Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 ( Berkhianat )
Kesepakatan Melisa dan Arjuna berakhir setelah Arjuna mengantar Melisa kembali ke rumahnya dengan selamat. Sebelum masuk ke dalam rumahnya, Melisa masih sempat mengingatkan Arjuna sekali lagi tentang Paula.
" Aku ga mau terseret dalam masalah jika Kamu melanjutkan hubunganmu dengan Paula nanti ya Mas...," kata Melisa.
" Kamu tenang aja Mbak Mel. Aku ga bakal seret Mbak ke dalam urusanku. Ini semua murni antara Aku dan Paula...," sahut Arjuna keras kepala.
" Ok, makasih...," kata Melisa dengan nada kecewa.
Arjuna mengangguk lalu melajukan motornya meninggalkan rumah Melisa dengan cepat. Di matanya terbayang wajah Paula dan janji manisnya itu. Bermodal tampang dan tanpa bersusah payah, ia akan mendapatkan uang yang banyak jika menjadi pacar Paula. Arjuna mengulum senyum bahagia saat membayangkan semua itu.
\=\=\=\=\=
Hari-hari Arjuna sebagai pacar Paula pun dimulai. Tanpa sepengetahuan Benazir, Arjuna menandatangani kontrak sebagai pacar sewaan Paula. Arjuna berpikir, toh pekerjaan itu juga menghasilkan uang yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan saat ia menjadi driver ojeg on line.
Ia selalu meluangkan waktu menemani Paula melakukan aktifitasnya. Awalnya semua berjalan lancar dan tanpa melibatkan perasaan. Tapi di bulan kedua kedekatan mereka mulai terjadi sedikit masalah. Arjuna mulai sedikit posessif terhadap Paula.
" Sebaiknya Kamu ganti baju dulu lah. Ga enak ngeliat Kamu pake baju kaya gitu...," pinta Arjuna saat hendak mengantar Paula hang out bersama teman sosialitanya.
" Lho emang kenapa, Aku nyaman kok pake baju ini...," kata Paula.
" Iya. Tapi Aku ga suka kalo tubuh Kamu tuh diliatin cowok lain. Apalagi sampe ke bagian yang agak pribadi kaya gini...," sahut Arjuna sambil melirik ke belahan dada Paula dengan wajah memanas.
" Jangan bilang kalo Kamu lagi cemburu ya Juna. Udah ah, ribet banget sih sama baju. Kita jalan sekarang aja, Aku ga mau mereka ngomongin Aku nanti kalo Aku telat...," kata Paula sambil melangkah masuk ke dalam mobil.
" Aku ga mau ngantar kalo Kamu masih pake baju ini...," kata Arjuna sambil menatap tajam kearah Paula.
" Ok, gapapa. Aku bisa pake Taxi kok...," sahut Paula sambil keluar dari mobil.
Mendengar ucapan Paula, Arjuna sedikit tersinggung. Ia menarik tangan Paula dan menghentikannya.
" Kamu yang bilang kan kalo Aku ini pacar Kamu. Jadi Kamu harus nurutin kemauan Aku. Karena Aku ga nyaman ngeliat Kamu pake baju itu...!" kata Arjuna tegas.
" Pacar ya. Kalo Kamu ngerasa jadi pacar Aku, cium Aku sekarang...!" tantang Paula sambil balik menatap kedua mata Arjuna.
Arjuna tercekat. Wajah Benazir yang selama ini menjadi istrinya melintas di depan matanya. Tapi entah mengapa dorongan itu begitu kuat. Arjuna memberanikan diri mencium Paula dan tak disangka, Paula pun membalasnya.
Saat ciuman itu berakhir, Paula memeluk Arjuna dengan erat. Matanya nampak sayu seolah menginginkan sesuatu yang lebih. Arjuna yang paham pun akhirnya menggendong tubuh Paula. Ia membawanya masuk ke dalam rumah lalu merebahkan tubuh Paula di atas sofa.
Tatapan keduanya bertemu. Nafsu menguasai mereka hingga akhirnya mereka melakukan sesuatu yang lebih dan dilarang agama. Arjuna ternyata benar-benar berkhianat pada janji pernikahannya dengan Benazir. Ia terjerumus ke dalam pesona Paula yang memabukkan.
\=\=\=\=\=
Sementara itu Benazir tengah disibukkan dengan pekerjaannya di kantor saat gelas di atas mejanya terjatuh dan pecah berserakan di lantai.
" Kenapa Naz...?" tanya Silvi.
" Ga tau nih. Kesenggol tangan eh pecah...," sahut Benazir lesu.
" Tapi Lo ga kena kan...?" tanya Silvi lagi.
" Ga, Gue gapapa...," sahut Benazir lalu memanggil seorang OB untuk membereskan pecahan gelas dan mengepel lantai.
Benazir menatap kearah OB yang tengah sibuk membersihkan lantai. Ia merasa ada sesuatu yang buruk telah atau sedang terjadi. Benazir melirik kearah ponselnya lalu mencoba menghubungi Arjuna.
" Kenapa ga diangkat sih. Apa mungkin lagi ngantar pelanggan kali ya...," gumam Benazir cemas sambil menggigit bibirnya.
Benazir tersenyum saat sang OB meletakkan gelas berisi teh di hadapannya sebagai pengganti gelas yang pecah tadi.
" Makasih ya Ron...," kata Benazir tulus.
" Iya, sama-sama Bu...," sahut OB bernama Roni itu ramah.
Setelah Roni menyingkir, Benazir kembali mencoba menghubungi Arjuna. Tapi tak membuahkan hasil. Akhirnya dengan segala kecemasan yang menumpuk Benazir kembali melanjutkan pekerjaannya.
Saat jam istirahat Benazir kembali menghubungi Arjuna. Tapi tetap saja tak mendapat respon. Chat yang dikirimkannya tadi pun belum dibaca oleh Arjuna. Dan itu membuat Benazir bertambah cemas.
" Ya Allah, ada apa ini. Apa mungkin Ibu. Aku terlalu fokus sama Mas Arjuna sampe lupa sama Ibu. Siapa tau Ibu sakit, makanya perasaanku kok ga enak daritadi...," batin Benazir lalu mencoba menghubungi Suci.
" Assalamualaikum Bu...," sapa Benazir lembut.
" Wa alaikumsalam, kebetulan Kamu telephon Naz. Ibu lagi sakit. Nih Aku mau bawa ke Rumah Sakit yang biasa ya. Ntar kalo sempet Kamu mampir jenguk Ibu ya Naz...," sahut Awan di sebrang sana dengan panik.
" Ya Allah. Iya Kak. Aku ke sana sekarang...," kata Benazir.
" Ga usah sekarang gapapa. Kamu jenguk nanti sore aja. Udah ada Darma juga yang nemenin Ibu...," kata Awan menenangkan.
" Tapi Ibu gapapa Kak...?" tanya Benazir cemas.
" Insya Allah gapapa. Udah sampe, Aku urus Ibu dulu ya Naz. Assalamualaikum...," kata Awan lalu memutuskan pembicaraannya via telephon.
Benazir menatap kearah ponselnya dengan perasaan berkecamuk. Tak lama kemudian ada notifikasi pesan masuk tertera di layar ponselnya. Ternyata Arjuna yang mengirim pesan dan mengatakan bahwa ponselnya lowbatt hingga tak bisa menjawab telephon dari Benazir tadi. Benazir hanya menghela nafas panjang. Ada rasa kecewa di hati Benazir terhadap sikap Arjuna belakangan ini.
Arjuna memang menunjukkan sikap tak peduli kepada Benazir. Sikapnya menjadi lebih dingin dan cenderung mengabaikannya. Arjuna jarang bicara meski pun itu di saat makan malam.
Benazir juga sering menjumpai noda lipstik di baju atau jaket Arjuna saat ia mencuci baju. Benazir tahu apa jawaban yang akan Arjuna berikan, hingga tak berniat menanyakan hal itu. Benazir juga mencium parfum wanita di pakaian dalam milik Arjuna. Dan itu sering membuat kepala Benazir berdenyut sakit karena dipengaruhi rasa curiga. Tapi lagi-lagi Benazir mencoba bersabar.
" Sebenarnya ini ga lazim. Mana ada pakaian dalam sampe wangi parfum kaya gini. Mungkin kalo Istri lainnya udah marah besar kalo tau pakaian dalam Suaminya wangi parfum wanita lain Mas...," gumam Benazir sambil memandangi kaos dalam dan ****** ***** milik suaminya dengan perasaan kesal.
Benazir menganggap jika parfum itu didapat karena posisi pelanggan ojol suaminya yang memang berada dekat dengan Arjuna saat duduk. Benazir hanya tak ingin meributkan sesuatu yang tak penting dan tak suka jika dianggap cemburu berlebihan.
Padahal faktanya Arjuna memang telah mengkhianati cinta dan kepercayaannya.
\=\=\=\=\=