Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flee
Erie membeli salad untuk makan siangnya, sedangkan untuk Gevio, perempuan itu memesan daging bakar dan beberapa jenis buah segar sebagai makanan pencuci mulut. Yang istimewanya, Erie juga memesan satu mangkuk besar es krim dengan empat rasa. Itu adalah cemilan kesukaan Gevio.
“Pelan-pelan makannya, My Prince!” ujar Erie memperingati agar anaknya menyantap es krim yang ada di mangkuknya dengan pelan. Namun anak itu tidak mau dengar. Ia terus menerus menyendokkan es krim ke mulutnya tanpa berhenti, seolah kalau ia berhenti, es krimnya akan hilang dari jangkauannya.
“Mommy tidak akan melarangmu menghabisakannya. Bukannya tadi Mommy sudah berjanji? Sekarang makanlah pelan-pelan sayang,” tegur Erie lagi.
Kali ini Gevio mau mendengarkan. Ia meletakkan sendok es krimnya di dalam mangkuk lalu meraih gelas di sampingnya dan meneguk air mineral dari sana. Ia bisa makan lebih tenang sekarang karena sang ibu sudah mengucapkan lagi janji mereka.
Erie mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap mulut bocah berumur lima tahun yang belepotan itu.
Erie sadar mengapa Gevio terburu-buru. Sebab, baik Erie maupun Elden, kerap kali melarang Gevio untuk makan es krim secara berlebihan. Gevio hanya diperbolehkan makan es krim setiap dua bulan sekali. Atau jika ada suatu perayaan khusus, Erie dan Elden baru mengizinkannya. Alasannya hanya satu, yakni masalah kesehatan. Terlalu banyak makan es krim tidak baik bagi pola makan Gevio yang sering melupakan waktu makannya jika ia sudah memakan es krim. Dan ujungnya sudah bisa ditebak, anak itu pasti akan berakhir di atas tempat tidur sambil mengerang sakit.
“Mommy, apa nanti kita akan ke kantor Daddy?” tanya Gevio seraya melanjutkan kegiatannya yang sempat terhambat tadi.
Erie menggeleng. “Tidak. Hari ini kita akan ke butik Mommy.”
“Kenapa?”
“Karena Mommy ingin meminta bantuan padamu.”
“Aku?”
“Iya,” ucap Erie sambil mengangguk. “Apa Gevio mau memantu Mommy?”
Gevio tersenyum. “Iya. Aku mau!” jawab anak itu dengan antusias.
Gevio memang setuju ingin membantu Erie. Ia tidak tahu bahwa kata ‘membantu’ di sini bermaksud menjadikannya sebagai model peragaan busana dalam kontes yang akan diikuti oleh sang ibu.
Alasan Erie memakai anaknya sebagai model karena perempuan itu ingin menembus batasan yang dimilikinya. Tema 'dunia laki-laki' yang diberikan oleh pihak penyelenggara dinilai Erie sebagai tantangan baginya untuk mengeluarkan semua bakat yang ia miliki.
Dalam proses pemotretan, awalnya Erie hanya meminta Gevio memakai tiga jenis pakaian, yaitu pakaian kasual, pakaian formal dan pakaian sekolah. Namun, setelah tiga pakaian itu dipakai, Erie tidak berhenti memakaikan Gevio pakaian lain. Jika dihitung-hitung, Gevio sudah berganti pakaian sebanyak sepuluh kali sepanjang siang hingga sore hari itu. Tidak hanya memakai pakaian, Gevio juga diminta tersenyum di depan kamera yang dipegang Tina. Sungguh, itu adalah hal yang paling menyebalkan bagi Gevio.
“Nyonya, ada pelanggan yang menanyakan tentang baju pernikahan yang sudah dipesan,” ucap salah satu pegawai Erie menginterupsi sesi foto pakaian Gevio.
“Sekarang?” tanya Erie pada pegawai itu.
Sang pegawai mengangguk lalu menimpali. “Iya, Nyonya.”
“Baiklah, bawa dia ke lantai atas. Nanti aku menyusul.”
“Baik, Nyonya,” kata pegawai itu dengan patuh.
Setelah sang pegawai keluar dari ruangannya, Erie menghampiri Gevio. Ia mengelus wajah anaknya yang terlihat lelah itu. Maklum saja, Gevio harus menghabiskan waktu selama tiga jam untuk melakukan hal ini. “My Prince, Mommy ada tamu. Kau istirahat saja dulu. Setelah selesai, Mommy akan ke sini lagi.”
Gevio mengangguk. Ia memaksakan seulas senyum untuk muncul di bibir kecilnya. “Iya, Mommy.”
Mendapatkan senyuman dari anaknya membuat Erie lega. Ia sedikit merasa bersalah melihat putranya yang kelihatan lelah itu. Tapi sekarang Erie sudah merasa baik-baik saja karena Gevio terlihat tidak keberatan. Dengan pikiran itu, Erie tanpa ragu meninggalkan Gevio di ruangannya untuk menemui pelanggannya yang sudah menunggunya di lantai dua.
Saat memastikan sang ibu sudah tidak berada di dalam ruangan, Gevio mulai memikirkan cara untuk kabur dari sana. Langkah pertama yang harus ditempuh Gevio untuk keluar dari butik ibunya adalah dengan mengelabui Tina terlebih dahulu.
“Aunty!” panggil Gevio sambil mendekati Tina yang sedang memeriksa hasil bidikan kameranya.
Mendapat panggilan itu membuat Tina mengalihkan pandangannya. Ia menoleh ke arah Gevio. “Ya Tuan Muda?”
“Aku mau ke toilet,” sambung Gevio lagi sambil berpura-pura seperti menahan sesuatu.
