NovelToon NovelToon
Turun Ranjang

Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:7.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ningsihe98

anindira yang baru Wisuda terpaksa harus menikah dengan Dimas dan merawat anaknya yang baru lahir demi keinginan terakhir sang kakak yang meninggal setelah melahirkan anak pertamanya.

dilain sisi Anindira menyayangi kakaknya karen sejak kecil mereka sering bersama karena kedua orang tua mereka yang sibuk bekerja, namun disisi lain Dimas terpaksa menikahi Anin Adik iparnya karena keinginan terakhir alm istrinya

lalu bagaimana kisah mereka? bagaimana mereka menjalani rumah tangga atas dasar "turun ranjang" ? akankah Anindira bisa menggantikan posisi kakaknya di hati Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Dimas." ucap wanita itu terkejut.

"Friska?" tanya Dimas tak percaya.

Dimas tak percaya Friska mantannya dulu yang sangat ia cintai dan sekaligus yang membuat luka dihatinya dan trauma tiba-tiba muncul dihadapannya lagi, sudah delapan tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu.

Dulu Dimas dan Friska berpacaran sejak awal SMA, mereka sering menghabiskan waktu berdua dan pergi main di weekend, tiba-tiba setelah kelulusan Friska memilih kuliah di Jakarta dan setahun setelah itu memberi kabar bahwa ia akan menikah, dan Dimas masih teringat dengan kejadian itu setelah mendapat undangan dari Friska ia mengendarai motor dengan kurang fokus dan bertrabrakan dan membuatnya trauma hingga sekarang.

Wanita yang paling ia benci karena telah berkhianat dan membuat trauma dalam hidupnya tiba-tiba kembali dan menatapnya kini.

"Kalian saling kenal?" tanya Mamah.

"Iya kebetulan kami pernah menjalin hubungan," ucap Friska tersenyum ke arah Dimas.

"Tidak, kita hanya teman sekolah," ucap Dimas dengan wajah dinginnya.

Anin dapat melihat raut wajah Dimas yang berubah menjadi dingin menatap Friska, Anin melihat Friska yang tampak cantik dengan badan yang bagus dan tinggi yang sama dengannya hanya kulitnya tidak terlalu putih dari Anin namun senyumnya sangat manis Anin akui wanita itu memang cantik dengan senyum manis.

"Friska ini yang membeli rumah kita. Dan besok ia akan langsung menempati rumah ini," ucap Papah.

"Semoga betah ya." ucap Mamah.

Friska hanya tersenyum ke arah mereka dan menatap Dimas sekilas, Anin yang melihat Dimas tampak tak bersahabat memilih izin pulang pada orangtuanya dan sekaligus pamit karena besok tidak bisa mengantar orangtuanya.

Anin mengandeng tangan Dimas berjalan ke arah mobil, ia menatap Dimas yang masih terdiam bahkan tatapannya mulai kosong, Anin mengenggam tangan Dimas dan merasakan dingin, Dimas sepertinya masih terkejut setekah bertemu dengan Friska.

"Mas, biar Anin yang setir," ucap Anin.

"Gapapa saya aja," ucap Dimas.

"Mas, Anin aja yang setir, gak baik kalau nyetir banyak pikiran," ucap Anin mengambil kunci mobil dan langsung duduk di kursi kemudi.

Dimas tak menolaknya, ia pun memang masih terkejut dengan kehadiran Friska yang tiba-tiba datang ke Bandung dan membeli rumah Anin, ia bukan merindukan Friska, namun setiap melihat Friska ia masih terbayang saat tabrakan dan semuanya karena ia memikirkan Friska wanita yang mengkhianatinya.

Anin merasa siatuasinya menjadi tegang dan dingin sedingin sikap Dimas dengan rawut wajah yang sulit di baca, Anin menjalan mobilnya dengan cepat menuju taman dekat sekolah Taman kanak-kanak, disana ada Taman yang sejuk dengan pohon dan bunga-bunga yang harum.

"Kenapa ke sini?" tanya Dimas terkejut saat Anin memakirkan mobilnya di dekat Taman.

"Anin mau beli es krim dulu udah lama gak pernah beli di sini, Mas mau?" tanya Anin.

"Kamu kayak anak kecil, beli es krim kan bisa di dekat rumah ada yang jual" ucap Dimas masih dengan wajah dinginnya.

"Anin pengennya beli di sini, lagian udah lama gak pernah beli, Mas mau gak?" tawar Anin.

"Enggak, saya gak suka es krim kamu aja beli cepet langsung kita pulang," ucap Dimasm

"Oke." ucap Anin mengakat jarinya membentuk ok.

Hampir sepuluh menit Anin belum juga kembali, Dimas merasa kesal pasalnya Anin seperti anak kecil jauh-jauh membeli es krim dekat sekolah taman kanak-kanak dan mengajaknya, ia menghubungi Anin tapi ponselnya berbunyi di kursi, Dimas makin geram menunggu Anin.

"Nih buat Mas," ucap Anin tiba-tiba datang membawa dua es krim di tangannya.

"Saya gak suka." ucapnya.

"Cobain dulu, jangan dulu bilang gak suka kalau belum coba," ucapnya.

"Saya bukan anak kecil Anin," tolak Dimas.

"Siapa yang bilang Mas anak kecil, eh makan es krim itu bukan untuk anak kecil aja, buat semua kalangan tahu," cercah Anin tak mau ditolak.

"Saya gak suka Anin, saya mau pulang ini udah kelewat jam kantor," ucapnya.

Tanpa permisi Anin langsung menyodorkan es krim di mulut Dimas hingga membuat mulutnya belepotan  karena ulah jahil Anin, Dimas yang nampak terkejut langsung mengambil es krim dari tangan Anin, sebelum Dimas marah Anin yang masih tertawa langsung mengambil tisu dan membersihkannya.

"Kamu itu ya sama suami gak sopan," ucapnya kesal.

"Maaf Mas, habisnya banyak nolak sih di suruh makan es kirm, jangan nolak rezeki lho pamali," ucapnya sambil membersihkan mulut Dimas.

Dimas hanya menatap Anin yang kini fokus membersihkan mulutnya, ia merasakan hembusan nafas Anin yang begitu dekat dengannya bahkan wajah mereka sangat dekat, hidung mancung Anin bahkan hampir menempel di dagunya, ia mencoba menahan nafasnya dengan situasi seperti ini.

"Udah bersih." ucapnya tersenyum.

"Hmm." ucap Dimas masih dengan rawut wajah kesal.

"Udah habisin dulu es krimnya mubazir"

Dimas memakannya dengan terpaksa.

menghabiskan es krim yang dibeli Anin, memang rasa es krimnya sangat enak meskipun hanya yang di jual di pinggir jalan namun rasanya memang sangat enak mungkin karena Dimas sudah lama tidak pernah membeli es krim di pinggir jalan.

"Mas kita keluar yuk, di dalam mobil pengap," ucapnya membuka pintu mobil.

"Panas." ucap Dimas malas.

"Enggak kok, di sana ada taman kita duduk di sana aja." ucap Anin.

Dimas yang tidak inginpun akhirnya menyerah karena Anin menariknya keluar dari mobil, iya sebenarnya terkejut dengan tingkah Anin yang berani-berani menarik lengannya belum lagi menjahilinya, ia hanya pasrah dengan tingkah Anin yang seperti anak kecil merengek baginya.

"Nah bagus kan tamannya?" tanya Anin

Dimas hanya diam tanpa menjawab Anin, ia memilih duduk di ayunan yang berada di sana, sepertinya taman ini memang sengaja di buat untuk Anak-anak yang bersekolah di Tk dekat taman karena hanya ada ayunan dan beberapa bunga yang mekar, namun Dimas menantap sekeliling taman itu tampaknya sangat jauh dari taman kanak-kanak atau mungkin taman ini memang sudah ada sejak lama?.

"Ngapain Nin ngajak saya ke sini?" tanya Dimas.

"Buat cari angin, lagian Mas gak bosen gitu kerja terus?" ucap Anin

"Kan sudah kewajiban saya kerja untuk mencari nafkah," ucap Dimas sabar.

"Maksud Anin bukan gitu, Mas kalau mau kerja harus tenangin dulu pikiran sama hatinya supaya kerjanya berjalan baik," ucapnya tersenyum sambil memaikan ayunannya.

Dimas hanya terdiam setelah Anin berkata seperti itu, bukan ia pura-pura tak ada apa-apa, sejak bertemu dengan Friska tadi memang pikirannya tak tenang namun ia tak mau menceritakannya pada Anin karena bukan hal yang penting untuk Anin ketahui, hanya saja sepertinya Anin sudah bisa menebak dari tingkah dan raut wajahnya tadi.

"Mas kalau ada masalah atau ketakutan jangan di pendem, nanti jadi bisul lho," ucap Anin menatap Dimas dengan serius.

"Sejak kapan kalau kita mendam sesuatu jadi bisul?" ucap Dimas kesal.

"Ehh dibilangin gak percaya, cobain aja nanti kalau jadi bisul jangan salahin Anin," ucap Anin

Dimas hanya diam tak menghiraukan Anin, ia hanya menatap Anin yang sedang asyik memainkan ayunannya sambil tersenyum, Aneh bagi Dimas padahal masalah Anin lebih besar dari pada dirinya, sejak kecil Anin tidak mendapat kasih sayang orang tuanya, merantau ke Jogja untuk mengenyam pendidikan jauh dari keluarganya dan sekarang orangtuanya pergi ke kota lain meninggalkannya namun Anin sepertinya menikmati hidupnya tanpa beban.

"Di sini sepi lho Mas," ucap Dimas sedikit berbisik.

"Terus kalau sepi mau apa?" ucap Dimas menatap Anin binggung.

Anin turun dari ayunannya dan berjalan ke arah Dimas dengan senyuman manisnya, Dimas bergidik ngeri melihat Anin dengan senyuman mautnya, apa yang akan Anin lakukan padanya di tempat sepi ini, apakah ia sudah tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya tapi kenapa harus di taman seperti ini, pikiran kotor bergentayangan di otak cerdas Dimas.

"Kamu mau buat yang enggak-enggak di sini ngajak saya?" tanya Dimas langsung berdiri menghindar.

Anin malah berjalan makin mendekat ke arahnya, Dimas mencoba berpikiran jernih ia berharap Anin tidak mengajaknya melakukan hal-hal buruk di sini apalagi di tempat umum.

Jangan ini tidak baik Dimas jangan sampai ia bisa hilang kendali karena Anin menggodanya bahkan berjalan tersenyum padanya sungguh membuatnya sulit berpikiran jernih.

"Sini" ucap Anin langsung menarik tanan Dimas dengan kasar hingga dirinya menabrak dada bidang Dimas.

"Kamu mau ngapain, jangan macam-macam kita bisa di gerebek disini" ucap Dimas

"Haaaaahhhhhhh!!" teriak Anin begitu kencang.

Dimas yang mendengar teriakan Anin langsung membekap mulut Anin karena takut ada orang yang salah paham apalagi mereka tengah berdua ditaman ini.

"Kamu ini ngapain teriak-teriak, nanti kedengeran sama orang-orang jadi salah paham."

"Ih Mas, Anin itu mau ngeluarin semua amarah Anin biar gak jadi bisul," ucap Anin kesal karena Dimas malah menutup mulutnya.

"Ngapain harus teriak-teriak Anin, nanti kalau ada yang dengar jadinya malah fitnah," ucap Dimas.

"Gak bakal ada yang denger kok, lagian sekarang lagi sepi gak ada orang-orang, Ayo mas juga teriak luapin semua amarah Mas," ajak Anin yang kemudian ia kembali berteriak dengan kencang.

Dimas hanya memperhatikan Anin yang berteriak dengan kencang setelah itu tertawa ke arah Dimas menunggu Dimas melakukan hal yang sama dengannya, Dimas menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan ajakan Anin, namun Anin terus berteriak agar Dimas mau mengikutinya.

Dimas akhirnya pasrah mengikuti Anin untuk berteriak, ia berteriak dengan kencang sampai urat lehernya begitu terlihat oleh Anin, mereka berdua tersenyum setelahnya, bahkan Dimas yang jarang senyumpun mengembangkan senyumnya pada Anin yang sudah tersenyum cantik padanya.

"Ternyata senyumnya memang manis" ucap Dimas dalam hati.

*-*-*-*-*

Keesokan harinya Dimas kembali ke kantor setelah merasa suasana hatinya tenang, sebanarnya Anin melarangnya kerja agar ia bisa beristirahat namun ia menolaknya karena ia harus mengecek urusan kantor terlebih kantornya kini memang ada beberapa masalah terutama tentang karyawan yang masuk keruangannya yang belum ia selediki.

Dimas mengecek komputernya, ia harus segera mengecek cctv diruangan, namun ternyata datanya tidak ada hanya ada beberapa file saat ia masuk kembali, lalu kemana rekaman cctv saat Dimas pergi apakah sudah di hapus atau cctvnya mati saat itu?.

Dimas makin geram karena tidak mungkin cctv nya mati, Dimas mencoba menenangkan dirinya, sepertinya pelakunya sudah tahu ia akan mengecek cctv, Dimas tidak akan membuat kecurigaan kali ini ia akan menangkap pelakunya sendiri dengan caranya ia tidak akan membuat orang kantor ikut terlibat , ia akan melakukan cara seperti Ayahnya yang pensiunan polisi.

*toktoktok*

"Masuk."

"Pak ini data karyawan yang baru saja di interview," ucap sekretaris Dimas.

"Baik, biar saya cek dulu datanya nanti saya temui mereka," ucap Dimas

"Baik pak."

Dimas membuka lamaran dari pegawai yang mendaftar kerja diperusahaannya, memang semua kriteria sudah ia percayakan pada personalia, dalam pekerjaan Dimas sendirilah yang menguji mereka, Dimas juga yang mengatur dan memilih bagian pekerjaan pada mereka .

"Friska Anggraini? Kenapa dia mendaftar di sini?" tanya Dimas terkejut.

Dimas mencoba menenangkan pikirannya ia mencoba menghilangkan trauma saat kecelakaannya dulu yang selalu terbayang jika ia mengingat Friska.

Tanpa menunggu dan membuang waktu Dimas langsung masuk keruangan personalia dan menemui karyawan yang akan bekerja diperusahaannya, hanya ada 3 orang yang masuk diperusahaannya 2 laki-laki dan 1 perempuan dan benar saja saat Dimas masuk ia menemukan Friska yang duduk dengan baju kemeja putih dan rok span hitam menatap kearahnya dengan senyuman.

"Pak, ini mereka yang lolos seleksi." ucap Personalia.

"Baik, saya perkenalkan ini dia pemilik perusahaan kita pak Dimas Adiputra," ucap Personalia memperkenalkan Dimas.

"Baik perkenalkan saya Dimas, selamat datang di perusahaan kami semoga bisa bekerja sama dengan baik." ucap Dimas dengan wajah dinginnya.

"Jadi kapan kita mulai bekerja pak? " tanya lelaki yang baru saja menjadi karyawannya.

"Besok kalian bisa langsung bekerja, sekarang biar sekretaris saya yang akan menjelaskan pekerjaan kalian dan bagian kalian setelah itu kalian bisa beristirahat dan besok sudah mulai bekerja." ucap Dimas langsung pergi.

Dimas langsung pergi dari ruangan agar tidak bertemu dengan Friska yang berada diperusahaannya, entah mengapa ia bisa bertemu lagi dengan wanita itu, wanita yang dulu sangat ia cintai sekaligus membawa trauma padanya.

*-*-*-*-*

Dimas kembali ke rumah dengan wajah lelah dan traumanya yang masih ia alami, ia melihat Anin yang tampaknya begitu lelah tengah mengendong Afifa yang terus merengek tanpa sebab, Dimas mengucapkan salampun tidak terdengar oleh Anin karena rewel Afifa yang begitu keras.

"Eh Mas udah pulang?" tanya Anin yang langsung tersenyum ke arah Dimas sambil menyalami.

"Afifa kenapa?" tanya Dimas.

"Lagi rewel Mas, kayaknya mau tumbuh gigi jadi agak rewel dianya soalnya badannya juga anget," ucap Anin.

"Biar saya yang gendong aja, kamu juga kelihatannya capek."

"Mas mandi dulu, ganti pakaiannya kan kena debu jalanan tadi takut kehirup Afifa gak baik," ucap Anin lembut.

Dimas pun mengangguk dan langsung berjalan ke kamar dan menyegarkan tubuhnya, Setiap malam Anin selalu menyiapkan Air hangat untuknya mandi agar tidak masuk angin, meskipun ia sibuk menjaga Afifa namun ia selalu mempedulikan Dimas.

"Sini biar Afifa Mas gendong." ucap Dimas setelah selesai mandi.

"Hdah bobo, ini takut bangun ntar," ucap Anin tersenyum.

"Mau tidur aja rewel," ucap Dimas langsung menciumi Afifa yang baru saja Anin tiduri di ranjangannya.

"Makan dulu Mas, tadi Anin udah angetin," ucap Anin mengajak Dimas keluar.

Setelah selesai makan Dimas memilih beristirahat duduk di ruang tv sambil menonton, Anin pun menghampiri Dimas membawa jeruk yang sudah ia kupas.

"Mas, makan jeruk dulu,"

"Makasih." ucap Dimas kemudian beralih menonton tv kembali.

Anin memilih duduk di sebelah Dimas dan menonton tv dengan serius, Dimas pun melihat Anin yang nampaknya begitu lelah namun saat melihat Dimas ia selalu mengembangkan senyumnya.

"Kalau mau tidur duluan aja," ucap Dimas.

"Belum ngantuk." ucap Anin sambil menonton tv.

"Afifa rewel dari pagi kamu gak capek?" tanya Dimas serius.

"Enggak, namanya juga anak kecil pasti sering rewel, capek sih tapi lihat Afifa tumbuh sehat tiap hari sama tambah kepintarannya jadi hilang capeknya," ucap Anin tersenyum.

"Sayangnya saya gak bisa lihat tumbuh kembang dia tiap hari karena harus kerja, tapi terimakasih sudah mau menjaga dan merawat Afifa dengan tulus." ucap Dimas.

"Iya Mas, lagian sekarang kan Anin udah jadi Ibunya jadi udah jadi kewajiban Anin buat jaga dan ngerawat Afifa."

Dimas mengangguk sambil memakan jeruk manis yang Anin bawa, ia bersyukur Anin mau menerima semuanya termasuk dirinya dan Afifa ia juga mau meluangkan waktu merawat Afifa sendirian tanpa bantuan pengasuh meskipun tidak ada pengalaman namun Anin tidak pernah diam, ia selalu menanyakan pada Ibu Dimas tentang tumbuh kembang Afifa.

"Mas lagi ada masalah lagi ya?" tanya Anin tiba-tiba.

"Masalah apa?" tanya Dimas binggung.

"Gak tahu cuman nebak aja."

"Ada beberapa masalah, tapi inshaallah bisa di tangani," ucap Dimas.

"Di tangani dan di jalani juga di hadapi," ucap Anin yang tetap serius menonton tv.

Dimas bukan enggan bercerita pada Anin tentang masalahnya di kantor dan masalalunya, ia hanya merasa Anin tak perlu tahu lagipula mereka belum saling terbuka, sama seperti saat dulu Dimas bersama Kirana ia tak banyak cerita hanya jika Kirana bercerita baru ia akan terbuka juga selebihnya ia menutupinya karena Kirana juga memang tidak ingin tahu.

"Mm, yang kemarin beli rumah Anin itu mantannya Mas?" tanya Anin tiba-tiba.

"Iya." ucap Dimas

"Pantesan mukanya tegang gitu, dulu pernah dengar namanya aja dari teh Kirana,"

"Kirana cerita ke kamu?" tanya Dimas menatap Anin.

"Iya dulu pernah cerita katanya Mas punya mantan namanya Friska tapi cuman cerita singkat aja,"

Dimas terdiam tak mau menjawab Anin, namun ia juga tak mau menyembunyikan apapun dari Anin terlebih kini Anin adalah istrinya dan hari ini juga Friska sudah mulai bekerja di kantornya dan Anin tahu Friska adalah mantannya.

"Friska kerja di tempat saya baru hari ini," ucap Dimas.

"Hah? Kok bisa?" tanya Anin terkejut.

Dimas yang melihat ekspresi terkejut Aninpun ikut terkejut, mengapa Anin sampai terkejut seperti itu, hingga Anin mendekatkan dirinya pada Dimas karena penasaran dan membuat Dimas menatap Anin heran apa ia salah bicara? Sedangkan Anin sudah mengangkat sebelah alisnya dan menatap Dimas dekat.

1
Dewi Fuzi
tau darimana aklak nya bagus kan baru sebentar bertemu nya
Calluella Rista Ramall
Sudah baca berulang" tapi tetep nangis juga 😭
Haru Kagami
iya bner ponakannya dimas. ya ampun ini novel pertama kayanya yg aq Prnh baca awal" tau NT. dh lama bgt ternyata.
Haru Kagami
iya bner dh pernh baca cm dh lama bgt aq makanya lupa" inget
Haru Kagami
kaya udh prnh baca cerita ini tpi lupa krn udh di thaun kpn gtu bacanya. ini novel di bikin kapan sh thor
Tiwi
sedih😭
Tihar
keren ceritanya sat-set Nga pake lama
Yuli Silvy
bgus ceritanya Thor ga' terlalu bertele-tele
Yuli Silvy
udah tau mau pergi kok malah d tinggal sndri Anin, kesihan kn Anin😥
Yuli Silvy
🤭🤭🤭
Yuli Silvy
sedih 😭
Yuli Silvy
bgus tu Anin
Yuli Silvy
kesihan bget anin
Yuli Silvy
klo jodoh ga' kn kmn
Yuli Silvy
baru gabung
Defi
🌹
nurul nazmi
bagus
Sundari Sekariputi
bgs ceritanya thor 👍👍👍
🥀Luka tak Berdarah🥀
D sini anin yg pling tersakiti n banyak berkorban🥺🥺🥺
Nur Janah
gagal maning gagal maning 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!