Reyhan, Hasby Nugraha, Dera, Nanda dan Baron. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama, menikah dan berstatus duda bersamaan.
Siapa sangka, di balik keceriaan dan kekonyolan mereka. Tersimpan misteri masa lalu yang rumit.
Siapa menduga, salah satu diantara mereka putra salah satu jutawan. Siapa yang mengira, salah satu diantara mereka putra seorang mafia yang di takuti dan telah membunuh salah satu ibu sahabat kelima duda tersebut.
Akankah persahabatan mereka tetap abadi hingga maut memisahkan? atau misteri masa lalu akan terkuak dan memecah belah persahabatan mereka?
Kunci dari jawaban itu semua terletak pada orang tua masing masing.
Bagaimana kisah selanjutnya yang akan mewarnai perjalanan mereka? asmara, wanita, dan pertengkaran diantara mereka akan menjadi batu sandungan persahabat kelima duda tersebut.
Semua tokoh terinspirasi dari member grup chat. Yuk ikuti kisahnya, jangan lupa vote, like dan komen ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas dendam
Rini dan ketiga sahabatnya, Risfa Tyas dan Nur, berunding memikirkan ide apa yang pas untuk mengerjain balik para duda yang membuat mereka hari ini menangis dan ketakutan.
"Bagaimana? Apa kau punya ide?" Tanya Rini, menatap bergantian ketiga sahabatnya
"Tunggu bentar!"
Risfa bergegas ke dapur mengambil saos cabai dan menaruhnya di atas meja. "Campur aja nih saos di kopi mereka, biarin mules-mules tuh duda."
"Seperti nya ide nya bagus juga." Ucap Rini sambil menghayalkan para duda yang kocar kacir keluar masuk wc. "Bagaimana Tyas apa kamu setuju dengan ide Risfa?"
Risfa lalu menggandeng tangan Rini, membawanya ke dalam ruangan kerjanya yang kini ditempati si duda songong.
"Besok sebelum si songong dateng, kita kasih nih bangku lem korea. Dia kan duduknya sekarang disini, biarin lengket itu celana."
"Aku setuju sekali...bikin asin juga hahaha" timpal Tyas senyum senyum dan membayangkan ide tersebut
"Nahh, kalau mereka minta kopi kental kita campurin saos, kalau kopi item pait campurin garem," kata Risfa membayangkan duda songong tersedak.
Setelah mereka sepakat untuk balas dendam atas perbuatan para duda. Masing masing kembali pulang ke rumahnya karena jam kerja di kafe sudah selesai.
Ke-esokan harinya, rencana balas dendam terhadap kelima duda itu siap di lancarkan aksinya sebelum kelima duda tersebut datang ke kafe di jam kantor tempat mereka bekerja istirahat.
Risfa sudah meletakkan lem korea di kursi, tempat Nanda dan Hasby duduk di kursi tersebut. Tyas dan Rini, Nur, sudah mempersiapkan rencana yang kemarin mereka sepakati untuk membuat kelima duda tersebut sakit perut.
Berawal dari Dera, Rey dan Baron yang memesan kopi untuk menikmati jam istirahatnya sambil membicarakan pekerjaan. Dengan senang hati, Tyas dan Rini membuatkannya tanpa ragu ragu lagi. Setelah selesai meletakkan dua cangkir kopi di atas meja, mereka kembali ke dapur dan tertawa cekikikan membayangkan mereka tersedak dan sakit perut.
Namun beberapa menit menunggu, mereka tidak mendengar suara tersedak atau teriakan karena rasa kopi berubah pedas atau asin. Karena penasaran, akhirnya mereka mengintip di balik pintu. Ternyata ketiga duda itu tidak ada di tempat. Tyas dan yang lain berpikir kalau geng duda tengah ke toilet. Mereka pun kembali tertawa. Tetapi baru saja mereka merasa senang karena berhasil ngerjain para duda, tiba tiba Risfa memanggil ketiga temannya untuk menemui Nanda dan Hasby yang berada di ruangannya.
Risfa masuk ke ruangannya yang sekarang ditempati Nanda dan Hasby, di ikuti Tyas, Rini dan Nur dari belakang. Mereka memperhatikan Nanda dan Hasby yang hanya menggunakan celana pendek. Sementara celana panjangnya menempel di kursi. Mereka mencoba menahan tawa melihat kedua duda itu berhasil di kerjain.
Namun pada akhirnya mereka tidak bisa menahan tawanya. Hahahahaha!!"
