"Kenapa hidupku harus semenyedihkan ini? Aku bukan hanya kehilangan suamiku, tapi aku juga harus memupus harapanku untuk menjadi seorang ibu karena aku mandul. Apa aku tidak pantas bahagia?"
Maharani adalah seorang wanita yang menjadi istri dari seorang pria yang bernama Rendy Wijaya. Awal pernikahan mereka terjalin dengan begitu bahagia dan penuh keromantisan. Namun, setelah 5 tahun menikah dan selama itu juga mereka masih belum juga dikaruniai seorang pun anak, perlahan sikap Rendy mulai berangsur berubah hingga akhirnya ia menghadirkan Celine dalam pernikahan mereka dan mengakibat pernikahannya harus berujung dengan perceraian.
Bagaimana kisah Maharani dalam menjalani kehidupan keduanya dan menyembuhkan luka di hatinya atas pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya? Apakah Maharani akan memperoleh kebahagiaan yang begitu diimpikan? Lantas bagaimana dengan kemandulannya, akankah ada mukjizat yang Tuhan akan berikan untuknya atau selamanya harapan untuk dapat menggend
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Hidup Baru
Selamat membaca!
Tak berselang lama Dion pun kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan membawa sebuah kursi roda. "Mba, ayo duduk disini! Saya akan mendorong kamu sampai tiba di parkiran ya."
Maharani mengangguk sambil tersenyum, ia berusaha kuat dan tak menunjukkan rasa sakit yang saat ini masih begitu dirasakannya. Wanita berparas cantik itu tak ingin bila sampai merepotkan Dion lebih banyak lagi.
"Terima kasih banyak, Dok." Maharani mulai menapakkan kakinya ke lantai dengan perlahan sambil memegangi pegangan kursi roda untuk membantunya, menopang raganya yang saat ini terasa sangat lemah.
Sementara itu Dion hanya menahan laju kursi roda agar tak berpindah ketika Maharani hendak mendudukinya, ia memilih untuk membiarkan Maharani melakukan semua itu sendirian, karena ia tak ingin jika wanita itu sampai salah paham lagi terhadapnya untuk kedua kalinya.
Setelah berhasil menduduki kursi roda itu, Dion pun segera mendorongnya untuk keluar dari ruangan menuju area parkir tempat dimana mobilnya terparkir.
Setibanya di area parkiran, Dion pun langsung membukakan pintu belakang mobilnya untuk Maharani masuk.
"Mba, ini mobil saya. Mari silakan masuk!" ucap Dion dengan senyum ramahnya. Saat ini pria itu kembali menegang erat kursi roda dengan sebelah tangannya dan sebelahnya lagi memegangi pintu mobilnya yang sudah terbuka.
"Terima kasih ya." Maharani pun mulai berdiri dari kursi roda dan melangkahkan kaki untuk masuk ke mobil Dion.
Saat ini Maharani sudah duduk tepat di belakang kursi kemudi. Dion memang sengaja menempatkan Maharani di belakangnya, agar wanita itu bisa leluasa jika ingin merebahkan tubuhnya.
"Mba, kamu pulangnya kemana?" tanya Dion yang mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang.
"Ke Komplek Permata Hijau," jawab Maharani sambil merebahkan kepalanya pada sandaran kursi yang saat ini didudukinya.
Jawaban Maharani membuat Dion tersentak kaget karena alamat yang Maharani katakan, sama seperti tempatnya tinggal.
"Oh, kamu tinggal di sana juga?" tanya Dion tak menyangka, jika wanita yang saat ini ditolongnya, ternyata masih tetangga di komplek yang sama dengannya.
"Memangnya kamu tinggal di sana?" Maharani malah balik bertanya sambil menatap ke arah Dion.
Dion menganggukkan kepalanya. "Iya, saya tinggal di sana dari kecil, tapi itu rumah orang tua sih. Saya baru tinggal di sana lagi sejak lima tahun yang lalu, setelah menyelesaikan pendidikan di Negeri Paman Sam, tapi kok saya tidak pernah bertemu dengan kamu ya?" tanya Dion sambil mengingat-ingat.
"Di pertama hijau itu rumah Mama saya, namanya Ibu Vania. Selama lima tahun itu saya memang sudah tidak tinggal di sana, karena ikut sama suami di Pondok Indah."
"Oh Tante Vania. Ya, saya sangat mengenal beliau. Berarti kita tetangga dekat lho, Mba. Rumah kita seberang-seberangan banget. Tante Vania itu teman baik Mama juga."
