggak Raisa yang di panggil kakak ipar. Dan, kenapa Nenek nya Arfen bilang ngasih restu ke gue? Aneh. Tapi, Kalau emang Arfen dan Raisa bukan pacaran. Kenapa Arfen sebegitu perhatian nya ke Raisa? Kenapa Arfen sangat peduli sama Raisa? Terus, kenapa mamah Arfen sampai harus repot - repot nemenin Raisa? maksudnya apa?
Batin Thifa, Langkah pelan nya akhirnya terhenti di sebelah Shiren. Mata Thifa menatap lekat Raisa, khusus nya daerah luka nya.
"Kak Ais, kenalin Ini Kak Thifa. Dia ini Ca--"
"Dia itu Calon mamah dari anak - anak nya Arfen yah kan? " ujar Raisa langsung memotong ucapan Shiren.
"Kak Ais salah. Ini kak Thifa, Calon Kakak ipar nya Shiren"
"yah udah Itu sama Aja kan Adek Gue"
"Beda loh kak. Ngomong nya jangan ada nama Arfen nya. Harus ada Shiren nya"
Raisa tersenyum manis. Yah siapa yang tidak tersenyum mendengar kan celotehan aneh, bocah imut ini.
"Oh yah Kak Thifa. Ini kak Ais, Kakak sepupu nya Shiren" lanjut Shiren memperkenalkan Raisa.
***
Next?
Lanjutt?