Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
“Kak Rara temenin Alya nonton Drama korea, yuk!” Ajak Alya tiba-tiba, membuat mata Rara berbinar, sedangkan Angga mendengus kesal karna kedatangan Adik bungsunya itu yang telah mengganggu.
“Jangan mau Kak Rara, dari pada nonton Drama Korea yang ngebosenin mending temenin Arga main PS,” ajak Arga yang tiba-tiba juga sudah ada di samping kiri Rara. Ia menjadi bingung harus memilih yang mana, pasalnya Rara menyukai keduanya. Nonton Drama Korea adalah kegiatan rutinnya bersama Tania dulu saat masih kuliah dan sekarang ia sudah lama tak melakukan itu karna kesibukannya dan bermain PS juga adalah hobby Rara dulu bersama kakaknya-Riri. Sungguh Rara bingung saat ini, ia ingin melakukan kedua dalam waktu bersamaan, tapi itu kan tidak mungkin.
“Udah, kamu gak usah kebingungan gitu, kamu disini saja sama aku,” ucap Angga yang melihat kebingungan Rara.
“Kak Rara kalau disini terus sama kak Angga pasti ngebosenin. Mendingan nonton oppa-oppa korea sama Alya.” Bujuk Alya.
“Jangan Kak Ra, nonton korea juga ngebosenin, mendingan main PS, lebih seru, apa lagi mainya sama Arga yang super ganteng ini, dijamin makin seru deh main PSnya.” Giliran Arga yang membujuk. Membuat Rara semakin berada dalam kebingungan.
“Rara, dari pada kamu bingung milih diantara mereka bertiga, mending Rara bantuin Mama bikin kue aja, buat nyemil-nyemil sore, mau kan?” Tanya Desti yang tiba-tiba ikut memperebutkan Rara juga.
“Nah ok, Rara putusin buat ikut Mama bikin kue aja deh, kan lebih bermanfaat ikut sama Mamanya dari pada sama Anaknya, hehe.” Putus Rara,membuat Desti tersenyum bahagia, sedangkan Angga, Alya, dan Arga menghela napas kecewa.
“Nah kalian mainnya bertiga sja ya, karna Raranya juga lebih milih Mama dari pada kalian! Dah selamat bersenang-senang sayang,” ucap Desti sekaligus meledek ketiga Anaknya itu, lalu pergi menuju dapur bersama Rara sambil tertawa puas, sedangkan Arga, Alya, Dan Angga mendengus kesal.
Rara merasa sangat bahagia berada ditengah-tengah keluarga Angga, padahal ini adalah kali pertama Rara kerumah keluarga Angga, tapi Rara merasa seperti berada dirumahnya sendiri. Padahal dulu Rara sering diajak oleh Devan kerumah keluarganya, bertemu dengan orang tuanya tapi meski sudah beberapa kali bertemupun, Rara tak pernah merasa sedekat ini.
Mungkin ini sudah saatnya untuk Rara membalas perasaan dan cinta Angga terhadapnya, Angga adalah laki-laki yang baik dan penyayang, dia yang sudah membantunya untuk bangkit dari keterpurukannya, dan Dokter itu pula yang menyembuhkan luka hatinya sedikit demi sedikit. Laki-laki itu juga yang selalu ada disampingnya disaat Rara bersedih. Angga sudah banyak berkorban untuk Rara, dan Rara berharap semoga Angga tak akan pernah mengecewakannya seperti Devan dulu.
“Ma mau bikin kue apa?” Tanya Rara saat sampai di dapur.
“Gak tahu, Mama juga lagi bingung ini,”
“Eum, emang pada suka kue apa aja, Ma?” Tanya Rara lagi.
“Kalau mereka mah apa aja pada suka, Ra.” Desti terkekeh mengingat ketiga Anaknya dan juga suaminya yang tak pernah menolak jika soal makanan.
“Kalau bikin Red Velvet sama Tiramisu saja gimana, Ma?” ? Usul Rara.
“Boleh-boleh, Mama juga belum pernah tuh bikin Red Velvet,” ucap Desti antusias.
Selama menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kedua kue tersebut, Rara terus saja tertawa mendengar Desti menceritakan masa kecil Anggga dan juga kedua Adiknya. Rara senang mengetahui banyak hal tentang Angga, dan Rara menjadi semakin yakin untuk membuka hatinya untuk Angga.
“Ra apa kamu sama Angga sudah pacaran?” Tanya Desti, seketika Rara menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Kenapa? Apa kamu gak suka sama Angga?” Tanya Desti lagi.
“Bukan gitu Ma, tapi..”