“Ah begitu.” Tina refleks meletakkan kameranya ke atas meja kemudian berdiri. “Ayo, Aunty temani,” ajaknya.
Gevio menggeleng tegas. “Tidak Aunty. Gevio akan pergi sendiri!”
“Baiklah, Tuan Muda,” timpal Tina yang mengerti bahwa anak seusia Gevio pasti merasa tersinggung jika ditemani ke toilet karena merasa sudah cukup dewasa untuk pergi sendiri.
Gevio melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Erie. Bukannya ke toilet, namun anak itu melangkah menuju pintu keluar gedung itu. Di sana, Gevio bertemu dengan pengawalnya dan juga pengawal ibunya yang menatapnya dengan pandangan heran. Inilah masalahnya. Jika melewati Tina adalah perkara yang mudah, maka melewati kedua pengawal itu adalah perkara tersulitnya.
Untuk masalah ini Gevio tidak punya rencana selain berkata jujur. Lagi pula, Gevio juga membutuhkan mobil pengawalnya agar bisa melarikan. “Para uncle semua, sekarang Gevio mau kabur dari butik Mommy dan pergi ke perusahaan Daddy,” kata Gevio mendeklarasikan pelarian dirinya secara terbuka.
“Ha?” ucap A7 dan A8 secara berbarengan, terkejut dengan pernyataan sang Tuan Muda.
“Gevio mau kabur dari sini,” ulang Gevio. Ia mendekati pengawalnya dan menarik tangan sang pengawal. “Ayo Uncle! Dan buat Uncle A7, tolong beri tahu Mommy setelah mobil kami pergi ya. Terima kasih,” ujarnya pada kedua pengawal itu.
A7 yang tidak mengerti perkataan Gevio merasa semakin bingung ditinggal sang Tuan Muda dan rekan kerjanya itu. Meskipun tidak mengerti, akan tetapi A7 tetap melakukan sesuai dengan yang diperintahkan Gevio. Setelah mobil A8 meninggalkan butik, barulah A7 mencari Erie untuk melaporkan kejadian tersebut.
Senakal-nakalnya Gevio, ia tidak pernah pergi jauh tanpa pantauan orang terdekatnya. Dan tempat tujuannya juga tidak banyak. Selain rumah dan kantor Elden, mungkin Gevio akan kabur ke rumah kakek dan neneknya. Tetapi sekarang, Gevio tidak bisa pergi ke sana. Ia belum meminta izin dari sang ayah. Juga, kakek dan neneknya bisa saja tidak berada di rumah mereka. Jadi, dipilihlah kantor Elden yang jaraknya tidak terlalu jauh dari butik Erie.
Sesampainya di kantor Elden, Gevio langsung berjalan menuju ke ruangan ayahnya. Ia sudah hafal bagaimana caranya untuk pergi ke sana. Sebagai anak semata wayang Elden, tidak ada satu pun karyawan yang menghentikan ketika ia berkeliaran di gedung pencakar langit itu. Untuk masalah akses masuk ke dalam, Gevio mempunyai A8. Itulah sebabnya anak itu membawa pengawalnya untuk ikut ke dalam gedung karena ia tidak punya kartu akses.
Ketika sudah sampai di lantai di mana ruang sang ayah berada, Gevio keluar dari lift. Dengan sopan Gevio menyapa Jenny dan Mario yang kebetulan berpapasan dengannya. Lalu ia berjalan ke depan pintu ruangan Elden. Gevio mengetuk pintu itu.
“Masuk!” ucap Elden dari dalam.
Gevio tersenyum. Ia membuka pintu ruangan Elden dan masuk ke dalam. Kemudian anak itu berseru, “Daddy!”
Elden tersentak. Pria itu melepaskan pandangannya dari layar laptop untuk melihat orang yang bersuara keras itu. “Gevio?” ucapnya tak percaya. Elden memandang Gevio lalu melihat ke sisi kanan-kiri dan belakang anak itu. “Kau datang sendiri ke sini?” katanya setelah tak menemukan siapa-siapa yang mengikuti anaknya.
“Tidak Daddy, aku ke sini bersama dengan Uncle A8, tapi Uncle menunggu di depan.” Gevio menutup pintu dan duduk di atas sofa.
Saat hendak menghampiri Gevio, ponsel Elden tiba-tiba berdering. Pria itu melihat nama sang istri tertera di sana. Sepertinya perempuan itu akan menanyakan keberadaan Gevio padanya. Segera Elden menekan icon jawab di ponselnya. “Ya, sayang,” ucapnya.
“Elden, apa Gevio sudah sampai di ruanganmu? Tadi dia pergi dari butikku tanpa pamit. Aku takut dia tidak ke sana,” tutur Erie dengan nada khawatir.
“Dia sudah di sini, sayang. Kau tidak perlu khawatir,” kata Elden mencoba menenangkan istrinya.
“Huh, syukurlah. Dia tidak terluka kan?”
“Tidak. Dia baik-baik saja.”
“Apa kau sibuk, Elden? Apakah perlu aku menjemput Gevio agar tidak mengganggumu?”
“Tidak apa-apa. Aku sedang tidak sibuk sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi?”
Sebelum menjawab pertanyaan Elden, Erie terdiam sejenak. Ia terdengar sedang mengatur napasnya. “Sebenarnya aku ingin menjadikannya modelku dalam kontes bulan depan Elden. Kontes yang waktu itu pernah aku ceritakan padamu. Tapi sepertinya Gevio tidak suka dan dia kabur dari butik. Aku merasa bersalah padanya. Seharusnya aku tidak memaksanya,” ungkap Erie menyesal.
XXXXXX
Jangan lupa tinggalkan jejak like, comment, vote, tip dan ratenya... Danke ^^
By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