Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di sebuah mansion, Alexi berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah itu. Baru dua langkah pria itu melangkahkan kakinya ia telah di sambut dengan seorang wanita yang telah berumur namun masih awet muda karena perawatannya. Ya, siapa lagi kalau bukan nyonya Goo Hana, ibu dari Alexi.
"anak kutub. . akhirnya kau pulang juga." ucap Hana sambil memeluk putra tunggalnya itu.
"selalu seperti ini." gumam Alexi sambil memutarkan kedua bola matanya.
Setelah melepaskan pelukan dari putra nya itu, Hana menoleh kiri kanan dan belakang Lexi ia mencari seseorang yang di tunggu nya selama ini.
"apa yang mama cari?" tanya Alexi dengan begitu datar.
"dimana calon ibu anak-anak kamu?"
"Nino..." seru Alexi memanggil asistennya.
"yak! kenapa Nino yang di panggil? mama butuh menantu seorang wanita bukan pria, apa kamu sudah tidak normal? gimana caranya kamu akan mempunyai seorang anak kalau kamu gak normal begini?"
Disaat Hana mengeluarkan semua mantra nya yang seperti suara petasan beruntun, datanglah seorang wanita muda yang begitu anggun dan cantik berjalan ke arahnya. Seketika mulut Hana tertutup rapat dan kini gantian matanya yang terbuka lebar.
"kyaaa... calon mantu mama, akhirnya kamu datang juga." ucap Hana yang begitu heboh menyambut kedatangan Meira.
"calon mantu? apa semua ini?" ucap Meira dalam batinnya yang kebingungan dengan semua yang terjadi.
"ayo masuk, mama akan membuatkan makanan buat kamu." ucap Hana yang menarik Meira masuk ke dalam rumah yang bagaikan istana itu.
"ehh ... iya Tante."
"jangan panggil aku Tante, panggil nama karena sebentar lagi kamu akan menjadi istri sah nya si anak kutub."
"hah?! me-menikah?"
"hmm.. tak perlu kaget begitu nanti juga kamu akan terbiasa."
"dan sekarang duduklah, mama akan ke dapur sebentar." ucap Hana sambil menuntun gadis yang di kira calon menantunya itu untuk duduk sofa ruang keluarga.
Dengan santainya serta wajah tak berdosa Alexi melenggang dan duduk di sofa sebelah Meira dengan minuman di tangannya. Meira yang menatap kesal ingin rasanya dia mengacak-ngacak wajah tampan Alexi namun ia sadar diri keberadaan nya sekarang dimana.
"jelaskan semua ini!" ucap Meira dengan suara yang menekan.
Alexi hanya menyeringai, dan kembali fokus dengan minuman di tangannya. Gadis itu membuang nafasnya menahan amarah yang telah memuncak karena perlakuan Alexi yang seenaknya dan semaunya sendiri.
Tak lama kemudian, Hana pun datang dengan membawakan beberapa cup cake dan minuman untuk Meira yang di anggap sebagai calon menantunya.
"sayang. . . ayo di makan, mama sengaja buatkan semua ini buat kamu." ucap Hana sambil mengambil satu cup cake dan menyuapi gadis di sebelahnya.
Dengan perasaan yang canggung, Meira pun terpaksa menerima suapan dari Hana, ia mengigit sedikit cup cake cokelat itu. "gimana rasanya?" tanya Hana yang penasaran dengan komentar Meira.
"mama jangan mencoba meracuni nya, Alexi gak punya serep kalau sampai dia keracunan." saut pria muda itu dengan begitu datar.
"hei.. dasar anak kutub! apa yang kamu katakan? kamu pikir mama akan meracuni calon menantu mama sendiri hah?! aisshh... dasar menyebalkan." ucap Hana.
Hana dan Alexi sering sekali bercanda dengan perkataan yang seperti itu, walau hubungan di antara keduanya adalah sebagai seorang ibu dan anak namun mereka lebih terlihat seperti adik dan kakak. Pemandangan itu membuat Meira tertegun dan terpikirkan dengan keluarga nya yang kini telah hancur. Rasa sesak di dada dan bendungan air mata tak bisa ia tahan lagi, buliran air mata pun mulai menetes dan mengalir di pipi Meira.