“Apa karena mantan kamu itu?” Tanya Desti memotong ucapan Rara, membuat Rara menatap sekilas kearah Desti terkejut karana mengetahui tentang Devan.
“Kamu gak perlu kaget gitu Ra, waktu itu Angga pernah cerita sama kami, dia ceritain semuanya sekaligus meminta restu sama Mama dan juga Papanya.” jelas Desti, membuat Rara kembali menundukan kepalanya, matanya kini tengah berkaca-kaca. Rara tak menyangka jika Angga akan melakukan itu sampai meminta restu segala, Rara terharu dengan keseriusan Angga.
“Sekarang Mama Tanya sekali lagi sama kamu, apa kamu gak suka sama Angga?
Kalau enggak lebih baik kamu….”
“Rara bukannya gak suka sama Kak Angga, Ma. Rara sayang sama Kak Angga, Rara juga nyaman dekat sama Kak Angga, dan Rara juga tahu kalau Kak Angga tulus sama Rara. Rara minta maaf selama ini udah ngegantungin perasaan anak Mama. Rara Cuma gak mau menjadikan Kak Angga sebagai pelarian rasa sakit Rara! Rara hanya ingin menerima Kak Angga pada saat hati Rara sudah benar-benar sembuh dan hanya untuk Kak Angga, Rara gak mau nantinya malah membagi hati Rara dengan mantan Rara, dan itu malah melukai perasaan Kak Angga nantinya.” Cepat Rara memotong ucapan Desti dan menjelaskan alasan yang sesungguhnya hingga akhirnya Rara menangis terisak, membuat Desti membawa Rara kedalam pelukannya.
“Maafin Mama sayang, Mama gak bermaksud ..” ucap Desti tertahan
“Rara yang harusnya meminta maaf Ma, maafin Rara yang dengan tidak langsung menyakiti anak Mama.” potong Rara semakin terisak.
“Gak apa-apa sayang, Mama ngerti. Tapi jangan buat anak Mama menunggu terlalu lama ya? Kasian dia, nanti malah semakin lama lagi jomblonya.” canda Desti yang diangguki Rara lalu keduanyapun tertawa.
“Assalamualaikum. Papa pulang!” Suara teriakan salam itu menghentikan tawa keduanya. Desti tersenyum karna kepulangan suaminya itu, lalu pamit kepada Rara yang kini tengah menyusun kue yang baru saja diangkat dari oven kedalam piring yang sudah disediakan oleh Desti tadi.
Rara seketika gugup mendengar kepulangan sang tuan rumah yang tidak lain adalah Ayah Angga. Rara khawatir jika Ayah Aangga tak seramah Mama dan kedua Adiknya, bahkan Rara khawatir jika beliau tidak menyukainya. Sibuk dengan lamunannya membuat Rara terlonjak kaget saat seseorang menepuk pelan pundaknya, dengan cepat Rara menengok kesamping dan mendapati Angga tengah berdiri disampingnya dengan senyum menghiasi wajah tampannya.
“Ngagetin tau gak?” Sinis Rara.
“Lagi ngelamunin apa sih?” Tanya Angga.
“Gak kok.” Bohong Rara membuat Angga memicingkan mata curiga
“Beneran ih!” Kesal Rara saat melihat raut tak percaya diwajah Angga, membuat lakilaki itu hanya mengangguk-angguk saja.
“Yaudah, kuenya udah selesaikan? Yuk ambil ke ruang keluarga aja, kita kumpul disana, ada Papa juga baru pulang.” Tubuh Rara menjadi tegang kembali saat mendengar ajakan Angga. Berkumpul bersama keluarganya, mungkin jika hanya bersama Mama dan kedua Adiknya Rara tidak akan masalah ,tapi masalahnya ini ada Ayahnya juga yang membuat Rara sedikit takut.
Angga lagi-lagi tersenyum melihat kegugupan Rara, ia mengerti dengan apa yang dikhawatirkan oleh gadis disampingnya itu, namun Angga tak menampik jika wajah Rara saat ini terlihat lucu dan menggemaskan menurut Angga. Mungkin tidak ada salahnya jika Angga mengerjai Rara sedikit saja.
“Papa emang agak galak dan nyeremin…” ucap Angga dengan wajah serius membuat Rara semakin takut saja, sedangkan Angga kini tengah menahan tawanya.
“…Tapi kamu gak perlu takut, aku akan selalu ada disamping kamu. Kalaupun Papa gak suka sama kamu, aku akan terus bantu kamu agar Papa menyukai kamu sebagai mana Mama dan Adik-adik aku yang menerima kamu dengan baik. Kamu gak perlu cemas, kita hadapi Papa bareng-bareng, ok?” Lanjut Angga meyakinkan.
Dengan dibantu oleh Angga, Rara terlebih dahulu membuat teh hangat untuk menemani kue yang tadi telah ia buat bersama Desti, menyajikannya sebagai santapan sore hari ini bersama keluarga Angga.
Perlahan Rara berjalan mengikuti Angga yang berada didepannya menuju ruangan dimana orang tua dan kedua Adiknya berada. Terdengar suara tawa dari ruang keluarga membuat Rara semakin gugup saja. Ia tak menyangka jika dalam satu hari ini ia akan langsung bertemu dengan keluarga lengkap Angga, bahkan dengan Ayahnya juga yang kata Angga agak nyeremin dan galak, membuat Rara bergidik ngeri membayangkannya.
Semakin dekat, dan Rara pun semakin tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Langkah Angga terhenti saat tak mendapati Rara di dekatnya, Angga menengok kebelakang yang ternyata Rara tertinggal agak jauh darinya dengan kepala yang menunduk dan wajah agak pucat. Angga ingin sekali tertawa sangat kencang saat ini juga melihat wajah ketakutan Rara seperti tadi siang saat berhadapan dengan Mamanya namun ini lebih parah lagi, sebenarnya Angga tak tega mengerjainya seperti ini tapi apa boleh buat ini sudah terlanjur, sebentar lagi Rara pasti akan bernapas lega saat mengetahui Ayah Angga yang aslinya sangat ramah dan hangat.
Angga berjalan menghampiri Rara dan tersenyum lembut lalu membisikan agar Rara tidak perlu takut, setidaknya itu bisa sedikit menenangkan Rara. Sesampainya diruang keluarga seketika keadaan menjadi hening, semua orang menatap kearah Rara dan Angga yang kini tengah berjalan mendekati meja. Angga dengan santainya meletakan nampan berisi teh hangat yang sejak tadi ia bawa, sedangkan Rara dengan sedikit gemetar menyimpan dua piring kue diatas meja yang sama.
Rara tak berani hanya untuk sekedar mendongakan kepalanya, karna jika itu terjadi maka pandangannya akan bertemu langsung dengan pandangan Ayah Angga yang mungkin saja akan membuatnya semakin gugup.
“Ini siapa Ma?” Tanya Dirga kepada sang istri.
“Itu calon mantu kita Pa, Rara.” jawab Desti antusias.
“Oh, Rara yang sering Angga ceritain itu, Ma?” Tanya Dirga lagi dengan nada gembira yang mendapat anggukan dari semua orang kecuali Rara.
Rara menyalami tangan Dirga sopan seraya memperkenalkan diri tak lupa ia tersenyum dan di balas senyum ramah oleh Dirga dan dielusnya kepala Rara dengan sayang. Mendapat perlakuan itu membuat Rara menghela napas lega setidaknya apa yang diucapkan Angga tentang Ayahnya yang galak dan nyeremin itu tidak lah benar, buktinya sekarang ia disambut dengan hangat oleh Dirga. Dan awas saja setelah pulang dari sini Rara berjanji akan memukul Angga terus menerus sebagai balasan karena telah mengerjai dan menertawakannya tadi siang.
“Wih cantik banget ini mah. Kalau saja Papa masih muda, Papa siap, Ga bersaing sama kamu.” Canda Dirga membuat Angga mendecih kesal.
“Kamu umur berapa, Nak?” Tanya Dirga ramah pada Rara.
“25 Om.” jawab Rara seadanya.
“Ah masa, tapi kok kayak masih umur 17,” ucap Dirga tidak yakin dengan jawaban Rara.
“Saya memang sudah 25tahun Om bahkan sebentar lagi udah 26.” jawab Rara lagi.
“Gak mungkin ah, kamu bohong kali, paling kamu 17 aja belum. Kamu kayaknya seumuran sama Alya, 15 tahun.”
“Ga, kamu yakin mau nikah sama perempuan dibawah umur?”
“Beneran Om umur saya 25 bukan 17 apa lagi 15, hanya muka saya saja yang memang awat muda,” ucap Rara tak menampik fakta yang bahwa wajahnya memang semuda itu.
“Gak percaya saya,” ucap Dirga masih kekeh dengan ketidak percayaannya.
“Om boleh liat KTP saya kalau gak percaya.” jawab Rara sedikit kesal karena tidak tahu lagi harus bagaimana agar membuat Dirga percaya.
Mendengar nada kesal Rara membuat semua orang tertawa sedangkan Rara sendiri kebingungan melihat semua orang tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali, namun beberapa detik kemudian Rara baru menyadari bahwa dirinya telah dikerjai oleh Dirga. Menyadari itu membuat Rara memanyunkan bibirnya kesal. Jika saja bukan Dirga yang mengerjainya pasti Rara sudah melayangkan tanganya untuk memukul orang itu, tapi sayangnya ini Dirga yang tak lain adalah Ayah dari Angga maka lebih baik Rara diam saja dari pada nanti malah dianggap tidak sopan.
Rara melirik kearah Angga yang kini masih saja terbahak bahkan Angga lah yang paling keras menertawakannya, membuat Rara kesal dan dengan refleks mencubit pinggang Angga yang duduk disampingnya dengan keras hingga Angga mengaduh kesakitan, namun kembali tertawa saat melihat wajah gadis itu yang memerah karena malu sekaligus kesal.
“Haha, muka kamu lucu banget Ra kalau lagi merah gitu!” Ledek Angga ditengahtengah tawanya, sehingga membuat Rara semakin cemberut.
“Udah-udah kasian itu Raranya malah dikerjain dan sekarang malah diketawain, mending sekarang cicipin kue buatannya Rara,” ucap Desti menglihkan, membuat semua orang menghentikan tawanya dan beralih kepada kue yang masih hangat tersaji di meja. Mereka bergiliran mengambil kue dan menyantapnya, sedangkan Rara kini tengah menunggu reaksi semuanya dengan harap-harap cemas.
“Enak banget Kak, ini sih kue buatan Mama juga kalah enak,” ucap Arga , Alya dan Dirga menyetujuinya, sedangkan Desti kini tengah cemberut tapi juga mengakui ucapan anaknya itu. Jika keempat orang itu kini tengah sibuk memuji kue buatan Rara dan Desti menanyakan resepnya, beda lagi dengan Angga yang kini dengan santainya menikmati kue ditangannya tanpa memberi komentar apa-apa.
“Kak Angga kok biasa aja reaksinya pas nyobain kue buatan kak Rara, tumben banget?” Tanya Alya bingung yang melihat sang kakak terlihat santai-santai saja karna biasanya Angga lah yang akan paling antusias jika menemukan makanan yang enak-enak.
“Kakak udah sering makan masakannya Rara, Dek. Udah terbiasa tiap hari, makanya Kakak gak kaget lagi, tapi waktu pertama kali juga reaksi Kakak sama kaya kamu.” Jelas Angga santai.
“Kok bisa sampe tiap hari?” Tanya Arga bingung.
“Iya, masa sampe tiap hari Kak Angga numpang makan dirumah Kak Rara, gak malu apa?" giliran Alya yang berucap sambil terus mengunyah kue yang di buat oleh calok kakak iparnya itu.
“Ya kali Kakak kerumahnya, malu lah. Kakak tuh makan tiap hari di Cafenya Rara , dia kan buka Café seberang rumah sakit tempat Kakak kerja, jadi tiap hari Kakak datang dan minta dimasakin sama Rara.” Jelas Angga santai.
“Beneran, Ra?” Tanya Desti memastikan, dan dijawab anggukan oleh Rara.
“Pantesan dia udah gak pernah lagi nyuruh Mama bikini dia bekal makan siang satu tahun belakangan ini,” ucap Desti pura-pura kecewa kepada Anaknya itu yang kini tengah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Hehe, maaf ya Mama yang cantik, Angga Cuma gak mau ngerepotin Mama soalnya,” ucap Angga tak enak hati pada Mamanya.
“Alah sok-soan gak mau ngerepotin Mama, bilang aja mau modus ketemu Kak Rara.” cibir Arga.
“Tahu aja kamu, Ar.” Jawab Angga cengengesan.
Tidak terasa hari kini sudah gelap, membuat Rara dengan berat hati harus berpamit pulang pada keluarga Angga. Meskipun ini adalah pertemuan pertamanya dengan keluarga Angga, tapi jujur Rara merasa betah berlama-lama berada ditengah-tengah keluarga ini. keluarga yang hangat dengan keramahannya dan penuh canda tawa, membuat Rara mudah untuk berbaur mengakrabkan diri, dan berasa berada ditengah-tengah keluarganya sendiri.
Sepanjang perjalanan tak hilangnya senyum Rara, ia merasa bahagia hari ini, diterima baik oleh keluarga pria yang selama setahun ini menemani harinya, memberi warna baru dihidupnya, Rara berpikir mungkin ini sudah saatnya untuk ia mempersilahkan Angga masuk dan mengisi hatinya yang selama satu setengah tahun ini kosong dan tertutupi oleh luka masa lalunya, Rara hanya berharap semoga kali ini ia tak akan kembali dikecewakan.
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