"Ya ampun, ternyata kita tetangga ya. Nama Mama kamu siapa?"
"Bu Dini, kamu kenal enggak?" tanya Dion yang tak menyangka bila Maharani ternyata adalah tetangganya, anak dari Vania.
Maharani berdecak tak menyangka, setelah mengetahui ternyata orang tua Dion dan orang tuanya memang sudah berteman baik sejak dirinya masih kecil. "Oh Tante Dini, itu sih teman baik Mama banget. Ternyata kamu toh anak laki-lakinya yang selama bertahun-tahun tinggal di Belanda."
"Hei, bukan Belanda tapi Amerika Serikat. Dari mana sejarahnya coba Paman Sam tinggal di Belanda?" Dion segera membenarkan ucapan Maharani yang salah, tanpa bisa dipungkiri dirinya merasa terhibur setelah dapat berbicara akrab dengan wanita yang ternyata lucu dan mampu membuatnya tertawa saat ini.
"Iya itu maksudnya, Amerika Serikat. Salah nyebut biasalah, namanya juga manusia yang tidak luput dari sebuah kesalahan." Tanpa disadari Maharani, percakapannya dengan Dion sedikit demi sedikit membuat rasa pening di kepalanya mulai berkurang.
"Pinter banget cari pembelaannya!" ledek Dion membuat seulas senyuman mulai terbit di wajah cantik Maharani, walau raut kesedihan dengan luka mendalam masih tersirat jelas di kedua manik matanya.
Tanpa terasa, perjalanan selama satu jam sudah mereka lalui. Kini Maharani telah tiba di depan rumah sang ibu, hanya rumah itu yang menjadi tempatnya untuk pulang saat ini setelah berpisah dari Rendy.
Sedangkan Dion sudah masuk ke dalam rumahnya setelah menurunkan Maharani dari mobilnya.
Maharani mulai mengetuk pintu dengan perlahan sambil mengucapkan salam kepada sang ibu yang berada di dalam rumah. Namun, saat menunggu pintu itu terbuka, tiba-tiba kesedihan kembali menyelinap masuk ke dalam pikirannya. Kesedihan yang sempat hilang karena kehadiran Dion mampu membuatnya merasa jauh lebih baik, walau hanya sebentar saja.
"Hari ini aku akan memulai hidup baruku, tanpa kamu Mas. Biarlah pernikahan itu jadi pengalaman yang berharga untukku, agar aku tidak semudah itu mempercayai orang lain, walaupun itu suamiku sendiri," batin Maharani dengan kedua mata yang seketika kembali berkaca-kaca.
Tak lama kemudian, suara sang ibu mulai terdengar menjawab salamnya dari dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam, sayang." Pintu pun mulai terbuka dan pandangan Vania seketika membeliak saat melihat air mata kini sudah tampak di pelupuk mata putri tercintanya.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu menangis? Terus Rendy kemana, kok kamu sendirian?" tanya Vania mencerca berbagai pertanyaan kepada Maharani yang hanya diam membisu.
Diamnya Maharani membuat Vania mulai menyadari bahwa saat ini telah terjadi sesuatu pada sang putri. Hingga akhirnya, Vania pun memeluk tubuh rapuh sang putri dan membiarkan putrinya itu menangis dalam dekapannya. Tangisan Maharani yang semakin terisak membuat pikiran Vania saat ini dipenuhi berbagai pertanyaan, yang sungguh membuat rasa penasarannya kian membuncah. Namun, Vania tak ingin mengganggu saat putrinya meluapkan segala kesedihan di dalam pelukannya dengan pertanyaannya. Vania memberi waktu kepada sang putri untuk melepaskan semua rasa sakit yang terdengar perih.
"Ada apa dengan Maharani? Kenapa tangisan ini terdengar begitu menyakitkan? Apa jangan-jangan Rendy telah menyakiti Putriku? Ya Allah, aku mohon kuatkan aku saat aku mendengar cerita dari Putriku nanti, agar aku tidak terlihat lemah dan bisa menguatkan Putriku," batin Vania merasa cemas dengan kondisi putrinya saat ini.
...🌺🌺🌺...
Bersambung✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Jangan lupa berikan hadiah kalian, jika suka dengan novel ini.
Follow Instagram Author juga ya: ekapradita_87
makasih ya Thor ceritanya bagus 👍