"loh.. kamu kenapa sayang? apa kue nya gak enak sampai kamu mengeluarkan air mata seperti itu?" tanya Hana yang mencemaskan gadis kesayangannya.
Meira menggelengkan kepalanya dengan tatapan sayu,
"sudah jangan menangis, apa yang membuat mu mengeluarkan air mata berharga mu?" tanya Hana sambil memeluk Meira.
"gak papa Tante, aku hanya teringat dengan mendiang papa." jawab Meira yang masih berada dalam pelukan Hana.
"ikhlas kan yang udah pergi, sambut kebahagiaan kamu."
"anak kutub, hibur calon istri mu, mama akan menyiapkan makan malam." sambung Hana yang perlahan melepaskan pelukannya dan pergi menuju dapur.
*
Di tempat lain, pertemuan antara Sakha dan sekretaris Bai yang secara tertutup. Mereka sering bertemu dan saling menukar informasi, namun entah apa yang mereka bicarakan tidak ada satupun yang tau termasuk asisten pribadinya.
"permisi tuan, sepertinya nona Meira masih belum kembali, menurut orang-orang yang berjaga di dekat rumah nya belum ada tanda-tanda nona pulang." ucap asisten Sakha.
"baiklah, suruh mereka pulang tugas selesai."
"baik tuan, permisi."
**
Di sebuah mansion, dimana tempat Meira berada ia melaksanakan makan malam bersama dengan Alexi dan mamanya. kini Meira bisa menemukan kembali kehangatan keluarga yang telah hilang beberapa tahun lalu, walau bukan bersama dengan keluarganya, namun cinta seorang ibu pada umumnya sama. Terlintas bayangan wajah Yoona di pikiran Meira dan membuatnya menjadi merindukan sosok ibu yang telah meninggalkan nya bertahun-tahun.
Selesai makan malam, mereka langsung berpamitan pada Hana, namun lagi-lagi ia menahan keduanya untuk tidak pulang dengan terburu-buru.
"ayolah ... masih banyak yang harus mama ceritakan tentang kamu pada calon istri mu, agar setelah menikah nanti kalian bisa memahami satu sama lain." bujuk Hana pada putranya.
"tapi Tante ini sudah larut, besok aku masih harus kuliah." ucap Meira.
"aahhh... kamu menginap aja disini, biar urusan kuliah mama yang atur, kamu kuliah dimana?"
"dan satu hal, panggil mama bukan Tante." sambung Hana menegaskan.
"ahh iya.. ma-mama." ucap Meira dengan masih gugup karena tidak terbiasa.
Saat Meira menoleh ke arah Alexi, pria itu hanya menarik sudut bibirnya dan menaikkan kedua alisnya, mengisyaratkan kalau ia telah berhasil dengan rencana pertamanya.
"em.. itu... kayak nya Eira pulang aja deh ma, lagian bareng Alexi juga pasti aman." bujuk Meira.
"iya kan Lexi?" sambung Meira kembali sambil merapatkan gigi nya dan mengeluarkan fake smile nya.
"hm.. kau benar." ucap Alexi dengan senyum nya yang mencurigakan seakan ia telah menyiapkan rencana lain.
"hei.. kenapa kau malah mengatakan iya? harusnya enggak biarkan dia menginap disini semalam sebelum dia benar-benar menjadi istri kamu!"
"karena mama yakin, setelah kalian menikah nanti pasti tidak akan menemui ku lagi." gerutu Hana sambil mengeluarkan wajah memelas nya.
"haisshhh... ayo pergi, bye ma."
Alexi menarik tangan Meira dan membawanya pergi meninggalkan rumah itu.
"hei dasar anak kutub! apa sepeti itu caranya kamu berpamitan dengan orangtua hah?!" teriak Hana.
Alexi tidak menghiraukan teriakkan dari mama nya itu, ia terus berjalan dan masuk kedalam mobilnya.
***
Bersambung. . .
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan