Kekerasan yang dialami mawar dimasa kecil
membuat nya terperangkap dimasa lalu nya.
sehingga menjadikan diri nya seperti setangkai mawar yang tak bisa disentuh
penghinaan yang diterima Putra telah mengikis semua harga dirinya. Bahkan perceraian nya pun menyandarkan nya pada kenyataan pahit.
bisakah sebentuk ketulusan membalikan hidup mereka?
hanya cinta sejati yang bisa menyembuhkan luka. bersediakah mereka berjuang bersama untuk melepaskan diri dari kelam nya masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kevin N Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar 14
Mereka tiba dirumah ketika yuyun sedang menyiapkan makan malam. Putra langsung menuju kamarnya, rasanya tubuhnya butuh air dingin. Awal pernikahan putra selalu membawa baju gantinya, namun makin kesini dia lebih sering memakai boxer saja, Mawar pun juga sudah mulai terbiasa melihat pemandangan indah itu. Apalagi putra memang tidur hanya memakai boxer, sepertinya putra lebih suka bertelanjang dada. Bukan bermaksud pamer, aku rasa pria diluar sana akan iri melihat dada bidang itu. Sungguh maskulin pikir mawar.
Putra berputar-putar dikamar setelah keluar kamar mandi.
"Mencari sesuatu?" tanya mawar
"Aku mencari tasku, tas pakaianku." jawab putra dengan wajah kebingungan.
Setelah berfikir dan melihat ekspresi wajah mawar, putra paham mawar di balik hilang nya tas pakaian itu.
"Hmmm.. Sepertinya tidak mungkin aku duduk makan dengan hanya menggunakan boxer ini, kecuali ada yang ingin memintaku jadi model setengah telanjang ini."
"Kau tidak ingin bertanya denganku?" jawab mawar lagi. "Biasanya itu tugas istri bukan?" jawab mawar dengan senyum kecil.
Putra mulai mengikuti permainan mawar.
"Aku tidak keberatan berpakaian seperti ini, sejak bersamamu aku kehilangan seluruh rasa malu ku. Padahal aku adalah satu-satunya pria santun yang ada di dunia ini." goda putra
"Hahhhahahaaa...baiklah pria santun yang pernah ada, aku akan memberitahu di mana pakaianmu berkumpul. Disana!" tunjuk mawar pada deretan lemari bajunya.
"Lemari itu? Di lemari mu?" tanya putra kaget.
"Di kamar ini tidak ada lemari lain selain itu, sebaiknya kau periksa lemari itu." ujar mawar santai masih dengan senyum kecilnya.
Putra melangkahkan kakinya menuju lemari tersebut, dengan wajah heran dia membuka nya.
"Bajuku?" tanyanya
"Kuharap kau tidak marah, kau sudah banyak mengajarkan aku arti berbagi. Aku rasa baju-bajuku pun tidak keberatan berbagai lemari dengan bajumu." ujar mawar.
Putra takjub dengan perubahan sikap mawar. Karena tidak ada salahnya jika suami istri saling berbagi lemari.
"Terimakasih." ucap putra sembari tersenyum.
Walaupun ekspresi wajah putra tampak datar, namun percayalah hatinya dilanda kebahagiaan, bahkan dia berharap suatu hari nanti mawar mau berbagi ranjang dengannya. Pikiran ini membuat wajah putra memerah. Konyol.
Mawar tersenyum melihat wajah putra memerah, mungkin putra malu karena kejailannya. Pikir nya.
"Aku sudah lapar, ayo kita makan." ajak mawar.
"Aku juga lapar, sangat lapar." ujar putra mengikuti mawar. Langkahnya lesu karna khayalan nya tidak kesampaian.
Yang mawar tidak ketahui adalah dalam kalimat putra "lapar" bukan urusan perut. Dikepala putra sampai kapan dia harus menahannya.
Pikiran mu sangat kotor
Lalu aku harus bagaimana?
Ceritalah padanya
Dan kau mau melihat dia pingsan
Kalau begitu simpan saja perasaan dan ingin mu
Aarrrggggghhh!!!!!
Begitulah pergolakan jiwa putra.
°°°°°
Setelah makan malam, mereka kembali kekamar masing-masing. Tak lama terdengar suara nafas lembut mawar yang telah tertidur pulas. Berlawanan dengan kondisi Putra yang resah. Betapa ingin sekali dia tidur sambil memeluk gadis itu.
Dengan gerakan perlahan, putra meyentuh ujung rambut mawar. Melihat gadis itu tidak bereaksi putra memberanikan diri mencium rambut mawar yang tergerai indah. Berharap bisa sedikit memuaskan pikiran kotornya. Harum rambut mawar yang menyentuh pipi dan bibir nya membuat dadanya bergemuruh. Sekuat tenaga putra berusaha melawan dirinya untuk tidak melakukan yang lebih jauh lagi. Sebab jika gadis itu bangun, sudah bisa dipastikan dia akan dalam masalah besar.
Akhirnya putra bergerak turun, menghempaskan tubuhnya di atas karpet. Dengan bantalnya putra menutup wajah dan berbaring telentang sambil merutuki diri nya sendiri. Mencium rambut mawar ternyata membuatnya dalam keadaan yang semakin buruk. Sekarang bahkan bayangan bercinta dengan Mawar semakin jelas.
Sial! Pikirkan hal lain!
Apa lagi yang bisa ku pikirkan selain mawar. Huft sungguh sialan!
Pikirkan sapi. Sapi. Sapi
Akhirnya putra tertidur dengan menghitung sapi sambil meratapi kemalangan dirinya.
°°°°
DUA HARI KEMUDIAN
Malam ini adalah malam pesta anaknya pak sigit, seperti yang sudah disepakati mawar dan putra akan menghadiri pesta tersebut.
"Yun jangan meriasku terlalu lama, aku tak mau terlambat." pekik mawar sambik melirik jam dinding.
Memang yuyun butuh waktu lebih lama untuk merias mawar, tapi tentu saja dengan hasil yang sepadan, mawar saja yang tidak sabaran dan terlalu gugup, karena ini adalah pesta pertamanya.
"Hampir selesai, lima menit lagi kau bisa mengganti bajumu dan segera berangkat." jawab yuyun
"Apakah kau perlu bantuanku untuk memakai gaunmu?" tanya yuyun lagi.
"Tidak perlu, aku akan memberikan kalian kejutan." jawab mawar cepat.
"Baiklah, sekarang aku akan keluar, lagi pula ada putra di sini yang akan membantumu." ujar yuyun sambil berlalu.
Putra hanya tersenyum dan sudah rapi dengan baju nya malam ini. Tidak terbayang olehnya akan ada berapa bantal yang akan terbang ke wajah nya jika dia berani melakukan itu. Demi keamanannya, dia memilih untuk keluar kamar.
Setelah kamar sunyi, mawar mulai memakai pakaiannya dan ikut menyusul putra keluar kamar untuk berangkat ke pesta.
"Wow, gadis kecilku telah berubah." ujar bambang melihat mawar.
"Gaun yang indah, sangat cocok di pakai oleh gadis cantik sepertimu, aku yakin kau akan menjadi pusat perhatian di sana sayang." ujar yuyun ikut mengomentari.
Mawar tersenyum puas dan lebih puas lagi ketika matanya menangkap sosok pria yang akan menjadi pendampingnya dipesta nanti. Putra terlihat berbeda, di kamar tadi mawar tidak memperhatikan putra karena terlalu mencemaskan waktu. Dia benar-benar pangling melihat putra. Rahang tegas, hidung mancung dan jangan lupakan bibirnya. Oohh seksi pikir mawar. Namun dengan cepat mawar membantah, Oh tidak, sejak kapan aku menganggap putra seksi? Aku hanya mengaguminya. Ya itu saja.
Putra sendiri menahan nafasnya saat melihat mawar. Dia memang sudah melihat mawar saat dibutik, tapi sekarang dengan dipadukan dengan make up di wajahnya sungguh sangat berbeda.. Cantik!!
Kalau saja dia sungguh istriku, ingin sekali aku menariknya kembali kekamar dan membawanya.... Aiisss mulai lagi.
"Kalian akan berangkat sekarang atau hanya akan berdiri di sini saling mengagumi." cibir bambang, menyadarkan putra dan mawar yang saling pandang.
"Kami akan berangkat sekarang." mawar berkata sambil melangkah menuju mobil disusul putra di sisi kemudi.
"Jangan pulang larut," yuyun memperingatkan.
Putra mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali matanya melirik mawar yang duduk disebelah nya dengan wajah yang terlihat gelisah karena menyadari putra mencuri pandang padanya.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya mawar.
Putra bimbang untuk menyampaikan permintaannya pada mawar putra khawatir mawar akan marah, tapi dia memutuskan untuk bertanya dari pada nanti gelisah dipesta.
"Begini, di pesta nanti boleh kah aku merangkul pinggang atau bahumu? Aku hanya tidak ingin orang akan berkomentar yang tidak-tidak jika kita terlihat sibuk sendiri." tanya putra gugup.
Padahal sebenarnya yang ada di otak putra, dia ingin menegaskan kepemilikannya terhadap gadis itu didepan semua orang. Dia tidak sanggup membayangkan mawar bersama pria lain nanti. Bisa-bisa dia akan bertindak bar-bar seperti orang purba.
Mawar berfikir sejenak
"Kurasa kau benar, kita tidak bisa mengambil resiko menimbulkan kecurigaan orang terhadap hubungan kita. Kau boleh melakukan apapun selama itu perlu." jawab mawar.
Dalam hati mawar sangat bersyukur putra yang menjadi suaminya, tidak terbayang jika pria lain, pria yang tidak mengerti kondisinya. Ditambah putra juga begitu tampan, sehingga tidak malu untuk ke pesta bersamanya.
"Tampan? Astagaa.. Beberapa lalu tadi aku bilang putra seksi dan sekarang tampan?" mawar menggelengkan kepalanya.
"Ada apa denganku? Aku tidak boleh memikirkan hal begitu. Sangat tidak pantas." batin mawar.
°°°°
Bonus visual babang tampan dan susan
°°°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
°Terimakasih
semoga kalian bisa saling memberi kebahagia dan kenyamanan..