"DIAM!" bentak Nanda sambil menggebrak meja, matanya menatap tajam ke arah Risfa dan yang lain.
"Mau kalian apa, sih! Semua sudah kami lakukan, dari bertukar tugas sampai salah satu dari kami harus berdandan seksi buat narik pelanggan." Ungkap kekesalan Risfa. "Apa yang ada dalam pikiran kalian! Apa kalian tidak melihat kami terluka akibat ulah kalian kemarin. Ini saja masih belum kering." Risfa lalu memperlihatkan luka di telapak tangannya akibat jatuh ketimpa teman-temanya kemaren saat para duda mengunci mereka di dalam kafe.
Nanda, Hasby dan ketiga kawannya hanya diam memperhatikan dan tidak ada satupun yang menimpali.
"Begini saja, kami akan mengganti uang yang kalian hasilkan kemaren, tapi biarkan kami bekerja layaknya karyawan biasa tanpa harus selalu mendapat perlakuan semena-mena dari kalian." Ucap Risfa lagi
"Kalian ini sebenernya punya dendam apa sih sama kita..kita berempat punya salah apa coba..kalian udah benar benar keterlaluan," timpal Tyas.
"Kalau kalian merasa risih dengan kami karena salah satu dari kami menyukai kalian, kenapa harus marah. Urusan kalian kalau kalian tidak suka, dan biar jadi urusan kami kalau di antara kami ada yang menyukai kalian." Jelas Risfa panjang lebar dengan nada marah.
Nanda dan Hasby saling pandang sesaat, lalu beralih menatap ke empat wanita di hadapannya dengan tatapan tidak mengerti.
"Kalau kami bukan type kalian bukan berarti kalian semua bisa meremehkan kami. Kami juga punya harga diri, jangan seenak kalian memperlakukan kami semaunya." Ungkap Risfa panjang lebar. "Jadi begitu? cara laki-laki memperlakukan wanita? pantesan aja kalian jadi duda. Bagaimana kalian bisa menjaga wanita kalian, kerjanya cuman bisa bikin wanita menangis dan terluka."
Kembali Nanda dan Hasby saling pandang, lalu beralih menatap ketiga temannya, lalu mereka tertawa terbahak bahak mendengarkan pernyataan Risfa.
"Ada yang lucu?" tanya Rini menatap sedih ke arah Baron.
"Entahlah, aku bingung dengan mereka. Sepertinya punya dendam pribadi." Timpal Tyas dan Nur bersamaan.
Nanda menjentikkan jarinya, sebagai kode supaya berhenti tertawa. Setelah itu, ia berjalan mendekati Risfa dan yang lain.
"Cewek, apakah seperti itu cara berpikirnya? lemah." Ucap Nanda tegas, tersemat senyum sinis di sudut bibirnya menatap tajam Risfa dan yang lain. "Kalian pikir, kami tidak bisa serius dan tidak punya otak?" Nanda mengetuk ngetuk pelipis dengan jarinya. Lalu mengarahkan dua jarinya ke arah mata Risfa, lalu menunjukkan jempolnya mengarah ke bawah.
"Lemah!"
"Asal kau tahu, kami tidak merasa risih dengan kalian yang menyukai kami. Tapi kalau rasa suka itu sudah merugikan pihak lain tentu kami akan bereaksi." Timpal Reyhan dan Baron bersamaan.
"Hak kalian menyukai, dan hak kami untuk bereaksi. Jika kau saja bisa keberatan dengan reaksi kami, kenapa kau tidak boleh kalau kami juga keberatan dengan reaksi kami?" Hasby ikut menimpali, membuat ke empat wanita itu tidak dapat bicara apa apa lagi. Mereka terdiam, merasa terpojokkan.
"Gue balikin kafe lo, gue sudah tidak tertarik dengan kafe ini. Dan lo kagak usah bayar sepeserpun, karena gua kaga butuh duit lo." Jelas Nanda tegas, lalu menoleh ke arah Hasby dan kawan kawannta. "Cabut guys!"
Kemudian Baron, Rey, Dera, melangkahkan kakinya keluar ruangan di susul Hasby. Nanda kembali mengarahkan dua jari matanya lalu di arahkan ke Risfa dan tiga kawannya.
"Lemah."
Setelah bicara seperti itu, Nanda dan yang lain keluar dari ruangan meninggalkan kafe
baru baja udah srek Ama bahasenye
top markotop dah
B...
Msh muda bgt dah men'Duda'??
Ikutan nimbrung ma Mas mas Duda
🙏🤺🏃🥰